NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Rania

Pilihan Hati Rania

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagi lagi Galih

Di tuntut profesional, Rania kini sudah selesai memoles wajah cantik Stefani. Tak ada celah untuk melakukan kesalahan walaupun sedikit saja.

Rania hanya perlu menunggu Sania melakukan tugas nya yaitu menata rambut Stefani. Ia memilih duduk di sofa dekat jendela memainkan ponsel demi mengalihkan perhatian.

Dani membantu merapikan beberapa keperluan Rania yang sudah selesai di gunakan. Rania bahkan tak mengerti kenapa laki laki itu sangat bucin terhadap Sania. Dia selalu berusaha menyesuaikan jadwal pekerjaan dan membantu Sania kesana kemari.

"Apa kau perlu sesuatu Nia? Aku bisa menyuruh orang untuk membawakan kalian minum dan snack."

Tanya Stefani melirik Rania melalui cermin.

"Tidak perlu, mungkin aku harus pergi sekarang. Mendadak ada satu client yang ingin bertemu."

Rania sempat mengecek email dan ia bersyukur memiliki alasan untuk segera pergi dari rumah Mario.

"Nia please,,, bisakah kamu tetap tinggal beberapa saat lagi? Aku ingin kamu disini hingga acara selesai."

Bujuk Stefani.

Sania dan Dani saling tatap satu sama lain. Sebenarnya Stefani memiliki niat baik atau memang sengaja membuat Rania panas menyaksikan pertunangan mereka.

"Dia salah satu client pentingku Stefi, jarang sekali punya waktu luang. Sania akan membantumu jika ada kekuarangan."

Rania hanya mengambil tas pribadinya lalu pamit pada mereka.

Tak ada yang berani berbicara setelah kepergian Rania. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.

"Rania tunggu! "

Seseorang mencegat lengan Rania sebelum ia keluar dari rumah.

"Ada masalah apa bu? "

Sedikit malas Rania berhadapan dengan bu Sela mamanya Mario.

"Saya harap kamu bisa menjaga batasan untuk tidak mendekati Mario lagi."

Perintah bu Sela, beliau selalu bicara sesuka hati tanpa tahu kebenaran situasinya.

"Ibu tenang saja. Saya tidak ada waktu untuk mengurus hal yang bukan menjadi prioritas hidup saya. Saya permisi."

Rania bergegas pergi meninggalkan Bu Sela, beliau tertegun melihat sosok berani Rania.

Jauh berbeda dengan Rania yang dulu ia paksa menjauh dari Mario. Kini Rania begitu berani, tegas dan tak kenal rasa takut. Mungkin beliau perlu mempercepat tanggal pernikahan anaknya agar Mario tidak berpaling dari Stefani.

Obrolan singkat mereka ternyata didengar oleh Mario tanpa sengaja. Ia semakin kesal melihat ibunya menyerang Rania secara terang terangan.

"Mama tidak perlu khawatir, dan jangan berani menyakiti Rania atau aku akan membatalkan pernikahan kami."

Ancam Mario melangkah mendekati mamanya yang masih terpaku.

"Mario, mama hanya memberi peringatan untuk Rania."

Bu Sela meremang, ternyata ancamannya didengar sang Putera semata wayang.

"Apa mama kira Rania tipe perempuan perebut? Dia bahkan mengorbankan perasaannya demi mama, menyebabkan kami berpisah secara paksa."

"Cukup Mario, kemungkinan kalian bersama jelas tidak ada."

Potong bu Sela tak ingin lagi mendengar isi hati Mario tentang Rania. Beliau pergi meninggal kan Mario untuk mengecek persiapan acara.

Di sebuah hotel mewah Rania sudah duduk di coffee shop dengan hot americano nya. Ia sudah memiliki janji temu dengan salah satu tamu hotel bintang lima itu.

Ia melirik arloji pada tangan kirinya, sudah hampir sepuluh menit Rania menunggu namun client penting perusahaan belum muncul juga.

"Maaf sudah menunggu lama."

Suara bass terdengar dari arah belakang Rania. Ternyata tamunya datang dari arah belakang.

"Tidak masalah, silakan duduk pak Hartono."

Rania berdiri menyambut kedatangan pria paruh baya yang ternyata papanya Galih.

"Saya sengaja meminta bertemu di luar jam kantor, untuk urusan akuisisi Galih sudah mendapstkan tanda tanganku."

Pak Hartono memulai percakapan.

Rania mengangguk paham disertai rasa tak mengerti. Lantas apa tujuannya mengajak Rania bertemu dengan beliau?

"Terima kasih, saya akan segera menyelesaikan pemindahan nya. Apa ada hal lain yang bisa saya bantu? "

Sepertinya pak Hartono memiliki alasan tersembunyi mengajaknya bertemu.

"Saya sudah mendengar banyak tentang kamu dari mamanya Galih. Kebetulan Galih baru saja putus dari pacarnya,,, "

Menjeda kalimatnya, sesaat pak Hartono memperhatikan manik mata fokus Rania menatap dirinya.

"Saya ingin kamu menjadi calon istri anak saya."

Lanjutnya lagi, berhasil membuat Rania tersedak salivanya sendiri padahal sudah sejak tadi Rania menghabiskan minumnya.

Kenapa orang tua Galih selalu melakukan hal yang sama padaku?

Batin Rania penuh tanya.

"Maaf sebelumnya pak tapi ini diluar konteks pekerjaan. Lagi pula saya hanya menganggap pak Galih teman, tidak lebih."

Rania merangkai kata demi menjaga perasaan pak Hartono agar tidak tersinggung dengan penolakannya.

"Benarkah? Saya rasa Galih menganggapmu lebih dari teman nona Rania."

Pak Hartono sedikit mengulum senyum melihat raut tegang Rania.

"Kalau begitu biarkan mas Galih yang mengatakannya langsung. Dulu tante Ami dan sekarang pak Hartono papanya, apa mas Galih tidak memiliki keberanian? "

Rania berapi api menantang Galih dihadapan papanya.

"Haha tenang saja, mungkin sebentar lagi anak itu akan tiba."

Tepat setelah perkataan pak Hartono selesai Galih tiba dengan nafas terengah engah. Dia bahkan membungkuk meraba lututnya yang kelelahan.

"Jangan dengar apapun yang papa katakan Rania. Dia selalu ikut campur urusan pribadiku."

Masih ngos ngosan Galih mencoba mengatur nafasnya.

"Papa lelah menunggu kepastian Gall, kamu juga sudah sangat matang untuk menikah. Kasihan mamamu tidak ada yang menemani saat kamu sibuk bekerja."

"Pa, mana mungkin Galih memaksa perempuan yang tidak mencintai Galih untuk menikah? "

Kini Galih memilih mendudukkan pantatnya di kursi, berada di tengah Rania dan sang papa.

"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, jika perempuan sudah dilamar tidak ada alasan untuk menolak. Tidak baik menolak jodoh iya kan Rania? "

Tatapan pak Hartono begitu mengintimidasi membuat Rania memijat pelipisnya bingung harus menjawab apa.

"Rania tidak begitu paham om soal itu, tapi papa memang pernah mengajarkan Nia soal itu."

Bak gayung bersambut, ucapan Rania malah menyeretnya semakin dalam di tangan Galih.

"Tuh kamu dengar sendiri Gall, perempuan hanya butuh kepastian bukan janji semata."

Pak Hartono gencar menantang keberanian anak bungsunya.

Bukan tanpa alasan pak Hartono mendesak Galih, beliau sering diberi kabar dari tante Ami jika Galih sudah lama menyukai seseorang namun terlalu takut untuk mendapatkan hatinya. Galih malah melampiaskan dengan mencoba menjalin hubungan dengan Iren, anak teman arisan tante Ami.

"That's enough pa! Ini urusan Galih bukan papa atau mama. Lebih baik kita bersiap karena harus menghadiri pertunangan Mario."

Ajakan Galih berhasil membuat Rania tersenyum getir mendengarnya. Galih yang sadar akan hal itu menyesal membahasnya.

"Kalau begitu kita datang bersama Rania saja, kamu mau kan nona? "

Ada niat terselubung di benak pak Hartono yang ingin Rania ikut mendampingi mereka ke acara pertunangan Mario.

"Sepertinya,,, "

"Tentu Rania bisa pa."

Belum sempat Rania menolak Galih sudah memberi keputusan.

"Aku yakin dia bisa."

Galih menatap Rania lekat, ia ingin membantu Rania berhenti mengenang masa lalunya. Perempuan itu perlu mengakhiri kisah mereka yang memang sudah lama usai.

"Tentu aku bisa."

Akhirnya Rania menyetujui. Ini saatnya bagi Rania menunjukkan jika dirinya baik baik saja dan sudah melupakan hubungan mereka.

Sebum pergi ke rumah keluarga Wijaya Galih mengajak Rania ke butik langganan mamanya. Ia berniat memberi gaun untuk dipakai Rania dan sedikit sentuhan make up.

Sekitar lima menit Rania mengganti pakaian kini ia bersiap di kursi untuk dirias wajahnya. Sementara Galih dan pak Hartono mengobrol menunggu di ruang tunggu. Mereka sesekali membahas soal Rania disela masalah pekerjaan.

"Harusnya sejak dulu kamu meneguhkan niat jika memang ingin menolong Rania."

Pak Hartono menepuk pundak Galih merasa kesal mengetahui nyali anaknya.

"Saat itu Galih masih bingung dengan perasaan Galih pa. Galih takut memaksa Rania hingga ia akan membenci Galih. Namun sepertinya takdir masih memberikan kesempatan."

Jawab Galih menatap dirinya pada pantulan cermin besar disebelah sofa yang mereka duduki.

"Buat dia jatuh cinta padamu Gall sehingga kamu bisa melindunginya. Tapi ingat harus perlahan."

Saran pak Hartono diiringi dengan kemunculan Rania dari balik tirai.

Kedua pria beda generasi itu terpaku melihat Rania. Ia begitu cantik dengan rambut terurai dibalut dress hitam tanpa lengan sepanjang paham. Menampilkan lengannya yang sedikit berotot. Make up sederhana tidak mengurangi kecantikan Rania.

"Apa ada yang aneh? "

Rania memperhatikan tatapan keduanya, ia pun lantas memeriksa kembali pakaiannya.

"Cantik,,, "

Terlontar pujian dari mulut Galih tanpa disadari olehnya. Pak Hartono hanya tersenyum simpul melihat keduanya.

"Ayo kita berangkat."

Ajak pak Hartono menyudahi nuansa gugup diantara mereka.

Mobil mulai memasuki pekarangan luas milik Wijaya setelah tiga puluh menit membelah jalanan. Tepat pukul setengah tujuh mereka bertiga tiba di teras rumah.

Beberapa tamu yang juga mengenal Galih dan papanya menyambut dan mengobrol singkat. Rania mengedarkan pandangannya mencari sosok Sania. Mungkin saja gadis itu masih berada di lantai atas, secara Dani akan mendampingi bosnya yang tak lain Mario.

Galih menarik pinggang Rania agar fokus berada disampingnya. Membuat Rania kaget tetapi pasrah mendapat perlakuan aneh darinya.

"Galih ini kenapa sih? "

Gerutu Rania dalam hati.

"Wah siapa perempuan cantik disamping pak Galih ini? Bukankah patut diperkenalkan."

Salah seorang kolega memberanikan diri bertanya. Sejak tadi Galih tak pernah melepaskan tubuh Rania.

"Dia Rania Adnan, calon menantu Hartono."

Pak Hartono menjawab dengan penuh percaya diri.

Menyebut dirinya menantu dan berarti calon pasangan Galih membuat Rania memperhatikan wajah Galih yang tersenyum ramah seperti mengiyakan.

"Kenapa Galih manis sekali."

Rania segera menggelengkan kepala cepat menghapus pikirannya.

"Akhirnya Galih akan segera menyusul Mario."

Ucap seorang Wanita paruh baya yang merupakan partner bisnis Galih.

"Do'a kan saja semuanya lancar tante."

Mungkin itu juga merupakan sebuah do'a dari dalam lubuk hati Galih.

Rania hanya mampu nyengir kuda menatap mereka dengan canggung. Biarkan sajalah toh tidak ada yang merasa di rugikan pikirnya. Mungkin Galih memang benar menyukai dirinya, Rania tak menampik jika Galih yang sekarang jauh lebih baik.

Hingga tiba sepasang suami isteri berhasil menghapus keceriaan Rania. Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah saku jas Galih.

"Wah Galih datang dengan siapa ini? Cantik sekali."

Wanita tua namun tetap segar dengan make up naturalnya menyanjung perempuan disebelah Galih.

"Benarkah tante? "

Galih memastikan pujian untuk Rania tidak semu belaka.

"Tentu, siapa perempuan yang sudah berhasil menaklukan Casanova kita hem? "

Tanya nya lagi hendak mengintip wajah Rania.

"Tidak apa, biarkan tante Sela menganalimu."

Galih meyakinkan Rania lalu sedikit memutar tubuh Rania yang masih setia ia dekap untuk menatap wajah wanita yang sudah menolaknya.

Betapa terkejutnya Bu Sela mengetahui siapa perempuan pendamping Galih. Ya, Rania Adnan mantan kekasih Mario putera kebanggaannya.

"Selamat atas pertunangan putera ibu dan juga Stefani. Saya turut berbahagia."

Mungkin hanya kalimat tersebut bisa Rania gunakan sebagai tameng agar ia mampu menguasai perasaanya.

"Rania? "

Lirih pak Wijaya terkejut. Beliau kaget ketika mendapati Rania berada di sekeliling Mario meskipun mereka sudah berpisah.

"Oh ya aku lupa jika calon menantuku pernah bekerja untuk Mario. Dia memang perempuan cerdas dan juga baik hati, pantas saja sejak dulu Galih memendam rasa pada Rania."

Dengan bangga Pak Hartono mengakui Rania sebagai calon isteri Galih.

Beliau juga ingin membalas perlakuan sahabatnya yang sudah tega mengusir Rania begitu saja hanya karena tidak menerimanya sebagai pasangan Mario.

"Pa lebih baik kita mulai saja acaranua."

Mereka tak mampu berkata kata, bu Sela lalu menarik lengan pak Wijaya untuk segera mengumumkan pertunangan Mario dan Stefani.

visual

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!