NovelToon NovelToon
Akhirnya Ku Menemukan Mu

Akhirnya Ku Menemukan Mu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:70k
Nilai: 5
Nama Author: Tarti

Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku

Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.

Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Vika tersenyum melihat kedatangan Winda. Dia bahagia akhirnya Winda bersedia datang juga ke rumahnya.

"Assalamualaikum, ibu Vika." sapa Winda.

"Waalaikumssalam, Winda. Selamat datang di rumah saya."

"Terimakasih, Bu."

"Aduh, jangan panggil ibu, dong. Kita kan tidak sedang di kantor. Bagaimana jika panggil kakak saja?"

"Baik, Bu. Eh, maaf baik, kak..."

Vika tertawa mendengar suara Winda yang tampak gugup. Lantas, Vika merangkul lengan Winda dan mengajaknya masuk ke dalam rumah., menuju ruang tamu.

"Udah yuk masuk. Kamu tunggu di sini dulu ya. Saya panggil mama."

Winda mengangguk. Dia duduk sambil memandang berkeliling. Rumah disitu sangat luas. Winda sangat menikmati suasana dalam rumah itu. Suara Vika mengagetkan Winda.

"Winda, perkenalkan ini mama ku, mama Ami. Mama, ini Winda, yang pernah Vika ceritakan ke mama."

Winda bangkit dari duduknya dan salim sambil mencium punggung tangan mama Ami.

"Assalamualaikum, Tante. Saya Winda."

"Kamu Winda yang..."

"Iya, ma. Dia Winda yang Vika ceritakan waktu itu. Yang Vika bilang masakannya enak banget itu."

"Oh, iya? Wah, Tante jadi penasaran nih."

"Ah, kak Vika terlalu memuji, Tante. Masakan saya tak seenak itu kok."

"Maka dari itu. Kamu buktikan ke Tante kebenaran omongan Vika. Kalau kamu pintar masak, berarti kamu lulus jadi calon mantu Tante."

Baik Winda maupun Vika sama-sama terkejut mendengar perkataan mama Ami.

"Ih, mami. Ngarep banget Winda jadi menantu. Memangnya mau di nikahkan dengan siapa?" tanya Vika.

"Ya sama adikmu si Radit itu. Radit nya ganteng, Winda juga cantik. Cocok kan?"

"Belum tentu Winda mau sama Radit. Ah, sudahlah. Mama terlalu tinggi menghayal nya."

Winda hanya tersenyum melihat perdebatan kedua ibu dan anak itu.

*Seandainya aku belum punya kekasih, aku mau kok sama mas Radit. Tapi aku akan setia sama kekasih aku. Mas Gito, aku tunggu kedatangan mas secepatnya.' batin Winda.

Di saat yang bersamaan, datang seorang ART mengantarkan teh dan camilan.

"Winda, aku tinggal dulu ya. Silahkan di minum tehnya. Ma, Vika kedalam dulu."

"Iya, kak. Terimakasih."

"Iya." jawab mama Ami.

Vika pun beranjak dari duduknya menuju ke ruang dalam. Sebenarnya Vika hanya bersembunyi sambil memperhatikan mama Ami dan Winda yang terlihat sudah sangat akrab.

"Ngelihatin apaan kak?"

Vika terkejut mendengar pertanyaan Radit yang tau-tau sudah ada di sampingnya.

"Kamu ngagetin aja, Dit."

"Habis kakak serius banget. Liat apaan sih?"

"Tuh,"

Vika menunjuk ke arah mama Ami dan Winda yang tengah serius berbincang-bincang. Entah apa yang mereka perbincangkan. Radit tersenyum kecil melihat mereka.

"Sepertinya mama bakalan merestui hubungan aku sama Winda ya kak?"

"Yakin banget kamu."

"Yakin lah. Tuh liat. Baru juga ketemu, mama udah akrab begitu dengan Winda."

"Idih...ngarep banget kamu di restui."

Winda dan Radit masih terus mengamati Winda dan mama Ami yang tengah berbincang-bincang.

"Pada lihat apaan sih?"

Tiba-tiba sebuah suara kembali mengagetkan Vika juga Radit. Ternyata Adi telah berdiri di antara mereka.

"Ngagetin aja kamu." kata Vika sambil mencubit lengan Adi.

"Aduh...sakit." teriak Adi sambil mengusap lengannya.

"Jangan berisik."

Radit menutup mulut Adi menggunakan tangannya. Adi menepis tangan Radit.

"Apaan sih loe pake tutup mulut gue segala,"

"Jangan berisik. Lihat tuh."

Adi melihat ke arah yang di tunjuk oleh Radit. Dia pun tersenyum.

"Wah, calon mantu udah akrab sama calon mertua. Udah dapat lampu kuning sekarang."

Radit tersenyum kecil mendengar perkataan Adi.

"Kalau begitu, Winda pulang ya Tan. Sudah sore soalnya." kata Winda setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan mama Ami.

"Lho kok pulang? Kamu nginap di sini saja ya?"

"Winda gak bawa baju ganti, Tante."

"Kalau itu biar nanti di urus sama Vika dan Radit. Sudah, kamu tenang saja. Sekarang bantu Tante menyiapkan makan malam ya."

Winda pun hanya bisa pasrah dan mengikuti Tante Ami ke dapur. Dengan di bantu oleh salah satu ART yang lain, Winda dan Tante Ami menyiapkan makan malam. Setelah semua siap, mereka makan malam bersama.

Selesai makan malam, Winda membantu mbak Isah, ART di rumah Radit, membereskan meja makan. Sedangkan Tante Ami dan Vika sudah beristirahat di kamar masing-masing. Ketika Winda hendak menuju kamar tamu, sayup-sayup dia mendengar suara gitar dan suara orang bernyanyi. Suara itu berasal dari taman belakang. Winda pun menuju ke taman belakang. Di lihatnya Radit sedang memainkan gitar sambil bersenandung kecil.

*Bersabarlah sayang...

Aku akan pulang....*

Winda tertegun mendengar lagu itu. Dia jadi teringat akan Gito. Tanpa di sadari Winda, Radit melihat ke arah Winda.

"Hei, kok bengong.."

Winda masih terdiam. Radit melempar Winda dengan tisu yang di gulung menjadi bulatan kecil. Lemparan itu tepat mengenai pipi Winda dan membuat Winda terkejut.

"Ih, mas Radit...."

"Ngapain bengong di situ. Duduk sini."

Winda menghampiri Radit dan duduk di kursi sebelah Radit. Radit sendiri masih memainkan gitarnya sambil bersenandung lagu yang dia bawakan tadi. Winda terus mendengarnya. Sesekali dia menunduk, menahan kerinduannya akan sosok Gito. Radit menyadari hal itu dan menghentikan senandungnya.

"Kenapa? Suara aku ganggu pendengaran kamu ya?"

"Ah, enggak kok. Suara mas Radit bagus. Hanya saja..."

"Kenapa?"

"Lagu yang mas Radit nyanyikan tadi mengingatkan aku pada seseorang."

"Seseorang? Siapa? Pacar kamu?"

Winda mengangguk. Matanya menerawang. Radit menatap Winda sampai dengan waktu yang lama. Ketika Winda menoleh ke arah Radit, pandangan mereka bertemu.

"Kok mas Radit liatin aku seperti itu?"

Radit tersenyum malu dan menunduk.

"Kamu mengingatkan aku pada seseorang, Win."

"Seseorang? Pacar mas Radit?"

"Iya. Kami terpaksa berhubungan jarak jauh dengan dia."

"Gak enak memang hubungan jarak jauh."

"Memangnya kamu sedang menjalani hubungan jarak jauh juga?"

"Iya, mas. Dia sedang berjuang untuk masa depan kami."

"Kamu sangat mencintainya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena dia cinta pertama aku."

Radit mengangguk.

"Oh iya Win, boleh aku tanya satu hal sama kamu?"

"Tanya apa, mas?"

"Apa yang akan kamu lakukan jika pacar kamu itu membohongi kamu?"

"Maksud mas Radit, berbohong dalam hal apa?"

"Ya misalnya tentang status dia, keadaan dia yang sebenarnya. Kamu belum pernah bertemu dengan orang tuanya?"

"Belum. Dia belum pernah mengenalkan aku ke orang tuanya."

"Kamu tidak curiga?"

Winda terdiam. Tak sedikit pun terlintas di pikiran nya bahwa Gito akan membohonginya.

"Win..."

"Tidak terlintas di benakku jika mas Gito akan membohongi aku. Tapi jika itu terjadi, aku akan tinggalkan dia. Karena aku gak suka di bohongi, apapun alasannya."

Radit tersentak mendengar perkataan Winda. Radit menatap ke arah Winda. Winda pun menatap ke arah Radit. Pandangan mereka bertemu.

"Kenapa, mas?"

Radit tersenyum.

"Gak ada apa-apa. Kamu istirahat dulu sana. Besok kan kamu harus bangun pagi, bantuin Mama."

"Ya udah kalau begitu. Aku duluan ya mas."

Radit mengangguk, dan mengiringi kepergian Winda dengan tatapan sendu. Sepeninggal Winda, Radit mengusap wajahnya.

'Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan. Aku belum siap jika harus kehilangan Winda. Winda, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku....'

Radit benar-benar binggung. Dia memang belum siap jika Winda harus meninggalkan Radit. Setelah beberapa saat tenggelam dalam keresahan hatinya, Radit pun masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar dia pun tak bisa memejamkan matanya. Menjelang pagi, Radit baru bisa tidur

1
Hap£!π
bagus ka, alur cerita dg konflik ringan jd bacby santai enak g pk emosi/Facepalm/
Tarti Rizky: terimakasih atas apresiasinya. terimakasih pula sudah mampir untuk baca. semoga terhibur
total 1 replies
Wina Winarsih
tetap semngat yaa Thor 🥰
Wina Winarsih
jadi penasaran Winda Nerima lamaran Radit gak yah 🤗lanjut Thor 🥰
Wina Winarsih
lanjut kak seru juga
Wina Winarsih
Terharu baca novel ini, semangat terus ya ka Thor 🥰
ria
galau nich mas radit
Jejak SND
bom like mendarat dari Jodoh Cinta Pertama kak
Tarti Rizky
terimakasih kak atas apresiasinya. Alhamdulillah jika suka
Reni Apriliani
Terimakasih thor ceritanya.. syukaaa ❤❤❤
meluncur ke cerita lainnya
Zia
aku hadir bawa boom like kak, jangan lupa mampir di karyaku ya "my husband is his uncle" 🤗
Nur Jannah
radit yg katanya lagi sakit pasti adalah gito yg menyamar deh,🤔🤔🤔
yetege
trimakasih..telah up..selamat tahun baru..semoga d tahun baru ini tambah banyak pembacaya semangat
Tarti Rizky: aamiin.
total 1 replies
Tarti Rizky
terimakasih kakak. selamat tahun baru untuk kakak
Nak Wi
lanjut semangat thor di taun baru ini 👍
yetege
next Thor semangat 💪❤️
yetege
next Thor semangat 💪💪❤️
Darah Biru (Bangsawan)
Favorit ♥️ rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 saling mendukung 👍🏻💕
Darah Biru (Bangsawan)
mantap
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!