Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.
Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.
Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.
KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)
Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gwenevere
19
“Apa Kakek kebelet banget pengen punya cucu? Aku bisa buatin sekarang kalau Kakek mau.”
“Apa otakmu sekarang isinya air semua? Buat anak itu harus nikah dulu. Anak SD saja tahu. Jangan kamu pikir anak hasil zina dapat warisan.”
“Tapi Zach belum mau nikah, Kek.”
“Mau sampai kapan kamu membujang terus?”
“Sampai ... bosan mungkin.”
“Empat bulan.”
“Apa?!” tanya Zach setengah terkejut.
“Kamu kalau ga dipaksa, ngentengin. Kakek kasih batas waktu empat bulan. Cari istri kalau tidak, jatah warisanmu kuberikan ke Theo.”
“Kok malah cepet, Kek?”
“Semakin kamu mendebatku, waktunya semakin pendek. Bagaimana?”
“Ok ok. Kakek menang,” ujar Zach pasrah. “Iwan, jangan ngikik. Nyengir juga ga boleh!” serunya kepada si plontos yang terlihat hidup karena sekarang sedang tertawa mengejek Zach.
Keluar dari kamar Ahmad, Zach masih merasa kalau kakeknya itu sedang bercanda. Tak mungkin kalau warisannya tiba-tiba harus berpindah tangan kepada Theo. Selama ini Zach yakin kalau keputusan Ahmad telah final untuk menjadikannya pewaris utama. Terlebih Theo adalah anak pamannya yang sekarang sedang dipenjara. Namun, ia teringat kepada perkataan Adrian kalau Theo bersih. “Cih, buah tak jatuh jauh dari pohonnya,” sanggah Zach sambil berbisik.
Berselang beberapa detik kemudian Gwen masuk ke kamar Ahmad. Ia ingin memberi kabar kalau saat ini ia telah resmi bekerja di tempat Ahmad dirawat. Ketika melangkah masuk ke kamar Ahmad, indera penciumannya menghidu aroma yang familiar. Aroma maskulin dari parfum mahal, seperti yang dipakai Mr. Devil, si mesum yang disikat dahinya dengan heels dua puluh centi meter. Namun, Gwen tak ambil pusing. Parfum bisa dibeli oleh siapa saja, dan tak mungkin pemiliknya orang yang sama dengan yang ia temui di New York. Dunia tidak mungkin sesempit itu.
***
Farah mengabarkan kalau dia sudah sampai di Indonesia. Rencana semula dia akan menetap di New York setidaknya sampai lima tahun ke depan, karena ingin mendapatkan ilmu di dunia fashion internasional. Sayangnya baru lima tahun di sana, si ayah sekarang sedang sakit dan memintanya untuk pulang. Selama tiga tahun kuliah di New York lalu dilanjutkan bekerja di sana, membuat ibu Farah yakin kalau itu sudah lebih dari cukup. Farah harus pulang.
Gwen yang mendapatkan kabar darinya sedih tapi sekaligus sangat senang, akhirnya dia bisa mempunyai teman di Indonesia. Gwen butuh teman untuk berbagi cerita, atau bahkan untuk sekedar belanja pakaian. Gwen memang hanya membawa sedikit baju karena dia tidak pernah berencana untuk tinggal.
Naufal pernah menyarankan kalau Gwen belanja online saja. Namun, Gwen ragu karena ukuran tubuhnya yang jangkung. Gamis yang ia lihat di toko online panjangnya tidak bisa sampai menutup mata kaki.
Setelah sehari istirahat di rumah untuk menghilangkan jetlag, Farah mengunjungi Gwen di tempat kerjanya, yang ternyata di rumah sakit yang sama tempat ayahnya dirawat.
Mereka duduk di cafetaria. Beberapa dokter laki-laki terlihat menyapa Gwen dan Farah yakin kalau mereka semua sedang ingin mencuri perhatian Gwen.
“Gimana Indonesia, kamu betah di sini?”
Gwen mengangguk. “Di sini always summer, kamu tahu sendiri kalau orang Amerika love summer so much,” jawab Gwen sambil terkekeh. Farah juga ikut tertawa mendengarnya.
“Sure. Tapi summer identik dengan liburan santai-santai di pantai. Sedang kita harus kerja tiap hari.”
“Iyaa. Oh ya, kamu sudah dapat kerja di sini?”
“Aku ikut agensinya Samantha. Tapi ga ambil event yang ke luar negri, ga dibolehin sama ibuku. Kalau kamu, apa Samantha sudah menghubungimu?”
“Sudah. Dia sudah ke rumah memberi uang santunan buat Mama dan kasih tahu kalau dia yang akan urus asuransi.”
“Ooh, baguslah. Tapi tadi maksudku soal modeling. Apa kamu ga diminta jadi model dia?”
“Iya, sih. Tapi modeling bukan pashion-ku. Di sini, lah duniaku.”
Farah bisa melihat bahwa Gwen memang benar-benar seorang dokter dengan jas sneli-nya. Apalagi ketika dia dipanggil oleh rekan sejawatnya dengan panggilan Dokter Atma. Dia bukanlah Nafeera. Model itu sudah meninggal, yang ada di hadapan Farah saat ini adalah Gwenevere Atma, dokter spesialis jantung.
--------------------------------------------------------------------
Bonus
Si plontos yang ngakak 😆😆😆
bang Diesel lope lope bang