NovelToon NovelToon
Take Me Back Please!

Take Me Back Please!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:624.6k
Nilai: 5
Nama Author: sweet berry

"Tuan, kau sudah dengar yang dia katakan kan? dia bilang siapa yang mau menikahi gadis buangan seperti ku? apakah aku terlihat separah itu dimatanya? aku benar-benar konyol, hehe ya tapi benar juga, tak akan ada yang mau menerimaku, siapa aku? orang lain semuanya tahu aku putri yang di buang keluarganya, ibuku di asingkan karena tuduhan perselingkuhan, sekarang di tambah aku jadi wanita simpanan, siapa lagi yang mau menikah denganku, hahaha"
*
*
Pria itu tersenyum melihat Ara. Ara memalingkan wajah cantikanya dari pria itu. Ia kembali menatap pena perekam itu di tangannya.
*
"Bagaimana jika aku mau menerimamu, apa kau mau menikah denganku?"

Aku adalah putri ke-5 keluarga terpandang di kota A, keluarga Romanof. Hidupku hampir hancur ketika ayahku memaksaku jatuh ke dalam sebuah masalah keluarga yang mengharuskan aku mencuri cincin turun temurun keluargaku dari tangan keluarga Wingsley.
*
Melihat Daniel, aku yang sakit hati dengan gila menerimanya dan akhirnya kami menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: tidak ada pilihan lain

Angin malam yang dingin terus membelai wajah Ara, matanya yang terpejam memperlihatkan bulu matanya yang lentik, cahaya bulan samar memantulkan sinar dari wajah putihnya yang terlihat anggun dan lelah secara bersamaan.

Ia duduk menyandarkan tubuhnya di sisi pintu balkon. Seperti membiarkan malam memeluknya. Lama kelamaan, Ara mengantuk dan justru tertidur disana.

Selang beberapa lama, deru mobil berhenti di pelatAran Villa, Kevan tahu Sisil pasti sudah tidur. Bi Jia menyambut Kevan di depan pintu. Dengan melepas mantelnya, ia berjalan menaiki tangga, bukan ke kamar Sisil, tapi justru masuk ke kamar Ara. Ia membuka pintu. Ia melihat tubuh ramping Ara bersandar di sisi pintu balkon.

Langkah lembutnya Kevan mendekati Ara perlahan. Ia berjongkok di hadapan tubuh Ara. Kelembutan dalam wajahnya seperti mengikis semua kekacauan yang sebelumnya ia genggam di dalam hatinya. Sebuah senyuman lembut tertarik di sudut bibirnya. Dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana gadis sederhana seperti Ara bisa dengan cepat mencuri hatinya?

Dengan hati-hati Kevan mengangkat tubuh Ara dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Ia menarik lembut selimut menutupi tubuh Ara. Tiba-tiba bulu mata lentik itu terangkat lembut, Ara membuka matanya.

Seperti sebuah mimpi, ketika membuka matanya, ia melihat sosok Kevan duduk di samping tubuhnya. Ia hampir lompat dari tidurnya sebelum tangan Kevan menahannya dengan cepat. Jika dia tak menahannya, Ara pasti percaya itu hanya halusinasinya. Sulit di percaya, dia benar-benar Kevan yang berada di depannya.

“Jangan bangun, tidurlah, aku akan pergi!"

Serunya dengan wajah tenang. Ia segera berdiri dan meninggalkan Ara. Namun tidak di sangka Ara justru menahan tangan Kevan. Kevan seketika menoleh dan mengerutkan alisnya.

“Ada apa?"

“Bibirmu, kenapa?"

“Tidak apa-apa, hanya luka kecil, kembalilah tidur sudah larut"

Ara tak bertanya lebih jauh, ia hanya menga gguk dan kembali mengangkat selimutnya. Mata Ara terus mengikuti punggung Kevan yang lama kelamaan hilang di balik pintu.

Langkahnya tanpa sadar berjalan menuju kamar Sisil. Ia membuka pintu kamar dan duduk di tepi tempat tidurnya. Ia melihat tubuh Sisil yang sudah di balut selimut. Begitu tenang.

Gadis ini meskipun sama-sama memiliki wajah yang cantik, namun ada sesuatu yang berbeda ketika melihat mereka berdua.

Wajah Sisil sangat menawan, siapapun akan setuju, seluruh tubuh dan wajahnya memancarkan keanggunan bangsawan. Siapapun yang menatapnya, pasti akan merasakan sebuah kesejukan dan kesepian dalam satu waktu. Gadis ini seperti bunga dandelion, cantik dan lembut tapi sangat rapuh

Sedangkan Ara seperti bunga lily, karena keindahannya, dia bahkan di sebut ratu bunga tapi setiap ratu memiliki racunnya sendiri.

“Kau, kapan kembali?"

Sebuah tangan lembut tiba-tiba menyentuh pergelangan tangan Kevan. Sisil membuka matanya dan tersenyum menArap pria yang ia cintai duduk di hadapannya.

“Baru saja"

“Ada apa dengan wajahmu, apa ini sakit?"

Sisil segera bangkit dari tidurnya dan menyentuh ujung bibir Kevan yang terluka. Kevan tak menolak, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia bisa merasakan hangatnya tangan Sisil.

Manik mata mereka beradu. Sisil mendekatkan wajahnya perlahan pada bibir Kevan. Kevan tak menolak ciuman itu. Bibir gadis itu begitu lembut,ia melingkarkan pergelangan tangannya di leher Kevan. Kevan tahu apa yang Sisil inginkan, seharusnya ini bukan sesuatu yang sulit di lakukan, banyak pria juga melakukan hal yang sama. Meniduri gadis-gadis tanpa cinta. Di tengah sentuhan bibir Sisil yang semakin dalam, Kevan terus berusaha, tapi tetap tidak bisa. Ia mendorong tubuh Sisil menjauh dengan lembut dan melepaskan ciumannya.

“Jangan sekarang, aku lelah"

Wajah Sisil benar-benar menggambarkan kekecewaannya. 3 tahun bersamanya, tak seharipun pria itu menyentuhnya. Penolakan berulang. Hatinya hancur ketika Sisil melihat Kevan bangkit dan berjalan pergi.

"3 tahun ini apakah aku masih belum pantas masuk ke hatimu?"

Langkahnya terhenti di ambang pintu. Kevan terus mencari apa yang salah pada dirinya. Kenapa mencintai Sisil sebegitu sulitnya?

“Kembali tidurlah, jangan berpikir terlalu banyak"

“Van, katakan, kau pasti akan mencitaiku kan suatu hari nanti? benarkan?"

"...."

“Entah kau butuh waktu berapa lama lagi,aku akan terus menunggumu, jika bukan denganmu, aku juga tidak akan bersama orang lain"

Kevan menoleh keArah Sisil dan melemparkan sebuah senyuman. Entah apa yang ada di balik senyuman itu. Sisil meringkuk menangisi dirinya sendiri. Tidak ada hal yang lebih menyedihkan selain perasaan yang di tolak berulang-ulang.

Keesokan harinya, Ara bersiap untuk meninggalkan Villa Kevan setelah Kevan mengirimkan pesan ia tak akan bekerja hari ini. Kevan sudah kembali, cincin itu tidak di temukan disana, tidak ada lagi alasannya ti ggal lebih lama. Langkahnya terhenti ketika melihat Sisil berdiri di ujung tangga. Ara bisa melihat sebuah koper besar berada di balik tubuhnya. Ara mengerutka alisnya.

“Sudah mau pergi Ra?"

“Hmm, ya”Ara tersenyum mendekati Sisil. “Apakah kau juga akan pergi?” sambungnya menatap koper besar di belakang tubuh Sisil.

“Ya, aku tiba-tiba rindu keluargaku, aku ingin tinggal dengan mereka beberapa waktu"

“Kenapa tiba-tiba?"

Pertanyaan Ara hampir tak bisa di jawab Sisil, sebuah tangan meraih koper itu dan menjauhkannya dari Sisil. Koper itu terlepas dari genggamannya. Ia seketika menoleh dan melihat Kevan berada di sampingnya dengan wajah marah.

“Kau,mau kemana?"

“Beri aku waktu sendiri Van"

Ara berdiri canggung melihat mereka yang terlihat sedang bertengkar dengan tenang itu.

“Maaf, bukan bermaksud mengganggu, aku hanya ingin bilang, aku harus pergi sekarang, kalian silahkan lanjutkan"

Dengan hampir berlari, kaki Ara menuruni setiap anak tangga seperti tak membiarkan dua orang di hadapannya untuk bereaksi.

“Berhenti!!”Seru Sisil dan Kevan bersamaan. Langkah Ara tiba-tiba terhenti.

“Biar Kevan mengantarmu Ra”Kevan dan Ara seketika menoleh ke Arah Sisil bersamaan. Mata Kevan lebih gelap dari sebelumnya.

“Ti..tidak perlu Sil, biar dia mengantarmu, aku lebih nyaman kembali dengan bis umum"

“Dia akan mengantarmu, benarkan van?”Sisil menoleh pada Kevan.

“Ya, baiklah,aku akan mengantarnya!”Kevan dengan cepat menuruni tangga meninggalkan Sisil. Mata Sisil tak berkedip menatap bayangan Kevan dengan wajah tak percaya benar-benar meninggalkannya.

“Kevan! berhenti!"

Langkahnya tiba-tiba berhenti.

“Jika kau berani menuruni satu anak tangga lagi, aku akan menjatuhkan diriku dari sini!"

“Sisil jangan!!”Teriakan Ara kali ini benar-benar penuh emosi, kenapa ia harus berada di antara pertengkAran mereka sepagi ini. Benar-benar sangat konyol, “Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kau Kevan, aku tak menyangka kau benar-benar bodoh"

“Sepagi ini kenapa kalian sangat berisik!"

Tiba-tiba suara Jade terdengar dari balik pintu utama. Jade sejak tadi berada di balik pintu mendengarkan percakapan mereka tanpa mereka sadari. Langkah Jade mendekati Ara hingga ia berdiri di hadapannya.

“Apa kau tak merasa mereka sangat berisik? ayo aku antar"

Dengan cepat Jade merangkul tubuh Ara berjalan menuju pintu keluar. Namun Sisil buru-buru menuruni tangga dan berlari menarik lengan kakaknya meninggalkan Kevan yang masih mematung. Jade terhuyung seketika.

“Adikmu itu aku, akulah yang harusnya kau antar"

Jade kemudian menatap Sisil dengan pandangan heran. Ia melihat mata sendu adiknya seperti sedang menahan air bah dari pelupuk matanya.

“Aku akan tunggu di mobil, kau ambil koperku dan kita pergi"

Tanpa ragu Sisil berjalan memasuki mobil Jade, sisil berdiri mematung tidak tahu harus melakukan apa.

Jade masuk menaiki tangga mengambil koper milik Sisil. Saat berpapasan dengan Kevan, mata Jade seakan ingin membunuhnya dengan satu sayatan.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi dia memutuskan untuk pergi, jika kau masih punya hati, kejar dia dan buat dia kembali"

Yang di harapkan Jade benar-benar tak terjadi. Jade tahu betul seperti apa sifat dan watak sahabat berikut Adik iparnya itu. Jika tidak, ia akan dengan tegas berkata tidak.

Jade memperhatikan adiknya sepanjang jalan. Ia hanya diam bersandar di kursinya.

“Kali ini kau memutuskan untuk menyerah?"

"..."

“Baguslah kalau kau sadar, aku bisa mengenalkanmu dengan pria lain yang lebih baik"

“Jika aku tak bisa bersamanya, aku juga tak akan bersama orang lain"

Jade tiba-tiba menepikan mobilnya dan berhenti saat mendengar ucapan Sisil.

“Lalu kenapa kau pergi?"

“Aku hanya butuh ruang sendiri"

“Kau membuat jarak dengannya tidak takut dia pergi?"

“Dia tidak akan bisa pergi meskipun dia ingin pergi, selain menikah denganku, dia tak punya pilihan lain"

Senyum pahitnya tertarik ke sudut bibirnya.

“Meskipun dengan terpaksa, Kevan hanya bisa menikahiku"

“Kau benar, baiklah, aku tak akan bertanya lagi"

1
annethewie
makasih author sdh menghibur
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
masa iya direktur g bisa bhs inggris thor
Dewi Saputra
cerita yang menarik
winda
bagus
Purwati Ningsih
Aduuh thorr.. so sweet banget sihh Daniel.. hatiku ikut meleleh rasanya.. Tak bs di ungkapkan spt apa perasaan, andai aq yg jd Ara 😅😅❤❤❤😘😘😘
Yunitri
seru bikin penasaran terus
Selvi Wondal
Terima kasih Thor..,sukses sllu🙏👍
Wahyu Beceng
makin seru ja thor lope lope
Wahyu Beceng
cerita ya bagussss bgtttt5 q suka lope lope author
Shela Bahansubu
Bagus ceritanya,baca sampai endingyapun gk bosan aku😍😍 Kerennnn👍
TiraMishu™
Keinget adegan drakor pas bgian ini
TiraMishu™
Alergi udang nih
TiraMishu™
Mampus..emg enak maksa org buat nikahin elu yg jelas2 orang nya ga pnya prsaan cinta sdkitpun
TiraMishu™
Tapi elu tetap cwo pecundang ga punya pendirian
Erni Fitriana
yuk kit telusuri🙏
cloe
sampai ending, gak suka sm sikap daniel, selalu terkesan egois dan merasa hebat, krn slalu memutuskan sendiri tanpa bertanya pd ara, Seperti judul lagu kekasih tak dianggap
cloe
bukannya arti suami istri itu, brarti susah senang ditanggung dan dijalani bersama? sesuai ikrar yg diucapkan ketika menikah
cloe
Daniel gak ada tegasnya sikitpun sm windy..memuakkan

mending sm denis aja
Yossea Edytan
ng asyik aja cerita nya. ng sda peran istri waktu suami sakit.
ng ada peran suami ketika Ara hamill
Yossea Edytan
mbulett.. ntar abis ini Ara ilang lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!