NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segepok Uang untuk Sebuah Luka

Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan. Hingga usia kehamilan Maya memasuki enam bulan, tidak ada keputusan yang benar-benar diberikan oleh keluarga Pratama.

Maya tetap tinggal di kontrakannya yang sederhana. Setiap pagi ia selalu berharap ada kabar yang memberinya kepastian. Namun, yang datang hanya seorang utusan keluarga Pratama yang rutin mengantarkan kebutuhan bulanan, vitamin, dan makanan bergizi.

"Ini titipan Bu Ratih dan Pak Mahesa, Mbak," ucap utusan itu setiap kali datang.

Maya menerimanya dengan senyum tipis.

"Terima kasih."

Begitu pintu kembali tertutup, senyum itu perlahan menghilang. Tatapannya jatuh ke arah perutnya yang kini semakin membesar.

"Aku tidak butuh belas kasihan..." bisiknya lirih. "Aku hanya ingin dihargai."

Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Bantuan materi memang tidak pernah terlambat datang, tetapi tidak pernah ada kepastian mengenai masa depan dirinya maupun anak yang sedang dikandungnya. Maya merasa seolah keberadaannya hanya ingin disembunyikan dari dunia.

Di sisi lain, kehidupan Naura juga tidak berjalan setenang yang terlihat.

Sejak pertemuan terakhir di taman belakang, Setyo terus menekan Naura agar mengakui kebenaran. Meski tidak lagi menghubunginya sesering dulu, setiap pesan dan tatapan yang mereka tukarkan membuat Naura hidup dalam kecemasan.

Ia mulai sulit tidur. Setiap kali mendengar nada dering ponselnya, jantungnya langsung berdegup kencang. Ketakutan terbesar bukan lagi tentang dirinya, melainkan kemungkinan seluruh rahasia itu terbongkar di hadapan keluarga Pratama.

Hari itu, Mahesa menemani Naura melakukan pemeriksaan kehamilan rutin.

Dokter tersenyum setelah menyelesaikan pemeriksaan.

"Perkembangan janinnya baik. Dari hasil USG hari ini, jenis kelaminnya tampak laki-laki."

Naura spontan menoleh ke arah Mahesa.

Wajah mereka sama-sama dipenuhi senyum haru. Mahesa menggenggam tangan istrinya erat, sementara Naura merasakan beban di dadanya seolah sedikit berkurang. Setidaknya, untuk sesaat mereka menikmati kebahagiaan sebagai calon orang tua.

Namun, tidak semua orang menyambut kabar itu dengan perasaan yang sama.

Bu Ratih yang ikut mendampingi hanya terdiam. Ia memandangi layar hasil pemeriksaan cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ucapan sang cenayang beberapa bulan lalu kembali terngiang di kepalanya.

"Aku tidak pernah melihat Mahesa dan Naura memiliki anak laki-laki."

Kalimat itu terus menghantui pikirannya.

Bu Ratih berusaha tersenyum di hadapan Naura dan Mahesa, tetapi di dalam hatinya tumbuh keraguan yang semakin sulit diabaikan.

"Apakah ini benar cucuku... atau aku hanya sedang dikuasai ketakutan?" batinnya.

Dalam perjalanan pulang, Bu Ratih lebih banyak diam. Tatapannya kosong menembus jendela mobil.

Sesampainya di rumah, ia mengambil keputusan yang sudah lama berputar di benaknya.

"Aku harus mencari orang lain," gumamnya pelan. "Kalau memang ada jawaban, aku ingin mendengarnya dari sudut pandang yang berbeda."

Bukan karena ia ingin mempercayai ramalan sepenuhnya, melainkan karena keraguan yang terus menghantuinya telah mengikis ketenangan hatinya. Di tengah dua kehamilan yang membawa harapan sekaligus luka, Bu Ratih merasa semakin jauh dari jawaban yang selama ini ia cari.

Dua hari setelah Mahesa berangkat dinas ke luar kota, rumah keluarga Pratama terasa jauh lebih lengang. Bu Ratih sedang menghadiri pertemuan bisnis, sementara sebagian besar pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Kesempatan itu dimanfaatkan Setyo untuk menemui Naura di taman belakang rumah.

Naura yang melihat kedatangannya langsung mengernyit.

"Kenapa kamu datang?"

"Aku ingin bicara. Kali ini sampai selesai."

"Aku tidak punya waktu."

Naura hendak pergi, tetapi Setyo menahan langkahnya dengan berdiri di depan jalan setapak.

"Kalau begitu dengarkan sebentar saja."

Nada suaranya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keseriusan yang membuat Naura mulai merasa tidak nyaman.

"Aku sudah memikirkan semuanya," ucap Setyo perlahan. "Aku bisa membiarkan semua rahasia ini terkubur."

Naura menatapnya tajam.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak akan mengatakan apa pun. Anak yang kamu kandung akan tetap dianggap sebagai anak Mahesa."

Untuk sesaat, Naura hanya terdiam.

Namun, kalimat berikutnya membuat wajahnya langsung berubah.

"Tapi ada syaratnya."

Naura mengepalkan tangan.

"Syarat apa?"

Setyo menarik napas pelan sebelum berkata, "Kalau nanti kamu mendapatkan bagian dari harta keluarga Pratama, aku ingin tiga puluh persen dari bagianmu. Dan... tanah di Jakarta Pusat yang akan dipakai untuk proyek lapangan golf, aku juga ingin mendapatkan bagian sesuai kesepakatan yang kita buat."

Mata Naura langsung membelalak.

"Kamu sudah gila?"

"Aku serius."

"Itu bukan milikku untuk dibagi sesuka hati."

"Tapi suatu hari bisa menjadi milikmu."

Naura menggeleng keras.

"Tidak akan pernah."

Setyo tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menenangkan.

"Kalau begitu aku juga tidak punya alasan untuk tetap diam."

Napas Naura mulai memburu.

"Kamu sedang memeras aku?"

"Aku hanya meminta bagian yang menurutku pantas."

"Pantas?" suara Naura meninggi. "Kamu ingin mengambil sesuatu yang bahkan belum menjadi milikku."

Setyo tidak bergeming.

"Kamu yang menentukan pilihan."

Naura melangkah mendekat dengan tatapan penuh kemarahan.

"Aku tidak akan memberikan apa pun."

Ekspresi Setyo perlahan berubah dingin.

"Kalau itu keputusanmu..."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung.

"...aku akan mengatakan yang aku tahu kepada Bu Ratih."

Darah di wajah Naura seketika memudar.

"Kamu tidak akan berani."

"Kenapa tidak?"

Setyo menatap Naura tanpa berkedip.

"Kalau Bu Ratih mengetahui semua yang sebenarnya, menurutmu apa yang akan terjadi?"

Naura terdiam.

Setyo melanjutkan dengan suara pelan namun menusuk.

"Mahesa mungkin tidak akan bisa memaafkanmu. Rumah tanggamu bisa hancur. Dan kamu harus siap menghadapi kemungkinan bahwa semuanya akan berubah."

Naura menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Dadanya naik turun menahan emosi.

"Jangan pernah mencoba mengendalikan hidupku."

"Aku tidak mengendalikanmu," jawab Setyo. "Aku hanya menunjukkan bahwa setiap rahasia memiliki harga."

Keheningan menyelimuti taman.

Naura berdiri mematung dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Selama ini ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia tetap diam. Namun, kini ia menyadari bahwa masa lalunya terus mengejar dan mengancam meruntuhkan kehidupan yang telah susah payah ia pertahankan.

Sementara Setyo berbalik meninggalkan taman, Naura tetap berdiri di tempatnya. Jemarinya gemetar, pikirannya dipenuhi ketakutan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa berada di ujung jurang—setiap pilihan yang diambil akan membawa kehilangan yang begitu besar.

Menjelang petang, mobil Bu Ratih kembali berhenti di depan rumah sang cenayang yang pernah ia datangi beberapa bulan lalu. Wajahnya tampak jauh lebih letih daripada sebelumnya. Selama beberapa hari terakhir, ia telah menemui dua orang lain yang dikenal memiliki kemampuan membaca pertanda. Namun, bukannya memperoleh ketenangan, keraguannya justru semakin membesar.

Dua orang itu tidak memberikan jawaban yang sama persis, tetapi keduanya sama-sama mengatakan bahwa hati Bu Ratih sedang menyimpan pertanyaan yang tidak boleh diabaikan. Mereka menyarankan agar ia tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan ataupun keyakinan orang lain, melainkan mencari kebenaran dengan kepala dingin.

Nasihat itu justru membuat Bu Ratih kembali mendatangi cenayang yang pertama.

Begitu memasuki ruangan, sang cenayang seolah sudah mengetahui alasan kedatangannya.

"Kau datang lagi."

Bu Ratih mengangguk pelan.

"Aku sudah menemui dua orang lain."

"Lalu?"

"Mereka tidak memberikan jawaban yang membuatku tenang."

Bu Ratih menarik napas panjang. Sorot matanya dipenuhi kegelisahan.

"Semuanya mengatakan aku sedang menyimpan keraguan yang besar. Mereka menyuruhku mencari kebenaran sendiri."

Ruangan kembali hening. Hanya suara nyala lilin yang terdengar pelan.

Bu Ratih menatap sang cenayang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau semua orang hanya memberiku teka-teki, bagaimana aku bisa menyelamatkan keluargaku?"

Sang cenayang tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Bu Ratih dengan tenang.

"Aku ingin jawaban," lanjut Bu Ratih lirih. "Aku lelah hidup dalam keraguan."

Sang cenayang menghela napas pelan.

"Keraguan yang Ibu rasakan bukan berasal dari kami."

Bu Ratih mengernyit.

"Melainkan dari kenyataan yang sedang Ibu lihat sendiri."

Kalimat itu membuat Bu Ratih menundukkan kepala.

Ia teringat Maya yang menunggu kepastian selama berbulan-bulan. Ia juga teringat Naura yang kini mengandung dan menerima seluruh perhatian keluarga. Di antara dua perempuan itu, Bu Ratih merasa seolah sedang berdiri di persimpangan yang mustahil dipilih.

"Apa yang harus kulakukan?"

Sang cenayang menatap nyala lilin beberapa saat sebelum berkata pelan.

"Jangan mencari siapa yang paling pantas. Carilah siapa yang paling jujur."

Bu Ratih memejamkan mata. Dadanya terasa semakin sesak.

Ia menyadari bahwa apa pun keputusan yang nanti diambil, keluarga Pratama tidak akan pernah kembali seperti dulu. Kini, yang ia cari bukan lagi ramalan yang menenangkan, melainkan keberanian untuk menghadapi kebenaran, betapa pun pahitnya kenyataan itu nanti.

Keesokan harinya, Bu Ratih menghubungi Maya dan memintanya bertemu di sebuah kafe yang cukup sepi. Maya datang tepat waktu dengan perut yang kini semakin membesar. Wajahnya terlihat pucat, tetapi ia tetap berusaha tersenyum sopan saat melihat Bu Ratih telah menunggunya.

"Terima kasih sudah datang, Bu," ucap Maya pelan.

Bu Ratih mengangguk tanpa membalas senyum itu. Raut wajahnya tampak begitu serius. Di atas meja sudah tergeletak sebuah amplop tebal dan map berisi beberapa dokumen.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang membuka percakapan.

Akhirnya Bu Ratih menarik napas panjang.

"Maya... Ibu sudah memikirkan semuanya."

Maya menatap wanita itu dengan penuh harap. Selama enam bulan ia menunggu kepastian. Dalam hatinya masih tersisa sedikit harapan bahwa hari ini akan menjadi awal dari penyelesaian masalah yang selama ini membebaninya.

Namun, harapan itu perlahan runtuh.

Bu Ratih mendorong amplop tebal ke arah Maya.

"Di dalamnya ada sejumlah uang."

Maya mengernyit.

"Ibu juga sudah menyiapkan sebuah rumah sederhana di kota lain. Semua kebutuhanmu nanti akan Ibu tanggung. Setiap bulan, biaya hidupmu akan dikirim secara rutin."

Maya terdiam.

Ia belum menyentuh sedikit pun amplop yang berada di hadapannya.

"Mulailah hidup yang baru di sana," lanjut Bu Ratih dengan suara pelan. "Anggap semua ini tidak pernah terjadi."

Kalimat itu terasa menghantam hati Maya.

Air matanya perlahan menggenang.

"Jadi..." suaranya bergetar. "Selama enam bulan saya menunggu... hanya untuk mendengar ini?"

Bu Ratih memejamkan mata.

"Ibu melakukan ini demi menjaga keluarga."

"Lalu bagaimana dengan saya?"

Suasana di meja itu mendadak terasa begitu sunyi.

Maya memandang amplop tersebut cukup lama sebelum perlahan mendorongnya kembali ke arah Bu Ratih.

"Bu, saya datang bukan untuk meminta uang."

Suaranya mulai bergetar menahan tangis.

"Saya tidak pernah meminta rumah. Saya juga tidak pernah meminta harta keluarga Pratama."

Setetes air mata jatuh ke pipinya.

"Yang saya tunggu selama ini adalah tanggung jawab... dan kepastian."

Bu Ratih hanya menundukkan kepala. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada kata-kata yang mampu keluar.

Maya tersenyum tipis, senyum yang dipenuhi luka.

"Apakah semurah itu harga diri saya di mata keluarga Ibu?"

Pertanyaan itu membuat Bu Ratih memejamkan mata semakin erat.

Maya melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.

"Enam bulan saya menunggu. Tidak pernah sekalipun Pak Mahesa datang menemui saya untuk berbicara dari hati ke hati. Yang datang hanya kiriman uang dan makanan."

Ia mengusap air mata yang terus mengalir.

"Saya memang berasal dari keluarga sederhana. Saya hanya seorang pegawai hotel. Tapi bukan berarti harga diri saya bisa diganti dengan sejumlah uang."

Ruangan di sekitar mereka tetap ramai, tetapi bagi keduanya seolah hanya ada kesunyian yang menyakitkan.

Bu Ratih menggenggam kedua tangannya erat.

Maya menggeleng pelan.

"Maaf tidak akan menghapus kenyataan bahwa saya dan anak ini selama berbulan-bulan hanya dianggap sebagai masalah yang harus disembunyikan."

Perlahan Maya berdiri dari kursinya.

Ia menatap Bu Ratih untuk terakhir kalinya.

"Saya menghormati Ibu karena selama ini Ibu pernah begitu baik kepada saya. Tapi hari ini saya pulang dengan hati yang benar-benar hancur."

Tanpa mengambil amplop maupun map yang berada di atas meja, Maya melangkah meninggalkan kafe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!