NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Dunia yang Salah

Kiara membuka mata dengan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang baru saja menariknya dari dasar air.

Langit-langit kamar itu asing.

Warna putih gading. Lampu gantung kristal kecil. Aroma diffuser mahal yang terlalu manis. Di samping ranjang, ponsel yang terjatuh masih menyala, menampilkan puluhan notifikasi dari portal hiburan.

Kiara Tanuwijaya kembali bikin masalah?

Adik aktris Wenny Tanuwijaya disebut cemburu, rebut kontrak endorsement keluarga sendiri.

Netizen: anak kandung kok kalah elegan dari Wenny?

Jari Kiara bergetar saat mengambil ponsel itu.

Nama itu.

Wenny Tanuwijaya.

Hendra Tanuwijaya.

Lina Tanuwijaya.

Purnawan Group.

Satu demi satu nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan. Semalam, sebelum tidur, ia masih membaca sebuah novel romansa gelap yang ia maki habis-habisan karena tokoh samping bernama Kiara Tanuwijaya terlalu menyedihkan. Anak kandung keluarga kaya yang tertukar sejak kecil, pulang ke rumah sendiri hanya untuk diperlakukan seperti tamu yang tak diinginkan. Semua cinta keluarga jatuh ke Wenny, anak palsu yang sudah lebih dulu mereka besarkan.

Dalam novel itu, Kiara Tanuwijaya akhirnya hancur.

Kariernya dirampas. Namanya busuk. Keluarganya membuang muka. Bahkan sebelum pria paling berbahaya di cerita itu benar-benar turun tangan, hidup Kiara sudah lebih dulu remuk oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Sekarang, wajah di cermin kamar mandi menatap balik dirinya.

Mata bulat yang masih basah. Rambut cokelat muda berantakan di bahu. Wajah kecil pucat dengan bibir merah yang digigit sampai hampir berdarah.

Cantik sekali.

Dan rapuh sekali.

Kiara menekan dada kirinya. Jantung itu berdetak cepat, tapi lemah, seperti burung kecil yang terperangkap di dalam sangkar.

"Tidak mungkin," bisiknya.

Pintu kamar diketuk tiga kali.

"Kiara." Suara perempuan dewasa terdengar dari luar. Lembut, tapi dinginnya menembus pintu. "Kamu sudah bangun? Papa menunggu di bawah."

Mama.

Tidak. Lina Tanuwijaya.

Kiara memejamkan mata sebentar. Potongan ingatan milik tubuh ini masuk seperti hujan pecahan kaca. Lina yang memeluk Wenny saat Wenny menangis. Hendra yang memarahinya karena membuat Wenny tertekan. Makan malam keluarga yang selalu menyiapkan makanan kesukaan Wenny, sementara alergi Kiara dianggap rewel.

Ia membuka pintu.

Lina berdiri di koridor dengan blus sutra rapi dan kalung mutiara. Tatapannya langsung turun ke wajah Kiara yang pucat, lalu ke ponsel di tangan putrinya.

"Kamu lihat berita itu?" tanya Lina.

Kiara mengangguk pelan.

Bukannya bertanya apakah ia baik-baik saja, Lina justru menarik napas panjang.

"Mama sudah bilang, jangan bersaing dengan Wenny di depan publik. Kamu baru masuk rumah ini beberapa tahun, orang-orang belum mengenalmu. Kalau kamu terlalu memaksa, yang malu bukan hanya kamu, tapi keluarga kita."

Kiara menatap perempuan itu.

Dalam novel, setiap kalimat seperti ini membuat Kiara asli menangis, meminta maaf, lalu semakin ingin membuktikan diri. Makin ia mengejar kasih sayang, makin murah harga dirinya di mata keluarga ini.

Kiara menurunkan pandangan ke kuku jarinya yang pucat.

"Jadi Mama percaya aku merebut kontrak itu?"

Lina terdiam sebentar.

Jawaban itu sudah cukup.

Dari lantai bawah, suara Wenny terdengar manis.

"Mama, Kiara belum turun? Papa nanti telat meeting."

Lina segera menoleh ke arah tangga. Wajahnya yang tadi tegang langsung melunak.

"Sebentar, Sayang."

Sayang.

Kiara hampir tertawa.

Ia mengikuti Lina turun. Rumah keluarga Tanuwijaya besar dan mewah, tapi setiap sudutnya terasa seperti etalase yang tidak pernah benar-benar menerima dirinya. Foto keluarga memenuhi dinding ruang tengah. Hendra, Lina, Wenny. Liburan ke Eropa. Ulang tahun. Wisuda. Acara amal.

Tidak ada satu pun foto Kiara.

Di meja makan, Wenny duduk dengan gaun putih sederhana yang justru membuatnya tampak bersih dan polos. Begitu melihat Kiara, ia langsung berdiri, wajahnya penuh kecemasan yang terlalu rapi.

"Kiara, kamu baik-baik saja? Aku sudah bilang ke agensiku, berita itu pasti salah paham. Kalau kamu mau, aku bisa unggah klarifikasi."

Klarifikasi.

Dalam novel, klarifikasi Wenny selalu berakhir seperti pisau. Kalimatnya terdengar membela Kiara, tapi membuat semua orang yakin Kiara memang iri, kasar, dan tak tahu diri.

Hendra menaruh cangkir kopi dengan suara keras.

"Tidak perlu unggah apa pun sebelum Papa bicara dengan tim PR. Kiara, duduk."

Kiara duduk di kursi paling ujung. Kursi itu seperti sudah disediakan untuk orang luar.

Hendra menatapnya dari balik kacamata. "Kontrak endorsement itu sejak awal cocok untuk Wenny. Brand ingin citra yang lembut dan bersih. Kamu tahu sendiri reputasimu di luar sana sedang tidak baik."

"Reputasi yang dibuat siapa, Pa?" tanya Kiara pelan.

Ruang makan mendadak sunyi.

Sendok di tangan Wenny berhenti.

Lina mengerutkan kening. "Kiara."

Kiara mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, suaranya tidak gemetar.

"Aku hanya bertanya."

Wenny menggigit bibir. Matanya langsung berkaca-kaca.

"Kalau kamu merasa aku mengambil milikmu, aku bisa mundur," ucapnya lirih. "Aku tidak mau karena aku, kamu dan Papa Mama bertengkar."

Hendra langsung menoleh pada Wenny. Nada suaranya turun, penuh kasihan.

"Tidak ada yang menyalahkan kamu. Makan dulu."

Lalu kepada Kiara, nadanya berubah lagi.

"Nanti malam ada acara industri film di SCBD. Wenny akan hadir mewakili keluarga. Kamu tidak usah datang. Diam di rumah sampai berita ini reda."

Jadi itu.

Acara itu adalah titik awal novel. Tempat para produser, sutradara, sosialita, dan pewaris konglomerat berkumpul dalam satu ballroom berkilau. Di sana, Kiara seharusnya dipermalukan oleh Wenny. Di sana juga, untuk pertama kalinya, ia akan melihat Rayhan Purnawan.

Villain utama.

Pria yang di novel disebut lebih dingin dari pisau dan lebih berbahaya dari siapa pun di Jakarta.

Kiara menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya.

Kalau ia menghindar, alur tragis itu tetap akan menyeretnya. Kalau ia diam, semua orang akan terus menulis nasibnya dengan tinta yang sama.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ci Lucy muncul di layar.

Ci Lucy: Kamu masih punya undangan cadangan untuk gala nanti malam. Kalau kamu mau datang, aku jemput jam tujuh. Tapi pikir baik-baik, Kiara. Malam ini bisa jadi kacau.

Kiara menatap pesan itu lama.

Di seberang meja, Wenny masih berpura-pura sedih. Lina sibuk menenangkan Wenny. Hendra sudah kembali membaca laporan bisnis, seolah keputusan tentang hidup Kiara baru saja selesai dibahas bersama menu sarapan.

Kiara mengetik satu balasan.

Jemput aku jam tujuh.

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel di pangkuan dan mengangkat sendok seolah tidak terjadi apa-apa.

Kali ini, ia tidak akan menjadi Kiara Tanuwijaya yang mati dalam cerita orang lain.

Kali ini, ia akan datang ke ballroom itu dengan matanya sendiri.

Dan jika takdir benar-benar ingin mempertemukannya dengan Rayhan Purnawan, maka ia harus melihat sendiri, monster seperti apa yang sedang menunggunya di ujung malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!