Cerita ini berkisah tentang petualangan seorang pemuda bernama Aryasetya yang bertransmigrasi ke tubuh seorang pangeran bernama Agha Agana.Pangeran itu menerima racun sebelum dinobatkan sebagai Raja, setelah dia memasuki tubuh Agha Agana, dia dinobatkan sebagai seorang Raja di Kerajaan Agrapana.
Dengan berbagai bantuan dari para bawahannya yang terampil, Agha Agana memulai petualangannya. Menemukan berbagai hal baru di dunia yang ia tinggali dan perlahan dia mengerti seberapa luas dunia yang ia tinggali.
Dengan bantuan sistem, Agha Agana
mulai memperkuat kerajaannya dan perlahan dia mulai menapaki jalan penaklukkan. Dimulai dari dunia yang ia tempati kemudian dia menaklukkan berbagai dunia yang memiliki keunikannya masing-masing.
Dan nantinya kerajaan yang ia bangun akan terus ada dan berakhir menjadi Dinasti tanpa akhir.
Ikuti perjalanan Agha yang menapaki langkahnya menjadi seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OmuraRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter.20 Bertahan dari Serangan Lustiana Sword 3
Agha yang terjatuh dari Akai segera menggunakan kuda-kuda Buntala Sahasra Juntrung, kemudian dia memutar-mutar pedangnya ke segala arah hingga membentuk lingkaran yang melindungi dirinya.
Lingkaran itu semakin mengecil dan ketika berada di ukuran badannya Agha melepaskan energi yang berasal dari lingkaran itu ke Laist menggunakan pedangnya.
Laist menahan gelombang itu menggunakan teknik Great Giant Saber namun tidak mampu menahannya dan dia terjatuh dari kudanya, sedangkan kudanya terpotong-potong menjadi daging.
"Hahahaha... tidak buruk bocah. Keterampilan yang baik... namun kau tidak akan hidup untuk hari esok, hehehe kamu akan mati disini sebagai pengorbanan untuk sahabat dan ayahku." tawa jahat datang dari Laist ketika dia melihat tunggangannya mati dan niat membunuh darinya meluap-luap hingga menyebar ke sekitarnya.
Ayunan kedua saber yang dipenuhi haus darah, mengarah pada Agha, setiap ayunan berisi energi ki dan teknik yang digunakan Laist semakin menajam seiring waktu.
Gelombang demi gelombang energi ki dari Laist menyudutkan Agha dan Akai. Agha hanya mampu menangkis setiap gelombang energi ki dari Laist dan dia menggunakan Vanishing Step untuk menghindarinya.
Serangan demi serangan Laist lancarkan hingga keadaan di tempat mereka berduel berubah, Agha yang terdesak dan berada di ambang kekalahan, mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia terkena sabetan saber pada dadanya. Terpukul hingga terdorong jauh ke belakang Agha yang terkapar di tanah berusaha untuk bangkit kembali.
Melihat Agha yang hendak berdiri Laist segera melesat untuk membunuh Agha. Disaat Laist hendak menyerang Agha dia dihentikan oleh Sakura dengan Katananya.
Tusukan dan sabetan tajam penuh dengan niat membunuh keluar dari katana Sakura, dengan sudut yang tajam Sakura mengayunkan pedangnya. Namun serangan dari Sakura terhenti ketika hendak menyentuh tubuh Laist.
Laist menggunakan teknik pertahanan yang dia miliki yakni Body Rock. Teknik yang menggunakan energi ki untuk menyelimuti tubuhnya sehingga dapat menyerap serangan musuh dan mengurangi kerusakannya. Energi ki yang menyelimuti tubuhnya akan mengeras seiring dengan serangan yang dia terima, ini adalah teknik andalannya yang mengantarkan dirinya menjadi pimpinan Lustiana Sword.
Menarik katananya dan mengubah posisi katana menjadi seperti bulan sabit di atas kepalanya, bentuk tubuh Sakura terlihat indah ketika menggunakan posisi ini untuk mengeluarkan teknik Crescent Blood. Teknik yang menarik energi ki dari internal ataupun dari luar, lalu mengubah energi ki tersebut menjadi serangan yang memberi efek dingin pada lingkungan.
Semakin kuat energi ki yang dimiliki seseorang akan semakin mempengaruhi kekuatan dan keadaan sekitarnya. Sakura mengeluarkan teknik Crescent Blood lalu melepaskannya ke Laist.
Gelombang energi ki dingin dengan bentuk bulan sabit melesat menuju Laist dan Laist menangkis menggunakan Great Giant Saber ayunan saber dengan kecepatan tinggi dia gunakan untuk menangkis serangan Sakura namun Laist tidak mampu menangkis serangan itu lebih lama hingga pertahahan teknik Body Rock terkikis dan ditembus.
Laist terorong beberapa meter ke belakang, dengan darah di mulutnya dia terkikik tertawa dan menerjang Sakura dengan serangan brutal.
Pertarungan sengit timbul diantara mereka dan Agha yang lemah setelah menerima teknik dari Laist, tiba-tiba mengeluarkan energi ki yang besar dan meledak. Agha menembus dua tingkat sekaligus disaat dia menderita luka dari serangan Laist.
Gajah Mada yang melihat ledakan energi pada Agha tersenyum lebar.
"Hebat... Anda sudah memasuki tahap selanjutnya Yang Mulia, tidak salah aku memberi teknik itu padamu."
Visibilitas yang dimiliki Agha perlahan-lahan mulai pulih dan teknik Buntala *S*ahasra Juntrung mulai kembali ke puncaknya. dengan mata merah darah yang muncul kembali di mata Agha menandakan dia sudah berada di kondisi puncaknya.
Ayunan pedang Agha memberi dampak pada tanah disekitarnya, sayatan lebar muncul di setiap ayunan pedang yang mengarah ke tanah.
Darah yang menetes keluar dari mulut Agha nampak seperti taring berdarah ketika dia mengayunkan pedangnya. Disaat Agha terkapar dan terluka dia merasakan peningkatan kuat pada energi ki-nya dan menyebabkan energi ki meledak-ledak.
Dia hanya bisa membiarkannya dan tidak mampu menstabilkannya. Namun hal yang tidak dia duga terjadi teknik Buntala Sahasra Juntrung mengambil energi yang meledak-ledak dan menyerapnya hingga dia mengalami peningkatan seperti saat ini.
Agha langsung melesat dengan cepat menyerang Laist tanpa memperdulikan Sakura yang sedang menyerang Laist.
Tusukkan pedang dari Agha mengarah ke perut Laist namun serangannya dihindari, menggunakan Vanishing Step dan Ajian Tapak Badra bersamaan Agha berhasil mengenai dada Laist hingga membuat Laist terhempas jauh.
Errgghh....
Memegang dadanya, Agha merasakan rasa sakit di dadanya. Melihat Agha yang kembali ke keadaan dimana dia terluka, serta Agha yang terlihat memegang lukanya. Sakura segera mendatangi Agha dan melindunginya. Sakura telah melihat Gajah Mada dari kejauhan sehingga dia memutuskan untuk melindungi Agha bukannya menyerang Laist.
Agha mendapat serangan balik dari teknik Buntala Sahasra Juntrung hingga membuat luka yang sebelumnya mulai membaik berubah kembali.
Gajah Mada melihat Agha kembali terluka menunjukkan wajah khawatir dan dia memacu kudanya dengan sangat cepat.
Mengayunkan tombaknya untuk membunuh musuh yang menghalanginya, ekspresi penuh haus darah keluar pada wajah Gajah Mada, satu demi satu kepala prajurit Lustiana Sword berterbangan di sepanjang medan yang dilalui Gajah Mada.
Gajah Mada langsung melempar tombaknya dengan energi ki disaat dia melihat dengan jelas posisi dari Laist. Gajah Mada melompat dari kudanya melesat ke arah Laist, Gajah Mada terlihat terbang ketika melompat dari kudanya.
Gajah Mada mengaum ketika dia melesat ke arah Laist, auman dari Gajah Mada mengandung energi ki besar yang dapat membuat musuh menjadi lemas ketakukan bahkan mati seketika.
Musuh akan mengalami hal itu karena ketika Gajah Mada menggunakan teknik ini suaranya laksana petir yang menggelegar, teknik ini dikenal dengan Ajian Gunthur Lanthi.
Beberapa prajurit didekatnya terjatuh dan keluar darah pada telinganya. Setelah Laist menghindari tombak dari Gajah Mada meskipun tidak sempurna ketika menghindarinya, dia mundur dan membuat jarak dari Gajah Mada.
Laist merasakan niat membunuh dan tekanan mengerikan dari Gajah Mada hingga membuat dirinya menjadi takut dan was-was.
"Kamu... yang dikenal Laist kan? Lawan mu kini aku."
Gajah Mada menatap Laist yang terdiam kaku, Gajah Mada langsung melesat menghajar Laist dengan tangan kosong. Pukulan dan tendangan yang dipenuhi energi ki Gajah Mada lesatkan.
Laist menghindari dan membalasnya dengan teknik Great Giant Saber namun serangannya selalu meleset dan tidak mengenai tubuh Gajah Mada.
Setiap pukulan yang Gajah Mada lancarkan mampu merobohkan monster bahkan menghancurkan bangunan. Dengan serangan yang begitu kuat Laist akhirnya semakin terdesak dan efek dari cedera yang dia terima dari pertarungan antara dirinya dengan Agha, dan Sakura baru dia rasakan saat ini.
Laist yang tidak mampu menangkis serangan dari Gajah Mada secara sempurna akhirnya mendapat satu pukulan telak di dadanya dan mengirimnya terbang menjauh dari Gajah Mada.
Agha memegang dadanya dan berdiri dengan bantuan Sakura meminta Gajah Mada untuk tidak membunuh Laist melainkan menawannya.
Mendapat perintah dari Agha niat membunuh dari Gajah Mada menurun dan dia membawa Laist dengan menarik kepalanya ke arah Agha.
Pasukan Lustiana Sword yang melihat dua pimpinannya dibunuh dan pemimpin tertinggi mereka ditangkap, semangat bertarung yang mereka miliki mulai menurun dan banyak yang mulai melarikan diri, bahkan Kiyo Reima juga meninggalkan medan perang namun dia ditangkap oleh Danadyaksa. Kiyo Reima tertangkap setelah dia menerima serangan kuat dari Danadyaksa.
Gajah Mada yang melihat pasukan musuh melarikan diri segera berteriak menggunakan Ajian Galap Ngampar.
"Menyerah atau Mati."
Teriakan Gajah Mada menggema dan terdengar di penjuru Medan Perang. Pasukan yang hendak melarikan diripun memilih menyerah setelah terintimidasi oleh suara Gajah Mada. Prajurit Agrapana segera mengepung pasukan yang menyerah setelah mendapat instruksi Gajah Mada.
Selain menyerah banyak prajurit Lustiana Sword yang melarikan diri dari medan perang, melihat banyak yang melarikan diri The dark Vanguard dan pasukan Kavaleri yang dipimpin oleh Jabari Mbanefo langsung mengejar mereka.
Dengan kecepatan luar biasa Jabari beserta pasukannya mampu menumpas habis pasukan musuh yang melarikan diri.
Segera Agha dibawa ke tenda utama oleh Sakura. Disisi lain pertarungan antara Madhava dengan Bordan Knovic telah berakhir dengan kematian Bordan Knovic namun harus membayar harga mahal dimana Madhava terluka cukup berat.
Madhava menggunakan kedua tekniknya terus menerus untuk menekan Bordan Knovic hingga secara tidak sengaja tusukan tombaknya mengenai kepala Bordan Knovic dan menewaskannya seketika.
Agha yang berada di tenda utama melihat Laist dan Kiyo Reima yang menjadi tawanannya. Agha memikirkan perkataan dari Laist dan nama tentara bayarannya karena mereka nampak terhubung dengan dirinya. Agha menatap lama pada Laist sembari memegang dadanya yang terluka.
"Anda Laist. Apa maksud kata-katamu tadi?" tanya Agha dengan penuh minat.dia merasa bahwa perang ini sama sekali tidak sederhana. Laist yang ditatap begitu banyak orang tidak merasa terintimidasi melainkan dia tersenyum kecut.
"Apakah kata-kataku begitu menarik," jawab Laist dengan masam.
"Ya, itu menarik untukku. Yang menarik dari perkataanmu adalah ayah. Siapa ayahmu?" tanya Agha, dia merasakan bahwa kejadian di kerajaannya memiliki hubungan dengan perang ini.
"Ayah...ku... ya." Laist menundukkan kepalanya ketika ditanyai Agha bukannya sedih atau menangis Laist menjadi marah ketika mendengar pertanyaan Agha.
Melihat Laist yang tersulut emosinya, Gajah mada hendak bergerak untuk menyerang Laist namun dihentikan oleh tatapan mata Agha.
"Hmm... tidak mau memberi tahu ya." Dengan Nada dingin yang penuh niat membunuh Agha bertanya pada Laist. tidak mendapat jawaban dari Laist.
Dia berada pada ambang batas kesabaran, dengan tatapan dingin Agha memerintahkan Gajah Mada untuk mengeksekusi Laist.
Merasakan ujung tombak di tengkuknya keringat dingin menetes di badan Laist meskipun dia keras kepala dia juga takut mati, hingga dia membeberkan tentang dirinya.
kurang piknik nehhh authornya..