Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya sudah biasa ya. Tapi bagaimana kalau sampe deja vu setelahnya? 😯😊
SINOPSIS
Nindy dan Hasan dipertemukan di sebuah event Paskibra. Dari pertemuan pertama mereka, Hasan sangat terkesima pada Nindy. Demikian juga dengan Nindy, dia penasaran siapa Hasan, yang bisa memandangnya sedemikian intensnya.
Dari kejadian itu juga yang membuat Nindy sampai mengalami mimpi selama 3 minggu berturut-turut secara berkelanjutan, yang membuat dia insomnia dan sempat mengalami gangguan belajar. Semua mimpinya tentang Hasan, lengkap seperti alur cerita, dan seperti kejadian nyata.
Ketika mereka bertemu kembali, Nindy seperti mengalami deja vu ketika bersama dengan Hasan. Dan ketika diingat-ingat, ternyata kejadian itu semua ada di dalam mimpinya.
Penasaran gak kira-kira bagaimana jalan cerita mereka? Apakah hubungan mereka berdua akan berakhir bahagia? Ataukah hanya sekadar bertemu, menjadi teman, dan berakhir disitu saja?
Simak terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intertwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Ganteng
Hari Selasa saat pemotongan rambut pun akhirnya tiba.
Hasan lagi-lagi ingin menjemputku, dengan alasan menebus kesalahannya yang kemarin.
Aku sebenarnya nggak mau, takut merepotkan dia. Tapi setiap kali dia telfon aku dan bilang besok mau jemput, semakin aku jawab tidak, semakin dia bersikeras.
Jadi akupun tak ada alasan untuk menolak ajakan dia lagi, karena sesungguhnya memang aku gak rugi kalau dia yang jemput.
“Udah siap berangkat?” Katanya di telfon.
“Eee… Iya, siap. Tapi, aku belum pulang, aku masih di sekolah.”
“Oke, aku jemput kamu ke sekolah. Sambil sekalian kenalan dengan paskibra sekolah terbaik se Jawa Timur versi Gelegarr 2011. Hahaha…” Katanya dengan tertawa lantang.
“Eh, nggak usah. Hari ini bukan latihan wajibnya paskibku. Lagian kamu jemput aku di depan gerbang aja nanti. Gak usah sampe masuk segala. Awas aja ya kamu!!” Kataku mengingatkan.
Padahal sebenarnya hari ini teman-temanku memang lagi latihan. Mereka akan ada pemilihan pasukan untuk pengibaran di Kecamatan. Mampus kalau satu sekolah tahu aku dijemput Hasan.
Semenjak kejadian mengerikan hampir satu tahun yang lalu, aku yang paling dikenal anti dengan cowok. Aku bisa saja dekat dengan beberapa temanku cowok, hanya kalau dia sahabatku dan aku kenal baik dengannya. Seperti contohnya Ridan.
Kalau yang gak kenal, jangan harap mereka bisa berkenalan atau bahkan mendekatiku. Aku tertutup mulai kejadian itu.
Dan agaknya, kalau sekarang aku dijemput cowok macam Hasan (siapapun cowok walaupun bukan Hasan), semua orang akan berpendapat bahwa aku sudah mulai terbuka lagi dengan cowok-cowok baru. Itu akan jadi berita buruk, karena aku masih belum siap berkenalan dan menjalin hubungan lagi untuk saat ini.
“Nggak papa lah. Aku pengen tahu aja. Oke ya, aku jemput kamu, aku udah deket ini. Bye… Assalamu’alaikum.” Katanya dengan diiringi bunyi “tuutt...” yang panjang.
“Dasar cowok geje. Ngapain juga dia mau tau temen-temen paskibku. Nggak penting banget!!”
“Nindy!!”
Suara salah satu temanku memanggil, dan aku menoleh. Ternyata adalah Anggis.
“Iya, ada apa Nggis?”
Aku berharap jangan mencegahku pergi sekarang. Bisa gawat kalau Hasan tau aku masih di dalam area sekolah.
“Mau bantu aku milihin pasukan buat pengibaran di Kecamatan? Kita tinggal milihi yang kelas X nih, teman-teman ngandalin Paskabnya buat milihin yang kelas X. Mau ya??” Kata Anggis memohon.
“Ha?? Kenapa harus Paskabnya? Eee... Ridan sama Desi mana?” Tanyaku.
Bego juga kenapa tadi aku nggak nyuruh mereka nunggu aku berangkat bareng. Karena Desi juga nggak bawa motor sama kayak aku, dia jadinya bareng Ridan. Tapi sekarang mereka dimana…
“Mereka udah berangkat duluan, katanya Ridan lagi ada urusan, makanya ngajak Desi berangkat duluan. Lah kamu nunggu siapa, Nin?” Tanya Anggis curiga.
“Eeee... Aku… Aku... Nunggu jemputan. Eee... Barengan sebetulnya. Masku, iya, Masku. Hehe...” Kataku dengan sebisa mungkin menyembunyikan gagapku karena berbohong.
“Oh, nunggu Mas kamu, yaudah masuk dulu, nanti kan dia nelfon kalo udah disini.”
Mati aku!! Aku nggak bisa bohong untuk kedua kalinya.
Yaudah deh, aku nurut aja. Dengan harapan Hasan mau nelfon aku dulu kalo udah sampai di depan.
“Oke. Aku bantu sekarang. Kelas X-nya uda siap?”
“Udah, yuk!”
Dan kurang lebih 15 menit dari aku memilih pasukan bersama teman-temanku, aku melihat pak satpam berjalan ke arahku.
Aku diam saja dan tetap melanjutkan melihat PBB juniorku. Namun pak satpam jelas sekali sedang melaju ke arahku.
Aku sempat bertanya kenapa beliau kesini, padahal ini masih siang, nggak mungkin sudah disuruh bubar kan latihannya.
“Mbak Nindy, ada yang jemput.” Katanya sambil menunjuk ke arah gerbang.
“Oh iya Pak, makasih.” Kataku.
Sempat sesaat aku lihat pak satpam tersenyum ke arahku. Ada apa ya… Namun aku langsung berbalik ke arah teman-temanku dan berkata.
“Masku udah dateng jemput, aku ke PPI dulu ya.”
“Oke Nin, makasih ya… Selamat berpendek ria. Haha…”
Rupanya teman-temanku sudah tau kalau agenda ke PPI hari ini adalah potong rambut.
Namun belum sempat teman-temanku berhenti tertawa dan aku sendiri belum sempat balik badan untuk pergi meninggalkan mereka, bagai ada malaikat turun dari langit, mereka ternganga ke arah selasar beton depan kelas-kelas.
Bahkan Anggis yang mengambil-alih pasukan ikut terdiam, membiarkan junior kelas X dalam posisi hormat ditengah siang bolong begini di depan tiang futsal.
Aku pun serentak menoleh mencari tau sumber pengalih perhatian mereka.
Dan tepat saat itulah, 'Si Makhluk Super Menjengkelkan Hasan' menghentikan motor balapnya dan melepas helmnya.
Aku ikut tersentak melihat kelakuan memalukannya itu (menurutku).
Aku terpaku di tempat. Tak sanggup berkata-kata ataupun bertindak. Membiarkan saja semuanya terdiam. Berharap teman-teman tidak tau kalau Hasan datang menjemputku.
Aku diam saja, hanya saja posisiku di tengah teman-teman dan juniorku terlalu kentara.
Aku memang berbeda dengan teman-temanku. Walaupun aku bersembunyi di belakang mereka semua, dan walaupun itu hal konyol yang takkan terjadi mengingat aku lebih tinggi dari mereka semua, Hasan akan langsung mengetahuiku.
Aku sempat mendengar salah seorang temanku berceletuk.
“Siapa dia? Nggak mungkin anak Karunia, terlalu ganteng.”
'Terlalu ganteng katanya? Dih... Muka menjengkelkan gitu!!' Kataku dalam hati.
Masih saja mereka semua terdiam, seperti di drama-drama romansa yang ogah aku tonton. Dengan gerakan slow motion Hasan mulai mendekati kami.
“Salam Merah Putih!!” Sapanya dengan suara memukau dan sikap hormat yang tegas.
“Jaya!!” Aku dan teman-temanku menjawab.
Dan seperti penderitaanku di dunia ini masih kurang saja, Hasan berkata.
“Saya Hasan, Capaska 2011. Apa boleh saya meminjam Nindy? Kami harus segera ke PPI, karena akan ada pemotongan rambut komunal. Tentunya kalian sudah tau itu.”
Katanya dengan tersenyum sebagian di bibirnya dan menaikkan alisnya yang lebat dan keren ke arah teman-temanku.
Dia bahkan tidak memandangku sedetikpun. Dasar sialan!!
“Nindy??” Tanya temanku Rina dengan bego.
“Iya, Nindy. Teman kalian yang ada di belakang kalian itu. Yang sekarang lagi gak merasa bersalah kayaknya membiarkan saya menunggu lama di depan gerbang.”
Katanya ganti memandang ke arahku dengan ekspresi puas yang berbeda dengan perkataannya.
Wajahku memerah dan mendongkol ketika teman-temanku memandang ke arahku.
“Katanya Mas Okta yang mau jemput kamu?” Tuding Anggis ke arahku.
Dia tetap saja membiarkan juniorku hormat ke tiang futsal.
“Ee... Ee... Ii... Iya, tadinya Mas Okta yang mau jemput aku. Tapi mungkin dia... Dia gak bisa.” Kataku berbohong ke teman-temanku.
Untung saja Tyas segera menyahut menguasai keadaan.
“Eee... Maaf Bang Hasan, tadi kami minta bantuan Nindy dulu buat milih pasukan pengibaran di Kecamatan. Kami kira Mas Okta tadi yang akan jemput. Kalau begitu sekarang dia bisa segera ke PPI.”
Kata Tyas sembari menarikku untuk mendekat ke Hasan. Dan aku segera menjauhinya seakan dia berpenyakit menular.
“Terima kasih, kami sudah mau telat soalnya. Sampai ketemu ya.”
Dan dia bersalaman ala paskib ke teman-temanku dan kemudian menarik tanganku menjauh.
Aku segera melepas tangannya dengan sebal.