Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sagara.
Mereka tengah berada di rooftop agar bisa lebih leluasa berbicara.
"Aku baik-baik saja."
Sagara tersenyum tipis, tetapi matanya masih memperhatikan wajah Viola yang terlihat sedikit kaku. Mereka sudah lama tidak bertemu, tetapi wanita di hadapannya masih terlihat sama. Masih tampak cantik dan anggun, hanya saja kini ada lelah yang samar di matanya.
"Bagaimana toko barumu? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Masih terlalu awal untuk mengatakan baik-baik saja. Tapi aku akan selalu mengusahakan yang terbaik." Ia tersenyum kecil.
"Selamat untuk kelahiran anak kalian." lanjut Viola pelan. kepalanya masih tertunduk. Ia enggan menatap langsung wajah Sagara. Bukan karena membencinya, hanya saja perasaan itu masih ada.
"Terima kasih. Aku sangat bahagia dengan kelahiran mereka." Sagara berhenti sejenak, memperhatikan Viola yang tampak lebih canggung dari sebelumnya. "Apa kau tidak ingin melihat kedua keponakanmu itu?"
"Aku ...." Viola terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak. Pria yang pernah dicintainya sudah memiliki kebahagiaannya sendiri.
"Mungkin saat toko sudah mulai stabil. Aku akan menemui mereka."
Sagara mengangguk pelan. Ia tidak memaksa, justru memahami Viola yang sedang merintis usahanya.
Beberapa detik mereka terdiam.
"Kau sudah menemui ibumu?"
Pertanyaan itu membuat Viola mengangkat kepalanya. Menatap wajah Sagara beberapa detik sebelum kembali menunduk dan menggeleng pelan. "Aku belum sempat menemuinya."
"Ibumu pasti merindukanmu."
"Beliau tidak mungkin merindukanku," jawab Viola pelan. Ia teringat bagaimana sikap Ratna saat terakhir ia mengunjunginya di penjara. Saat itu Ratna mengusirnya dan mengatakan sebuah kenyataan pahit yang begitu melukainya.
Dari tangga, terdengar langkah kaki.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Nara muncul sambil membawa sebuah nampan berisi beberapa potong cake dan tiga gelas coffe latte. Senyum hangat langsung menghiasi wajahnya ketika melihat Sagara dan Viola masih duduk berhadapan. Meskipun mereka tampak terlihat canggung.
"Sudah selesai memilih?" tanya Sagara dengan senyum tipis.
"Aku sudah memilih banyak cake dan roti. Sengaja aku minta mereka membungkusnya untuk dibawa pulang." Nara meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di samping Sagara. Sebelum ikut bergabung dalam percakapan, ia sempat memandang Viola beberapa saat.
Nara tahu hubungan suaminya dan Viola memang tidak begitu dekat. Sagara bahkan pernah meminta Viola pergi. Namun, semua itu dilakukannya untuk kebaikan Viola sendiri.
Sagara ingin Viola menjalani hidup sesuai keinginannya, bukan terus di bawah tekanan orang lain seperti yang selama ini wanita itu jalani.
Karena itu, ketika akhirnya mereka bertemu kembali, Nara sengaja memberi keduanya waktu untuk memperbaiki hubungan yang sempat retak.
Nara mengambil sepotong strawberry shortcake. "Enak." Matanya langsung berbinar setelah mencicipinya.
Sagara tersenyum melihat reaksi istrinya. "Makanan yang banyak, agar kedua bayi kita selalu sehat."
"Itu yang selalu kulakukan." Nara terkekeh kecil.
"Bagaimana kabar anak kalian? Apa mereka rewel saat malam hari?" tanya Viola.
Nara meletakkan garpunya, lalu kembali menatap Viola. "Kak Viola, kapan-kapan datanglah ke rumah. Si kembar pasti senang bertemu dengan Tantenya."
Viola sedikit tertegun. "Kak? Tante?"
Nara tampak heran melihat reaksi Viola.
"Aku ... tidak menyangka kamu akan memanggilku begitu?"
Nara tersenyum hangat. "Bagaimanapun, kamu adalah kakak suamiku. Kalian memang berbeda ayah dan ibu, tapi ikatan yang pernah ada tidak akan mudah hilang begitu saja."
Viola terdiam. Kalimat sederhana itu menyentuh bagian hatinya yang selama ini ia tutupi.
"Si kembar sekarang membuatku hampir tidak punya waktu apa pun," lanjut Nara. "Seharian aku sibuk mengurus mereka. Kadang baru bisa duduk tenang saat keduanya sudah tidur."
Sagara tertawa kecil. "Maaf dan terima kasih untuk semua pengorbananmu, Sayang."
Nara menatap Sagara. Tatapan keduanya bertemu begitu saja. "Tapi aku sangat menikmati semuanya."
Tangan Sagara langsung mengelus lembut rambut panjang Nara. Tatapan mata keduanya seolah menjelaskan ada begitu banyak cinta di antara mereka.
Viola hanya tersenyum melihatnya. Ia tidak iri melihat kemesraan mereka. Kalaupun ada yang membuat hatinya terasa perih, itu bukan karena Nara memiliki kehidupan yang bahagia.
Ia hanya iri karena Nara begitu dicintai. Sementara dirinya selalu berjuang sendirian.
"Kak Viola."
Tatapan Viola kembali pada Nara. "Iya?"
"Jangan pernah merasa Kakak sendirian."
Viola terdiam.
"Kakak punya aku dan Sagara. Jadi kalau suatu hari Kakak membutuhkan bantuan, jangan pernah sungkan untuk datang menemui kami." Nara tersenyum lembut.
"Kita mungkin tidak sedekat dulu, tapi bukan berarti ikatan itu harus hilang," lanjut Nara.
Viola menunduk. Tenggorokannya terasa penuh. "Terima kasih."
Senyum kecil akhirnya muncul di wajahnya. Pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa mungkin dirinya memang tidak benar-benar sendirian.
***Bersambung.
****
Bagi yang penasaran dengan cerita Nara dan Sagara, bisa banget Kepoin cerita mereka di cerita berjudul. "Terjebak Cinta Berondong Tampan." Sudah tamat ya cerita mereka di sana. 🙏
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor