Rio adalah siswa berbakat yang belajar di Akademi Guardian yang bertujuan melawan serangan Alien. Semenjak kotanya dihancurkan ia berusaha merebutnya kembali, bersama rekan-rekannya mereka menemukan fakta tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang lain. Soal seseorang dari luar angkasa termasuk planet yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Guardian Serigala
Ini adalah pelajaran bela diri dimana pak Cinta lah yang menjadi instruktur kami, berbeda dari sebelumnya kami dilatih untuk bertarung sendiri-sendiri yang mana yang menjadi lawanku adalah Isabel.
Aku menyerangnya dengan pedang kayu dan beberapa kali juga aku harus terjatuh ke tanah, Isabel benar-benar pandai bertarung, di sisi lain Clarisa dan Nakamura seperti main-main saja, mereka mengayunkannya begitu lemah hingga pak Cinta menegur keduanya.
"Kau ini laki hah? Letoy sekali... cepat puss up 100 kali, dan kau juga lari sebanyak tiga putaran."
"Baik pak Cinta."
Walau namanya Cinta tidak ada kasih sayang di dalamnya, dia iblis.
Isabel mengulurkan tangannya membantuku berdiri.
"Terima kasih."
"Mau coba lagi."
"Tolong yah."
Aku memosisikan tubuhku dalam siaga selagi memegang pedang dengan kedua tanganku, sementara Isabel hanya menggunakan satu tangannya sebelum meluncur ke depan, setiap serangannya terlihat sangat kuat dan tanpa celah.
Pedang kami saling bertubrukan menghasilkan suara yang khas dari sebuah kayu, kami saling menyilangkan pedang sesaat sebelum saling menjauh menjaga jarak.
"Kau sudah semakin baik, Rio."
"Ini masih belum seberapa."
Kami berdua menghentakan kaki untuk mengirim serangan akhir, sesuai dugaanku pedangku terlempar ke udara lalu menimpa kepala Pak Cinta.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Kepalaku sampai benjol... cepat lari lima putaran."
"Laksanakan pak."
Pada akhirnya kami berlari bersama Clarisa yang baru berlari satu putaran, akademi ini sangat luas jika kau tanya padaku.
"Nafasku, nafasku.." Clarisa tampak kelelahan sementara aku dan Isabel hanya mengikuti dari samping, adapun untuk Nakamura dia sudah selesai dengan push up nya.
"Aku sudah selesai."
"Mana ada, kau tadi baru 50, kau ingin membohingi gurumu... cepat lari bersama temanmu."
"Laksanakan."
Dia benar-benar tidak ada ampun.
Setelah pelajaran yang melelahkan itu kami semua terduduk lemas di koridor, Stella yang memperhatikan dari tadi memberikan kami minuman dingin, dia juga memberikannya pada Isabel.
"Terima kasih."
"Iya."
Kurasa mereka sedikit akur.
"Tubuhmu sangat berkeringat lebih baik kau menjaga jarak dulu dengan Rio."
"Apa? Ngajak berantem."
"Siapa takut."
Kurasa masih belum akur.
Nakamura yang sedang memegang laptop memintaku untuk melihatnya juga.
"Ini buatanmu bukan Rio."
"Benar, kurasa pemerintah mampu mengembangkannya lebih baik."
Layar itu memperlihatkan pertempuran udara antara para Inside dengan para Guardian berwarna biru yang menandakan mereka dari pasukan pemerintah.
Aku bertanya pada Nakamura.
"Apa kau tahu kenapa para Inside itu datang ke Bumi?"
"Bukannya mereka ingin memakan manusia dan menjadikan planet ini milik mereka."
"Kurasa jawabannya lebih dari itu... pasti ada sesuatu yang disembunyikan pemerintah?"
"Aku tidak berpikir demikian, tapi akan kuselidiki."
"Tolong yah."
Dia rekan yang bisa diandalkan, itu mengingatkanku suatu yang penting
"Nakamura dan Clarisa aku membuat sesuatu yang bagus untuk kalian berdua di bengkel mau melihatnya?"
"Untuk kami berdua?" Clarisa memiringkan kepalanya, saat sampai di bengkel keduanya terkejut.
Nakamura terlihat bersemangat.
"Apa itu? Guardian berbentuk serigala."
"Aah, kalian bisa mengendalikan secara bersamaan... aku memberikan sangat banyak persenjataan di dalamnya jadi perlu satu orang yang mengendalikan gerakannya serta satu orang lain mengontrol persenjataannya."
Clarisa dan Nakamura saling berjabat tangan.
"Mohon bantuannya di persenjataan."
"Sama-sama."
Clarisa yang mengurus senjatanya.
"Guardian berbentuk hewan apa baik-baik saja?" tanya Stella, dibanding buatanku, Guardiannya lah yang paling mencolok.
"Kemampuannya tidak bisa diremehkan, aku akan membuktikannya di kompetisi nanti."
"Aku tidak sabar menantikannya," balas Stella tersenyum senang.
like diri sendiri ✔️
😂😂
cepet banget perasaan baru baca sejam
catet²