NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02

Maya tidak tidur malam itu.

Setiap kali matanya terpejam, wajah Dimas muncul. Bukan wajah bayi yang dulu tertidur di dadanya, melainkan wajah laki-laki dewasa yang menunjuknya seperti menagih utang.

Pukul lima pagi, ia sudah bangun.

Rumah masih gelap. Lampu dapur berkedip-kedip. Maya menanak nasi sedikit, memasak telur dadar, lalu memasukkan sebagian ke kotak makan. Ia tidak lapar, tapi tubuhnya butuh tenaga. Hari itu ia mendapat jadwal tambahan di Hotel Mahardika, hotel bintang lima di kawasan Sudirman.

Biasanya ia senang dapat shift di hotel itu. Upahnya lebih baik, tips tamu kadang lumayan, dan mandornya tidak terlalu cerewet selama pekerjaan rapi.

Tapi pagi itu, kakinya terasa berat.

Sebelum berangkat, ia mengunci pintu dua kali. Lalu tiga kali. Ancaman Dimas tentang rumah masih menempel di kepalanya.

“Maya?”

Suara itu datang dari pagar sebelah.

Sari, tetangganya sekaligus sahabat lamanya, keluar sambil membawa keranjang cucian. Perempuan itu beberapa tahun lebih muda, tapi wajahnya tampak lebih tua karena hidup dengan suami pemarah.

“Kamu pucat,” kata Sari. “Dimas datang kemarin?”

Maya memaksakan senyum. “Sebentar saja.”

Sari menatapnya curiga. “Sebentar tapi bikin wajahmu seperti orang habis jatuh dari tangga?”

Maya menggeleng. “Nanti saja ceritanya. Aku takut telat.”

Sari menahan lengannya. Di pergelangan tangan Sari ada lebam biru yang disembunyikan gelang plastik.

Maya langsung lupa pada urusannya sendiri.

“Sari, itu kenapa?”

Sari menarik tangan. “Kena pintu.”

“Pintu yang mana? Pintu rumahmu bisa mabuk dan memukul orang?”

Sari tertawa kecil, tapi matanya basah. “Sudahlah. Kamu juga banyak pikiran.”

Maya ingin memaksa, namun jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu berangkat. Ia hanya menggenggam tangan Sari sebentar.

“Kalau dia memukulmu lagi, lari ke rumahku.”

“Rumahmu sendiri aman?” tanya Sari pelan.

Maya tidak menjawab.

Di bus TransJakarta yang penuh, Maya berdiri sambil memegang tiang. Bau parfum, keringat, dan kopi bercampur. Ia mencoba mengosongkan kepala, tapi kata-kata Dimas tetap mengejarnya.

Ibu sudah tua.

Siapa lagi yang mau bertanggung jawab?

Hidup Ibu untuk aku.

Ketika sampai di hotel, ia langsung berganti seragam. Kemeja biru muda dan celana hitam itu sudah mulai pudar, tapi Maya selalu mencucinya bersih. Ia tidak punya banyak hal yang bisa dibanggakan, jadi ia menjaga pekerjaannya sebaik mungkin.

“Bu Maya,” panggil Pak Rudi, supervisor lantai. “Hari ini lantai dua puluh tiga. Ada tamu VIP checkout mendadak. Cepat, ya.”

“Baik, Pak.”

Maya mengambil troli.

Lantai dua puluh tiga lebih sunyi dari lantai biasa. Karpetnya tebal, lampunya hangat, dan lorongnya harum mahal. Maya membersihkan satu kamar, lalu kamar berikutnya. Punggungnya mulai pegal, tapi ia tidak berhenti. Ia terbiasa bekerja sambil menahan sakit.

Menjelang sore, Pak Rudi datang ke ruang staf.

“Bu Maya, kamu belum minum dari tadi?”

Maya terkejut melihatnya menyodorkan botol air mineral.

Pak Rudi jarang bersikap ramah. Biasanya ia hanya memberi perintah, lalu pergi.

“Terima kasih, Pak. Saya bawa minum sendiri.”

“Ambil saja. Dari manajemen.” Pak Rudi tersenyum. Senyumnya terlalu lebar. “Katanya pekerjaanmu rapi. Kalau performa begini terus, kontrakmu bisa diperpanjang. Mungkin nanti juga didaftarkan BPJS dari vendor baru.”

Maya menatap botol itu.

BPJS.

Kontrak diperpanjang.

Dua hal yang selama ini ia harapkan.

“Benar, Pak?”

“Kamu pikir saya bercanda?” Pak Rudi membuka tutup botol itu, lalu menyerahkannya. “Minum. Setelah itu tolong bersihkan suite 2301. Tamu penting baru keluar. Jangan sampai ada noda.”

Maya ragu sebentar.

Tapi tenggorokannya memang kering. Seharian ia hanya minum sedikit agar tidak bolak-balik ke toilet.

Ia meneguk air itu.

Pak Rudi memperhatikan sampai botolnya turun dari bibirnya.

“Bagus. Cepat ke atas.”

Maya tidak sempat memikirkan keanehan itu.

Suite 2301 luasnya hampir sama dengan seluruh rumahnya. Ada ruang tamu, kamar tidur besar, kamar mandi marmer, dan jendela tinggi yang menghadap gedung-gedung Jakarta. Ia baru saja mengganti seprai ketika kepalanya terasa ringan.

Awalnya ia mengira karena kurang tidur.

Lalu panas muncul dari perutnya.

Maya berhenti. Tangannya mencengkeram pinggir ranjang.

“Ya Allah…”

Napasnya pendek. Pandangannya berputar. Ia meraih ponsel, tapi jari-jarinya gemetar. Keringat dingin keluar di tengkuknya, sementara kulitnya justru terasa terbakar.

Pintu kamar terbuka.

Pak Rudi berdiri di sana.

“Bu Maya? Kamu tidak apa-apa?”

Maya mundur setengah langkah. Entah kenapa, melihat wajahnya membuat rasa takut naik ke tenggorokan.

“Saya… saya mau ke klinik.”

“Tidak perlu. Kamu cuma kecapekan.”

Pak Rudi mendekat.

Maya memaksa kakinya bergerak. Ia melewati Pak Rudi dan keluar ke lorong. Langkahnya tidak lurus. Ia mendengar Pak Rudi mengumpat pelan di belakang, lalu suara sepatu mengejarnya.

Lift di ujung lorong terbuka.

Maya masuk tanpa melihat angka.

Pintu menutup tepat sebelum Pak Rudi sampai.

Di dalam lift, ia menekan tombol sembarangan. Tubuhnya semakin panas. Ia menggigit bibir sampai terasa asin. Jangan pingsan. Jangan jatuh di lorong. Jangan kembali ke kamar itu.

Lift berhenti di lantai tiga puluh.

Pintu terbuka.

Maya keluar dengan langkah terhuyung. Lantai ini lebih sepi. Tidak ada troli, tidak ada staf. Hanya lorong panjang dan pintu-pintu suite dengan nomor emas.

Ia ingin mencari tangga darurat, tapi pandangannya kabur.

Sebuah pintu di depannya terbuka sedikit.

Maya mendorongnya, masuk, lalu menutup pintu. Ia hanya butuh tempat bersembunyi sebentar. Hanya sebentar sampai kepalanya jernih.

Ruangan itu gelap.

Aroma kayu, sabun mahal, dan sesuatu yang maskulin memenuhi hidungnya.

“Siapa?”

Suara laki-laki rendah membuat Maya membeku.

Lampu samping menyala.

Seorang pria berdiri di dekat jendela. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, kemeja putihnya terbuka di bagian kerah. Wajahnya tajam dan dingin, tapi matanya tidak setenang suaranya. Ia seperti orang yang juga sedang menahan sesuatu.

Maya mundur.

“Maaf… saya salah kamar.”

Pria itu menatap seragamnya, lalu wajahnya yang basah keringat.

“Kamu staf hotel?”

Maya mengangguk. “Saya akan keluar.”

Ia berbalik, tapi lututnya lemas.

Pria itu bergerak cepat menangkap lengannya.

Sentuhan itu seperti api.

Maya tersentak, tapi bukannya menjauh, tubuhnya justru goyah ke arahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak mampu mengendalikan reaksi itu.

Mata pria itu menggelap.

“Kamu diberi sesuatu?”

Maya ingin menjawab. Ia ingin mengatakan nama Pak Rudi. Ia ingin meminta tolong. Tapi lidahnya kaku, napasnya pecah, dan kepalanya dipenuhi panas yang memalukan.

“Tolong…” hanya itu yang keluar.

Pria itu mengangkat ponsel, seolah hendak menelepon seseorang. Namun pada saat yang sama, tubuhnya sendiri limbung. Ia mencengkeram meja, rahangnya mengeras.

Maya melihat gelas kristal di meja dekatnya. Sisa minuman berwarna keemasan.

Mereka berdua dijebak.

Kesadaran itu datang terlambat.

Pria itu menatap pintu, lalu menekan kunci elektronik dari dalam. Suaranya lebih serak ketika berkata, “Jangan keluar. Di luar mungkin ada orang yang menunggu.”

Maya mengangguk, tapi tubuhnya tidak menurut.

Ia jatuh ke dadanya.

Pria itu menahan napas.

“Dengar.” Tangannya mencengkeram bahu Maya, mencoba memberi jarak. “Kalau aku menyentuhmu sekarang, aku mungkin tidak bisa berhenti.”

Maya menangis tanpa suara.

Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya tahu tubuhnya sakit, kepalanya kacau, dan di antara semua rasa takut itu, lengan pria asing ini terasa seperti satu-satunya tempat yang tidak menyerahkannya kepada orang jahat.

“Jangan panggil Pak Rudi,” bisiknya.

Nama itu membuat mata pria itu menajam.

“Siapa Rudi?”

Maya tidak sempat menjawab.

Panas itu menariknya jatuh lebih dalam.

Malam berlalu dalam potongan-potongan kabur. Suara hujan di kaca. Napas berat. Jemari yang mencoba menahan, lalu menyerah. Pria itu beberapa kali bertanya apakah ia sadar, apakah ia ingin berhenti, apakah ia terluka. Maya hanya ingat ia menggenggam kemejanya dan memanggil Tuhan di antara rasa takut dan rasa asing yang tidak bisa ia jelaskan.

Ketika pagi datang, Maya terbangun oleh cahaya pucat.

Tubuhnya sakit.

Seprai putih kusut. Kemeja pria itu tergeletak di lantai. Di sampingnya, pria itu masih tidur, wajahnya separuh tertutup bayangan. Pada lehernya, dekat jakun, ada bekas gigitan merah.

Maya menutup mulut.

Ingatan malam tadi menghantamnya sedikit demi sedikit.

Ia bangun dengan gemetar, memungut seragamnya, lalu berpakaian secepat mungkin. Ponselnya mati. Kepalanya masih pening, tapi ia harus pergi sebelum pria itu bangun.

Di meja, ada kartu nama.

Raka Wijaya.

CEO Wijaya Group.

Maya tidak tahu siapa dia, tapi nama itu terasa terlalu jauh dari hidupnya.

Ia keluar dari suite dengan langkah tertatih.

Di lorong kosong, ia menahan tangis.

Semalam anaknya ingin menyerahkan ia kepada laki-laki tua demi uang.

Dan malam itu juga, takdir melemparkannya ke ranjang laki-laki asing yang bahkan namanya baru ia baca setelah semuanya terjadi.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!