NovelToon NovelToon
The Privacy Life Of My Secretary

The Privacy Life Of My Secretary

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:188.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: Nona Cantik

[Cerita lain dari Me vs Boss]

[Judul Diperbaharui!]

Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?

Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.

Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.

Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?

Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,

"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.

Start: 29 Maret 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19. (Masih) Jadi Pengasuh

"Selle! Kamu bisa mandiin bayi?" Tanya Aiden. Pria itu saat ini tengah berdiri dibelakang Giselle yang terjongkok menghadap bak mandi yang sudah diisi oleh air hangat.

Tidak terlalu penuh. Cukup sedikit saja, karena yang akan mandi bukanlah dirinya. Melainkan Kanza dan Kenzo.

"Em... mungkin?!" Ucap Giselle. Sembari melepas satu-persatu pakaian yang bayi itu kenakan.

"Kok mungkin?" Aiden bersidekap sembari terus menatap punggung sekretarisnya itu yang masih setia berusaha melepas pakaian Kanza.

"Ya, mana saya tahu, Pak. Saya 'kan, gak punya anak!"

"Lha, terus? Ini gimana dong mandiin merekanya?" Tanya Aiden bawel.

Disisi lain, Giselle hanya bisa menghela napas atas berbagai ucapan yang bosnya itu lontarkan. Dia memilih untuk tidak membalas ucapan Aiden, dan lebih fokus untuk memandikan Kanza.

"Kenzo mana, Pak?" Sahut Giselle. Kepalanya menoleh ke arah Aiden yang terlihat berdiri sembari menyandarkan punggungnya pada tembok kamar mandi.

"Tuh, saya taruh didalam keranjang cucian." Kata Aiden, sembari mengangkat dagunya untuk menunjuk tempat keberadaan Kenzo.

Giselle mengikuti arah dagu Aiden. Wanita itu langsung memelotot ketika melihat keberadaan Kenzo yang begitu menghkawatirkan.

Bayi itu berada didalam keranjang cucian yang diisi oleh beberapa handuk dan pakaian bayi didalamnya.

Benar-benar, deh. Aiden begitu tega menaruh seorang bayi didalam sana? Bagaimana kalau keranjang itu jatuh ke lantai dan mencelakai Kenzo? Bisa ngamuk Chelsea dan Kenan nanti.

"Ih, kok Bapak tega banget, sih." Dumel Giselle. Ketika Kenzo telah berada didalam gendongan wanita itu.

Aiden tidak membalas ucapan Giselle yang ditujukan padanya. Pria itu hanya menatap Giselle dengan tatapan kebingungan.

"Gimana kalo keranjangnya sampai jatuh ke bawah? 'Kan, Kenzo bisa celaka, Pak!" Giselle mengomel kesal pada bosnya.

Dan untuk yang pertama kalinya, seorang Aiden diomeli wanita selain ibu kandungnya sendiri. Sialan.

"Kamu lagi!" Ucapan Giselle beralih pada Kenzo yang masih berada didalam gendongannya.

"Ngapain pake senyum-senyum!? Kamu hampir celaka lho, tadi? Kenapa gak ngadu sama Tante?" Cerocos Giselle pada Kenzo. Bayi itu bukannya menangis, dia malah terlihat senang. 'Kan, Giselle jadi ciut untuk kembali memarahi Kenzo.

Giselle menarik napas panjang terlebih dahulu, lalu mengembuskannya perlahan sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali memandikan kedua bayi itu.

"Kenzo di sini dulu, ya?" Giselle menaruh kembali Kenzo ke dalam keranjang tadi, namun keranjang itu sudah diturunkan ke lantai agar lebih aman bagi Kenzo dan lebih mudah juga baginya untuk mengawasi bayi itu.

Wanita itu setelah meletakkan Kenzo didalam keranjang, dia lalu melanjutkan memandikan Kanza yang sempat tertunda. Sesekali, bayi itu tertawa ketika Giselle menggosok lembut kulitnya. Dan Giselle pun tak kuasa untuk tidak menahan senyumnya.

Disamping itu, Aiden tampak mendengus kesal, karena Giselle tampak menghiraukan keberadaan Aiden. Sungguh menyebalkan.

"Selle!" Panggil Aiden. Pria itu lalu menegakkan posisi berdirinya yang semula menyandarkan punggungnya pada tembok kamar mandi.

"Hm." Jawab Giselle hanya dehaman.

Aiden 'kan jadi semakin kesal. Pria itu lalu ikut berjongkok disamping tubuh sekretarisnya yang masih setia memandikan Kanza. Tatapan matanya menoleh pada Giselle. Namun, tak sedikit pun wanita itu menoleh padanya.

"Selle!" Panggil Aiden lagi. Dan kali ini, Giselle melirik ke arahnya sekilas. Namun pada akhirnya, fokusnya kembali pada kegiatannya memandikan Kanza.

"Kamu marah?" Tanya Aiden. Tatapan matanya masih tertuju pada raut wajah wanita itu.

"Enggak. Ngapain saya marah!" Ucap Giselle. Wanita itu kembali melirik pada Aiden sembari tersenyum tipis.

Aiden tentu saja dibuat terpaku oleh senyuman tipis dari wanita itu. Terlihat begitu cantik, dengan kedua pipi chubby-nya dan sepasang mata sipitnya yang menghilang ketika tersenyum atau bahkan tertawa. Aiden 'kan jadi gak kuat.

"Pak, bisa ambilin handuknya?" Sahut Giselle. Lamunan tentang wanita itu pada pikiran Aiden seketika membuyar.

Tanpa membalas ucapan dari sekretarisnya, Aiden dengan sigap mengambil handuk bayi yang berada didalam keranjang yang sekarang sudah ada Kenzo didalamnya.

"Nih." Aiden menyerahkan handuk kecil khusus bayi yang berwarna pink pada Giselle.

"Sebentar," Giselle terlebih dahulu membenarkan posisi menggendongnya, sebelum pada akhirnya, dia menerima handuk bayi yang disodorkan oleh Aiden.

"Nah, sekarang giliran Bapak yang mandiin Kenzo. Saya mau pakein dulu pakaian buat Kanza." Ujar Giselle. Lalu melengos dari kamar mandi, meninggalkan Aiden dan Kenzo yang berada didalam sana.

"Kamu yakin nyuruh saya?" Sahut Aiden. Namun tidak didengar oleh wanita itu.

Lagi dan lagi, Aiden hanya bisa mendengus meratapi nasibnya. Menjadi baby sitter dengan tugas-tugas yang amat diluar batas kemampuannya, seperti memandikan bayi, menenangkan bayi yang menangis, menghibur bayi dan lain sebagainya.

"Ck, Kenzo beneran mau mandi?" Gerutu Aiden. Pria itu bertanya pada Kenzo yang masih setia berada didalam keranjang.

Bayi itu bukannya menjawab 'ya' atau 'tidak', dia hanya tertawa riang. Membuat Aiden semakin pusing dibuatnya.

"Jangan mandi aja, yah?" Gerutu Aiden lagi. Namun lagi-lagi bayi itu hanya membalasnya dengan tertawa riang.

Dia pikir, Aiden tengah mengajaknya bercanda karena pria itu begitu bawel pada seorang bayi.

"Hah... ya udahlah, Om bakal mandiin kamu." Pasrah Aiden dengan raut wajah memelas. Dan semua itu tak luput dari pandangan bayi dihadapannya.

****

"Nah, sekarang Kanza 'kan udah mandi, jadi kamu sekarang—"

"Giselle!!!" Sebuah teriakkan dari dalam kamar mandi, benar-benar mengagetkan Giselle. Sampai-sampai ucapan wanita itu terpotong karena suara teriakan nyaring itu.

Dengan perasaan yang campur aduk, Giselle pun berlari memasuki kamar mandi. Dan setibanya wanita itu didalam sana, betapa kagetnya Giselle!

"Pak Aiden!" Teriak Giselle, lalu berlari ke arah Aiden.

Ah, salah. Ke arah Kenzo maksudnya. Karena, bayi itu tengah menangis saat ini. Dengan posisi dirinya berada didalam bak mandi.

Dengan cekatan, Giselle mulai mengangkat tubuh mungil Kenzo dari dalam bak mandi, lalu menyelimuti tubuh basah bayi itu dengan sehelai handuk.

"Kok, Kenzo nangis? Kamu diapain sama Om Aiden, hm?" Tanya Giselle pada Kenzo. Bayi itu dengan tampang menyedihkan malah menaikan volume tangisannya. Seolah mengadu, bahwa dia baru saja menangis karena ulah Aiden.

Giselle mulai menenangkan bayi itu. Namun, tangisannya malah semakin menjadi membuat dirinya sedikit kewalahan.

Lalu ditatapnya Aiden yang berdiri kaku dibelakangnya. Pria itu tampak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Aduhh... Sebenarnya apa yang sudah Aiden perbuat pada Kenzo?

"Lha? Kenzo kok nangisnya makin kenceng sih, sayang? Aduh... Kenzo jangan nangis dong, Tante 'kan bingung jadinya..."

"Pak!?" Giselle menyahuti bosnya.

Aiden yang semula hanya menunduk bingung, kini pria itu mulai mendongakkan wajahnya. Menatap pada Giselle yang terlihat kewalahan menenangkan Kenzo.

"Ini Kenzo, Bapak apain?" Tanya Giselle sarkasme.

"Saya gak ngapa-ngapain dia! Tadi baru aja dimasukin ke bak mandi. Eh, nangis." kata Aiden, memulai pembelaan.

"Serius?" Tanya Giselle. Aiden mengangguk polos.

Giselle lalu berjalan ke arah bak mandi. Sembari berjongkok, Giselle mengecek terlebih dahulu suhu air dari dalam bak tersebut.

Dingin. Pantas saja Kenzo nangis. Bayi aja tahu kalau airnya dingin.

"Ya, harusnya Bapak mandiin dia pake air hangat, Pak! Bapak aja mandi pasti pake air hangat, 'kan?" Ujar Giselle. Dia pun bangkit dari posisi jongkoknya lalu menatap Aiden dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Iya, sih."

"Tapi, ya mana saya tahu, Selle! Seumur-umur, saya baru kali ini mandiin bayi!" Ujar Aiden.

Giselle memilih menghela napasnya terlebih dahulu, "Bapak pikir saya berpengalaman? Ya, sama, Pak! Baru kali ini saya mandiin bayi." Ucap Giselle. Nada suaranya terdengar jengkel.

Haduhh... Hilang sudah ide untuk kembali menggoda sekretarisnya. Dan sekarang, malah berakhir menjadi seperti ini.

Giselle marah pada Aiden! Pasti!

"Ya udah, saya minta maaf." Kata Aiden. Nada suaranya terdengar begitu memilukan di telinga Giselle. 'Kan, Giselle jadi gak tega.

"Hm... lebih baik, saya mandiin Kenzo dulu. Bapak tolong jagain Kanza aja di kamar." Ucap Giselle. Lalu wanita itu mulai mengganti air dingin dalam bak menjadi air hangat untuk memandikan Kenzo.

Untunglah. Bayi itu sudah mulai berhenti menangis. Jadi, inilah kesempatannya untuk segera memandikan Kenzo.

Disisi lain, Aiden tampak menghela napas berat. Tanpa berniat untuk menolak perintah dari wanita yang menjadi sekretarisnya, Aiden pun langsung keluar dari kamar mandi meninggalkan Giselle dan Kenzo yang masih berada didalamnya.

Haha, Aiden bahkan berubah menjadi patuh pada perintah wanita itu untuk menjaga Kanza. Huft... sejak kapan dirinya jadi patuh begini? Ah, sudahlah. Lebih baik dirinya bergegas menjaga Kanza daripada berlama di kamar mandi. Toh, dia juga tidak bisa membantu apa-apa.

****

"Nah, sekarang Kenzo udah mandi. Udah wangi. Tinggal... Up, pake baju." Gerutu Giselle, ketika dirinya baru saja selesai memandikan Kenzo.

Wanita itu lalu membawa Kenzo keluar dari kamar mandi untuk segera dipakaikan baju bayi. Setibanya di kamar, Giselle tidak melihat ada Aiden yang sebelumnya sudah Giselle suruh untuk menjaga Kanza.

Giselle mendengus sebal. Bosnya ini memang benar-benar tega meninggalkan seorang bayi sendirian didalam kamar. Bagaimana kalau tiba-tiba Kanza nangis? 'Kan Giselle juga yang repot.

"Pak Aiden kemana, si?" Dumel Giselle.

Tidak ingin terus memikirkan bosnya, Giselle memilih untuk mengeringkan tubuh Kenzo yang masih setengah basah dengan handuk. Setelah cukup kering, Giselle mengusapkan sedikit demi sedikit minyak telon pada beberapa area tubuh Kenzo. Lalu dilanjut memakaikan pakaian hangat pada bayi itu.

Setelah cukup lama bergelut memakaikan pakaian pada Kenzo, Giselle akhirnya selesai mengurusi bayi itu. Dan sekarang, saatnya bagi bayi itu untuk kembali ke dalam boks bayi bersama Kanza yang sudah sedari tadi berada di sana.

Namun, ketika Giselle sudah menaruh Kenzo ke dalam boks bayi, pandangan matanya tidak sengaja menangkap secarik kertas memo yang ditempelkan tepat di atas sebuah guling kecil yang berada di boks bayi tersebut.

Langsung saja Giselle mengambil secarik kertas itu dan membacanya dalam hati.

Meetingnya dipercepat,

Saya harus ke luar kota setelah meeting. Mungkin jam 2 siang sudah pulang. Maaf tidak memberitahu. -Your Boss, Aiden.

Giselle terkekeh geli ketika membaca tulisan bagian akhir dari memo tersebut. Your Boss. Kenapa Giselle rasanya ingin tertawa, ya?

Your Boss. Kenapa menggunakan bahasa Inggris? Pake bahasa Indonesia masih bisa kali, pikir Giselle.

****

"Pak!? Apa Bapak yakin akan pulang-pergi dari Jakarta ke Bandung?" Sahut seorang pria yang menjadi sopir pribadinya yang berjalan dibelakang sang atasan, yang tak lain dan tak bukan adalah Aiden.

"Hm. Kenapa?" Balas Aiden singkat. Sembari terus berjalan cepat keluar dari gedung kantornya.

"Tapi, apa tidak lelah, Pak?" Ucapan sopir itu sungguh membuat langkah kaki Aiden berhenti mendadak.

Pandangannya yang semula hanya datar dan lurus, kini beralih menatap sopirnya yang juga ikut menghentikan langkah kakinya.

"Tidak usah banyak omong." Ketus Aiden. Lalu melanjutkan langkahnya sampai parkiran. Tempat dimana para karyawan kantornya akan memarkirkan kendaraan mereka di sana.

"Cepat! Saya tidak punya banyak waktu!" Sahut Aiden. Ketika dia dan juga sang sopir sudah memasuki mobil ditempat masing-masing.

"Baik, Pak." Ucap sang sopir dengan patuh.

Tak lama kemudian, mobil Aiden sudah mulai keluar dari area tempat parkir itu lalu perlahan mulai menjauh dari gedung kantornya.

Di sepanjang perjalanan, Aiden hanya diam sembari memerhatikan layar tabletnya yang menyala. Memperlihatkan tulisan tentang keuntungan kontrak kerja bersama salah satu perusahaan lain yang berada di Bandung.

Gue harus dapat kontrak ini! Batin Aiden, sembari tersenyum menyeringai.

****

Waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Lebih tepatnya, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dan Aiden yang katanya jam 2 siang akan segera pulang, kini tinggal ingatan dalam pikiran Giselle.

Apakah Aiden terjebak macet?

Pikir Giselle yang entah sudah sejak kapan dia mulai memikirkan Aiden dalam lamunannya. Lamunan Giselle tiba-tiba membuyar ketika mendengar suara celotehan bayi yang tak lain sumber suaranya berada didalam boks bayi.

Giselle yang sedari tadi duduk termangu di atas sofa di kamar, langsung bangkit dari sana dan berjalan ke arah boks bayi itu.

Samar-samar, Giselle menyunggingkan senyum tipisnya pada kedua bayi itu yang terlihat mencoba untuk berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Keduanya mengoceh lucu, lalu saling membalas ocehan itu.

Perlahan, tangan Giselle terulur untuk menyentuh kedua pipi bayi kembar itu. Mengelusnya lembut membuat mereka tertawa menggemaskan. Hingga tak sadar membuat Giselle ikut tertawa.

"Kalian imut banget, si..."

"Jadi pengen deh, punya satu." Giselle menutup mulutnya. Merutuki dirinya sendiri yang asal bicara seperti barusan.

Nanti kalau ada yang dengar 'kan malu...

"Za! Zo!" Panggil Giselle pada kedua bayi itu.

"Tante bosen nih, dirumah mulu." Ucap Giselle. Seolah mengadu pada kedua bayi itu yang masih setia mengoceh.

"Main ke luar, yuk? Mumpung Om Aiden-nya gak ada dirumah!" Ajak Giselle. Seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Giselle, kedua bayi itu lantas tertawa. Dan Giselle yang melihatnya pun jadi ikut tertawa.

"Hem. Tante simpulkan, kalian mau!?" Ucap Giselle. Lagi dan lagi, kedua itu menjawabnya dengan tawa lucu mereka.

"Kalau begitu, Tante Giselle ganti baju dulu, ya. Jangan ke mana-mana!" Ucap Giselle lagi, yang terdengar seperti sebuah peringatan untuk kedua bayi itu agar tidak keluyuran ke manapun. Padahal, mereka 'kan belum bisa berdiri. Apa lagi untuk keluyuran? Mana kuat mereka.

Tak ingin membuang waktu lebih lama, Giselle berjalan ke arah lemari pakaian yang berisikan beberapa pakaiannya yang dia bawa sendiri dari apartemen. Setelah menemukan pakaian yang cocok, Giselle segera berlari menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Tidak kurang dari sepuluh menit, Giselle sudah selesai dengan mengganti pakaiannya. Dan sekarang dia tinggal merias wajahnya sedikit dengan make-up yang sehari-hari selalu dia pakai. Tidak perlu terlalu menor, sedikit krim wajah, bedak dan lip balm sudah membuat wajahnya terlihat cantik dan natural.

"Selesai!" Ucap Giselle. Tangannya mulai meraih sebuah ikat rambut yang dia taruh di atas meja rias, lalu mengikat rambutnya yang sedikit bergelombang ke atas.

"Nah, sekarang baru selesai." Ucap Giselle lagi, lalu berjalan ke arah boks bayi untuk menyapa kedua bayi itu.

"Tante udah cantik, 'kan? Sekarang... tinggal kabarin Om Aiden. Takutnya pas dia sampai nanti, dia nyariin kita bertiga lagi." Kata Giselle sembari membuka ponselnya yang sebelumnya sudah berada didalam tas selempang yang dia pakai saat ini.

"Pak, saya sama Kanza dan Kenzo mau jalan-jalan sebentar di taman. Bapak kalau sudah sampai Jakarta, langsung telepon saya saja. Nanti saya kasih tahu dimana lokasinya..." Giselle mengeja ucapannya. Seraya mengetikan huruf demi huruf hingga menjadi beberapa kata yang tersusun dalam beberapa kalimat.

"Terkirim." Merasa pesan yang dia kirim lewat Whatsapp pada bosnya terkirim, Giselle memasukan kembali ponselnya itu ke dalam tas selempangnya.

"Tunggu sebentar, ya! Tante mau minta bantuan dulu sama orang dibawah." Ucap Giselle lagi, yang ditujukan pada Kanza dan Kenzo.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Giselle segera keluar dari kamar dengan perasaan bahagia.

Entahlah. Sepertinya Giselle sangat antusias mengajak kedua bayi kembar itu untuk sekedar berjalan-jalan di taman. Atau... akan ada sesuatu yang manis terjadi padanya?

Entahlah. Giselle tidak tahu itu.

Epilog:

Saat ini Aiden baru saja menyelesaikan pertemuan pentingnya bersama salah satu pemilik perusahaan yang berada di Bandung. Pertemuannya dengan beliau benar-benar tidak mengecewakan. Aiden bahkan mendapatkan kontrak kerja sama itu tanpa perlu meminta belas kasihan.

Baru saja Aiden keluar dari dalam gedung pencakar langit itu, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk dari seseorang.

Ketika Aiden membuka ponselnya, sebuah pesan chat Whatsapp dari sekretarisnya membuat Aiden sedikit tertarik untuk membuka pesan chat itu.

Giselle ❤

Pak, saya sama Kanza dan Kenzo mau jalan-jalan sebentar di taman. Bapak kalau sudah sampai Jakarta, langsung telepon saya saja. Nanti saya kasih tahu dimana lokasinya.

Setelah membaca pesan chat dari sekretarisnya, Aiden langsung membalasnya cepat.

Share lock

✔terkirim

Aiden lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. Dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu sampai ke tempat parkiran dengan seulas senyum yang mengembang diwajahnya.

"Pak!" Sahutan dari dalam sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti tepat di hadapan Aiden, menyadarkan pria itu dari lamunannya.

"Mari masuk, Pak!" Seru pria paru baya yang menjadi sopir pribadinya.

Tanpa membalas atau sekedar basa-basi, Aiden langsung saja memasuki mobilnya dibagian penumpang.

"Bisa lebih cepat? Saya harus segera pulang!" Sahut Aiden. Ketika mobil yang dikendarai sang sopir pribadi baru saja melaju ke jalanan.

"Baik." Kata sopir itu sembari melirik kaca spion yang berada didalam mobil untuk melihat bosnya di sana.

To be continue...

Up lagiii...

Gk mau bnyk omong aku di sini. Cmn mau bilang, jan lupa tinggalin jejak😘

2545 kata ya syang2kuhh😘😍😂

1
Suswarina
temuin gisel sm ayahnya dan gisel tidak mau mengakuinya sebagai ayah
Roberto Rino
v
Srieaniez Ñew Srieaniez
aku mau koq dikejar pak🤪🤪🤪🤪🤪,,,,,,

btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
Yusup Priyono
3
Sena
sedih...
Sena
, seru... like...
Sena
no 2
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...
k2
aron aron ingat umur, km nikain aja tuh hiyumi ngapain maksa maksa aiden , cucu sendiri disia siain. kena struk tau rasa lo
k2
gisel ma aiden nikah dong
k2
cantik gisel
k2
cantik celsee
k2
semoga baik baik saja
k2
berhasil berhasil
k2
oo km ketauan
k2
berpelukan
k2
kenapa sih den ,tinggal bilang cinta aja susah amat
k2
bayangin hebohnya , senyum senyum sendiri
k2
semangat den
k2
boleh bgt pak
k2
foto dong den ,buat kenang kenangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!