Pertemuan tak direncanakan antara CEO Reswara Corp dengan Alintha Kasandra merupakan awal kisah mereka.
CEO Reswara Corp yang merupakan penerus keluarga perusahaan Reswara, Reizan Danish Reswara diusia 25 tahun dia sudah memegang kendali perusahaan.
Lalu Bagaimana pertemuan antara Pemilik perusahaan dengan karyawan itu terjadi, dan apakah ada peristiwa lain selanjutnya.
Akankah Rei terpikat oleh keistimewaan Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erenkaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana Kata Bahagia itu
Seminggu berlalu setelah pertemuanku dengan mas Rei, betapa aku dibuat penasaran kemana dia dan ada apa. Namun kucoba untuk selalu berfikir positif, bahkan untuk menghalau segala kegindahanku aku memilih untuk menyibukkan diriku.
Sibuk di cafe, pula di tokoku, itulah yang menjadi formulaku sekarang.
"Duhileee, kak Alin rajin banget dehh." celetuk Intan yang memperlihatkan betapa aku sangat bersemangat bekerja.
"Iyaa kamu gak tau aja si Alin mau beli kapal pesiar." sahut teman yang lain.
"Ckk, salah aku mau beli jet pribadi." ucapku ngelantur.
"Iyaa dehh, semangat yahh mbak Alin."
Aku tak bergeming lebih memilih untuk menanggapinya dengan senyum.
Semakin hari aku semakin menyadari betapa Tuhan memberikan petunjuknya. Dimana aku sedang berharap pada mas Rei, nyatanya semua musnah, hilang seolah tak berbekas.
Mungkin jika Tuhan mengijinkan aku berharap, kini aku hanya memohon belas kasihnya untuk kehidupanku.
Berharap agar aku bisa meraih hidup yang terarah dan bahagia. Bukan berarti aku tak bersyukur atas hidupku sampai detik ini.
"Selamat datang." terdengar suara Intan menyapa pembeli yang baru saja masuk.
Nampak seorang wanita cantik tinggi semampai, kini dia menuju ketempatku berada.
"Pesan coffe mochacino 1." ucapnya.
"Baik, harganya 20k kakak." ucapku lalu dia mengeluarkan uang untuk membayarnya.
"Silahkan duduk dulu yah kak." lanjutku lalu aku memberitahukan pesanan pada bartender.
Tak lama aku melihat mbak Angela datang membawa sebuah paperbag. Tepat saat dipintu masuk dia nampak terkejut dengan kedatangan gadis yang baru saja memesan mochacino tadi.
"Lin, Brown sugar mochacino satu bawa sini." ucap mbak Angela, akupun segera mengangguk.
Karena pekerjaanku masih banyak aku pun larut dalam pekerjaanku itu. Beberapa menit kemudian aku kembali kedepan meja kasir, aku melihat mbak Angela tengah bersama dua perempuan.
Dia gadis yang memesan coffe dan satunya seorang ibu-ibu kisaran 60 tahunan keatas. Meskipun nampak seperti lansia namun perempuan yang bersama mbak Angel ini masih nampak begitu cantik.
"Kamu ini cantik sekali nduk, Reizan pasti suka dan mau nerima kamu." terdengar sayup ucapan ibu itu.
Deg.. deg..
Tuhann.. apalagi ini. Mungkin aku sedikit terkejut namun, banyak sekali rasa kecewa membuncah di dadaku.
Mataku terasa panas, bahkan sudut mataku sudah menggenang, segera aku menghapusnya tak ingin ada yang menyadari.
Siapa ibu-ibu itu dan apakah Reizan yang dimaksud adalah Reizan Reswara. Tentu saja Reswara, karena Angela pun masih sepupu Reizan.
Aku memilih bersandar di kursi kerjaku sambil memikirkan, what should i do now hingga sebuah suara yang ku kenal terdengar.
"Lin, mbak mau kue mu yang spesial dong." Suara mbak Angel membuyarkan lamunanku.
Aku beranjak lalu mengambilkan beberapa kue yang tersedia, bahkan mbak Angel membawa 4 macam sekaligus.
"Enak Ngel, kamu yang bikin." ucap ibu-ibu itu.
"Bukan Nek, pegawaiku. Dia punya toko kue juga." jawab mbak Angel.
Apa Nek, mbak Angel menyebutnya nek. Mungkinkah dia nenek mas Rei, sekelebat pertanyaan itu berputar diotak ku.
"Nenek mau, nanti Angel bungkusin."
Nenek itu nampak mengangguk santai.
"Gimana Mona, apa Rei bisa datang kesini." ucap nenek itu.
"Tante Reni bilang Rei di Singapura nek, sibuk dia." jawabnya.
"Yasudah biar nanti nenek atur pertemuan keluarga kita setelah Reizan pulang." jawab sang nenek.
Duarrrrrr...
Meledak lahh segala angan di kepalaku, hatiku teriris perih. Mungkin seperti inilah yang ibuku rasakan dulu. Aku berlari menuju wastafel guna mencuci muka agar aku teralihkan dari kisah drama kolosalku.
Ibu.. haruskah aku mengatakan pada hari ini, aku sibuk dengan pertanyaan itu namun tetap tak ada jawaban. Ibuku berkata jika mereka bukan jodohku maka segala rintangan akan selalu ada. Dan realitanya pun kini baru dapat aku yakini itu.
Aku pulang menyusuri jalanan setapak trotoar menuju toko kue ku, sepulang kerja aku selalu sempatkan untuk mengecheck toko.
"Bu,." sapa ku pada ibuku yang tengah sibuk menata pesanan.
"Sudah pulang, makan dulu gih."
"Sudah kok, sini Alin bantu ibu saja." jawabku.
"Sana istirahat kamu pasti capek."
"Enggak kok, kalau ini sudah selesai baru Alin istirahat." jawabku meyakinkan ibu.
Aku pun membantu ibuku karena pesanan kue cukup banyak dan bahkan sangat mendadak.
Malam harinya disaat aku sedang bersantai menonton TV, hape ku berdering.
PakPol Aska calling...
Sontak membuatku sedikit lega, apakah masih ada harapan hidupku bersama pak polisi ini.
"Hallo."
"........."
Tak kudengar suaranya, namun kulihat masih tersambung.
"Aska, kamu sehat."
"Hahhhh."
Kudengar dia menghela nafas.
"Ada apa Aska."
"Aku sudah pulang Lin."
"Alhamdulillah."
".........."
Dia membisu lagi, entahlah ada apa dengan Aska ini.
"Besok kamu kerja apa."
"Libur tapi aku ada perform."
"Baiklah aku datang lihat kamu."
"Sure, aku tunggu yah."
Aku sangat bersemangat saat Aska mengatakan akan datang, mungkin inilah jawaban dari setiap doaku.
*
*
Malam ini aku perform, memang hari sabtu mbak Angela memintaku fokus untuk menghibur pengunjung cafe yang notabene sedang menikmati malam mingguan.
"Selamat malam semua." Sapaku kepada pengunjung cafe yang nampak sudah hampir full booked. Bahkan aku bisa menemukan keberadaan Aska di depan meja bartender, dia melambai sebentar aku pun tersenyum padanya.
"Baiklahh jadi malam ini Alin sedikit receh boleh yahh." tanyaku kepada penonton.
"Bolehhh."
"Mahalan dikit juga gak papa."
Mendengar sahutan penonton aku seolah tersihir, lalu aku mulai bernyanyi.
"Tuhannn.. Maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta diaaaa."
Satu bait lagu kunyanyikan, sebagai penyanyi cafe aku tak bisa memaksakan suasana hatiku begitu saja. Lagu kedua kunyanyikan lagi lagu romantis.
"Baiklah last kali ini agak melow boleh yahh, langsung saja mas Dika." ucap ku.
"Mungkinkah aku meminta
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu."
Tunai sudah lagu terakhir menjadi alat mencurahkan perasaanku, meskipun sedikit terbawa suasana namun aku bersyukur masih bisa mengontrolnya.
"Tuhann, berikan aku 1 kesempatan untuk bisa memiliki kebahagiaan." batin ku.
Mataku bertemu tatap dengan Aska, senyum tipis bahkan dapat kulihat diwajahnya.
"Hai Ka, long time no see." ucapku, membuat dia tersenyum.
"Hai Lin, gimana sehat." tanyanya.
"Alhamdulillah, sejauh ini sehat sekali. Jadi kapan kamu balik tugas." tanyaku.
Dan entahlah apa ada yang salah dari sorot mata Aska dia seolah sendu dengan ucapanku.
"Dua hari yang lalu Lin, maaf baru bisa menghubungimu." jawabnya.
"Jadi pak pol Aska ada perlu kah ini." tanyaku lagi seolah tak ingin berlarut-larut.
"Lin." sahutnya, aku bahkan tetap setia menunggunya berbicara.
"Hahhhh.." lama dia menghela nafas. "Hemmm.. aku akan menikah Lin." lanjutnya, dan seketika pertahanan ku runtuh.
God, derama apa lagi ini. Kenapa tak ada belas kasihmu sedikit pun untukku.
Melihat satu bulir terjatuh dipelupuk mataku, Aska meraih tanganku menggenggam erat bahkan menciumi punggung tanganku.
Ada apa ini ya Tuhan,.
"Ja-jadi kamu ke-kesini mau kasih undangan untuk-ku." ucap ku terbata, walau dengan berlinang air mata masih kucoba untuk tetap menampilkan senyuman.
"Seharusnya itu kamu Lin."
"Maksudnya.." tanyaku pada Aska meminta penjelasan.
"Aku sudah berniat serius menjalani hubungan denganmu, tapi.." jawabnya terpotong.
"Dua hari lalu kapten ku meninggal, dia akan menikah satu bulan lagi. Dia... dia mengamanatkan aku untuk menggantikannya dipernikahannya nanti." lanjutnya bercerita, sejenak aku berfikir.
Inilah permainan hidup, apa yang sudah digariskan oleh Tuhan nyatanya kita tak bisa mengelaknya. Aska berjongkok di hadapanku seolah dia sedang bersujud kepadaku.
"Aku sayang banget sama kamu Lin, aku maunya sama kamu Lin." ungkapan hati Aska sangat menyayat, aku bingung harus berkata apa.
"Aska, jangan seperti ini." ucapku padanya, mendudukannya dikursi duduk berhadapan bersejajar seperti ini, aku harus menguatkan diriku, menguatkan juga Aska.
"Aku nggak tahu harus bagaimana, yang bisa aku katakan adalah, Terimalah, berdamailah dengan takdir. Lindungilah dia yang sudah diamanatkan padamu." lanjutku menenangkan Aska. "Kita dipertemukan tidak untuk berjodoh, bahkan apa yang kamu rencanakan tidak sejalan dengan garis Tuhan." ucapku terus sambil memegang kedua tangannya, lalu aku pun menceritakan sebuah kisah tentang ibuku dimasa silam.
Aska sedikit tenang namun mana tau isi dalam hatinya seperti apa.
"Akan aku coba Lin. Terima kasih yah sudah menyadarkanku arti kehidupan, aku harap kita tetap berteman." ucapnya.
"Tentu."
Aska mendekapku, mungkin ini kisah terakhirku bersamanya. Walau hatiku menjerit, aku cukup sadar untuk tetap berfikir tenang. Dan untuk kedepannya aku masih meminta belas kasih dari Tuhan.
*
*
My Lovely pak Boss