Siapa yang menyangka akan berjodoh dengan seseorang dari masa kecil.
Rendra Adipramana seorang Presiden Direktur dari Perusahaan Adipramana Group. Perusahaan yang dikenal besar dan ternama mampu membuat orang iri dengan yang berhasil bekerja disana.
Berusaha memperbaiki masa depan dan memiliki pendamping hidup yang tepat itulah yang menjadi tujuan hidupnya. Melewati rintangan hidup tidak membuatnya menyerah walaupun di satu waktu Rendra berhenti berjalan karena sahabat yang selalu bersamanya meninggal dengan cara tragis.
Sampai Rendra akhirnya bertemu dengan seorang wanita dari masa kecilnya. Amelia Hanindayana yang ternyata adalah seorang bawahannya sendiri.
Bagaimanakah perjalanan kisah cinta Rendra dan Amelia?
Ikutin aku di Instagram ya, follow @amandyapasha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Pasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Dan Adik
Keesokan harinya. Amelia sedang santai di dalam kamarnya sambil nonton film menggunakan laptopnya. Ia menonton drama korea kesukaannya. Karena, masih libur jadi hidupnya masih bebas.
Tok!, Tok!, Tok!.
Suara pintu kamar Amelia diketuk.
“Kak Amel, buka dong aku mau masuk.” Suara baritone dari luar memanggil nama Amel.
Mau apa lagi si itu bocah?! Batin Amelia kesal dengan adiknya yang ingin masuk kedalam kamar.
“Kak cepat buka pintunya aku mau masuk.” Panggil adik nya lagi.
“Buka saja Raka, tidak aku kunci.” Teriak Amelia dari dalam kamar.
“Tidak bisa kak, tolong aku buka pintunya.” Sahut Raka dari luar.
Amelia pun terpaksa menyudahi nonton dramanya dan mematikan laptopnya. Amelia menyimpan laptopnya itu atas meja belajarnya. Lalu, ia mulai beranjak ke arah pintu untuk membuka pintu untuk adiknya itu.
“Ya tuhan, apa ini?!” Amelia kaget dengan semua barang yang dibawa oleh adiknya itu.
“Ini bahan-bahan untuk membuat tanaman kacang hijau. Tapi, aku tidak bisa membuatnya. Kak Amel mau kan bantu aku?” Adiknya yang memberikan puppy eyes dengan wajahnya yang dibuat seimut mungkin.
Ini adiknya siapa si. Rasanya ingin aku dorong ke kolam ikan lele sekalian. Batin Amelia.
“Tidak mau, aku sibuk.” Tolak Amelia dan hendak ingin menutup pintunya lagi namun ditahan oleh kaki Raka.
“Tolong aku kak, aku tidak tahu cara membuatnya. Kak Amel juga kan lagi libur jadi sibuk apa coba?” Tanya adiknya menyelidik.
“Ya sudah cepet masuk. Tapi, jangan buat kamar aku berantakan ya.” Amelia yang menegaskan itu.
“Iya, iya kak janji. Kalau berantakan juga kan kakak bisa membereskannya lagi.” Ucap Raka dengan mudahnya.
“Eh, enak saja. Kalau begitu keluar saja sana, kerjakan sendiri.” Usir Amelia.
“Iya ampun kak, aku tidak akan membuat kamar kakak berantakan kok janji.” Raka yang mengangkat tangannya dan mengangkat kedua jarinya seperti angka dua.
"Duduk di lantai saja supaya lebih mudah." Ucap Amelia.
"Oke." Adiknya pun menurut.
“Hemm. Ya sudah ada apa saja bahannya?” Tanya Amelia.
"Ini ada gelas plastik, kacang hijau, air, gunting sama kapas." Jawabnya.
"Terus, mau buat apa?" Tanya Amelia sambil mengangkat satu alisnya.
"Buat tanaman kacang hijau Kak Amel! Masa kakak begitu saja tidak tahu. Bahannya saja ada kacang hijaunya masa mau buat terong." Jawab Raka kesal.
"Kan itu tugas kamu bukan tugas aku. Ya sudah kamu tahu cara buatnya?" Tanya Amelia lagi.
"Ya tuhan kakak. Kalau aku tahu cara buatnya untuk apa aku minta bantuan Kak Amel." Raka yang semakin kesal dibuat Amel.
"Iya, iya. Siapkan gelas plastiknya." Perintah Amel.
"Oke, terus?" Raka pun menyiapkan gelasnya.
"Kamu potong gelas plastik itu setengahnya. Lalu, masukkan kapas itu lalu dipadetin. Setelah itu basahi dengan air. Tapi, jangan terlalu basah." Perintah Amelia lagi dengan sabar duduk di lantai menunjukkan setiap langkahnya. Raka pun mengikuti setiap arahannya.
"Sudah, terus?"
"Sekarang kamu tebar benih kacang hijaunya yang sudah layak tanam ke dalam gelas diatas kapasnya itu." Perintah Amelia lagi.
"Oke, terus?" Raka mengikuti nya lagi dengan perlahan.
"Sudah semua?" Tanya Amelia.
"Iya sudah, terus?" Tanya Raka lagi.
"Siram air jangan terlalu banyak." Jawab Amelia sambil membantu memasukkan air ke dalam gelas supaya tidak terlalu banyak.
"Oke sudah, terus?"
"Nabrak." Timpal Amelia yang kesal karena adiknya itu selalu bicara terus-terus dan terus.
"Serius kak."
"Hemm..., sudah selesai. Tanamannya itu kamu letakkan di tempat yang terkena sinar matahari ya." Ucap Amelia.
"Oh, sudah selesai. Cepat banget ya. Kalau ini gagal aku salahin kak Amel ya. Oke, terima kasih kak." Ucap Raka sambil membawa hasil tanamannya keluar kamar Amelia.
"Eh, tunggu." Panggil Amelia lagi sambil berdiri dari duduknya di lantai.
"Kenapa kak?" Tanya Raka heran.
"Sudah ku bilang di awal jangan membuat kamarku berantakan. Barang-barang mu ini bawa juga jangan ditinggal." Amelia yang kembali kesal karena adiknya tidak membawa kembali barang-barang yang telah dia bawa.
"Eh, iya kak. Aku lupa. Hehe..." Ucap Raka sambil tertawa kecil.
Raka pun kembali masuk sambil mengambil sisa barang-barang itu semua dan langsung keluar lagi.
Sedangkan, Amelia di dalam kamar kembali mengambil laptopnya yang ada di atas meja belajar untuk melanjutkan nonton drama lagi.
Tunggu, cara-caranya tadi itu sudah bener kan ya? Haha..., kalau salah juga biarkan saja. Itu tugasnya dia bukan tugasku. Hehe... Batin Amelia yang seketika merasa kurang yakin dengan langkah membuat tanaman kacang hijau tadi.
Esok harinya, Amelia yang masih tidur belum bangun dan waktu juga masih menunjukkan pukul lima pagi merasa terganggu dengan suara ketukan pintu.
"Kak Amel, buka kak." Suara teriakan dari luar pintu.
"Kak Amel cepat buka!" Suara itu semakin kencang.
"Kak Amel buka!" Suaranya semakin kencang ditambah ketukan pintu yang berkali-kali.
Amelia yang tidak bisa tidur dengan tenang dan nyaman pun akhirnya bangun dan membuka pintu itu.
"Ada apa?" Tanya Amelia yang masih setengah sadar.
"Kak Amel harus tanggung jawab. Tanamannya tidak tumbuh ini kak." Raka yang protes dengan Amelia.
"Sabar Raka, sabar. Baru sehari ya belum tumbuh. Kamu harus tunggu tiga sampai tujuh hari dahulu baru nanti akan ada yang tumbuh." Jelas Amelia sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Oh, jadi harus ditunggu ya kak?" Tanya Raka bingung.
"Iya Raka. Tapi, kenapa kamu tidak sekolah hari ini?" Tanya Amelia heran yang melihat pagi ini adiknya masih ada di rumah.
"Masih jam lima pagi kak. Kalau aku berangkat sekolah jam segini pasti aku akan dikira sebagai penjaga sekolah kali kak." Sahut Raka kesal.
"Oh, ya sudah sana. Jangan ganggu aku tidur." Ucap Amelia langsung menutup pintu lagi tanpa menunggu sahutan dari Raka.
Amelia pun melanjutkan tidurnya lagi. Kali ini ia merasa nyaman dan lebih tenang. Karena, semalam ia tidur larut malam karena nonton drama.
Tiga hari berlalu
Hari ini adalah akhir pekan. Amelia sedang memakan sarapannya sekarang tanpa bersama ayah dan juga ibunya apalagi Raka. Karena ia bangunnya siang.
Setelah makannya sudah habis. Amelia hendak ingin berdiri namun tiba-tiba Raka datang dari arah halaman belakang dengan terburu-buru.
"Kak Amel kenapa tanamanku belum tumbuh juga?" Tanya Raka panik.
"Aku sudah bilang bukan tanaman akan tumbuh sekitar tiga sampai tujuh hari kedepan." Ucap Amelia sambil beranjak pergi.
"Tapi, kak ini sudah hari keempat." Ucap Raka sambil mengikuti kakaknya yang berjalan ke arah kamarnya.
"Setiap hari kamu beri air kan?" Tanya Amelia sambil tetap berjalan ke arah kamarnya.
Bersambung.
ah ...sudahlah nikmati aja baca ceritax ...hihihi