NovelToon NovelToon
Simpanan Suamiku

Simpanan Suamiku

Status: tamat
Genre:Poligami / Single Mom / Janda / Selingkuh / Tamat
Popularitas:137.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen's Suga

Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.

Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.

Apakah pesan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalan

Sesuai kesepakatan, Fadel dan Lean pulang sebelum azan magrib. Lean terlihat membawa sebuah hadiah yang cukup besar, entah apa isi di dalamnya.

"Besar banget hadiahnya. Mau dikasih ke siapa, sih?"

"Aku punya temen baru di sekolah. Dia cantik, Ma. Besok dia ulang tahun di sekolah. Aku mau kasih kado ini buat dia."

"Mama kira mau jalan-jalan, kamu gak bawa uang, Sayang. Fad, nanti aku bayar, ya. Dia pasti beli yang mahal-mahal."

"Aku tersinggung jika kamu membayar kembali apa yang aku berikan pada Lean."

Arini tersenyum.

"Kalau gitu aku pergi dulu. Ini pesanan kamu."

Fadel memberikan sebuah kotak makanan pada Arini.

"Gak mampir dulu? Aku masak ayam woku kesukaan kamu."

"Om Fadel mau jemput seseorang, Ma. Ya udah, Om. Hati-hati di jalan, ya. Aku masuk dulu." Lean melambaikan tangan pada Fadel. Dia masuk diikuti Mba yang membawa kado besar untuk temannya.

"Aku pamit, ya. Kalau butuh sesuatu telpon saja."

"Mau jemput siapa?" tanya Arini membuat langkah Fadel terhenti. Suara Arini yang terdengar seperti seseorang yang sedang menginterogasi membuat Fadel tersenyum sebelum dia kembali membalikkan badan.

"Dia ...." Fadel terdiam. Dia ragu untuk memberitahu Arini siapa yang akan dia jemput malam ini.

"Tunangan kamu?" tanya Arini dengan mata sinis.

Fadel mengatupkan bibirnya. Tidak berkata iya ataupun tidak pada pertanyaan Arini. Hanya saja wajah Fadel menunjukkan bahwa dugaan Arini benar.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Arini membalikkan badan dan masuk begitu saja ke rumah. Dia menutup pintu sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi.

"Memangnya aku bilang apa? Gak ngomong apa-apa juga kan? Ck ck ck. Kalau marah kenapa malah gemes banget coba. Hadeuuuh ... janda satu ini memang, hufp!"

Arini melempar kotak makanan dari Fadel ke tas meja makan.

"Mba makan aja yang ada di kotak itu. Ajak semua orang."

"Iya, Bu."

Dengan dada yang tiba-tiba terasa tidak nyaman, wajah yang memanas dan tangan yang seperti kesemutan menahan amarah, Arini masuk ke dalam kamar.

Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

Pagi hari pun tiba. Dengan malas-malasan Arini bangun dan pergi mandi.

Rutinitas seperti biasa, sarapan, mengantar Lean ke sekolah, lalu pergi bekerja.

Sepertinya anak-anak sedang dalam keadaan sehat, pasien yang datang berobat pada Arini pun hanya sedikit. Arini bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

"Cindy, pasien kamu banyak gak? Aku udah selesai. Ngobrol dulu sambil ngopi yuk."

"Aku masih ada pasien, sih. Kamu duluan gih nanti aku nyusul. Jangan jauh-jauh, cafe sebrang jalan aja, ya."

"Oke, ya udah aku tutup telponnya. Jangan lama-lama."

"Hmmm."

Arini melepas jas kebesarannya, dia gantung, lalu segera pergi usai membersihkan tangan dan mengganti pakaiannya.

"Rin." Fadel memanggil Arini saat di depan rumah sakit.

"Mau ke mana?" tanyanya saat telah berhadapan dengan Arini.

"Mau ke depan, ngopi sama Cindy. Ada apa?"

"Kenapa susah banget di hubungi sih?"

"Aku gak mau ganggu kamu sama tunangan kamu itu. Makanya aku matiin ponsel."

"Abaaaang ...." Seseorang dari kejauhan melambaikan tangan pada Fadel. Dengan senyuman manis Fadel membalas lambaian tangan wanita itu.

"Temenin aku makan, aku laper." wanita itu dengan manjanya bergelayutan pada tangan Fadel.

"Mau makan apa?" tanya Fadel lembut.

"Apa aja, deh. Yang penting makan karena aku laper banget. Eh, ini siapa?" tanyanya saat sadar ada Arini di sana.

"Oh, ini ...."

"Saya Arini. Dokter yang bekerja di sini." Arini memotong ucapan Fadel.

"Arini ... Arini ...." Wanita itu tampak sedang mengingat sesuatu.

"Oh, iya. Dokter anak kan?"

Arini mengangguk.

"Bener, bener. Abang sering cerita soalnya. Wah, gak disangka bertemu di sini. Halo, aku ini Meysa. Aku--"

"Tunangannya Fadel kan? Wah, selamat ya. Jangan lupa undangannya kalau kalian menikah nanti. Saya pasti datang."

Wanita itu menoleh pada Fadel.

"Tentu. Nanti aku akan kirim langsung undangannya ke rumah kamu," timpal Fadel.

"Kalau begitu saya permisi."

Arini berpamitan dan pergi meninggalkan Fadel dan Meysa.

Fadel pun ikut pergi menuju mobilnya. Sementara Meysa masih berdiri di tempat yang sama.

"Tunangan? Maksudnya gue tunangan Bang Fadel gitu? Ih, ogah banget. Masa iya tunangan sama sodara sendiri, aneh! Bang, tunggu!" Meysa segera berlari mengejar langkah Fadel.

"Itu muka kenapa ditekuk terus, Neng? Awas penyok lama-lama," cerocos Cindy yang baru datang di tempat janjian.

"Sebel banget hari ini. Duuuh, sumpah! Bete banget tau."

"Kenapa?"

"Entahlah. Mood aku langsung buyar seketika."

"Meja kok masih kosong, belum pesen apa-apa?"

"Males!"

Cindy tersenyum melihat sikap Arini yang sedang kesal. Dia pun memanggil pelayan di sana untuk memesan minuman dan makanan.

"Kenapa jadinya? Ada masalah sama Farhan lagi?"

"Enggak. Semenjak cerai, kami tidak pernah saling komunikasi lagi."

"Terus ... kenapa sekarang keliatan bete banget?"

"Gak apa-apa. Nanti aku cerita. Sekarang makan aja dulu karena aku harus segera menjemput Lean ke sekolah."

"Ya udah kalau gak mau cerita. Sebaiknya kita benar-benar makan karena aku pun sudah lapar."

Mereka makan sambil ngobrol basa-basi tentang pekerjaan. Setelah selesai mereka kembali ke parkiran rumah sakit untuk mengambil mobil.

"Pamit ya. Sampai ketemu besok."

"Daaah." Arini melambaikan tangan pada Cindy. Saat dia hendak masuk ke dalam mobil, ponsel Arini berbunyi. Fadel menelpon.

"Kenapa, Fad?"

"Lean udah aku jemput. Sekalian ngajak dia makan siang."

"Makan siang?"

Arini teringat pada kejadian sebelum dia pergi ke cafe.

"Di mana kalian? Apa kamu mengajak Lean makan dengan wanita tadi? Yang benar saja."

"Iya, keliatannya Lean cukup akrab dengan Meysa. Gak ada masalah kok."

"Gak apanya, Fadel. Duuuh, kamu kenapa gak minta izin dulu sama aku? Pokoknya bawa Lean pulang sekarang juga. Aku tunggu di rumah."

"Tunggu sampai kami selesai makan dulu."

Tut Tut Tut

"Fadeeeel." Arini kesal.

Menunggu memang hal yang membuat semua orang merasa kesal, termasuk Arini. Dia terus mondar-mandir di depan rumah menunggu Lean dan Fadel datang.

Arini begitu cemas karena Lean pergi dengan Fadel dan tunangannya. Hatinya cemas karena tidak ingin Lean merasa kecewa karena pada akhirnya keinginan dia untuk menjadikan Fadel ayahnya tidak akan berhasil.

Klakson berbunyi. Satpam segera membuka pintu gerbang. Mobil Fadel muncul.

Arini sudah sangat tidak sabar menunggu mobil itu berhenti dan menunggu Lean keluar.

"Ma ...." Lean turun dengan ceria. Dia berlari menghampiri Arini. Mereka saling berpelukan.

"Maaf telat, soalnya tadi Lean minta beli mainan dulu," ucap wanita itu memberi penjelasan. Arini hanya melirik sekilas.

"Iya, Meysa baik banget membelikan apa saja yang Lean mau, iya kan, Lean?" tanyanya sambil menarik tangan Meysa lalu merangkulnya.

"Terimakasih." hanya itu yang Arini ucapakan, lalu dia membalikkan badan.

"Dokter Arini tunggu."

Langkah Arini terhenti saat Meysa memintanya. Kini Meysa ada di hadapan Arini.

"Kita bel berkenalan secara resmi bukan?"

"Untuk apa? Saya sudah tahu kalau kamu tunangan Fadel. Mau seresmi apa lagi?"

Meysa mengulurkan tangannya. Lama Arini tidak menyambut akan tetap Meysa tidak putus asa. Karena tidak enak hati, akhirnya Arini menerima uluran tangan Meysa.

"Aku Meysa, adik sepupunya Bang Fadel."

"Apa?"

Meysa mengangguk.

"Dia adikku, Rin. Bukan tunanganku," ucap Fadel yang memeluk Arini dari belakang. Fadel menyimpan dagunya di atas bahu Arini.

"Lean, kita masuk, yuk. Rapikan mainan kamu di kamar sekalian Tante mau lihat kamar kamu, boleh?"

"Aaayo ...."

Meysa dan Lean pun pergi meninggalkan Arini dan Fadel yang masih dalam posisi yang sama.

Dengan perlahan Fadel membalikkan badan Arini agar mereka bisa saling berhadapan. Fadel mengusap kedua pipi Arini dengan lembut.

"Aku tahu kamu marah karena Meysa. Dia bukan tunangan aku dan aku belum bertunangan dengan siapapun. Ayah bilang aku hanya harus menikah dengan satu wanita. Yaitu kamu, Rin."

Arini masih terdiam. Dia berusaha mencerna semua yang terjadi saat ini.

Fadel tertawa.

"Jangan berpikir terlalu keras. Intinya aku masih sama seperti dulu. Mirzan Fadel yang selalu mencintai kamu, Arini."

Fadel mendekap tubuh Arini dengan erat.

1
DN
Luar biasa
Yati Syahira
tetep jalang lakor yg menang dan bahagia istri wajib menderita di selingkuhin
angel
sayang gk ada balasan buat mantan
Queen's Suga: Iya, ya. Yuk lah nanti kita bales rame-rame. 🤭
makasih ya kak udah mampir. 🤗
total 1 replies
Hanipah Fitri
bagus banget ceritanya, enak dibaca, simpel dan tdk bertele tele
Queen's Suga: Hai, makasih ya udah mampir. sehat selalu buat kamu. 🤗
total 2 replies
Mawar berduri
aku suka ceritanya tp yg bikin makin suka krn Bab nya pendek. sukses terus ya
Hairani Siregar
Awal crita madih adem ayam aja, kira2 bab k brapa thor yg penuh dgn bawang merah brebesnya.
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
dineeeey: Hai , mampir yuk ke novelku yang berjudul
" WANITA SIMPANAN ( end ) , FIRST LOVE (end) , DI BALIK POLOSNYA ( end ) & DENDAM DI MASA LALU" dijamin seru dan bikin emosi
total 1 replies
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Titin Nur
,🤭🤭🤭
Riana
bohong berarti fadel bilang udah tunangan
Riana
oalah begono ceritanya...
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
Riana
apapun alasan orang tua bercerai utk anak ttp memyakitkan
Queen's Suga: Mereka akan punya luka yang tidak akan bisa disembuhkan.
total 1 replies
Riana
msh menanti kejujuran author
Riana
dengarkan penjelasan farhan baru ambil sikap
Riana
weh weh
Riana
hadeh kok kebalik ini
Riana
oalah salah bukan catrin tp lestari...
lestari alamku lestari desaku....
Riana
catrin ya
Riana
siapa yg telp farhan🧐
Riana
astaga😱😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!