"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arraya Lee Bersaudara
"Membatalkan perjodohan konyol itu jauh lebih mudah daripada memenangkan tender, Vanya."
Kalimat Leo masih terngiang saat Lavanya melangkah keluar dari ruangan sang bos dengan kaki lemas. Bagaimana bisa pria itu tahu rencana Ibunya? Apa Pak Singa ini diam-diam menyadap ponselnya atau memang punya kekuatan magis?
Namun, ketenangan kantor Limocom pagi itu pecah oleh kehebohan di area lobi utama. Mbak Laila bahkan sudah tidak berada di mejanya; ia bergabung dengan barisan staf perempuan yang mendadak rajin merapikan lipstick.
"Ada apa sih, Mbak?" tanya Lavanya bingung.
"Nya! GM Pusat datang!" seru Laila histeris.
Pintu lift terbuka, dan sosok pria dengan senyum secerah mentari melangkah keluar. Berbeda dengan Leo yang kaku dan formal, pria ini mengenakan setelan kasual elegan tanpa dasi. Begitu matanya menangkap sosok Lavanya di antara kerumunan, senyumnya makin lebar.
"Vanya! My Favorite Brainiac!"
Seluruh kantor hening. Elang berjalan cepat, mengabaikan jajaran manajer yang hendak menyambutnya, dan langsung merangkul bahu Lavanya dengan akrab.
"Lang? Lo ngapain di sini?" Lavanya melongo.
"Kerja lah! Gue baru balik dari London, langsung ditempatkan di sini. Kok lo nggak bales LinkedIn gue sih?" Elang mengacak rambut Lavanya, membuat Mbak Laila nyaris pingsan karena iri.
"Ehem."
Suara dehaman rendah itu cukup untuk membuat suhu ruangan turun drastis. Leo berdiri di pintu ruangannya dengan tangan bersedekap. Matanya tertuju tajam pada tangan Elang yang masih nangkring di bahu Lavanya.
"Elang. Ruangan saya. Sekarang," perintah Leo dingin. Matanya kemudian melirik Lavanya, "Dan kamu, kembali bekerja. Jangan biarkan tamu—siapa pun itu—mengganggu produktivitas kamu."
Elang tertawa santai, tidak merasa terintimidasi sama sekali. "Galak amat sih, Mas? Santai, Vanya ini temen seperjuangan gue waktu kuliah di UI. Dia yang bikin gue lulus mata kuliah algoritma, tahu nggak?"
Leo tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan "masuk atau dipecat" kepada Elang.
Di dalam ruangan, begitu pintu tertutup, Leo langsung meledak. "Sudah saya bilang, jangan dekati dia di depan umum. Jaga image kamu sebagai GM!"
"Lho? Kenapa?" Elang duduk santai di sofa. "Gue kan emang fans berat Vanya. Lo sendiri gimana? Gue denger lo bawa dia ke Lombok kemarin. Padahal alasan lo kirim dia ke sana supaya nggak ketemu gue kan?"
Leo terdiam. Benar. Ia mengirim Lavanya ke Lombok minggu lalu karena tahu Elang akan melakukan kunjungan pertama ke kantor cabang. Leo ingin menyembunyikan gadis itu dari jangkauan adiknya.
"Gue masih inget, Mas," lanjut Elang dengan nada serius. "Dulu waktu gue cerita soal temen kampus gue yang pinter banget, mandiri, dan nggak mempan dikasih rayuan cowok-cowok kaya, lo cuma ngetawain gue. Lo bilang perempuan kayak gitu nggak ada. Sekarang... setelah lo lihat sendiri, lo malah mau monopoli dia?"
Leo berjalan ke jendela, membelakangi Elang. "Dia karyawan yang kompeten"
"Halah, bohong banget! Kalau cuma kompeten, nggak bakal lo jemput pakai jet pribadi, berusaha banget buat dia notice lo" Elang menatap tajam Leo. "Lo taukan gue suka dia sejak kuliah, gue minta lo buat jagain dia Mas. Bukan rebut dia dari gue"
"Kalau dia yang mau, kamu bisa apa Elang Arraya Lee? Jangan pernah memaksakan perasaan kamu sebelah pihak"
🦁🦁🦁
Siang harinya, Lavanya sedang menyeduh kopi saat Elang menyelinap masuk. Suasana pantry sangat sepi, rata-rata karyawan sudah pergi makan siang.
"Vanya! Makan siang bareng yuk? Gue kangen makanan kantin Indonesia," ajak Elang semangat.
"Aduh Lang, gue banyak deadline—"
"Laporan proyek resort Lombok sudah saya ambil alih, kamu bebas" Suara Leo muncul tiba-tiba. Ia masuk ke pantry dengan alasan ingin mengambil air mineral, padahal semua orang tahu di ruangannya ada dispenser pribadi.
"Tuh Lo free! Ayuk gue laper banget" Elang menarik tangan Lavanya. Namun perempuan itu langsung menghindar.
"Sorry Lang gue udah bawa bekal" Demi apapun Lavanya tidak suka dengan kontak fisik yang dilakukan Elang padanya. Dirinya merasa merinding.
Melihat respon dari perempuan itu, Leo berdiri di antara Elang dan Lavanya. Dia sudah memberikan kesempatan pada adiknya. Tapi lihatkan perempuan itu menolaknya jadi bukan salah dirinya mengambil alih kesempatan ini. "Siang ini kamu makan siang dengan saya. Kita harus membahas poin-poin yang belum tuntas di laporan itu,"
"Tapi Pak, bukannya tadi Bapak bilang sudah Bapak ambil alih?" tanya Lavanya bingung.
"Saya berubah pikiran," jawab Leo pendek. Matanya menatap Elang dengan tatapan 'jangan ganggu dia lagi"
Elang tertawa kecil, menyadari kakak laki-lakinya kembali ikut campur.
"Oke, oke. Gue ngalah," Elang mengangkat tangan. "Tapi Vanya, besok malem jangan lupa ya. Undangan makan malam keluarga. Orangtua gue pengen ketemu lo sebagai 'pahlawan' yang bikin IPK gue terselamatkan"
Lavanya tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Makan malam keluarga?"
Leo langsung menyambar pergelangan tangan Lavanya, menariknya pelan keluar dari pantry. "Ayo. Jangan buang-buang waktu."
Begitu sampai di lorong yang agak sepi, Lavanya melepaskan tangannya. "Bapak kenapa sih? Tadi di depan karyawan lain Bapak sok cuek, sekarang Bapak narik-narik saya!"
Leo berhenti, berbalik, dan memojokkan Lavanya ke dinding koridor. Ia menatap Lavanya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan logika.
"Jangan pernah terima ajakan Elang untuk makan malam keluarga," bisik Leo rendah.
"Kenapa? Elang kan temen saya!"
"Karena kalau kamu datang sebagai tamu Elang, saya tidak punya alasan untuk duduk di sebelah kamu." Leo mendekatkan wajahnya, aroma sandalwood itu kembali menyerang. "Kalau kamu mau ke rumah keluarga Arraya Lee, kamu harus datang sebagai tamu saya. Bukan dia."
Lavanya terpaku. Pak Singa yang angkuh ini... cemburu?
"Bapak... Bapak cemburu sama Elang? Tapi tunggu kalian bersaudara? The real KKN!"
Leo menarik diri, membetulkan jasnya dengan gerakan super rapi, kembali ke mode cool dan berwibawa seolah pembicaraan barusan tidak pernah terjadi.
"Laporannya saya tunggu di meja satu jam lagi. Dan jangan telat makan siang. Itu perintah," ucap Leo datar, lalu melenggang pergi meninggalkan Lavanya yang masih mencerna situasi yang terjadi.
"Gila..." gumam Lavanya. "Dunia emang sempit"
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....