Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hanya dalam beberapa hari ini, aku sudah bisa melaporkan beberapa orang yang terlibat akan pembunuhan berencana yang mereka lakukan pada Kaira. Mereka dibawa paksa oleh para polisi, di mana sosok Angga menatap tajam ke arahku, " Sebenarnya siapa kamu ini?" Pertanyaan Angga membuat aku tersenyum lepas, memegang kedua pipinya, " Sayang kenapa kamu malah bertanya seperti itu?"
" Lepaskan tanganmu itu. Sebenarnya kamu ini siapa? Cepat jawab?"
Polisi berusaha mengamankan Angga yang tiba-tiba saja membentak, namun aku yang tak takut dengan kemarahannya kini menghentikan langkah orang orang itu, " Tunggu. "
Mendekat pada Angga, " Sayang, kamu masih ingat tidak tadi sore, tanda itu. "
Deg ….
"Itu tidak mungkin. "
Aku melihat ketidak percayaan pada diri Angga, membuat tanganku ini mengelus rambutnya, " Masih tak percaya, ya sudah kamu ingat nggak waktu kita berjalan berdua. "
"Jadi kamu, Kaira. Lantas wajahmu?"
Aku tertawa terbahak bahak, mendengar perkataan Angga, ia seperti syok berat setelah menyebut nama Kaira.
" Wajahku yang kau buat hancur sudah aku perbaiki menjadi seperti ini, kamu masih ingat tidak dengan sahabat?"
Gina perlahan datang menghampiri Angga, " Dia. "
"Dia yang membantuku, dia juga yang sudah menyelamatkan hidupku. "
"Itu tidak mungkin, " Angga terlihat tak percaya dengan kenyataan yang ia alami saat ini.
"Angga."
Suara teriakan yang memanggil nama Angga terdengar begitu nyaring, ternyata ibu Susi, berlari untuk melihat keadaan anaknya." Angga ini tidak mungkin kan nak, " ucapan wanita tua itu, membuat aku tersenyum kecil.
"Kamu, pasti semua ulah kamu kan. Mengaku saja," telunjuk tangan menunjuk ke arah wajahku, dimana aku berkata, " Pak, tangkap dia, wanita bernama Bu Sarah ini adalah ibu dari pelaku, dia juga ikut serta dalam pembunuhan. "
"Apa maksud kamu, pembunuhan?" Bu Sarah terlihat kebingungan setelah aku membahas tentang pembunuhan.
Angga mulai menjawab kebingungan ibunya. " Dia Kaira bu. "
"Apa, tapi wajahnya. "
"Dia menjalankan operasi plastik. "
Aku melipatkan kedua tangan di depan ibu mertuaku. " Hai ibu metua, aku masih ingat kebaikan kamu loh. "
"Bu." Aku melihat Angga mengedipkan kedua mata, memberi kode agar ibunya meminta maaf.
Kedua tangan yang terlihat mengkerut itu, kini meraih tangan mulusku.
"Kaira, ibu minta maaf, ibu mohon, ibu akan .... "
Belum perkataan wanita tua itu terlontar semuanya, aku langsung menghempaskan tangan menyuruh polisi untuk segera menjebloskan Bu Sarah dan juga Angga.
" Cepat bawa mereka ke kantor polisi. Saya sudah muak melihat kemunafikan mereka berdua. "
Wanita tua itu menangis lalu mengejar ke arahku, dia bersujud meminta ampun dengan berkata, " tolong, jangan masukkan Ibu ke dalam penjara. "
Aku yang mendengar wanita tua itu memelas di hadapanku, membuat aku berkata, " Mana mungkin aku tidak memasukkan Ibu ke dalam penjara, sedangkan ibu sudah berbuat jahat kepadaku. Ibu menyusul rencana pembunuhan tanpa hati nurani Ibu, hanya demi uang dan juga balas dendam. "
Wanita tua itu menangis di mana para polisi mulai mengamankannya, Gina yang kini berada di sampingku berkata, " aku suka gayamu. "
Para polisi mulai mengamankan pekerja kantor di sana, namun aku menyukai polisi itu untuk tidak melibatkan siapa-siapa lagi, karena bukti hanya menunjukkan pada Angga dan juga ibu mertua.
Tinggal dua orang lagi yang belum datang ke ke kantor, yang paling ialah Shireen dan juga Gunawan.
Entah ke mana mereka berdua, mendadak hilang tanpa jejak, entah karena mereka sudah tahu bahwa aku ini adalah Kaira.
Aku masuk ke dalam ruangan bekas almarhum papaku, mengecek data-data di perusahaan itu apakah masih lengkap, setelah ku selusuri semuanya.
Aku masih berhak atas nama perusahaan papaku.
Saat aku mulai mengecek keuangan, tiba tiba.
"Ahk."
Terdengar suara orang yang tiba-tiba jatuh di kamar mandi, membuat rasa penasaran gebuk-gebu dalam hati ini.
Mengecek suara seperti orang yang terjatuh itu. Aku berusaha membuka pintu kamar, pintu kamar mandi itu ternyata terkunci, berusaha mendobraknya beberapa kali.
Dan betapa terkejutnya aku menemukan sosok Shireen terduduk di atas lantai kamar mandi, sepertinya ia berusaha menyembunyikan diri.
"Hey, Shireen Sedang apa kamu disini? Bukannya di depan perusahaan para pelaku pembunuhan sudah tertangkap, sedangkan kamu kenapa ada di sini?"
"Diam kamu, aku tidak ikut campur akan pembunuhan itu, jadi jangan sok tahu. "
Aku senang dengan perkataanya, membuat tangan ini mulai menghubungi polisi di luar perusahaan.
"Halo, pak. Pelaku pembunuhan Kaira sudah di temukan. "
Shireen terkejut dengan perkataanku, ia mengambil ponsel, dan meleparkan ponselku begitu saja.
Plak. Menamparku pipi kiri, Shireen kini menunjuk pada wajahku dengan berkata, " jangan asal bicara kamu ini. "
Aku tertawa terbahak bahak, setelah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Shireen.
Plak.
Tak tinggal diam. Aku langsung memukul balik pipi kirinya, berusaha mengendalikan tangan agar tidak membuat keganduhan para polisi.
"Kamu berani ya. "
Shireen dengan penuh emosi kini menjambak rambutku dengan kedua tangannya, " kurang ajar kamu. "
Pintu terbuka, polisi masuk ke dalam ruangan, Shireen yang melihat hal itu berusaha melarikan diri, aksi melarikan dirinya tak berhasil. Dirinya di kepung para polisi.
"Kamu."
Di saat situasi seperti itu Shireen tetap saja menatapku dengan penuh kebencian, " gara gara kamu. "
Para polisi mendekat ke arahku, " tinggal satu pelaku lagi, kita belum menemukan pelaku bernama Gunawan. Nona Kaira. "
Deg ....
Shireen yang endengar para polisi menyebut nama asliku, membuat ia terkejut dan membulatkan kedua matanya.
"Apa, kamu Kaira?"
"Ahk iya aku lupa, mengenalkan diriku yang sesungguhnya, " mendekat ke arah Shireen lalu menjabat tangannya, " nama asliku Kaira, aku adalah korban pembunuhan kalian semua, dan untungnya aku masih selamat dan masih hidup. Berkat bantuan sahabatku Gina. "
"Jadi selama ini. "
"Ahk, iya aku lupa lagi. Aku sudah meminta izin pengantian namaku kok, jadi idetitasku tetap menjadi Sinta, karena wanita bernama Sinta itu dominan tegas dan kuat. "
Mendengar kenyataan yang aku katakan membuat Shireen menjerit, " tidak mungkin. " Ia berusaha melarikan diri, melepaskan tangannya dari para polisi. Namun, Shireen hanya seorang wanita biasa, membuat ia lemah dan tak berdaya.
"Yang masuk ke dalam penjara itu kamu, bukan kami. "
Aku tertawa pelan, sepertinya Shireen tak terima dengan kehidupannya yang akan membekam di dalam penjara.
"Shireen, Shireen. "
Tinggal satu orang lagi, yang tak lain ialah Gunawan, entah dimana kebaradaan ya sekarang, Gunawan belum juga ditemukan membuat aku penasaran.
Dia begitu hebat bersembunyi, " kemana Si Gunawan itu, bisa bisanya disaat menyenangkan dalam hidupku ini, dia tak di tangkap oleh polisi secara bersamaan.
Gina mendekat dan berkata, " ayo kita pulang, semua sudah beres, besok kita datang lagi ke kantor polisi. "
"Ahk, baiklah."
Aku ingin mengistirahatkan tubuhku ini, setelah apa yang aku lakukan sampai bisa mengungkapkan semua para pembunuh itu.
Aku pulang bersama dengan Gina, menaiki mobil dengan membicarakan sosok Gunawan yang belum ditemukan.
" Sepertinya lelaki bernama Gunawan itu sudah mencurigai kamu dari awal kamu masuk ke perusahaan ini. " Perkataan Gina membuat aku menghela napas dan berusaha tetap tenang.
"Hah, entahlah. Memang dari awal dia itu sedikit menyebalkan, padahal dulu dia itu hanyalah laki laki cupu dan baik hati. Tapi setelah aku mengetahui sifat aslinya, dia itu tak jauh berbeda dengan Angga laki laki b*jingan. " Aku mengeluarkan kekesalanku saat membahas Gunawan, mengingat dia memandang rendah padaku. Apalagi saat dirinya mengatakan jika ia ingin bermalam denganku, sungguh menjijikan bukan.
Karena asik mengobrol, Gina hampir saja menabrak seorang pelintas jalan.
"Gina, awas. " Berteriak, membuat Gina mengerem mendadak mobilnya.
"Gila, siapa yang aku tabrak. "
"Ayo kita turun dari sekarang juga. "
"Ahk, iya. "
Kami terburu buru turun berdua, keluar dari dalam mobil, melihat keadaan orang itu.
Saat mendekat.
Tiba tiba seseorang menutup mulutku, Gina yang tak menyadari hal itu, hanya fokus pada orang yang tak sengaja ia tabrak.
Aku mencoba meminta bantuan padanya, namun salah satu orang yang memakai topeng berwarna hitam memukul punggung Gina dengan tongkat.
Aku diseret paksa masuk ke dalam mobil, mencoba melawan dengan memukul perut orang itu.
Akhirnya aku berhasil terlepas dari jeratan lelaki bertopeng hitam itu, aku langsung menghampiri Gina yang terkulai lemah di atas jalanan.
" Gina bangun. " aku mencoba menyadarkan Gina, agar ia sadar dari pingsannya, berharap jika pria bertopeng itu tidak menangkapku lagi.
Gina kini bangun, membuat aku berusaha membantunya untuk berdiri hingga berlari menuju ke dalam mobil.
Aku berhasil membuat Gina masuk ke dalam mobil, segera mungkin menutup pintu mobil.
Berharap sekali dalam hati bisa lolos dari para penjahat bertopeng itu. Aku tak memperdulikan orang yang tak sengaja ditabrak oleh Gina, yang terpenting bagiku aku dan juga Gina.
Saat masuk ke dalam mobil.
Brakk.
Punggungku terasa sakit, aku merasa ada hantaman benda keras memukul punggungku.
Tak tahan, kedua mata dan penglihatanku seketika rabun, aku tak bisa menyeimbangi tubuh untuk berdiri dimana. Gina menyebut namanku, " Kaira. "
Semua tiba tiba menjadi hitam, membuat aku tak tahu apa yang terjadi padaku saat ini.