Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Awal KKN
"Iihh.. Abang kepedean"
"Sekarang kamu jawab sendiri. Abang ganteng apa nggak?" tanya Arben mengincar bola mata Dira yang sengaja menghindarinya.
"Nggak" jawab Dira cepat lalu menarik selimutnya.
***
7 hari, 40 hari meninggalnya papa dan mama Dira masih mengiring tangis ibu Danki B. Mendengar suara do'a tahlil semakin memperderas air mata Dira hingga Arben harus membaca doa itu di ruang tengah sebab Dira terus menangisi papa mamanya.
"Ini sudah 40 hari meninggalnya mama papa. Mereka sudah bahagia disana. Kita yang di dunia wajib mendoakan orang tua kita. Jangan ditangisi lagi ya!" Arben menggenggam tangan Dira menguatkan istrinya.
Sebelah tangan Dira mengusap perutnya sendiri. Parasnya memancarkan kesedihan yang teramat sangat.
"Anak Dira bang, mama papa nggak akan pernah tau. Bahkan cucunya pun sudah nggak ada lagi"
"Sabar.. pasrah dek! Nanti kita usahakan lagi, biar malaikat kecil bisa segera hadir di tengah kita" Arben menyandarkan kepala di puncak kepala Dira yang sedang bersandar di bahunya.
Dira mengangguk, dengan telaten Arben menghapus air mata istrinya. Papa dan mama Shila tersenyum lega melihat anak dan menantu mereka akur.
Nampak istri Brian disana tidak kuat duduk berlama-lama. Usia kandungannya sudah masuk 4 bulan, dan punggungnya sering merasa pegal.
"Abang antar pulang ya! setelah selesai acara nanti Abang langsung pulang" kata Brian.
"Nggak mau, Shisi mau sama Abang aja" rengek Shisi yang tidak ingin jauh dari Brian.
"Ajak masuk ke kamar Abang. Biar istrimu istirahat dulu. Badannya pasti capek sekali" ucap Arben mengingatkan adiknya.
"Paham benar Abang kalau wanita hamil pasti capek. Jangan bilang bukan hanya Dira saja yang pernah hamil" ledek Brian yang sebenarnya ingin sedikit bercanda dengan Abangnya, tapi ia melupakan kalau belakangan ini Arben sedang mengalami banyak masalah keluarga.
"Jaga bicaramu Brian. Omonganmu itu memperkeruh rumah tangga Abang!" tegur keras Arben.
"Astaga.. maaf bang, Brian hanya bercanda" "Maaf ya Dira! Bang Ben nggak pernah macam-macam kok" kata Brian yang sudah melihat ekspresi wajah Dira mulai berubah.
#
Acara malam itu sudah selesai. Tak sengaja Dira melihat Brian mengusap perut Shisi yang sedikit membuncit. Hati Dira terasa sakit sekali, tak bisa di pungkiri ia sangat sedih..ada rasa iri mengapa bayinya tidak bisa bertahan.
Arben memegang kedua bahu istrinya dari belakang. "Anak itu titipan. Kalau sudah waktunya pasti kita akan mendapatkannya"
"Iya bang" jawab Dira mengangguk pelan.
***
Dira keluar dari kampusnya setelah mendengar kabar kalau awal bulan depan kelompoknya akan berangkat KKN dan perubahannya.. Dira akan berangkat ke wilayah dekat tepi pantai.
"Terus kamu jadi tinggal dimana? Kenapa ada pembangunan di desa pelosok?" tanya Arben yang semakin gelisah karena tempat KKN Dira semakin jauh.
"Ini khan Desa yang akan jadi destinasi wisata, tempatnya sedikit lebih jauh. Jadi nanti Dira ngontrak dan nggak tinggal sama warga, patungan gitu bang! hitung-hitung bisa nambah pemasukan warga" jawab Dira menjelaskan.
"Kamu ngontrak sendiri aja!!" perintah Arben yang terdengar tidak suka.
"Nanti mahal bang" Dira menolak permintaan Arben.
"Bagaimana kalau Abang nengok kamu kesana? Masa iya di antara temanmu yang bujang dan rata-rata perempuan, Abang masuk ke kamarmu dan tidur sama kamu. Nggak pantas donk dek" gerutu Arben.
"Ya sudah Abang jangan tidur sama Dira"
"Oohh iya, Abang masih bisa tidur sama temanmu" jawab Arben santai padahal hatinya lumayan kesal karena Dira tak paham maksudnya.
"Iyaaa.. besok Dira ambil rumah kontrakan sendiri untuk dua bulan"
Arben menyembunyikan senyumnya padahal dalam hati riang dan berbunga.
Group di ponsel Arben berbunyi, terpampang nama dirinya harus menggantikan Danki A yang purna tugas di daerah pelosok. Arben melirik Dira.
Dira mau KKN, aku malah berangkat dinas. Kapan ketemunya kalau begitu?? Paling tidak kalau nggak begitu jauh aku masih bisa nengok Dira. Tapi kalau begini caranya.. bagaimana aku bisa punya anak lebih cepat?
"Kenapa bang?" tanya Dira yang merasa Arben terus memperhatikan dirinya.
"Nggak apa-apa"
"Kapan kamu berangkat KKN?"
"Dua hari lagi bang" jawab Dira.
"Abang juga berangkat dinas dua hari lagi" ucapnya tak ikhlas.
Sekilas mereka berdua saling pandang. Ada rasa rindu yang terasa menghalangi. Karena Arben dan Dira ingin hubungan mereka di awali dengan kata 'pacaran'.
***
Arben melihat peta lokasi tempatnya berdinas luar kali ini. Ternyata nama Desa yang disebut Dira lokasinya hanya bersebelahan dengan desanya saja. Arben belum hapal lokasi karena baru dua kali ini wilayah tersebut meminta penjagaan pengamanan karena akan menjadi destinasi wisata.
"Jam berapa Dira sampai desa sebelah?" gumamnya dalam hati.
"Selamat siang Pak Arben, saya Wati sekertaris Kades. Kalau ada sesuatu yang tidak di mengerti tentang desa ini. Silakan pak Arben langsung menemui saya atau pak Kades langsung" ucap sekertaris Kades tiba-tiba ada di kamar pribadinya.
"Selamat siang Bu Wati. Terima kasih informasinya tapi alangkah lebih baik kalau kita bicara di ruang tunggu barak. Ini kamar pribadi saya!" jawab Arben setengah menegur Wati sambil menunjukan jalan keluar pintu kamarnya.
"Baik pak. Saya minta maaf. Bapak bisa panggil saya Wati saja"
Arben mengangguk. Kemudian ia teringat sesuatu disana.
"Mbak Wati. Siapa nama Kades desa sebelah?"
"Wati saja pak. Tapi untuk apa bapak mau tau tentang kepala desa sebelah?" tanya Wati heran.
#
"Sudah beres Let!" laporan Pratu Prayudi pada Arben.
"Terima kasih banyak ya!"
***
Dira keluar dari ruangan proyek dan menunjukan sketsa gambarnya pada kepala pengembang proyek.
"Bagus sekali hasil kerja mu Dir. Setelah lulus nanti kamu kerja sama saya aja ya!" kata Pak Tino duda ber anak satu.
"Insya Allah pak" jawab Dira sambil membenahi letak jilbabnya. Hari ini Dira memakai jilbabnya. Jilbab yang di hadiahkan Arben untuknya dan suaminya itu ingin Dira memakainya.
"Apa kamu mau makan malam sama mas?" tanya Tino saat melihat tidak ada siapapun lagi di sekitar mereka.
"Maaf pak, Dira tadi sudah bawa bekal dari rumah" tolaknya secara halus.
"Papa..." panggil seorang anak perempuan yang berlari kecil langsung memeluk kaki papanya.
Tino langsung menggendong putrinya itu. Gadis cantik berumur tiga tahun itu tersenyum melihat Dira.
"Hai sayang..siapa namamu?" sapa Dira pada gadis kecil itu.
"Berlian Tante" jawabnya dengan pintar.
"Apa berlian sama mama disini?" tanya Dira.
"Berlian nggak punya mama" jawabnya sedih.
"Mas ini duda. Mamanya kabur entah kemana. Mas urus Lili dari bayi umur dua bulan" ucap Tino sendu.
"Eehh..maaf! Mas jadi curhat" jari Tino menghapus air matanya sendiri.
"Tante ini aja jadi mama Lili pa" pinta gadis kecil itu membuat canggung Dira dan Tino.
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪