NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Wira berjalan dengan langkah mantap dan tegap, membelah jalan setapak menuju perbatasan antara batas desa dan rimbunnya hutan. Langkah kakinya yang lebar membuat jarak yang jauh terpangkas dengan cepat. Tak butuh waktu lama, sosok tegapnya sudah sampai di tempat ketiga pemuda desa tadi menunggunya.

​"Kang Wira!" sapa mereka serempak sembari menundukkan kepala takut-takut, terutama saat sepasang mata elang Wira yang tajam menusuk langsung bertubrukan dengan pandangan mereka.

​"Ayo, jalan," ucap Wira datar, langsung melenggang melewati ketiganya begitu saja tanpa berniat menghentikan langkah.

​Parman, Darmanto, dan Sujito saling lirik sejenak, lalu mengangguk cepat dan mengekor di belakang pria yang paling disegani seisi desa tersebut. Rasa penasaran yang sedari tadi ditahan di ujung lidah akhirnya membuat salah satu dari mereka nekat membuka suara.

​"Kang! Siapa wanita yang di rumah Kakang tadi?" tanya Sujito penasaran setengah mati, mensejajarkan langkahnya sedikit.

​Wira bergeming. Ia terus berjalan menembus semak belukar tanpa niat memberikan jawaban sedikit pun.

​"Kang! Jawab toh, Kang..." rengek Sujito lagi dengan nada manja karena pertanyaannya diabaikan.

​"Ngopo sih, To? Kelakuanmu itu koyo bocah (seperti anak kecil)!" sahut Darmanto kesal melihat tingkah temannya yang tidak tahu situasi.

​"Iya! Bocah kolot!" sambung Parman ikut mencibir dari belakang.

​Wira mengembuskan napas panjang. Mendengar perdebatan para pemuda yang usianya terpaut lima tahun di bawahnya itu terkadang benar-benar menguras kesabaran. Terlalu kekanak-kanakan bagi Wira yang berjiwa matang.

​"Meneng!* (Diam!)" ucap Wira dengan nada datar, namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi.

​Seketika itu juga, rombongan pemuda di belakangnya langsung bungkam. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam.

​"Dia calon istriku. Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh mendekatinya... Paham?!" tegas Wira dingin, membalikkan tubuhnya sejenak untuk melempar tatapan memperingatkan yang sangat tajam.

​Parman, Darmanto, dan Sujito serempak menelan ludah dengan berat. Nyali mereka menciut seketika. Mereka mengangguk cepat seperti burung pelatuk, berjanji di dalam hati tidak akan pernah berani melirik Dinda lagi jika masih sayang nyawa.

​"Kita sudah sampai. Cepat potong bambunya," perintah Wira menginstruksi begitu mereka tiba di rumpun bambu yang lebat.

​Keempatnya segera bergerak cepat menunaikan tugas. Bunyi hantaman golok beradu dengan batang bambu mulai bersahut-sahut. Mereka menebang, memotong, lalu menumpuk dan mengikat batangan bambu tersebut menjadi satu ikatan besar.

​Sementara itu, di sudut lain Desa Rejo, tepatnya di kediaman mewah milik Ketua Kampung. Suasana di pelataran samping tampak cukup ramai oleh ibu-ibu yang mulai mempersiapkan perlengkapan dapur.

​"Mbok! Dengar-dengar, ada wanita asing yang berparas sangat cantik sedang menumpang tinggal di rumah pohonmu? Itu siapa namanya, toh?" tanya Kartini, istri Ketua Kampung, sembari tangannya sibuk memilah daun pisang.

​Mbok Ginem yang sedang duduk di amben dekatnya tersenyum simpul, mencoba bersikap setenang mungkin. "Oh, iya, Kar... Dia itu anak dari sahabat lamaku yang tinggal di wilayah kabupaten," jawab Mbok Ginem berbohong.

​"Owalah... Berarti kabar burung itu benar ya, Mbok? Memang aslinya ayu tenan toh?" Bu Kartini menghentikan aktivitasnya, matanya berbinar penuh minat. "Kira-kira... dia mau tidak ya, kalau dijodohkan dengan Lintang, anak lakiku?"

​Pertanyaan frontal dari Kartini sontak membuat jantung Mbok Ginem mencelos kaget. Kelopak matanya melebar seketika.

​Walah... Gawat ini! Si Kartini kenapa main asal jodoh-jodohkan saja? Nggak bisa! Wong anakku sendiri yang menemukan Dinda pertama kali di hutan, masa iya sekarang mau enak saja dicomot untuk dijodohkan dengan anakmu! jerit batin Mbok Ginem meradang, tidak rela aset berharga calon menantunya direbut orang.

​"Mbok? Si Mbok... Melamun tah?" tegur Kartini menyenggol lengan Mbok Ginem yang mendadak mematung.

​"Eh, ndak... ndak, Kar," jawab Mbok Ginem buru-buru menguasai diri. Ia berdeham kecil, mencoba memberi alasan penolakan halus. "Aku cuma ndak tahu, Kar. Soalnya Dinda itu gadis kota yang cantik sekali. Aku ndak tahu dia mau atau tidak dengan pemuda desa macam kita ini."

​Kartini langsung mengibaskan tangannya, meremehkan ketakutan Mbok Ginem. "Walah, kalau masalah itu, Kakangnya Lilis kan juga tampan, Mbok! Lintang itu pemuda tertampan di desa ini, selain..." Kartini menjeda kalimatnya sebentar, lalu melanjutkan dengan nada berbisik lirih seperti burung kecil yang bercicit, "...si Wirandu!"

Mbok Ginem terdiam seribu bahasa mendengar penuturan Kartini. Ia hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya terus sibuk membungkus adonan kue lemet singkong ke dalam lembaran daun pisang, mencoba menutupi kegelisahan hatinya yang mendadak tak karuan.

​"Buk, bisa Lilis bantu?"

​Sebuah suara lembut nan renyah memecah keheningan di antara keduanya. Dari arah pintu belakang, muncul seorang gadis cantik dengan kulit kuning langsat yang tampak bersinar segar—Lilis. Senyumnya sangat manis, serasi dengan sorot matanya yang cerdas.

​"Walah, Nduk... Tidak usah, tidak usah. Kamu baru saja sampai, istirahat saja sana di dalam," ucap Kartini cepat, berusaha menahan anaknya agar tidak terlalu lelah.

​Lilis menggeleng pelan, ia tetap mendekat dan duduk di samping sang ibu. "Tidak apa-apa, Buk. Lagipula aku sudah cukup istirahat tadi. Walah! Ada Mbok Ginem juga toh di sini? Apa kabar, Mbok? Sehat?" sapa Lilis dengan nada yang sangat sopan. Gadis itu meraih tangan Mbok Ginem lalu menyalaminya dengan takzim.

​Mbok Ginem tersenyum hangat, hatinya selalu luluh dengan kesantunan gadis ini. "Sehat, Cah Ayu... Sehat sekali. Lilis makin hari makin cantik saja ya, apalagi setelah pulang dari kabupaten. Auranya beda sekali," puji Mbok Ginem tulus.

​Pipi Lilis seketika merona merah padam, membuatnya terlihat semakin menawan. "Ah, si Mbok bisa saja memuji," elaknya malu-malu. Namun, tak lama kemudian ia memberanikan diri bertanya dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu, "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Kakang Wira? Apa dia baik-baik saja?"

​Mbok Ginem terdiam sejenak sebelum menjawab dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. "Wirandu baik, Nduk. Dia masih sama seperti dulu, sibuk berburu di hutan."

​Di dalam hatinya, Mbok Ginem justru menghela napas panjang. Hanya umurnya saja yang tidak baik, sudah dua puluh lima tahun tapi masih betah saja membujang. Tidak menikah-menikah. batin Mbok Ginem menggerutu cemas memikirkan nasib Anak satu-satunya.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!