NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:232.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mulyani Syahfitri

Kehidupan rumah tangga yang tidak mudah harus dilalui dengan terpaksa. Sebuah pernikahan yang tidak diinginkan membuat Maira harus memposisikan dirinya sebaik mungkin.

Diumur yang masih sangat muda, Maira masih belum bisa menerima sebuah ikatan pernikahan yang membuat nya merasa terkekang. Sikap suami yang terlalu disiplin membuat nya benar benar jengah.

Ujian pernikahan nya semakin rumit, saat mantan kekasih nya masih selalu ada untuk menenangkan hati nya yang gundah.

Apakah Maira akan mempertahankan rumah tangga nya?
Atau malah memilih pergi bersama kekasih masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mulyani Syahfitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam

Maira menangis terisak saat dokter Danar mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tasnya. Dia tidak mau disuntik, tapi dokter Danar memaksa nya.

Maira benar benar membenci benda kecil itu.

"Dokter...saya tidak mau" ucap Maira yang berusaha untuk menjauhkan diri dari dokter Danar

"Tahan sebentar, ini bisa meringankan rasa sakit ditubuh kamu. Lukanya sudah terlalu lama dibiarkan, takut infeksi" ungkap dokter Danar

"Tapi saya takut" kata Maira yang menahan isak tangis, meski air mata sudah jatuh bercucuran sejak tadi. Bahkan luka diwajah nya terasa perih terkena air mata itu.

Dokter Danar tersenyum dan mengusap gemas pucuk kepala Maira

"Tidak sakit, cuma dilengan. Kemari, kamu bisa pejamkan mata" ujar dokter Danar. Namun Maira tetap menggeleng tidak ingin.

Dokter Danar menghela nafas nya sejenak dan bergeser mendekat kearah Maira.

"Dokter....." rengek Maira yang kembali menggeleng. Dia benar benar pobhia dengan benda itu.

"Kenapa kamu berkelahi jika tidak tahan sakit Maira?" tanya dokter Danar

Maira mencebikkan bibirnya seraya mengusap air matanya perlahan

"Udah capek ngalah terus, mentang mentang anak orang kaya. Selalu aja ganggu dan ngehina saya. Saya gak suka" jawab Maira dengan wajah yang begitu kesal

"Anak orang kaya" tanya dokter Danar dan Maira langsung mengangguk

"Anak salah satu pemilik saham dikampus itu" jawab Maira

"Kamu bukan bertengkar karena memperebutkan mantan kekasih kamu itu?" tebak dokter Danar, namun Maira langsung mendengus

"Meskipun saya cinta sama Ervan, tapi untuk berkelahi karena dia itu bukan gaya saya dokter" seru Maira kesal , bahkan dia tidak menyadari jika dokter Danar telah menyiapkan suntikan nya sekarang

"Lalu kenapa?" tanya dokter Danar

"Itu karena Erika yang selalu cari masalah. Dia selalu menghina saya, bilang saya orang miskin lah, belagu lah, kegatelan, suka cari mu..... Aaaahhhhhhhh ......dokter!!!!!!" Maira langsung menjerit kuat saat suntikan itu langsung mendarat dilengan nya dengan sempurna. Dokter Danar tersenyum melihat wajah Maira yang meringis kesakitan dan langsung membenamkan kepala dibahu nya.

"Dokter curang!!!! sakit dokter" rengek Maira yang masih menyembunyikan wajah nya dibahu dokter Danar. Meski agak kepayahan, namun gerakan reflek Maira ini membuat dokter Danar terasa berdesir hatinya. Karena untuk pertama kali, ini adalah sentuhan pertama mereka.

"Sebentar" jawab dokter Danar seraya mengusap kan kapas kebahu itu dengan satu tangan nya, sedangkan tangan yang lain mengusap kepala Maira dengan lembut

"Nah, sudah. Tidak sakit kan?" tanya dokter Danar. Maira masih diam dan menangis dibahunya. Dapat dokter Danar rasakan jika tubuh Maira melemas dan sedikit bergetar

"Kamu pobhia jarum suntik?" tanya dokter Danar dengan lembut dan masih mengusap kepala Maira . Maira hanya mengangguk dalam dekapan dokter Danar. Dia belum sadar akan apa yang dilakukan nya. Pelukan ini entah kenapa bisa sedikit menenangkan dirinya.

"Saya lihat pinggang kamu ya" ucap dokter Danar. Namun Maira masih diam dan hanya terdengar isak tangis nya saja.

"Mai" panggil dokter Danar

"Sakit" gumam Maira begitu pelan

Dokter Danar langsung melepaskan dekapan nya dan menegakkan tubuh Maira yang kini sudah sangat pucat. Dokter Danar cukup cemas melihat ini, meski dia tahu jika Maira hanya lemas dan butuh istirahat. tapi mungkin ditambah dengan pobhia nya membuat Maira menjadi tidak berdaya.

"Yasudah, ayo berbaring dulu" dokter Danar segera membenarkan bantal dibagian kepala Maira dan membantu Maira berbaring.

Maira masih sadar, dan dia juga sadar bagaimana perlakuan lembut dokter Danar padanya. Hanya saja kepala nya yang tiba tiba pusing dan tubuh nya yang lemas menahan sakit membuat nya membiarkan saja apa yang dilakukan oleh dokter Danar.

Maira meringis saat dokter Danar memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah dokter Danar, karena memang memar akibat benturan itu ada di pinggang sebelah kanan Maira.

Alis dokter Danar langsung mengernyit melihat pinggang Maira yang sudah membiru, bahkan membengkak. Cukup parah, mungkin benturan nya cukup kuat. Pantas saja Maira sampai menangis dan tidak bisa berjalan dengan baik.

Wajah teduh dokter Danar tampak mendingin melihat ini, dia mengusap nya perlahan membuat Maira langsung menggeliat kesakitan meski kini matanya sudah terpejam karena pengaruh suntikan tadi.

Dokter Danar beranjak dari sana dan beralih kedapur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah baskom berisi air dan handuk kecil ditangan nya. Bengkak ini harus dikompres agar cepat kempes. Dan dia merasa Maira pasti akan demam nantinya.

Dengan perlahan dan begitu lembut, dokter Danar mengompres pinggang mulus istrinya itu. Ada rasa tidak terima Maira terluka seperti ini. Dia bahkan belum ada menyentuh Maira sedikit pun, tapi mereka sudah memperlakukan Maira sampai seperti ini. Ya, meskipun dia tahu jika ini juga kesalahan istrinya.

Maira beberapa kali menggeliat karena rasa sakit saat dokter Danar menyentuh pinggang nya. Wajahnya pucat dan kesakitan, membuat dokter Danar tidak tega.

Setelah mengompres dan mengobati Maira. Dokter Danar membereskan perlengkapan nya tadi dan menyelimuti Maira yang sudah tertidur dengan tenang. Setelah itu, dia langsung beranjak keluar sembari menelpon seseorang.

Diruang tamu rumah mereka. Wajah teduh yang biasa nya selalu dia sematkan, kini terlihat begitu dingin dan mengeras. Bahkan dokter Danar berbicara dengan begitu tegas dan penuh wibawa pada seseorang diseberang sana. Beberapa kali dia terdengar berdebat dan marah, entah apa yang dia bicarakan, yang jelas, ini menyangkut tentang istrinya.

....

Malam harinya, Maira dan dokter Danar baru saja selesai melaksanakan shalat isya berjamaah. Maira benar benar lemas dan merasa sangat pusing. Tapi dokter Danar malah sungguh tega membangunkan nya untuk shalat. Maira benar benar tidak habis fikir dengan dokter satu ini.

"Masih pusing?" tanya dokter Danar saat Maira baru saja menyalami punggung tangan nya. Wajah Maira terasa panas, mungkin saja dia demam

Maira mengangguk dengan lesu

"Makan dulu ya, setelah itu baru tidur. Kamu harus minum obat" ujar dokter Danar

"Saya mau tidur aja dokter" ucap Maira dengan kepala yang sudah berasa berputar. Badan nya sangat tidak enak sekarang

"Iya, nanti setelah minum obat baru tidur" sahut dokter Danar yang membuka kopiah nya

Maira hanya diam dan memegangi kepala nya

"Ayo saya bantu" dokter Danar langsung menjulurkan tangan nya pada Maira yang masih duduk lemas diatas sajadahnya

"Kepala saya pusing" gumam Maira dengan mata yang berkaca kaca kembali

Dokter Danar langsung berlutut dihadapan Maira. Dia menyentuh dahi Maira yang memang cukup panas. Demam nya sangat tinggi.

Dan tanpa berkata apapun, dokter Danar langsung mengangkat Maira. Maira sedikit terkesiap, namun karena dia yang sudah pusing dan mulai menggigil dia hanya diam dan akhirnya malah terkulai lemah dalam gendongan suaminya.

Dokter Danar merebahkan tubuh Maira diatas tempat tidur. Membenarkan posisi tubuh Maira agar lebih nyaman. Namun dia sedikit mengernyit saat memandang Maira yang sudah memejamkan matanya dan tidak lagi bergerak dengan wajah pucat nya

"Maira..." panggil dokter Danar

"Maira..." panggil nya lagi, namun Maira ternyata sudah pingsan

Dan tentu saja dokter Danar tampak panik sekarang

"Ya Allah Maira..." dia mengusap wajah Maira beberapa kali, namun istrinya itu memang sudah pingsan karena demam yang cukup tinggi dan juga sakit dikepala nya

Dokter Danar kembali berlari kearah dapur dan mengambil air untuk mengompres kening Maira. Namun dia membuka mukenah yang dikenakan Maira terlebih dahulu, dengan begitu lembut.

Dan akhirnya, malam itu dokter Danar terjaga untuk mengurus Maira yang demam. Suhu tubuhnya benar benar tinggi membuat dokter Danar tidak bisa tidur dan membiarkan Maira kesakitan sendiri. Keringat dingin mengalir diwajah Maira. Dia juga menggigil kedinginan meski sudah diselimuti oleh dokter Danar

"Ayah...." gumam Maira . Dan gumaman itu terdengar berkali kali. Dokter Danar yang kini sudah berbaring disebelah Maira terus mengusap wajah nya yang pucat

"Ayah,,," gumam Maira lagi

"Mai takut" gumam Maira. Bahkan air mata terlihat mengalir disudur matanya sekarang. Apa Maira merindukan ayahnya???

Maira terus mengigau dan memanggil ayahnya malam itu. Dokter Danar dengan telaten mengurus nya dan berusaha untuk menurunkan panas ditubuh Maira. Terkadang dia berfikir, bagaimana Maira jika demam seperti ini dulu. Bukankah dulu dia hanya hidup sendiri?? Siapa yang mengurusnya ketika sakit?? Apalagi Maira tipe orang yang tidak tahan sakit

Dokter Danar sedikit terkesiap saat Maira yang memiringkan tubuh kearah nya. Mata Maira sedikit terbuka membuat dokter Danar tampak mengerjapkan matanya sekilas. Takut takut saja dia Maira akan mengusirnya

"Dokter" panggil Maira dengan suara yang cukup serak dan sangat pelan

"Ya, mau apa??? minum??" tanya dokter Danar seraya menyingkirkan rambut Maira yang menjuntai

Maira mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya

Dokter Danar tersenyum dan beranjak untuk mengambil air minum yang sudah ada diatas meja

Dia membantu Maira untuk duduk sebentar

"Buka mulutnya" pinta dokter Danar

Maira membuka mulutnya sedikit dan langsung meminum air itu beberapa teguk namun masih dengan mata yang terpejam.

Dokter Danar mengembalikan lagi gelas itu keatas meja dan membaringkan Maira kembali. Dia membenarkan selimut Maira hingga sebatas perut saja, karena Maira cukup banyak berkeringat sekarang

Dokter Danar ingin beranjak untuk mengambil handuk kompresan nya tadi, namun tiba tiba dia kembali terkesiap saat Maira meraih lengan nya dan menyembunyikan wajah nya disana

Dokter Danar mematung, memandang wajah Maira yang terlihat tertidur namun sepertinya tidak, dia juga tidak tahu bagaimana mendeskripsikan nya. Namun dia langsung membatalkan niatnya dan kembali berbaring menghadap Maira.

Dokter Danar memandangi wajah cantik yang masih begitu pucat itu dengan lekat. Wajah cantik yang sudah menjadi istrinya namun belum bisa dia miliki.

Dokter Danar mengusap wajah Maira yang terlihat gelisah, namun dengan usapan itu tampak nya Maira menjadi tenang. Dan dia malah semakin memeluk lengan dokter Danar.

Dokter Danar tersenyum, dia mengangkat sedikit kepala Maira dan memindahkan nya keatas lengan nya. Biarlah bagaimana reaksi Maira besok, yang terpenting malam ini. Dia bisa menikmati tidur bersama istrinya. Dan karena tidak sadar, Maira langsung saja meletakan tangan nya didada dokter Danar. Karena tanpa dia sadari, dekapan ini benar benar membuat nya merasa nyaman dan aman.

1
Ari Sawitri
suka banget cerita kakak author 🙏 terimakasih.
ditunggu karya karya berikutnya 🤗😍
Ari Sawitri
klu biasanya di novel yg meluk dr blkg adl suaminya dan istrinya masak didapur. ini suaminya yg masak dan dipeluk istri nya .. aku suka bgt dg karakter dr Danar, baca ini mungkin sdh 4x tapi ga pernah bosan. 🤗🤭
Ari_nurin
sholat dhuhur dan ashar kan tdk dilafalkan ya bacaan sholat nya .. kok bs mendengar lantunan ayat yg dibaca ya? 🤔
Anita Nita
gak suka karakter maira
masria hanum
lebay, udah tau jadi istri harusnya bisa jaga marwah diri... gak semua ngidam aneh itu harus dituruti... istighfar, inget dosa...
Ari_nurin
ga takut dosa apa maira .. lagian milih dokter Danar bgt yg sdh jelas masa depan nya. lah si ervan ??? memperjuangkan ke orang tua nya saja dia ga mampu kok .. haddew goblok si maira
Deuis Lina
adakah d dunia nyata buat jadiin mantuku,,,
Lin
Luar biasa
Musyafir: makasi ❤️
total 1 replies
🌹Fina Soe🌹
kalo dipikir kasian dr danar dapat istri seperti maira...
🌹Fina Soe🌹
teruskan aja maira...lupa status...
🌹Fina Soe🌹
teruslah berbohong maira sampai suatu saat akan terungkap dgn sendirinya...jd orang kok gak ada bersyukurnya...
🌹Fina Soe🌹
nikmati aja maira...itu kan inginmu sampai tega mengabaikan dr danar..
🌹Fina Soe🌹
Cewek tapi gak ada kalem²nya,.pemalas lagi..tp sombong.. syukur² dr danar mau terima jd istri...
🌹Fina Soe🌹
maira sombong sekali....jd ingat para lelaki yg angkuh namun akhirnya bucin akut...🤣🤣
🌹Fina Soe🌹
kamu gak punya teman cerita karena kamu keras kepala maira, siapa yg mau kamu salahkan...dr danar sudah berusaha terima kamu tapi kamu yg angkuh..
🌹Fina Soe🌹
Maira kok kayak gitu ya..egois sekali...yg dipikir cm perasaannya sendiri...
Ari_nurin
bener nih anak .. ga tau agama, suami sdh memperingatkan spt itu masih dilanggar. ditinggal bener baru nyesel loe. Ama Ervan emang akan disayang sayang spt ama dr Danang. 🤔😕
Suherni Erni
Baguslah klu orang tuanya celak skalian sm kakaknya jg biar mati ginjalnya ambil
Suherni Erni
Kyk nya keluarganya erika perlu dikasih azab deh..biar orang tua biadab dan kakak jahanamnya tau hukuman bagi orang²bejad
Aqella Lindi
tenang dokter kemala jodoh mu seketaris zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!