Rosi seorang gadis yang nakal, peminum, perokok dan menyukai dunia malam. Tanpa sengaja menikahi seorang Duda pendiam, dialah sang Sugar Daddy langganannya untuk sebuah kencan palsu.
Duda pendiam ini tidak menyukai Rosi sedikitpun, dia hanya menginginkan Rosi selalu bersamanya dan membayar Rosi dengan uang yang sangat banyak. Rosi adalah anak SMA kelas 2 di suatu sekolah swasta di Kota. Kehidupannya yang berliku membawanya, menjadi wanita muda yang liar di gelapnya dunia malam.
Karena tuntutan dunia elit yang gila, dia terpaksa menjadi simpanan seorang Sugar Daddy yang pendiam dan selalu membayarnya dengan sangat memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Mustika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMSD-11 : Mematahkan Hatimu
#Plagiarisme tidak author benarkan, author akan menuntut orang yang mengklaim hasil karya author.
#Selamat membaca😍😘
Juna membuka topengnya dari tadi dia minum bergelas-gelas bir di pesta. Teman-temannya menghentikannya tapi Juna malah marah dan mengamuk membanting meja semua hadirin melihat kearahnya, seorang pria meminta teman-temannya mengantarnya pulang. Juna meracau, pipinya merah, jas dibukanya dan dilemparkannya, teman-teman Juna beramai-ramai memapah Juna ke Mobil, menyetir mobil dan mengantarnya pulang.**
Pria tadi juga mengikuti dari belakang mobil Juna. Setiba dirumah teman-teman Juna membaringkan Juna dikursi Tamu. Pria itu berterimakasih dan menyuruh semua teman-teman Juna untuk pulang. Pria itu mengambil obat mabuk dan segelas air, memberikannya pada Juna. Tapi Juna menepis gelas itu sehingga airnya tumpah kelantai. Pria itu lalu dengan sabar meletakan gelas dan obatnya diatas meja. Ia lalu mengambil selimut dan bantal, untuk Juna.
Pria itu kembali dengan bantal dan selimut ditangannya "Semua ini gara-gara kamu! bangsat!!!" seru Juna pada pria itu. Pria itu hendak pulang hanya melihat Juna sejenak, bertemu satpam rumah untuk memberikan kunci lalu pergi dari rumah Juna. "Pak kalau dia sudah bangun, berikan kunci ini padanya" Kata pria itu pada satpam. "Baik tuan" jawab satpam.**
Di sisi lain, Rosi dan David pulang, sepanjang jalan David diam dan tidak berbicara pada Rosi. Ia merasa diselingkuhi oleh Rosi. Rosi pun diam karena tidak tahu harus berbicara apa pada David. Dijelaskan sekalipun baginya David tidak akan percaya karena sudah terbakar api cemburu.
David keluar dari mobil dan membanting pintu mobil keras, masuk kedalam rumah tanpa membukakan pintu mobil untuk Rosi. Rosi keluar dari dalam mobil dan berjalan ke dalam rumah, ia merasa serba salah. Seandainya tadi ia merekam percakapannya dengan Juna mungkin David tidak akan semarah ini.**
David cuek dan acuh ketika Rosi meminta izin untuk mandi terlebih dahulu. David mengganti pakaiannya dengan handuk mandi menunggu Rosi. Setelah Rosi selesai mandi, David kemudian masuk kedalam kamar mandi, dan terdengar pintu kamar mandi dibanting. Rosi mendengarnya langsung menangis. Sebagai perempuan, perasaannya halus, sehingga hal kecil saja dapat membuatnya menangis.
Rosi berjalan gontai kebawah, mengambil bir dari kulkas, rokok dan kacang dari dalam lemari persediaan makanan (rokok dan kacang adalah 2 hal yang memang tersedia dirumah David, karena memikirkan jika satpam rumah mereka ingin merokok atau jajan tidak perlu keluar) dan duduk diruang makan. Rosi mengenakan gaun malam warna hitam ia membuka botol bir seperti sudah biasa, menuangkannya kedalam gelas, dan mulai minum, Rosi menghisap rokoknya dalam, dan makan kacang. Kebiasaan lamanya kembali!
David keluar kamar dan melihat Rosi tidak ada, ia turun memakai celana pendek dan piyama ikatnya mencari Rosi kedapur, benar saja Rosi berada disana. "Rosiii..!" David mengambil rokok dari mulut Rosi. Menginjaknya lalu mengambil bir dan membuangnya di washtafel. Rosi termenung melihat kelakuan Davin. "Kenapa?! ha! Kenapa??!!!!" Marah Rosi pada David. Kebar-barannya kembali!
"Kamu!!!" David melotot memandang Rosi. "Apaa??!!! haa Apaaaaa??!!!!" Jawab Rosi dengan suara keras. Tiba-tiba klik, lampu ruangan yang semula hanya 1 yang hidup, dihidupkan semua oleh Mbak asisten rumah yang terbangun karena teriakan Rosi. David yang panik melihat mbak asisten yang datang dan takut Rosi melanjutkan kata yang akan membongkar semua kebohongannya, kemudian mencium bibir Rosi. Rosi terkejut, David tidak menghiraukan Rosi dan terus mencium bibir Rosi. Melihat hal itu asisten itu berkata "Maaf tuan, maaff" merasa bersalah karena melihat majikannya lagi berciuman, ia mudur, masuk kembali ke dalam kamarnya.
Rosi terdiam, kemarahannya mereda. David menyudahi ciumannya dan berkata "Maafkan aku".
Rosi melihat kearah David, ia melihat ketulusan dimatanya, David tertunduk dengan piyama ikatnya terlepas, memperlihatkan dada, dan tubuhnya yang atletis. Rosi mengikat piyama David dan berkata. "Aku mengatakan pada Juna kalau kau memang tunanganku, aku Angel dan aku memacarinya karena taruhan" David melihat mata Rosi dan tersenyum. "Terimakasih Rosi, kau sudah banyak membantuku" Rosi mengangguk lalu berujar "Lain kali kalau menciumku tuan harus izin." "Loh kenapa izin, sayakan suamimu" Sahut David tersenyum menggoda.**
Keesokan harinya Juna mengetik surat pengunduran diri di sekolah Rosi, baginya tidak ada lagi yang dapat diharapkan di sekolah itu, kekasih yang dicintainya sudah tidak ada lagi disana. Peegulatan di hatinya terbagi menjadi 2 di satu sisi ia tidak percaya Rosi menghianatinya, disisi yang lain ia patah hati karena untuk pertama kalinya ia ditinggalkan oleh perempuan dan perempuan itu Rosi.
Keluar dari ruangan kepala sekolah Juna membeli minuman soda dan memandang nanar ke sekolah itu, tempat ia berpacaran dengan Rosi, dan kenangan manis bermula. Ia mengenang saat-saat Rosi tidur dikelas, ia menembak Rosi di Rooftop, mulut tersenyum tapi matanya terlihat sedih, angin mempermainkan rambutnya berirama. Tiba-tiba ia melihat Jessica berjalan bersama teman-temannya.
"Jessica!" Seru Juna memanggil Jessica. Jessica kemudian menghampiri, teman-temannya meninggalkan Jessica karena tidak mau mengganggu Juna, kemudian "Saya ingin bicara sama kamu nanti pulang sekolah, temui saya di cafe samping sekolah" ajak Juna. "Baik Mr" Jessica mengangguk, dan berlari mengejar temannya. "Mr Juna ngajakin gue ketemuan lo" pamer Jessica dengan temannya. Teman Jessica tidak percaya, lalu mereka bergosip tentang Mr Juna.**
Juna menunggu Jessica beberapa jam sembari meminum es kopi dan memakan sepiring nasi goreng. Sesekali ia melihat foto Rosi dan memegang cincinnya. Jessica masuk kedalam cafe melihat sekeliling mencari Juna dan menghampirinya.**
"Pesan yang kamu mau" ujar Juna pada Jessica, lalu. Jessica memesan jus stroberi dan nasi goreng sosis. "Mr mau ngomong apa?" kata Jessica mulutnya penuh nasi. "Makan saja dulu" kata Juna. Jessica makan dengan perlahan, sembari melirik kearah Juna, dalam hatinya 'tampan sekali Mr, alangkah beruntungnya wanita yang menjadi kekasihnya. Tapi apa dia suka ya sama gue?, atau mungkin si Mr mau nembak gue, waaww, gak bakal gue lepasin cowo kayak begini' gumam Jessica. Juna melihat Jessica heran, kenapa Jessica menatapnya seperti menatap makanan.
"Sudah siap mr. Mau gomong apa Mr? saya sangat siap" ujar Jessica. Juna menatap Jessica, "Begini, siapa nama Rosi sebenarnya?" tanya David. Jesica sedih karena ternyata Juna tidak menembaknya malah menanyakan musuhnya. Tapi karena tidak enak ia bersedia menjawab semua pertanyaan Juna.
"Namanya Kim Rossy"
"Apa kamu tahu dia bertunangan sebelumnya?"
"Kapan Mr? tidak tau"
"Kamu tahu kenapa dia tidak masuk sekolah?"
"Tidak tahu Mr"
"Coba kamu jelaskan semua hal yang kamu tau tentang Rosi?"
"Rosi dulu temanku tuan, tapi dia akhirnya jatuh miskin, ayahnya masuk penjara, ibunya menikah lagi dan dia mengontrak, dia hobi mabuk, ke bar, merokok, dan terakhir kabar yang saya dengan Mr, dia punya sugar daddy yang biayain hidupnya" Jelas Jessica panjang lebar
"Sugar Daddy?" tanya Juna mempejelas kalimat Rosi.
"Iya Mr, sugar daddy. Om-om gitu, itu sih kata teman saya yang pernah melihat Rosi jalan gitu sama om-om di hotel."
"Kamu jangan memfitnah dia!" Juna marah dan membantah cerita Jessica ia tahu Rosi tidak seburuk itu.
"Maaf Mr, tapi itu yang saya tahu." Jawab Jessica takut.
"Iya, maaf saya hanya melihat dari pandangan saya, dia tidak seburuk itu nak" Kata Juna mencoba kembali mencairkan suasana.
(BERSAMBUNG)