NovelToon NovelToon
Rebellious Aphrodite

Rebellious Aphrodite

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Chicklit
Popularitas:79.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: adora belle

Cantik namun sifatnya sangat liar!

Elleandra Caroline, seorang gadis yang dijuluki sebagai Rebellious Aphrodite! Gadis yang mempunyai segudang catatan kenakalan itu tiba-tiba mengalami sebuah kecelakaan saat melakukan balap liar.

Lalu, saat tersadar, dia telah berada dalam dunia novel yang berjudul All I Want is You. Novel yang menceritakan kisah antara dua karakter villain; Aiden Drake O'Reagan dan Cassiera Romano.

Namun, alih-alih menjadi tokoh utama yang kuat, Elleandra justru terbangun di dalam tubuh figuran bernama Elleanor Sezadly, putri bungsu keluarga Sezadly yang lemah, bodoh dan sering ditindas oleh tokoh utama wanita. Ditambah lagi, Elleanor juga dibenci oleh Louisa, adiknya sendiri, karena telah lancang mencintai seorang Aiden!

Elleandra yang tidak terima terlahir kembali sebagai tokoh yang lemah, dia dengan penuh tekad ingin mengubah takdir hidup Elleanor dan menjadi bintang utama dalam novel tersebut!

🌹pjg/bab ±1500 kt
🌹FOLLOW AUTHOR AGAR TDK KETINGGALAN UP

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adora belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[RA] 07 : Adu Argumen

Jam menunjukan hampir pukul dua belas malam.

Lelaki paruh baya yang mengeluarkan sorot gelap dan mampu mengintimidasi orang-orang di sekelilingnya itu terlihat menatap tajam beberapa bawahan yang menunduk takut di depannya.

Kemarahan seorang Thomas Sezadly benar-benar mengerikan.

BRAK!

Thomas mengebrak meja, membuat semua bawahannya berjengit kaget. Ia mengeluarkan aura yang membuat suasana ruang keluarga ini kian mencekam. Di wajah memerah itu terdapat sedikit gurat kelelahan yang terlihat jelas.

"Kalian benar-benar tidak berguna! Mengawasi satu anak perempuan saja tidak becus!" Thomas tidak bisa menahan amarahnya yang bergejolak.

Louisa yang melihat Thomas mengamuk mulai menunjukkan ekspresi ketakutan.

"Ayah, Louisa mohon untuk tidak memarahi mereka. Mereka sudah berusaha, Ayah." Louisa memperlihatkan raut memohon dengan sangat jelas namun Thomas sama sekali tidak memedulikan ocehan Louisa.

Roseia terlihat terduduk di sofa beludru berwarna merah dengan tangan Kavin yang berada digenggamannya.

Kavin menatap ibunya dengan perasaan tegang Lelaki itu jelas tahu dimana keberadaan Elleandra.

"M-Maaf, Tuan. K-Kami tidak tahu sejak kapan Nona Pertama bisa mengendarai sebuah mobil, a-apalagi Nona Pertama memiliki kemampuan mengemudi yang sedikit diluar batas aman," kata salah satu bawahan Thomas dengan kepala ditundukan.

Thomas membuang muka dengan perasaan dongkol. Bagaimana bisa dia kecolongan?!

Roseia melepas genggamannya di tangan Kavin lalu berdiri untuk menuntun Thomas agar duduk di sofa. Wanita paruh baya itu mengusap bahu Thomas dengan lembut, mencoba meyurutkan amarah dalam diri Thomas.

Louisa beranjak mendekati sang Ayah. Dia memegang tangan Thomas dengan hangat.

"Ayah, Louisa menyesal karena tidak ikut menjaga dan mengawasi Kak Elle dengan baik. Seharusnya, kemarin Louisa menemani Kak Elle agar dia tidak kesepian dan berakhir nekat seperti ini. Harusnya Louisa membatalkan janji dengan Mr. Albertius dan menunda les pianoku sampai Kak Elle sembuh dan tidak merasa kesepian."

Louisa terus berbicara mengutarakan perasaan menyesal tidak terkira. Lihat saja raut wajahnya yang sangat merana, apalagi di tambah mata yang berkaca-kaca andalannya. Oh, betapa sempurnanya peran adik perhatian yang dia lakoni malam ini.

"Lou, sayang, ini bukan saatnya untuk menyalahkan dirimu sendiri. Bagaimana bisa kakakmu Elleanor begitu nekat seperti itu! Ibu masih tidak bisa mempercayai fakta ini." Roseia berkata dengan nada khawatir.

Louisa menatap lekat ke arah Kavin yang hanya terdiam lalu netranya beralih memandang Thomas dan Roseia.

"Emh, Ayah, Ibu." Louisa menahan perkataannya, membuat Thomas dan Roseia menoleh. Namun, gadis itu dengan cepat menunduk seolah-olah hendak mengutarakan sesuatu namun takut untuk mengatakannya.

"Ya, sayang? Kamu ingin bicara sesuatu? Kenapa rautmu terlihat takut seperti itu? Ada apa?" Rosiea bertanya dengan lembut.

Louisa bisa merasakan tatapan Kavin yang tertuju kearahnya.

"Lou merasa sangat khawatir dengan Kak Elle. Louisa sangat merasa bersalah pada Kak Elle karena tidak bisa membujuknya dengan baik. Seharusnya, Lou menemani Kak Elle agar tidak nekat pergi ke Dionyzeus— ah, b-bukan! maksud Lou, agar Kak Elle tidak nekat pergi sendiri di tengah malam, y-ya, maksud Louisa seperti itu."

Roseia dan Thomas menatap sang putri bungsu dengan alis berkerut. Mereka memberikan tatapan bertanya pada Louisa mengenai apa yang baru saja gadis itu katakan.

"Sungguh! Louisa tidak tau Kak Elle dimana. Louisa harap dia baik-baik saja. Louisa khawatir Ayah, Ibu, bagaimana ini?"

Louisa berkata dengan terbata-bata. Gadis berwajah lembut itu menggigit bibirnya pelan. Matanya menatap sendu ke arah Roseia dan Thomas dengan mata yang mulai berair. Mata itu memancarkan rasa khawatir yang begitu jelas.

"Apa kamu baru saja berkata jika kakakmu pergi ke Dionyzeus? Jawab Ayah dengan jujur, Louisa." Thomas berkata sambil menatap Louisa dengan tatapan menyelidik.

Roseia juga menatap Louisa dengan pandangan menyelidik.

Buru-buru, Louisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rautnya berubah panik dan pucat. Gadis itu lagi-lagi menggigit bibirnya seolah-olah dia telah salah berbicara.

"T-Tidak!"

Louisa meninggikan suaranya, sedetik kemudian gadis itu menatap Thomas dan Roseia dengan tatapan bersalah.

"M-Maaf, Louisa tidak bermaksud membentak. Louisa tidak mengatakan itu, Ayah. L-Louisa tidak berbohong. Kak Elle hanya berkata pada Lou jika dia pergi ke Diony— ah, bukan, maksud Lou, Kakak pergi ke luar malam untuk menyegarkan pikiran. Ya, seperti itu. Hanya itu yang dikatakan Kak Elle. Louisa salah berbicara. Maafkan Louisa."

Louisa mengepalkan kedua tangannya di atas paha sembari menundukan kepala.

"Tolong percayalah. J-Jangan menatap Louisa seperti itu, Ayah. L-Louisa tidak bersalah."

Lalu yang salah siapa?

"Redakan amarahmu, Thomas. Kamu menakuti putri kita! Kau tahu sendiri jika Louisa sangat mudah diancam dan terlalu ingin melindungi Elleanor. Jangan membuat dia semakin terpojok." Roseia berkata kepada Thomas dengan pelan namun penuh penekanan.

Thomas diam-diam memejamkan matanya dan menghela nafas perlahan untuk meredakan amarahnya agar putri bungsunya tidak ketakutan.

Roseia menatap Louisa dengan khawatir. "Lou, apa yang Elleanor katakan padamu? Dia sungguh pergi ke kelab milik putra Elizewski itu?"

"Tidak! Louisa mohon pada Ibu, kalian tidak boleh memarahi Kak Elle! Nanti Louisa bisa terkena— emh," Louisa menghentikan ucapannya dan menatap Roseia dengan mata memerah.

"Louisa ... L-Louisa, ah, bagaimana ini. Louisa takut." Suara Louisa semakin menciut.

Karena Louisa yang selalu saja menghentikan perkataannya, secara tidak langsung memunculkan spekulasi buruk di benak Thomas dan Roseia pada Elleanor.

Mereka pikir Louisa takut melanjutkan perkataannya karena putri bungsunya itu terlalu sering mendapat ancaman oleh putri pertama mereka, Elleanor.

Mereka langsung mengira jika Elleanor pasti akan menyakiti Louisa jika adiknya itu berani mengadukan perbuatan buruk Elleanor pada Thomas dan Roseia.

Oh tidak, Louisa yang malang.

"Sayang, apa yang Kakakmu lakukan padamu? Katakan pada Ibu, Louisa. Jangan takut. Kami akan melindungimu," kata Roseia dengan lembut pada Louisa.

"Kenapa anak itu tidak juga berhenti mengusik hidupmu, Lou? Bukankah Ayah sudah bilang padamu agar tidak lagi takut pada Kakakmu dan berhenti melindunginya! Kenapa kau mengabaikan perintah Ayah?!" Thomas membentak dengan marah.

Louisa gemetar ketakutan. Air mata mulai berjatuhan dari pipinya. Louisa hanya menggeleng pelan sambil menangis. Seolah-olah menunljukkan betapa tidak berdayanya dia dengan ancaman Elleanor.

"Ayah, Louisa minta maaf. Kak Elle tidak jahat pada Louisa. Jangan menyalahkan Kak Elle lagi. Pokoknya, tolong jangan menghukum Kak Elle walaupun hukuman mungkin bisa membuatnya berhenti— ah, tidak! Ayah tidak boleh menghukum Kak Elle! Benar, hukuman ... tidak boleh," lirih Louisa dengan linangan air mata.

Gadis itu kembali menunduk namun, kali ini dia menyeringai dengan samar. Setelah itu dia kembali menunjukan wajahnya yang menyedihkan.

Thomas dan Roseia menatap Louisa dengan nanar karena melihat air mata yang keluar tanpa henti dari netra gadis itu.

"Benar, hukuman. Kakakmu bersalah dan dia harus dihukum! Apa dia berkata bahwa dia akan menyakitimu jika Ayah menghukumnya?" Tanya Thomas pada Louisa.

"T-Tidak, Kakak tidak salah! Louisa mohon jangan hukum Kakak, Ayah! Kumohon, kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik, ya? Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku baik-baik saja. Ada kalian di sisiku. Kumohon, Ayah jangan menghukum Kak Elle." Louisa memohon dengan mata berair sembari mengenggam tangan sang ayah dengan erat.

"Tidak! Kakakmu tetap harus dihukum!"

"Ayah, Kak Elle sedang sakit. Dan sekarang, Kak Elle mungkin saja mengemudi dalam keadaan mabuk—, ah, tidak, Kak Elle tidak seperti itu! Kak Elle adalah Kakak yang baik, kan? Bagaimana kondisinya sekarang? Ibu, Ayah, Louisa khawatir," lirih Louisa sambil sesekali mengusap air matanya.

Sangat mengagumkan! Bukankah gadis itu memang sangat pandai menyulut api?

Thomas mengepalkan tangan. "Sekarang anak itu menjadi semakin liar! Pergi ke kelab di tengah malam seperti ini lalu mabuk sambil mengemudi! Apa anak itu cari mati?"

"Ayah, tolong janji dengan Louisa, ya? Jangan menghukum dan memarahi Kak Elle. Kita mungkin kurang mengerti dirinya. Ini salah Louisa. Semua ini berawal dari Louisa yang terlalu kekanak-kanakan dan tidak bisa mengalah kepada Kakak. Jadi, jangan lagi menghukum Kak Elle atau Louisa akan sangat sedih dan semakin merasa bersalah." Louisa menatap Thomas penuh harap.

"Ayah, janji dengan Louisa, ya?" Melalui matanya, Louisa bisa melihat raut dingin yang tergambar pada wajah Thomas. Louisa menundukan kepala dan air matanya kembali berjatuhan.

"Louisa bodoh. Kenapa aku selalu saja membuat Kak Elle kecewa. Bagaimana ini. Aku takut. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Louisa berkata dengan lirih seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.

Namun, tentu saja apa yang dia katakan itu masih bisa di dengar dengan jelas oleh Thomas yang duduk di samping Louisa.

Roseia menggeram marah. "Anak kurang ajar! Kapan anak itu berhenti mengancam adiknya sendiri?"

"Siapa yang mengancam adiknya sendiri?"

Semua yang berada di ruangan menoleh ke arah seseorang yang baru saja bersuara.

Elleandra berdiri sembari menenteng tall boots-nya di tangan kiri. Dia menatap satu per satu orang yang berada di ruang keluarga ini.

Elleandra yang baru saja datang itu dengan santainya membuang sepatunya dengan asal. Lalu beralih menatap Thomas terlihat menahan murka.

Tatapan tajam Thomas begitu menghunus Elleandra. Tentu Elleandra menyadarinya. Hanya saja, Elleandra seakan tidak peduli dengan suasana yang terasa mencekam ini. Baginya, itu bukanlah apa-apa.

"Wah, apa aku ketinggalan sesuatu? Louisa, kenapa kau menangis? Ada apa ini?"

Elleandra memutar-mutar kunci mobil yang berada di tangannya seperti sebuah mainan. Lalu, dia menyilangkan tangannya di dadanya.

"Apa aku telah melewatkan sebuah ... drama keluarga?"

Elleandra mengerjapkan matanya dengan wajah polos.

Ah, lebih tepatnya, pura-pura polos.

1
Kelvin Alpin
bagus tapi sayang sekali tidak diteruskan
Lay's
Louisa adalah definisi dari manusia paling egois yg tdk menganggap penting orang lain. Seolah semuanya harus berfokus ke dirinya sendiri. Apapun yg terjadi, yg boleh untung cuman dia sedang yg lainnya ga boleh
Lay's
Azik abiezzzz
Lay's
Oliver lagi yg jadi korban
Lay's
Kok warna rambutnya ganti Thor? Kayaknya yg sebelumnya itu brown bukan gray
Lay's
Akhirnya Kavin tetap menunjukkan sikap pilih kasihnya. Ga cuman Kavin, bahkan semua anggota keluarganya tetap aja ga berubah
Lay's
Badas abissss
Lay's
Harusnya Elleanor ga sih Thor? Ini kan yg manggil guru dari dunianya Elleanor
Lay's
Wkwk demi meja yg tidak good looking
Lay's
Eleandra gue suka loe!!
Lay's
Mungkin maksudnya eksistensi ya Thor bukan esistensi
Lay's
Ihirrr akhirnya ketemu Aiden yg bikin deg"an
Lay's
Nice shoot!!
Lay's
Ini parah bgt sih keluarganya. Masak iya anaknya udh pingsan ga ada yg siaga 🙄🙄
Lay's
Mana gue ikutan senyum"
Lay's
Yuhuuu keadaan semakin memanas aku semakin suka 🔥🔥
Lay's
Menunggu hari pembalasan yg akan dilakukan Elle
Lay's
Mau tanya dong Thor, anak bungsu kok punya adik? Bukannya bungsu itu anak terakhir?
Lay's
Seketika benci si Naila walaupun dia sebenernya ngelakuin itu karena ketakutan
Muhammad Bagus
tokoh nya banyak omong. yg gesit bacotannya doang ala2 mak2 komplek.

pdahal lbh bagus tokoh dingin kek dia gini ga banyak omong lgsg dgn tindakan.

kalo pun mau memaki2 atau apala ya sekali2 ini hampir tiap ketemu ngandelin bacot.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!