NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006: Ibu Sri Menuntut Nama Baik

Ibu Sri datang ke kios pukul sepuluh pagi, saat anak-anak sekolah sedang berebut beli es teh dan pulpen hitam.

Ia tidak datang sendiri.

Di belakangnya ada Tante Rini dan Tante Dewi, dua adik perempuan almarhum ayah Hendra. Keduanya memakai gamis rapi, kerudung licin, wajah dibuat prihatin seperti orang hendak melayat untuk kedua kalinya.

Ayu yang sedang menghitung uang kembalian langsung menegang.

"Bu Sari..."

Sari sedang menyusun pembalut di rak bawah. Ia menoleh, melihat tiga perempuan itu masuk seperti rombongan pemeriksa moral.

"Ada apa?"

Tatapan Ibu Sri turun dari wajah Sari ke ponsel baru di meja kasir, lalu ke kardigan yang dipakainya. Wajahnya langsung mengeras.

"Baru dua hari bikin malu keluarga, sudah belanja macam-macam."

Ayu membuka mulut, tetapi Sari mengangkat tangan kecil. Ayu diam, meski matanya menyala.

Sari berdiri pelan. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia tidak mau duduk di depan Ibu Sri.

"Kalau mau beli sesuatu, silakan ambil. Kalau mau ceramah, tunggu kios sepi."

Tante Rini menarik napas tajam. "Sari, kami datang baik-baik."

"Kalimat itu biasanya dipakai sebelum orang mulai tidak baik."

Beberapa ibu wali murid yang sedang memilih buku tulis langsung pura-pura sibuk. Tapi telinga mereka jelas mengarah ke kasir.

Ibu Sri menepuk meja. Tidak keras, tapi cukup membuat anak kecil di dekat rak permen menoleh.

"Kamu jangan makin kurang ajar. Saya ini masih mertuamu."

"Untuk sementara secara hukum, iya. Secara hati, sudah tidak."

Tante Dewi menggeleng. "Perempuan kalau marah jangan sampai lupa adab. Hendra memang salah, tapi kamu juga salah. Kamu datang ke resepsi seperti itu, menampar orang, membuat keluarga Prasetyo jadi bahan omongan satu komplek."

Sari menatapnya. "Yang membuat bahan omongan itu Hendra. Saya hanya datang membawa kain kafan."

Wajah Tante Dewi memerah.

Ibu Sri menunjuk rak-rak kios. "Semua ini juga tidak lepas dari anak saya. Kamu makan dari uang Hendra. Kamu buka kios karena Hendra mengizinkan. Sekarang kamu mau cerai, mau ambil harta, mau bikin anak saya jatuh?"

Ayu tidak tahan. "Bu, kios ini Bu Sari yang—"

"Ayu," potong Sari.

Ayu menggigit bibir, diam lagi.

Sari mengambil buku catatan dari bawah meja. Buku itu sudah lusuh, sudutnya melengkung karena sering dibuka. Ia meletakkannya di atas meja, membuka halaman pertama yang dipenuhi tulisan tangannya sejak bertahun-tahun lalu.

"Ini modal pertama kios. Dari jual nasi uduk, gorengan, dan tabungan saya sendiri."

Ibu Sri memalingkan wajah.

Sari membuka halaman lain.

"Ini cicilan etalase pertama. Ini pembayaran sewa awal. Ini nota kulakan. Ini catatan saat saya mulai jual buku tulis karena sekolah sebelah butuh."

Tante Rini berkata pelan, "Tetap saja kamu istri Hendra. Rezeki istri ikut suami."

"Kalau begitu utang suami ikut istri juga?"

Tante Rini terdiam.

Sari menutup buku.

"Bagus. Kita mulai bicara jelas. Aku tidak tertarik mengambil dua pabrik Hendra."

Ketiga perempuan itu langsung menatapnya.

Ibu Sri menyipit. "Jangan pura-pura."

"Aku tidak pura-pura. Pabrik homeware dan karpet itu biar Hendra pegang. Silakan. Dia kan selalu merasa paling berjasa. Aku hanya mau kios ini, kebun buah, rekening usaha, dan barang-barang pribadi."

Tante Dewi tampak lega terlalu cepat. "Jadi kamu tidak menuntut pabrik?"

"Aku menuntut cerai. Untuk harta bersama, kita bicarakan lewat pengacara dan Pengadilan Agama. Tapi posisiku jelas."

"Kenapa?" tanyanya.

Sari tersenyum. "Karena aku perempuan tua yang katanya tidak tahu bisnis. Biarkan anakmu yang hebat itu mengurus pabrik hebatnya."

Sindiran itu membuat wajah Ibu Sri tegang.

Tante Rini menyenggol lengan kakaknya. Mungkin ia berpikir ini kesempatan. Kalau Sari benar-benar tidak mau pabrik, maka keluarga Prasetyo masih bisa mempertahankan simbol mereka sebagai pemilik usaha.

Sari tahu mereka hanya melihat papan nama pabrik. Mereka tidak tahu gaji karyawan sering terlambat, bahan baku dibeli dengan tempo yang hampir jatuh, dan beberapa pelanggan lama bertahan hanya karena Sari dulu menjaga hubungan satu per satu.

Biarkan.

Ibu Sri akhirnya berkata, "Kalau begitu tulis. Jangan sampai nanti kamu berubah pikiran."

"Pengacara saya yang akan menulis."

"Tidak usah pakai pengacara. Kita keluarga."

Sari tertawa.

Kali ini cukup keras sampai dua anak SMP di dekat kulkas ikut menoleh.

"Keluarga? Bu Sri, anakmu menikah saat saya dikafani. Kata keluarga sudah tidak cocok dipakai untuk meminta saya percaya."

Wajah Ibu Sri memerah sampai ke leher.

"Kamu ini sejak hidup lagi mulutmu jadi tajam sekali."

"Mungkin karena mati sekali membuat saya tidak punya waktu untuk basa-basi."

Tante Dewi mengangkat tangan, mencoba menengahi. "Sudah, sudah. Kita semua emosi. Yang penting jangan bawa masalah ini ke mana-mana. Nama baik keluarga harus dijaga. Orang-orang di pengajian sudah ramai membicarakan."

"Kalau malu, suruh Hendra jangan bikin resepsi."

"Sari!"

"Apa?" Sari menatap Tante Dewi. "Aku harus menjaga nama baik laki-laki yang tidak menjaga napasku?"

Tidak ada yang menjawab.

Pintu kios berbunyi saat seorang ibu masuk membeli susu. Ia melihat suasana, lalu cepat mengambil barang dan membayar tanpa banyak kata.

Ayu melayani dengan wajah tegang.

Ibu Sri merendahkan suara. "Kamu pikir hidup sendiri mudah? Di umurmu sekarang, perempuan cerai akan jadi omongan. Orang akan bertanya kenapa kamu tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Kamu mau Nadia ikut malu? Mau cucu-cucumu diejek?"

Sari menatapnya lama.

Dulu, kalimat seperti itu akan membuatnya diam. Ia takut anak-anak malu, takut tetangga bicara, takut pengajian menyebut namanya. Sekarang ia hanya lelah melihat betapa kecilnya dunia Ibu Sri.

"Bu Sri," katanya pelan, "aku hampir dikubur. Omongan tetangga tidak lebih dalam dari tanah."

Ibu Sri tersentak.

"Kalau orang mau bicara, biarkan. Aku tidak akan hidup dari mulut mereka. Aku hidup dari kios ini, dari kebunku, dari tanganku sendiri."

Ayu menunduk, tetapi Sari melihat matanya basah.

Tante Rini mencoba lagi. "Minimal jangan laporkan macam-macam. Jangan hitung uang yang dulu Hendra kasih ke Ratna. Kasihan anak kecilnya."

"Tania?"

"Ya. Anak itu tidak salah."

"Aku tahu dia tidak salah." Sari menatap Tante Rini. "Tapi uang yang dipakai membesarkannya berasal dari rumah tanggaku. Kalau aku memilih menghitung, itu hakku. Kalau aku memilih tidak menghitung, itu juga hakku. Jangan ajari aku kasihan pada anak kecil ketika kalian diam saat Nadia menangis di samping kain kafanku."

Tante Rini terdiam total.

Ibu Sri menggenggam tasnya. "Kamu berubah jadi keras karena Nadia menghasutmu."

Sari hampir kehilangan sabar.

"Jangan sebut Nadia."

"Dia anak perempuan. Anak perempuan itu biasanya ikut ibu. Kalau saja Raka dan Bayu yang mengurusmu, mungkin kamu tidak sekeras ini."

"Raka dan Bayu mengurus resepsi ayahnya."

Kalimat itu membuat udara kios membeku.

Ibu Sri membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Sari mengambil ponsel baru, membuka kontak Pak Surya, lalu meletakkannya di meja.

"Aku akan bertemu pengacara siang ini. Kalau Bu Sri ingin menyampaikan sesuatu, sampaikan lewat Hendra. Kalau datang lagi untuk memaki di kios, aku akan rekam dan kirim ke grup keluarga."

"Kamu mengancam?"

"Tidak. Memberi prosedur."

Ayu batuk kecil, mungkin menahan tawa.

Tante Dewi menarik lengan Ibu Sri. "Sudah, Mbak. Kita pulang dulu."

Ibu Sri masih ingin melawan, tapi pengunjung kios mulai bertambah. Semakin lama ia berdiri di sana, semakin banyak orang melihat.

Nama baik keluarga, katanya.

Akhirnya ia menunjuk Sari.

"Ingat, Sari. Jangan menyesal. Kalau kamu keluar dari keluarga Prasetyo, tidak ada jalan kembali."

Sari menatapnya tenang.

"Bagus. Tolong kunci dari dalam."

Wajah Ibu Sri menegang, lalu ia berbalik dengan langkah keras. Tante Rini dan Tante Dewi mengikutinya.

Begitu mereka keluar, Ayu langsung mengembuskan napas panjang.

"Bu, saya hampir meledak."

"Jangan. Nanti rak snack jatuh."

Ayu tertawa kecil, lalu menangis lagi.

Sari duduk di kursi kasir. Kakinya sedikit gemetar.

Tidak mudah menghadapi orang-orang yang selama puluhan tahun ia panggil keluarga. Rasanya seperti mencabut akar busuk dari tanah sendiri: sakit, kotor, tetapi perlu.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Pak Surya.

Saya sampai sepuluh menit lagi.

Sari membalas singkat.

Saya tunggu di kios.

Nadia yang sejak tadi berada di belakang gudang keluar membawa map. "Aku dengar semuanya."

"Bagus. Jadi Ibu tidak perlu mengulang."

Nadia menghampiri, memeluknya dari samping. "Ibu keren."

"Ibu lelah."

"Keren dan lelah bisa bersamaan."

Sari tersenyum kecil.

Di luar kios, mobil hitam berhenti. Seorang pria berkemeja putih turun membawa tas dokumen. Pak Surya datang tepat waktu.

Sari menegakkan punggung.

Babak keluarga sudah selesai untuk pagi ini.

Sekarang giliran hukum.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!