Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin bertemu denganmu di saat yang tepat dan di waktu yang tepat untuk bisa mencintaimu sebagai manusia seutuhnya dan bukan hanya sekedar menjadi bayanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senajudifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pulang Kampung
"Cantiknya istriku!!" kata Rama sambil tersenyum mengusap ibu jarinya pada sosok Sena yang tengah tersenyum bahagia sambil memeluk dan menggendong Juan.
"Kamu adalah sosok istri tercantik dan terbaik yang mempunyai hati seluas samudra yang pernah aku miliki, hanya sayang aku adalah lelaki terbodoh yang pernah hidup di muka bumi ini, cacat tak berguna pula!!" gumam Rama dengan buliran air bening mengambang di matanya.
Rama memandang pada kedua kakinya yang hanya tinggal selutut saja, tiba-tiba rasa minder merasuki pikirannya.
"Rama....!!" panggil bapaknya yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Rama menoleh kepada orang tua yang dulu sempat menentangnya bercerai dengan Sena dan menentangnya menikah dengan Lisa Aida tetapi apa daya, bapak hanya sendiri sedangkan di pihak Aida ada bu Ayu dan Rani serta keluarga Aida....semua mendukung pernikahan mereka berdua.
"Kamu memikirkan apa??" tanya bapak saat melihat Rama bengong di kursi rodanya.
"Memikirkan nasib hidup Rama, pak!!" kata Rama sambil tertawa getir.
"Sabar ya nak, setiap cobaan itu pasti akan ada akhirnya!! Allah tidak akan memberikan cobaan pada hambanya yang melampaui batas kemampuan hambanya itu sendiri, kamu petik aja hikmahnya ya nak!!" kata bapak.
Bapak memeluk Rama dengan penuh kasih sayang berusaha memberikan semangat pada putranya itu.
************
"Mak, berapa lama kita akan pulang ke kampung embah??" tanya Dini.
Sena mengambil cuti dua minggu sekaligus, bersamaan liburan sekolah ketiga anaknya dia berencana hendak menjenguk paman dan bibinya.
Biasanya setiap gajian akhir bulan Sena pasti menjenguk paman dan bibinya hanya saja tidak pernah lama.
Maka kesempatan kali ini dia sengaja mengajak ketiga anaknya untuk pulang kerumah paman dan bibi yang telah merawatnya sejak kedua orang tuanya meninggal saat usianya baru menginjak usia lima tahun.
Saat Sena pindah dan bekerja di kota, paman dan bibi tidak mau ikut karena mereka lebih suka bertani sayur mayur di tanah yang mereka beli di daerah transmigran sepuluh tahun lalu sejak Sena bercerai dari Rama.
"Kita naik apa kesana ketempat embah, mak??" tanya Juan sambil menyiapkan bajunya untuk menginap di rumah embahnya nanti.
"Kita naik mobil carter aja jadi langsung turun di depan rumah embah!!" jawab Sena.
Dia meminta cuti dadakan kemarin dengan alasan ada acara di kampung. Kalau tidak berbohong begitu Sena tidak akan mendapat cuti karena tidak ada yang mau bertugas di ruangan berhantu seperti ruangan hemodialisa itu.
Sebenarnya bukan hanya itu saja alasan Sena untuk mengambil cuti selama dua minggu, dia ingin menghindari hantu bule tampan itu. Dia tidak ingin jatuh cinta terlalu dalam pada hantu itu, dunia mereka berbeda, mau di satukan bagaimanapun tetap saja tak bisa!! bagai kan minyak dan air bisa berdekatan tapi tidak bisa disatukan, itulah cinta Sena dan Anthony.
"Ayo cepat anak-anak...lima belas menit lagi mobil carterannya tiba...Sifa jangan membawa baju seperti orang mau pindahan deh!! kita hanya pergi dua minggu bukan dua tahun!!" tegur Sena pada putri bungsunya.
"Jangan lupa oleh-oleh untuk embah ya mak!!" kata Dini mengingatkan.
Mereka naik mobil yang mereka carter. Perjalanan dua jam dari kota ke desa paman dan bibi memang tidak terlalu jauh tapi cukup melelahkan.
Selain mereka berempat, ada empat orang muda mudi yang duduk di bangku tengah dan depan. Entah apakah tujuan mereka sama dengan kami, ataukah lebih jauh lagi.
************
"Senangnya ya pak, kalau Sena dan anak-anak bisa berlibur lebih lama di kampung ini!!" kata bibi sambil menyiapkan adonan untuk menggoreng sanggar pisang dan singkong goreng hasil kebun dari paman dan bibi.
Kalau soal makanan mereka tak terlalu khawatir bakal kekurangan, selain berkebun paman juga beternak dan mempunyai tambak ikan kecil-kecilan.
Tapi jika punya rejeki lebih, Sena selalu mengirimkannya untuk paman dan bibinya itu di kampung.
"Satu jam lagi mereka tiba pak, nggak usah mondar mandir begitu kayak setrikaan." kata istrinya.
"Bapak agak cemas bu, sebab jalan kedaerah transmigran ini kan melewati hutan pinus...ibu ingatkan kejadian beberapa hari lalu saat ada sepasang muda mudi di temukan tewas dengan darah mereka yang hampir mengering??" kata suaminya lagi.
Bibi Sena terdiam sesaat.
"Tapi itukan sudah menjelang maghrib pak, kalau sekarang baru jam sembilan pagi!! lagian masih banyak kok tetangga kita dari daerah transmigran ini yang lalu lalang turun ke kampung berbelanja keperluan atau menjual hasil panennya." Kata istrinya.
Mobil yang ditumpangi Sena dan rombongan itu terhenti di pinggir jalan.
"Maaf...mobil saya mogok, tidak bisa melanjutkan perjalanan!!" kata sang supir beserta kernetnya.
"Huhhhhh!!" percuma aja kita bayar mahal dong!!" gerutu empat muda mudi itu.
"Maaf neng!!" kata supir mobil itu.
"Aduh gimana ini mak??" tanya Dini.
"Masa kita mau melewati hutan pinus itu dengan berjalan kaki?" tanya Dini lagi.
Sena berjalan kepinggir dan mulai mengirim pesan pada pamannya agar bisa dijemput.
Ddrrtttt....dddrrtttt
Siapa pak??" tanya istrinya.
Paman membaca chat dari Sena karena jaringan sangat sulit di situ.
"Sena sama anak-anaknya bu, mobil yang mereka tumpangi mogok di depan jalan menuju hutan pinus itu sementara jika mereka jalan kaki kan kasihan melewati hutan berjalan berempat beriringan.
"Kita minta tolong Toyib aja pak, Toyib kan punya pick up jadi bisa mengangkut mereka semua.
Akhirnya Sena dan ketiga anaknya menunggu pamannya menjemput mereka.
Sambil menunggu Sena bertanya kepada salah satu dari muda mudi itu, ternyata mereka adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di daerah transmigrasi tempat paman dan bibi Sena tinggal.
"Kalian di sana tinggal di mana??" tanya Sena pada mereka.
"Kami tinggal di rumah pak RT bu, ibu sendiri kesana mau mengunjungi saudara atau apa??" tanya Chiko yang merupakan pimpinan rombongan mahasisw itu.
"Saya sedang cuti serta mengunjungi paman dan bibi yang tinggal di sana." Jawab Sena singkat.
Kurang lebih setengah jam menunggu, paman dan mas Toyib datang dengan menggunakan mobil pick up nya.
"Embah...." teriak ketiga anak Sena saat melihat embah mereka muncul dan datang menjemput mereka.
"Bu, apakah kami boleh ikut menumpang sampai ke desa??" tanya Chiko sebagai pimpinan rombongan empat mahasiswa dan mahasiswi yang akan melakukan KKN itu.
Sena menanyakan pada paman dan juga mas Toyib, akhirnya Sena, Dini dan Sifa duduk di sebelah mas Toyib sementara paman dan Juan serta empat lainnya duduk di belakang beramai-ramai.
"Mas Toyib, hutan pinus ini kok tampak seram banget ya!! padahal hari belum terlalu siang begini??" tanya Sena pada Toyib yang sedang menyetir mobil.
*
*
***Bersambung...
Petualangan akan hal gaib akan di mulai di daerah tempat tinggal paman dan bibi Sena.
Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya🙏🙏