CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI?
‘KARENA TIDAK SEMUA CINTA,SEJATI.’
Bugh
Bugh
Bugh
“Gue bersumpah,seujung kuku pun elo nggak akan pernah menemukan keberadaan Kanaya.”Teriakku tepat didepan wajahnya.Lalu kutinggalkan dia begitu saja.
Sejak saat hari itu,aku memutuskan untuk tidak tinggal bersama keluargaku.
Ya,memang itu yang aku alami.Bahkan lebih rumit dari yang sekadar orang lain pikirkan.
• Agra Atthafarizt Herdinata
• Agam Rayyan Atthafarizt
• Kirana Andrea Hilaya
• Kanaya Eisya Putra
Kuy baca ceritanya
Ini kisah Agra,Agam,Kanaya dan Kirana ya.Yang nanti bakal berlanjut keanak-anak mereka...
MAU MEREVISI DULU DAN MAAF JIKA NANTI TIDAK SINKRON DENGAN 'DARI SAHABAT KEAKAD' TERLALU LAMA HIARUS MEMBUTA DAKU LUPA ALUR TEPATNYA😂😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UTiik KriStiantii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Tiba sudah hari minggu,Agra mengajak Ave dan Enggar untuk mendatangi rumah Azka.Mereka sengaja tak memberitahukan kedatangan mereka karena mereka ingin memberikan kejutan.
Dari rumah keluarga Agra mereka sengaja hanya berjalan kaki, hitung-hitung olahraga.Toh jarak rumah mereka juga tidak terlalu jauh.
Ketiganya masing-masing membawa buah yang berbeda.
Disepanjang perjalanan menuju rumah Azka,ketiganya terus bercanda bersama.Seolah mereka tidak memiliki beban hidup sama sekali.Padahal,jika beban mereka ditulis,mungkin hampir sama dengan catatan dosa mereka dibuku milik malaikat.
“Gue punya tebakan.Buah,buah apa yang paling cocok buat para jomblo?”Tanya Ave tiba-tiba.
Agra dan Enggar terlihat berpikir.Buah untuk para jomblo?Pikir mereka.
“Buah bibir.”Jawab Enggar asal.Ave mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Enggar.
“Banyakan dosa kalee bang jadi buah bibir.”Sahut Ave sekenanya.
“Lo bang,buah apaan?”Tanya Ave pada Agra.
“Buah cinta.Hahahah.”Jawab Agra asal.
“Ck.Nyebelin Lo semua.”Sungut Ave.
“Lah,mang buah apa sih?”Tanya Enggar.
“Buahahahahhah.”Jawab Ave.
Krik
Krik
Krik
Keduanya hanya diam mendengar jawaban Ave yang garing.Melihat reaksi Agra dan Enggar, Ave justru terbahak-bahak.
“Hahahahha...garing amat candaan gue.”Ucapnya sambil memegang perutnya yang terasa kaku akibat tertawa cukup lama.
Agra dan Enggar saling pandang.Terkadang mereka tidak mengerti dengan sikap Ave yang super absurd.
“Buruan dah.Keburu siang.”Ajak Agra akhirnya.
Setelah berjalan hampir 30 menit,akhirnya mereka sampai dipelataran rumah Azka.
Jelas saja mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa sampai dirumah Azka,sepanjang perjalanan mereka terus saja bercanda.
Tok
Tok
Tok
Agra mengetuk pintu rumah Azka.
Lama sekali pintu belum dibuka.Membuat Ave maupun Enggar terus menggerutu.
“Bang Enggar,nih kaki gue sampai lumutan karena kelamaan berdiri.”Omel Ave.
“Samaan Av.Kaki gue berasa mati rasa kelamaan berdiri.”Enggar ikut menggerutu.
“Berisik banget sih kalian?Udah kek emak-emak lagi bergosip aja.”Jawab Agra.
“Jangan salah bang.Orang macam kita kalau udah ngumpul buat ghibah,beuh ibu-ibu yang lagi ghibah ditukang parkir juga kalah “Jawab Ave.
“Ini nih,bibit emak-emak yang suka bergosip.”Ledek Agra."Calon penghuni neraka."Lanjut Agra.
"Tenang bang Ave punya kenalan orang dalam kok."Celetuknya asal.
“Hidup kalau tidak ada ghibah,kagak seru bang.Coba deh,disetiap perkumpulan ghibah-ghibah kagak ada.Garing bang yang ada.”Kata Ave lagi tetap teguh pada ucapannya.
“Udah berdebatnya?Kalian nggak sadar,pemilik rumah menyaksikan perdebatan nggak pentinging kalian.”Sahut Enggar cepat,sebelum Agra sempat menjawab ucapannya Ave.
“Eh,ayah.”Sapa Ave disertai senyum canggungnya karena malu.
“Ayah.”Agra ikut menyapa.
“Masuk!”Ucap Azka.
“Stop!”Ave langsung mencegah semuanya masuk kedalam rumah.
“Permisi,princes mau lewat.”Ucap Ave sambil mengibaskan rambut panjangnya.Ia lalu masuk kedalam bahkan mendahului pemilik rumah.
Ketiga makhluk berjenis laki-laki itu melongo melihat kelakuan Ave.
Didalam rumah,Ave langsung berteriak memanggil Dean.
“Ibu.Bu Dean.”Teriak Ave.
“Ibu.”Teriaknya dengan suara yang lebih kencang.
“Eh,anak gadis ibu.”Ucap Dean saat melihat Ave.
Ave segera mendekat dan memeluk Dean.
“Siapa sih ma teriak-teriak kayak dihutan saja.”Omel Kanaya yang berjalan menuruni tangga.
Karena kurang hati-hati,kaki Kanaya tergelincir.Untuk saja,Agra segera berlari menangkap Kanaya,sehingga tidak terjadi apapun pada Kanaya.Termasuk calon bayinya.
Kanaya sendiri jantungnya merasa deg-degan yang luar biasa.
“Hati-hati!”Tegur Agra.Kanaya mengangguk.
“Yah,Bu go kita rujakan ditaman belakang.”Ucap Ave.
“Rujakan?”Tanya Azka yang cukup terkejut karena mereka tiba-tiba mau rujakan dirumahnya.
“Iya ayah.Go Kanaya,Bu kita kebelakang buat nyiapin segalanya.”Ajak Ave sambil menggandeng tangan kedua wanita berbeda usia tersebut.
“Seperti itulah perempuan.”Celetuk Azka tiba-tiba.
“Seperti itu gimana yah?”Sahut Agra.
“Ya seperti itu tadi.”Jawab Azka tidak jelas.
“Om.”Panggil Enggar.Agra dan Azka menoleh kearah Enggar.
“Nggak jelas banget sih.”Ucap Enggar.Ia lalu berjalan menyusul Ave dan yang lainnya.
“Iya,ayah burem.”Agra ikut meledek Azka.
Ditaman belakang,3 perempuan berbeda usia itu sedang asyik menyiapkan segala sesuatu untuk rujakan kali ini.
Diam-diam,Kanaya hatinya merasa tersentuh.Ya, beberapa hari yang lalu,Agra memang tidak mengabulkan permintaan ngidamnya.Tetapi kejutan hari ini membuatnya merasa sangat bersyukur bisa berada diantara mereka.
Setelah hampir 45 menit,semua sudah siap.Kanaya terlihat sangat ingin segera memakan rujak itu.
“Bang,yah ayo kesini!”Teriak Ave.
“Kak,Lo bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak?”Protes Kanaya.Ave cengengesan.
“Terlanjur kebiasaan.”Jawabnya.
“Wah,kayaknya pedas nih.”Ucap Enggar.
“Bikin ngiler.”Agra menambahi.
"Namanya juga rujak ya pedes.Kalau manis itu pasti gulali.Tapi kalau mau nyari yang manis,nih Ave juga manis kok."Sahut Ave penuh percaya diri.
“Kuylah,buruan!”Kanaya benar-benar sudah tidak sabar untuk menikmati rujak tersebut.
"Preeet."Koor Agra dan Enggar.
Tak tanggung-tanggung,Kanaya terus memakan buah dengan sambal yang luar biasa pedas itu.Bahkan disaat yang lainnya sudah merasa tidak kuat,ia masih terus mengunyah rujak tersebut.Ditambah buah yang ia pilih kebanyakan buah yang rasa asam.
Beruntung hari-hari biasa Kanaya memang suka memakan buah yang rasanya asam,sehingga kedua orang tuanya tidak merasa curiga pada Kanaya saat ini.
“Nay,sudah!”Tegur Agra saat melihat Kanaya hendak memasukkan buah mangga kedalam mulutnya.
“Tapi bang,Kanaya...”
“Abang bilang stop!”Kali ini suara Agra terdengar lebih tegas.
Kanaya langsung mengembalikan buah itu kewadahnya.
Semuanya terkejut dengan suara tegas Agra saat menegur Kanaya.Kanaya sendiri,ia langsung berdiri dan meninggalkan mereka.
Melihat bagaimana Kanaya salah menanggapi maksudnya,Agra mengusap wajahnya kasar.
Karena kesal,Agra ikut berdiri lalu meninggalkan rumah Azka.
“Mereka kenapa sih?”Celetuk Azka karena heran dengan tingkah dua anak itu.
“Kanaya salah paham akan maksud Agra,dan Agra yang kesal karena Kanaya salah paham.”Sahut Enggar.
“Biar Ave yang temui Kanaya,lo kejar bang Agra bang!”Ucap Afsheen.
“Ini biar ayah sama ibu yang beresin.”Lanjutnya membuat Azka dan Dean melongo.
Bocah ini,bahkan berani memerintah para orang tua.
Ave segera melangkahkan kakinya menuju kamar Kanaya.
“Nay,kak Ave masuk ya?”Ucap Ave.Tanpa menunggu jawaban Kanaya,Ave sudah membuka pintu kamar itu.
Dilihat pintu balkon yang terbuka sudah dipastikan Kanaya berada dibalkon kamar.
“Nay.”Panggil Ave saat ia berdiri diambang pintu balkon kamar Kanaya.
Kanaya menoleh.Dari matanya yang merah pasti dia usai menangis.
“Sini kakak peluk!”Ucap Ave.Kanaya mendekat lalu memeluk Ave.
“Lo tahu maksud dari bang Agra tadi kan?”Tanya Ave.Kanaya mengangguk.Tapi ia sendiri juag bingung kenapa ia justru menangis.
“Kakak tahu apa yang lo rasain.Wabita hamil memang hatinya lebih sensitif.Nanti biar kakak yang bilang sama bang Agra.”Lanjut Ave.
“Sekarang kamu tidur gih!”Perintah Ave.”Kakak mau pulang,tugas kampus banyak.”Curhatnya.
Kanaya mengangguk lalu berjalan menuju kasurnya.
Entahlah,sejak ia hamil jiwa bar-bar dan tidak pedulinya terhadap perkataan seseorang seolah hilang begitu saja.
Ia menjadi lebih mudah tersinggung dan sensitif.
“Kakak pulang ya?”Pamit Ave.
“Yah,bu princes Ave pulang dulu yak?”Pamit Ave.
“Princes kok kelakuan bar-bar gini.”Ledek Azka.
Ave memincingkan mata kearah Azka.Bereaksi seolah-olah ia marah.
“Bar-bar gini juga turunan mama Arka kelez yah.”Jawab Ave santai.
“Pantesan.Sedikit gesrek.”Azka masih saja meledek Ave.
“Kalau gesreknya turunan papa yah.”Sahut Ave.
“Pantesan.Gabungan Arka sama Althaf ya gini nih bentukannya.Hahaha.”Tawa Azka pecah usai mengatakan hal itu.
“Dahlah,princes mau balik.Bye-bye ayah ibu.”Kali ini Ave benar-benar pamit.
GIMANA NIH BANG AGRA?
udh seneng up tiap hari