NovelToon NovelToon
DOKTER CINTA

DOKTER CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Dokter / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ind_Chris

Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.

Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.

Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.

Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan Belas

Lia duduk di atas ranjangnya dan bersandar pada dinding, sementara itu dokter Adi duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya. Dokter Adi mengeluarkan beberapa berkas tentang Lia dari dalam tas kerjanya.

"Kamu akan bekerja di sini?" tanya Lia. Dokter Adi mendongakkan kepalanya dan menatap Lia.

"Kamu tidak suka aku di sini?" ucap dokter Adi balik bertanya.

"Berikan saja obatku agar aku bisa tidur dan kamu bisa kembali bekerja." tukas Lia. Dokter Adi menggeleng.

"Aku tidak akan memberikanmu obat lagi." tolak dokter Adi. Lia menghela nafasnya.

"Aku ingin tidur." ucap Lia pelan.

"Apa aku perlu memelukmu agar kamu bisa tidur?" canda dokter Adi. Lia menatapnya tajam, dokter Adi tertawa-tawa kecil.

"Kamu mau berjalan-jalan di luar?" tawar dokter Adi.

"Sepertinya malam ini langitnya cerah. Mungkin saja setelah berjalan-jalan kamu bisa tidur dengan nyenyak." duga dokter Adi.

Akhirnya Lia mengikuti ajakan dokter Adi, dokter Adi mempersiapkan Lia untuk keluar, ia memakaikan sandal pada kedua kaki Lia.

"Kamu dokter pertama yang menyentuh kakiku." ucap Lia pelan. Dokter Adi hanya tersenyum lembut. Dokter Adi mengulurkan tangannya untuk membantu Lia turun dari ranjangnya, tapi Lia menolak uluran tangan itu.

"Tunggu dulu!" seru dokter Adi, ia mengeluarkan sebuah jaket berwarna biru tua dari tas kerjanya.

"Sudah kuduga jaket ini akan berguna!" gumamnya. Ia memberikan jaket itu pada Lia.

"Pakai ini supaya kamu tidak masuk angin!" perintah dokter Adi. Lia meraih jaket itu dan dokter Adi membantu Lia memakai jaket tersebut.

Mereka berjalan perlahan menuju taman rumah sakit, dokter Adi meraih tangan Lia dan menggandengnya. Lia yang terkejut menarik tangannya agar terlepas dari genggaman dokter Adi namun dokter Adi menahannya.

"Aku hanya memastikan agar kamu tidak kabur." ucap dokter Adi. Lia menghela nafasnya dan memasrahkan tangannya di gandeng oleh dokter Adi.

Mereka duduk di kursi taman yang pernah mereka duduki sebelumnya. Dokter Adi mengancingkan jaket yang di kenakan Lia. Sikap dokter Adi lagi-lagi membuatnya terkejut, ia menahan tangan dokter Adi, dokter Adi menatapnya.

"Aku hanya memastikan pasienku tidak kedinginan." terang dokter Adi. Lia pasrah!

Dokter Adi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Lia." panggilnya pelan. Lia menoleh ke arahnya.

"Apa kamu bisa menceritakan padaku bagaimana semuanya bisa terjadi?" tanya dokter Adi. Lia terdiam, perlahan ia mendongakkan kepalanya, matanya menatap langit yang tampak cerah malam itu.

"Malam itu langitnya mendung, udaranya pun sangat dingin." ucap Lia memulai ceritanya. Dokter Adi menatap Lia dengan seksama.

"Aku pikir semuanya terjadi begitu saja. Aku pikir semuanya itu adalah sebuah 'kecelakaan' tapi ternyata mereka sudah merencanakannya dengan baik." ungkap Lia. Dokter Adi tersentak.

"Aku pulang dengan orang yang biasa menjemputku, kami pulang dengan motor yang sama, melewati jalan yang sama, tapi..." Suara Lia mulai terdengar bergetar tapi ekspresi wajahnya tampak datar. Lia mengalihkan pandangannya ke wajah dokter Adi.

"Empat orang berpura-pura menghadang motor yang kutumpangi."

"Berpura-pura?" tanya dokter Adi. Lia mengangguk pelan.

"Mereka membawaku ke gudang yang sudah lama kosong." Ceritanya terhenti, Lia terdiam untuk waktu yang cukup lama. Perlahan wajahnya menampaknya ekspresi marah, nafasnya mulai terdengar tidak beraturan.

"Kalau kamu tidak sanggup menceritakannya, kamu tidak..."

"Aku mengenal mereka semua, dok!" potong Lia.

"Aku mengenal baik mereka!" ulangnya. Nada suara dan cara bicaranya berubah, Lia tampak seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.

Perlahan kedua tangan Lia bergerak dan mencengkram kedua lengannya, ia seperti orang yang sedang kedinginan, nafasnya menderu, Lia memalingkan pandanganya dan menundukan kepalanya. Dokter Adi menyadarinya, ia mengarahkan tubuh Lia agar menghadap ke arahnya.

"Lia! Lia.. lihat aku!" seru dokter Adi, tapi Lia mengabaikannya matanya malah terpejam dan ia tidak mau menatap dokter Adi. Cengkramannya pada kedua lengannya malah semakin kuat. Dokter Adi menarik kedua tangan Lia hingga melepaskan cengkramannya.

"Lia! Lihat aku!" seru dokter Adi lagi sambil mendongakkan kepala Lia. Perlahan Lia membuka matanya dan menatap kedua mata dokter Adi.

"Aku salah apa? Kenapa mereka berbuat seperti itu?" ucapnya lirih. Tiba-tiba saja tubuh Lia menjadi sangat lemah.

...

Dimas membantu dokter Adi memasang infus di tangan Lia dan menyuntikkan obat. Tiba-tiba saja Lia mengalami demam setelah mencoba menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada dokter Adi.

"Terima kasih, Dim!" ucap dokter Adi.

"Sama-sama, dok. Saya permisi, dok!" pamit Dimas.

"Oh iya, saya boleh minta bantuan sekali lagi, Dim?" tanya dokter Adi tiba-tiba.

"Apa itu, dok?" ucap Dimas balik bertanya.

"Tolong carikan aku semua data yang berkaitan dengan Lia, ya! Biodata lengkapnya, alamat dan nomor telepon keluarganya eem pokoknya semua yang berkaitan dengannya! Tapi yang paling penting alamat dan nomor telepon keluarganya." pinta dokter Adi.

"Baik, dok! Saya akan mencarikannya segera!" seru Dimas.

"Kalau kamu sudah dapat, tolong email-kan ke saya ya?!"

"Siap, dok!"

Dokter Adi kembali duduk di kursi kayu yang ada di samping ranjang Lia. Ia menatap Lia yang tergolek lemah di ranjangnya, matanya tertutup dengan sangat erat. Keringat dingin tampak membasahi kening Lia, dokter Adi mengusap kening Lia dengan handuk kecil.

"Ceritanya belum jelas." batin dokter Adi.

"Apa yang kamu maksud dengan berpura-pura?" gumam dokter Adi pelan. Tangannya perlahan membelai lembut rambut Lia yang berwarna hitam pekat.

"Hal yang paling menyakitkan adalah disakiti oleh orang terdekat." ucapnya dalam hati.

"Emm.. eee.." Lia tampak gusar, jemarinya bergerak-gerak, ia seperti sedang bermimpi buruk. Perlahan dokter Adi menyentuh jari-jari lembut itu dan menggenggamnya erat.

Dokter Adi mencondongkan tubuhnya ke depan, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Lia.

"Tidak perlu khawatir, ada aku di sini." bisiknya lembut. Dokter Adi mencoba memberikan sugesti agar Lia bisa lebih tenang dan tangannya kembali membelai rambut Lia dengan lembut.

...

"Kurasa, aku harus menemui keluarga Lia!" ucap dokter Adi.

"Untuk apa?" tanya suster Rina.

"Keluarganya sudah mempercayakan pihak rumah sakit untuk mengobati Lia dengan cara apa pun. Mereka akan menyetujui semua keputusan rumah sakit demi kesembuhan Lia." tukas suster Rina.

"Semalam Lia menceritakan kejadian malam itu dan aku merasa ada yang kurang jelas dari ceritanya. Aku ingin menanyakan apa yang terjadi sejelas-jelasnya." terang dokter Adi.

"Apa kamu perlu bertindak sejauh itu?" tanya suster Rina lagi.

"Maksudmu?" Dokter Adi tampak bingung dengan pertanyaan suster Rina.

"Maksudku begini, kita di sini bertugas untuk mengobatinya bukan untuk menyelidiki kasus kriminal yang menimpanya, kan?! Sudah ada polisi yang menangani kasusnya itu." terang suster Rina.

"Aku butuh informasi lengkap mengenai pasienku dan dari situ baru aku bisa menentukan bagaimana caraku untuk mengobatinya." jelas dokter Adi.

"Bukankah sudah jelas kalau Lia korban dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh sekelompok orang." ucap suster Rina.

"Bukan cuma hal itu yang melukai hatinya sampai saat ini, tapi ada hal lain." tukas dokter Adi. Suster Rina terdiam menatap dokter Adi dan dokter Adi pun membalas tatapan suster Rina itu, sesaat mereka hanya saling memandang tanpa suara.

"Bukankah kamu yang menginginkan aku untuk bersungguh-sungguh menyembuhkan Lia?!" ucap dokter Adi. Suster Rina menatap dokter Adi dengan seksama.

"Apa benar niatmu bersungguh-sungguh menyembuhkan Lia hanya karena permintaanku itu?" tanya suster Rina tiba-tiba.

"Jadi, kamu berpikir ada alasan lain di balik ini semua?" ucap dokter Adi balik bertanya. Suster Rina menatap kedua mata dokter Adi seakan mencari kebenaran dari ucapannya.

"Apa kamu cemburu?" tanya dokter Adi pelan.

...

1
IndChris
Luar biasa
arfan
up
Par Tini
autornya jahat kalau karakter Rina jahat kenapa di awal dia seolah wanita baik menyatukan pasangan kekasih bisa kok dgn cara baik2 tanpa ada unsur kejahatan Adi dan Lia bisa bersatu dan Rina bisa menerima dgn ikhlas,,, walaupun Rina jahat dia tetap seorang ibu yg baik utk anaknya dan q selalu menangis 😭 bila ada scene ibu dan anak itu
Par Tini
setiap membaca kisah suster Rina q tdk bisa membendung air mataku walaupun byk pembaca yg kasian dgn kisah Lia tp q salut dgn perjuangan suster Rina yg bisa berlapang dada menerima dan membesarkan anaknya sampai detik inipun Dina blm tau gimana awal dia sampai lahir ke dunia dan teman2 pasti tdk tau Rina korban pelecehan sampai menghasilkan anak,, untuk dr Adi apa yg di katakan ibumu benar adanya jgn menikahi Rina KL sdh tdk cinta jgn Krn mau menepati janji yg PD akhirnya menyakiti kalian berdua terutama Rina ..
Par Tini
sampai sini saya lebih tertarik dgn kisah suster Rina bagaimana dia melalui hidupnya membesarkan anak dari perkosaan itu tapi sayang dialog Rina sama anaknya seuprit
Lila
Sampai part ini…. Banyak hikmah yg bisa diambil.

Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
Salwa Aqila
udah mending meninggal ajh PK dokter ...
benci dokter Adi 😡
IndChris: waduh.. pemeran utamanya yg di benci.. 😅
total 1 replies
Salwa Aqila
benci sama dokter Adi ... 😡😡😡
Alfan Salim
sama" diperkosa sampek bingung mna yg pacarnya adi
lovetoon
wedding organizer kayaknya kerjanya lia
Queensha
akuu sukaa... bagus thor karya nya.. berdeda dg yg lain... ayo thor semangat utk nulis cerita selanjutnya...
lady El
itu alasan kenapa Lia jadi pasien spesial untuk suster rina karena dia juga pernah mengalami nya
Risna Wati
suka banget ceritanya.💖💖💖💖💖💖
IndChris: Terima kasih sudah suka karya ini..
total 1 replies
Risna Wati
💕💕💕💕💕
Aisyah Siregar
👍👍👍👍
Kim Yoona
sukaaaaaa...
Kim Yoona
aq suka karya mu thor beda dari novel kebanyakan.. semangat... trus berkaryaa💪💪
Kim Yoona: siap kak tapi nanti tak tabung dulu... nunggu agak banyak biar tdk terlalu lelah menunggu ... suka galau
total 2 replies
Kim Yoona
akhirnya bisa ketawa lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kim Yoona
apakah seperti ini korban pelecehan seksual... bknkah dia pernah merasakan diposisi disiksa orang lain.. knpa dia bisa setega itu
Kim Yoona
lia lbh bijak dlm menghadapi segala hal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!