NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Lelah dan Ingin Menyerah

"Duh, perutnya sudah mulai kelihatan, ya, Mbak," ucap salah seorang pelanggan sambil memperhatikan perut Naresta.

"Iya, Bu," jawab Naresta dengan senyum tipis.

"Sudah berapa bulan, Mbak?"

"Empat bulan sudah, Bu."

Setelah satu bulan berlalu, kini perut Naresta mulai terlihat membuncit. Ia pun tidak lagi banyak bergerak seperti biasanya. Sebagian besar pekerjaan toko sudah dibantu oleh Aya dan Elvan.

Pelanggan wanita itu tersenyum sambil melihat beberapa barang di dekat meja kasir.

"Mbak, sudah tahu belum tentang sesuatu?"

Naresta mengernyit.

"Sesuatu apa ya, Bu?"

"Itu katanya, kalau ada keturunan autisme, nanti anaknya juga ikut begitu."

Senyum di wajah Naresta perlahan menghilang.

Ia terdiam beberapa saat.

"Siapa yang bilang begitu, Bu?"

"Ya... saya dengar-dengar saja."

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Bu, anak saya bahkan belum lahir."

"Iya, saya tahu. Saya cuma kasih tahu."

"Tapi kenapa dari sekarang anak saya sudah dibicarakan seperti itu?"

Wanita itu terdiam.

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Selama empat bulan saya hamil, yang ditanyakan orang bukan cuma keadaan saya atau bayi saya."

"Selalu ada saja yang membawa kondisi suami saya."

Wanita itu mulai terlihat tidak nyaman.

"Saya nggak bermaksud menghina, Mbak."

"Saya tahu."

Naresta tersenyum tipis, tetapi wajahnya terlihat lelah.

"Saya cuma capek, Bu."

"Suami saya dihina, saya bela."

"Saya hamil, orang mempertanyakan bagaimana saya bisa hamil karena suami saya autisme."

"Sekarang anak saya belum lahir saja sudah mulai dibicarakan akan seperti ayahnya atau tidak."

Naresta menundukkan wajahnya.

"Sampai kapan, ya, Bu?"

Wanita itu tidak mampu menjawab.

Naresta mengusap perutnya sekali lagi.

"Kalaupun nanti anak saya memang berbeda, dia tetap anak saya."

"Saya akan tetap menyayanginya."

"Seperti saya menyayangi suami saya."

Tanpa disadari, mata Naresta mulai berkaca-kaca.

"Tapi tolong..."

Suaranya perlahan melemah.

"Jangan mulai menghina anak saya bahkan sebelum dia lahir."

Wanita itu terdiam dengan wajah mulai merasa bersalah.

Sementara Naresta hanya menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, bukan kemarahan yang muncul dalam dirinya.

Melainkan rasa lelah.

Lelah karena seolah tidak pernah ada habisnya orang-orang yang menjadikan kondisi Elvan sebagai bahan untuk menyakiti keluarganya.

Aya yang baru saja datang membawa beberapa dus mi pesanan pelanggan melalui ponsel tadi langsung menghentikan langkahnya.

Tatapannya berubah kesal saat melihat wajah Naresta yang tampak murung.

"Heh, pasti menghina Mbak Naresta lagi. Sebulan penuh itu saja yang dibahas," ucap Aya sambil meletakkan dus mi di dekat meja kasir.

Pelanggan wanita itu langsung menoleh.

"Lho, saya nggak menghina."

"Terus ngomong apa sampai wajah Mbak Naresta begini?"

"Aya, sudah," tegur Naresta pelan.

Namun, Aya justru mendekati meja kasir.

"Nggak, Mbak. Saya sudah hafal."

Aya menatap pelanggan tersebut.

"Sebulan ini ada saja yang datang ngomongin Mas Elvan."

"Awalnya pada heran Mbak Naresta bisa hamil."

"Sekarang apalagi?"

Wanita itu terlihat sedikit gugup.

"Saya cuma bilang katanya kalau ada keturunan autisme, nanti anaknya bisa ikut begitu."

Aya langsung terdiam beberapa detik.

Kemudian kedua tangannya berkacak pinggang.

"Ya Allah, Bu."

"Bayinya saja masih di dalam perut."

"Kenapa sudah dibicarakan begitu?"

"Saya cuma kasih tahu."

"Kasih tahu buat apa?"

Wanita itu tidak menjawab.

Aya menggelengkan kepalanya.

"Mbak Naresta itu lagi hamil."

"Harusnya dibuat senang, bukan setiap hari dikasih omongan yang bikin kepikiran."

Naresta mengembuskan napas panjang.

"Mbak Aya, sudah. Aku nggak mau ribut."

Aya langsung menoleh kepadanya.

"Tapi, Mbak..."

"Aku capek."

Ucapan itu membuat Aya seketika diam.

Naresta menundukkan wajahnya sambil mengusap perut.

"Aku benar-benar capek."

Aya yang tadinya penuh emosi perlahan melunak.

"Mbak..."

Naresta tersenyum tipis.

"Sudah empat bulan aku dengar omongan orang."

"Kadang aku ingin pura-pura nggak dengar."

"Tapi tetap saja masuk ke pikiran."

Aya berjalan mendekat dan berdiri di samping Naresta.

"Jangan dipikirkan, Mbak."

Naresta mengangguk pelan.

"Aku mencoba. Tapi rasanya sekarang aku sudah nggak punya tenaga lagi buat membalas."

Aya terdiam menatap Naresta.

Untuk pertama kalinya, ia melihat perempuan yang biasanya selalu tegas membela suaminya itu benar-benar terlihat lelah.

"Mas Elvan!" teriak Aya dengan suara melengking.

Elvan yang sedang berada di bagian belakang toko langsung muncul dengan wajah kebingungan.

"I-iya, M-mbak A-Aya?"

Aya menunjuk ke arah Naresta yang masih duduk di depan kasir.

"Bawa Mbak Naresta masuk. Biar dia istirahat."

Elvan langsung menoleh kepada istrinya. Wajahnya seketika berubah khawatir saat melihat mata Naresta yang tampak berkaca-kaca.

"S-sayang?"

"Aku nggak apa-apa, Mas," jawab Naresta sambil mencoba tersenyum.

Aya langsung menggeleng.

"Nggak apa-apa dari mana? Wajah Mbak saja sudah kelihatan capek."

Naresta hendak membantah, tetapi Aya lebih dahulu menyela.

"Sudah, Mbak. Masuk saja. Biar saya sama Dicky dan yang lainnya menjaga toko."

Naresta menoleh ke arah beberapa karyawan yang sedang sibuk bekerja.

"Tapi pelanggan lagi banyak, Mbak."

"Nah, makanya Mbak nggak perlu ikut repot."

Aya berkacak pinggang.

"Untuk apa Mbak punya karyawan kalau semuanya masih mau dikerjakan sendiri?"

Dicky yang sedang membawa satu dus air mineral langsung ikut menyahut.

"Benar, Mbak. Istirahat saja. Di sini ada kami."

Naresta mengembuskan napas panjang.

"Tapi—"

"T-tidak a-ada t-tapi."

Naresta langsung menoleh kepada Elvan.

"Mas?"

Elvan mendekat, lalu menggenggam tangan istrinya.

"S-sayang i-istirahat."

Naresta terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Iya."

Elvan langsung terlihat lega.

"A-ayo."

Naresta berdiri perlahan dari kursinya. Namun sebelum melangkah, ia kembali menoleh kepada Aya.

"Kalau ada pesanan grosir yang banyak, catat dulu, ya. Jangan sampai salah."

Aya mengangguk.

"Iya, Mbak."

"Terus kalau distributor datang—"

"Mbak Naresta!"

Naresta langsung diam.

Aya menunjuk ke arah belakang.

"Istirahat."

Naresta akhirnya terkekeh kecil.

"Iya, iya. Aku masuk."

Elvan menggandeng tangan istrinya menuju bagian dalam rumah yang menyatu dengan toko.

Sebelum menghilang dari pandangan, Naresta sempat menoleh sekali lagi.

Aya langsung menunjuknya.

"Jangan balik lagi!"

"Iya, Mbak Aya!"

Setelah Naresta dan Elvan masuk, senyum Aya perlahan menghilang.

Ia menatap pelanggan wanita yang tadi membicarakan calon bayi Naresta.

"Sudah lihat sendiri, kan, Bu?"

Wanita itu terdiam.

Aya menggeleng pelan.

"Orang yang biasanya kuat saja bisa capek kalau setiap hari harus mendengar omongan yang sama."

Wanita itu hanya terdiam. Wajahnya mulai terlihat tidak nyaman setelah melihat Naresta dibawa masuk oleh Elvan.

Aya masih menatapnya dengan kesal.

"Jadi, Ibu kemari mau belanja atau menghina saja, ha?"

Wanita itu langsung mengangkat wajahnya.

"Saya kan sudah bilang, saya nggak menghina."

"Terus tadi apa?"

"Saya cuma menyampaikan apa yang saya dengar."

Aya langsung mendecak.

"Kalau dengar sesuatu yang belum jelas, kenapa harus disampaikan kepada orang yang bersangkutan?"

Wanita itu terdiam.

"Apalagi ngomongnya tentang anak Mbak Naresta yang bahkan belum lahir."

"Saya cuma bermaksud kasih tahu."

"Kasih tahu atau bikin kepikiran?"

Aya menunjuk ke arah dalam tempat Naresta baru saja pergi.

"Lihat sendiri tadi."

"Mbak Naresta sampai capek menghadapi omongan orang."

Dicky yang sejak tadi menyusun barang ikut menoleh.

"Mbak Aya, sudah."

Aya mengembuskan napas kasar.

"Aku kesal, Mas Dicky."

"Saya tahu."

Dicky kemudian menatap pelanggan tersebut.

"Tapi lebih baik diselesaikan baik-baik."

Wanita itu mulai merasa malu karena beberapa pelanggan lain ikut memperhatikan.

"Saya mau belanja."

Aya mengangguk.

"Ya sudah, silakan."

Wanita itu hendak berjalan menuju rak.

Namun, Aya kembali memanggilnya.

"Bu."

Wanita itu menoleh.

"Apa lagi?"

Aya menatapnya serius.

"Kalau nanti mau ngomong sesuatu tentang Mas Elvan atau calon anaknya Mbak Naresta, dipikirkan dulu."

"Mereka juga punya perasaan."

Wanita itu tidak membalas. Ia hanya mengangguk kecil sebelum mengambil barang yang hendak dibelinya.

Aya akhirnya kembali bekerja.

Namun, sesekali tatapannya masih mengarah ke pintu bagian dalam toko.

Ia benar-benar berharap Naresta bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus memikirkan ucapan orang lain lagi.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!