Jangan lupa memberi like...
Season 2 Takdir Cinta Millaerin.
Mega dan Eki.
Mega membuat komik tentang perjalanan hidupnya, ia adalah pemain protagonisnya.
Tapi sebuah komik lain muncul dan tenyata komik itu kisah tentangnya, tapi ia malah menjadi pemain antagonisnya?
Bagaimana ini?
Reputasinya jadi tercoreng!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Zoy dan Rando sudah selesai menelpon Mega, keduanya langsung kembali ke kamar Eki.
Begitu mereka tiba, Astri langsung menyuruh keduanya duduk.
"Kalian dari mana?" Tanya Astri.
"Kami baru saja menelpon seseorang." Jawab Zoy.
"Ahh," Astri mengangguk, "Oya, Tante ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu tante?" Tanya Zoy.
"Apa selama ini kamu tahu tentang penyakit Eki?"
"Saya tidak tahu apa pun Tante, dia tidak pernah cerita. Memangnya Eki tidak pernah menceritakannya pada Tante?" Tanya Zoy kembali.
Astri menghela nafasnya, "Dia sama sekali tidak menceritakannya." Jawab Astri dengan lesu.
"Nak Zoy begini, kata dokter penyebabnya yaitu penyakit insomnia akut yang ia derita. Tapi Eki sama sekali tak mengatakannya pada kami.
Kami ingin bertanya, jika saja Nak Zoy tahu apa kira-kira yang membuat Eki tetap baik-baik saja selama beberapa tahun terkahir.
Karena penyakit yang ia derita sudah ada sejak dia berumur 20 tahun.
Tapi penyakit itu tak pernah kambuh sampai ketika Eki memutuskan untuk bertunangan dengan Ellen, penyakitnya kembali kambuh." Morano menjelaskan.
"Insomnia akut? Aku tak pernah tahu tentang itu." Kata Zoy yang memang tak tahu.
"Ya, kata dokter ia hanya bisa tidur dengan terapi, tapi selama setengah bulan ia jadi jarang tidur karena terapi yang diberikan dokter sudah tak mempan lagi."
"Itu artinya Eki sangat jarang tidur?" Kata Zoy yang memang tidak pernah melihat pria itu tertidur.
"Ya,, atau apa kamu pernha melihatnya tidur, mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidur."
Zoy kembali ingat dan ia memang pernah melihat Eki tidur, tapi saat itu Eki tidur di rumah sakit. Jadi mungkin saja karena Eki kelelahan.
"Saya tidak tahu, tapi mungkin seseorang mengetahuinya." Kata Zoy.
"Seseorang? Siapa itu Nak?" Astri sangat bersemangat.
"Asistennya, Teo. Dia mengatur segala hal yang berkaitan dengan Eki." Kata Zoy.
Wajah Astri langsung berubah, suaminya sudah memecat pria itu. Jadi tidak mungkin bagi mereka untuk mencarinya lagi.
"Begitu ya," jawab Astri.
"Iya Tante, Oya, malam ini apa kami bisa menjaga Eki?" Tanya Zoy.
"Kalian mau menjaganya?" Tanya Morano lagi.
"Ya Om, kami merasa bersalah, harusnya kami memperingatkannya agar tak bekerja terlalu keras. Akhirnya kan di jadi seperti ini." Kata Zoy dengan wajah cemasnya.
"Baiklah, lagi pula istri saya juga sakit, jadi butuh istirahat."
"Apa yang kau katakan? Bagaimana mungkin aku pulang dan tidur dengan nyenyak ketika putraku berbaring di sini? Pokoknya aku akan menemani putraku!" Kata Astri bersikukuh.
"Sayang tidak! Kau sakit, kalau putra kita Bagun dan melihat mu sakit, maka ia akan merasa sangat bersalah."
"Iya Tante, apa yang dikatakan Om Morano benar, lagi pula kami ada di sini. Kalau ada apa-apa kami akan menghubungi Tante." Kata Zoy.
"Itu benar Tante. Percaya pada kami." Rando menambahkan.
Akhirnya setelah ketiga orang itu membujuk Astri, Astri memutuskan untuk pulang.
Rando dan Zoy bisa bernafas lega karena mereka memperkirakan sore nanti, Mega akan tiba di kota.
Dengan begitu mereka bisa mempertemukan Mega dan Eki secara diam-diam.
"Sekarang semuanya sudah berjalan sesuai rencana, kita hanya perlu menghalangi Ellen jika saja Gadis itu datang kemari."
"Kau tenang saja, aku yang akan mengatur gadis itu." Kata Zoy begitu percaya diri.
Sore hari sekitar jam 4 sore Teo kembali lagi ke ruangan Eki karena ia sudah ditelepon oleh Rando.
"Bagaimana kabar Bos?" Tanya Teo.
"Masih seperti itu. Mungkin dia kelelahan." Kata Zoy memperhatikan wajah Eki yang masih pucat.
"Baiklah, apa Mega sudah di jalan?" Tanya Teo lagi.
"Rando sudah pergi untuk menjemputnya."
Zoy tak mengatakan apa pun. Ia hanya duduk di sofa sambil melihat ke arah Eki. "Bos yang malang." Katanya.
"Sepetinya kau benar-benar setia pada iblis ini. Apa yang diberikannya untukmu?" Tanya Zoy yang penasaran.
"Ini pekerjaan." Kata Teo.
Zoy tak mengatakan apapun lagi, ia hanya pergi ke sofa dan duduk di sana, ia memperhatikan Teo yang terus melihat ke arah Eki.
'Iblis itu mendapat teman yang setia.' Pikirnya.
Setelah menunggu selama 30 menit Teo kembali melihat ke arah Zoy "Dimana mereka?" Tanyanya.
"Sabarlah, aku akan menelponnya." Kata Zoy meraih ponselnya.
"Halo," jawab Rando dari dalam telfon.
"Bagaimana?" Tanya Zoy.
"Mobil mereka mogok. Aku sedang di jalan menjemput mereka."
"Baiklah," Zoy mematikan panggilannya.
Akhirnya setelah menunggu 1 jam lagi, Mega Andi dan Rando akhirnya tiba di rumah sakit.
Mega baru memasuki lantai 1 rumah sakit dan ia sudah menangis sepanjang perjalanan menuju kamar.
Ketika ia tiba di kamar Eki, semua orang di dalam ruangan itu meninggalkannya sendirian, supaya ia bisa menghabiskan waktu bersama Eki.
Mega meneteskan air matanya melihat pria kurus yang terbaring di atas tempat tidur.
Wajah pria itu terlihat sangat pucat dengan kantong mata yang membuat wajahnya yang tampan 100% kini berkurang 1%.
Mega duduk di samping tempat tidur dan memegang tangan pria itu. Meski ia sakit hati karena pria itu telah membuangnya di saat dia sedang hamil, tapi ia tetap mencintai pria itu.
Dirinya sadar, ia tidak bisa jauh dari Eki, mereka saling membutuhkan satu sama lain.
"Bagaimana keadaanmu? Maafkan aku sudah membuatmu kesal.
Aku tidak bermaksud membuatmu marah padaku." Kata Mega seraya menggenggam erat tangan Eki.
"Kau tahu,, aku punya kejutan untukmu. Sesuatu yang pernah kau minta itu,, aku memilikinya untuk dikatakan padamu.
Tapi bagaimana aku akan mengatakannya kalau kau tidur seperti ini?
Kumohon,, kumohon padamu, bangunlah." Isak Mega.
Setelah cukup lama menangis, keajaiban terjadi juga, pria itu akhirnya bangun.
Mega memperhatikan mata Eki yang mengerjap, lalu pria itu perlahan membuka matanya.
"Kau,, kau sudah sadar?" Mega langsung mengusap air mata di pipinya.
"Kau di sini?" Ucap Eki mengarahkan tangannya dan mengusap pipi gadis itu.
Air mata Mega kembali mengalir saat Eki mengelus pipinya. Rasa hangat itu,, ia sudah lama tidak merasakannya.
"Jangan menangis," Eki langsung duduk dan menghadap ke arah Mega.
Pria itu kemudian mengangkat Mega ke pangkuannya.
"Ti,,, kau masih lemah," kata Mega yang cemas pria itu lelah menopang tubuhnya.
Eki Tidka perduli, ia memeluk Mega dengan erat dan memberi beberapa ciuman hangat di kening Mega.
"Mengapa kau di sini?" Tanya Eki dengan suara pelan.
"Aku merindukanmu!" Ucap Mega langsung menangis.
"Kau jahat! Teganya kau tidak mempercayaiku! Kau bahkan melukaiku dan membuangku ke tempat itu!" Isak Mega di pelukan Eki.
"Kau menyalahkan ku sekarang? Siapa yang tidak menurut? Siapa juga yang punya rencana tinggal di desa kecil? Hmmm?"
"Tidak! Aku tidak seperti itu!" Ucap Mega masih dalam tangisnya.
"Kau hanya sengaja melakukannya! Kau sengaja membuangku supaya bisa bersama gadis lain!
Ya kan?
Kalian pergi bersama ke bioskop, menonton bersama dan berbelanja bersama.
Kau membiarkan wanita lain melingkarkan tangannya di lenganmu! Kau!!"
"Sstttt,,, jangan berbicara seperti itu!" Kata Eki meletakkan jari jempolnya di bibir Mega.
"Ada sesuatu yang harus ku selesaikan. Maukah kau membantuku." Tanya Eki.
"Membantu? Membantu apa?" Tanya Mega.
Eki tersenyum dan menurunkan tangannya memegang jari Mega yang dilingkari cincin pemberiannya.
"Kau hanya perlu menungguku." Katanya.
Ada yang menunggu momen 🔥?