Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengulik Masa lalu.
Mungkin pertanyaanku barusan sedikit mengulik masalalunya. Memang itu yang aku rencanakan. Tapi Aldrik belum menjawab pertanyaanku tadi, aku mengusap kepalanya dengan mesra.
"Aldrik, aku ingin tau tentangmu," tanyaku lagi dengan nada manja.
Pria muda di pangkuanku itu tampak menarik nafas sebelum bercerita.
"Ayahku, saat ini dia tinggal bersama kakek di rumah utama, aku jarang sekali bertemu dengannya. Dia bahkan tak punya waktu untuk menenemui putranya sendiri."
Kata-kata Aldrik bukan kepalsuan, dia sangat kecewa dengan ayah kandungnya itu. Aku bisa mengerti perasaannya. Hati yang terabaikan memang sangat menyakitkan. Terkadang hanya butuh sedikit cinta untuk mengisi kekosongan itu.
"Apa ayahmu juga pemimpin di starling Gruop?"
"Bukan .... dia menjabat sebagai salah satu pengacara di biro hukum ternama di pemerintahan. Dia tidak tertarik dengan bisnis Starling group. Tapi ayah jadi pilar utama bisnis ini, tanpanya sudah lama bisnis Starling gulung tikar. Dia tidak punya waktu dan dia jarang pulang. Setiap hari client nya sangat banyak, kasus yang dia tangani selalu kasus besar. Kantornya setiap hari penuh, bahkan aku enggan bertemu di sana."
Mendengarkan cerita Aldrik, hatiku menimbulkan tanda tanya. Apa jangan-jangan orang ini yang disebutkan pak menteri? seseorang yang memiliki otoritas tinggi di dalam pemerintahan, sehingga membuat apapun bisnis haram keluarga Starling tidak tercium. Tapi itu hanya spekulasiku sendiri. Untuk membuktikannya aku harus masuk lebih jauh ke dalam keluarga Starling.
"Lalu ibumu?" Sambungku santai.
Mendengar pertanyaan itu, Aldrik bangun dari pangkuanku, emosinya mencuat. Nafasnya memburu.
"Ada apa? Apa aku salah bicara?"
"Jangan pernah menanyakan tentang ibuku, aku sangat membenci wanita itu."
Entah kenapa aku merasa kata-kata itu sama seperti saat aku menanyakan tentang ibunya Zane. Apa firasatku saja, atau kebetulan? Kedua saudara Starling sangat membenci ibunya. Apa mereka memang punya masalalu yang sama buruknya tentang ibu? Tapi Zane mengaku ibunya sudah mati. Namun cerita yang ku dengar, ibunya melarikan diri bersama pria lain. Entahlah.
"Maaf, aku tidak tau kau punya masalah dengan ibumu,"
"Kau tidak akan sepertinya, kan?"
"Maksudmu, sepertinya?"
Aldrik bergegas berbalik badan menggenggam tanganku. Matanya tampak gelisah. Kebencian seperti apa yang dia rasakan kepada ibunya. Aku tak ingin bertanya lebih jauh, aku hanya mengangguk pelan. Belum saatnya untuk menggali semua informasi keluarga Starling. Itu akan memicu kecurigaan.
"Oke ... seperti apapun ibumu dengan masalalunya, aku akan berusaha menjadi wanita yang kau inginkan."
Aldrik terdiam dengan mata yang layu.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku tidak ingin mengingat apapun tentang wanita itu." Ucapya serius.
Aku jadi semakin penasaran, apa kesamaan antara Zane dan Aldrik, saat aku tanya di mana ibunya, mereka langsung beralasan seolah ada rahasia besar yang tersimpan saat mendengar kata ibu itu.
Beberapa jam kemudian.
Aldirk lalu membawaku ke sebuah Resort tak jauh dari taman hiburan itu. Resort mewah itu adalah milik Starling Gruop. Kami bersantai di cafe atas teras atap resort. Dia memesan beberapa makanan manis.
Aku sudah tahu trik yang harus aku lakukan agar si Hacker itu luluh, aku tak henti menatapnya dengan pandangan mata manja. Pandanganku tak teralihkan sampai membuatku malu sendiri.
Hacker itu tampak malu-malu. "Kenapa kau memandangku seperti itu? apa aku sangat tampan?"
"Yaa ... kau lebih tampan dari siapapun yang pernah aku temui," Kataku menyanjungnya di puncak ketinggian.
Dia tersenyum lebar cengengesan, aku juga ikut tersenyum sendiri jadinya.
'Ternyata benar, pria di depanku ini sangat haus kasih sayang dan haus pujian. Seseorang yang sangat narsis dan kekanak-kanakan juga posesif. Aku tak habis pikir, kenapa sifatnya jauh berbeda dari penampilannya. Sebenarnya apa yang dialaminya sewaktu kecil sehingga membentuk karakternya yang begitu sulit untuk ditebak.'
Setelah beberapa menit, cake pesanan Aldrik datang. Seorang pelayan meletakkannya di atas meja kami. Aldrik lalu menyuapiku dengan lembut, aku yang duduk di depannya mengunyah makanan itu sambil tersenyum penuh kepalsuan.
Walaupun sebenarnya aku tidak tahan untuk mempertahankan ekspresi wajahku yang palsu ini, tapi apa boleh buat, ini semua untuk menarik perhatian Aldrik. Aku membalas suapannya dengan mesra.
"Sorry ... "
Aku dengan sengaja membuat agar cream kue tersebut tertinggal di pucuk bibirnya. Aku mengelapnya dengan jariku sama seperti yang aku lakukan dengan Zane.
Aldrik menangkap tanganku lalu menaruhnya di pipinya.
"Apa kau bisa melakukan ini setiap hari untukku? Aku belum pernah diperlakukan dengan selembut ini,"
"aku tidak percaya padamu, Aldrik. Bukankah kau terkenal Playboy. Kekasihmu sangat banyak, di mana-mana tersebar kabar, kau bahkan tidak pernah tidur tanpa wanita di sisimu." Jawabku telak.
Aku menarik tanganku dari pipinya. Aldrik tampak murung. Aku hanya ingin menguji sebenarnya. Tapi, pria di depanku itu tampak serius.
"Sebenarnya aku melarikan diri dari dunia Starlings. Aku muak dan aku bosan harus menghadapi sistem keamanan keluarga Starling terus-menerus. Musuh terus berdatangan, pembunuhan di mana-mana. Sehingga aku melampiaskan kekesalanku dan kelelahanku dengan cara menggaet wanita. Selama ini wanita yang mendekatiku hanya karena memandang statusku, mereka tidak peduli akan penampilanku yang acak-acakan. Mereka hanya peduli dengan uangku, tapi kau berbeda. Kau ingin hidup mandiri. Sekalipun kau tampak memiliki segalanya."
'Kau sungguh menganggapku bagai seorang putri bangsawan yang memiliki kartu hitam tanpa limit, Aldrik. Sayang sekali hidupku bahkan berbanding terbalik dengan hidupmu.'
Rasanya pahit, tapi kata-kata itu masih sanggup untukku telan. Aku tak ingin dia tau masalaluku yang sebenarnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya memujiku yang bahkan kebenarannya tidak ada.
" Oke. Baiklah, aku akan memanjakanmu hari ini, jadilah pria yang lembut... oke ... " Ucapku manja.
Setelah selesai makan, Aldrik mengajakku berjalan ke taman pinggir resort. Aku berjalan santai dengan menggandeng tangannya. Di sepanjang tepian Resort itu aku melihat banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh. Resort itu milik keluarga Starling, wajar saja berbagai jenis bunga ada di taman itu.
Bunga mawar berbagai jenis dan warna ada di sana. Ku petik dan kucium harum serbuk sarinya yang menyengat di hidungku. Langit sore itu begitu cerah, sehingga pemandangan merah jingga langit tampak begitu memanjakan mata. Aku memberikan bunga itu kepada Aldrik, dia tersipu malu.
"Apa maksudnya ini? Apa kau melamarku?" Kata Aldrik membuatku tertawa.
"Apa kau tahu arti mawar merah ini?"
"Apa kau sangat mencintaiku? Setahuku, mawar merah adalah lambang cinta." Sambungnya narsis.
Aku terkekeh dan memukul hidungnya manja. Aku memegang mawar itu dan merangkul tangan Aldrik ke tanganku. Kami sama-sama menggemgam erat batang bunga mawar itu. Aldrik heran, dia menatap lama ke wajahku. Entah kenapa tatapan itu kurasa sangat tulus dari seorang laki-laki muda yang hoby memainkan wanita.
Angin berhembus pelan menerpa wajah kami. Aku tersenyum bahagia memandang wajah Aldrik yang tampak polos saat itu.
" Lihatlah mawar merah ini, Aldrik. Dia sangat indah, setiap kelopaknya melindungi kelopak yang lain, tapi menyentuhnya harus dengan hati-hati, jika tidak, kau akan tersentuh durinya yang sangat menyakitkan. Kau sama seperti mawar merah ini, tiap lembaran dirimu menyimpan rahasia. Setiap kelopak kehidupanmu berusaha menutupi kelopak yang lain. Kau terus bersembunyi dari dunia. Sikapmu berubah-ubah, tak bisa aku mengerti hanya dalam waktu singkat. Tapi aku tahu, pancaran sinarmu seindah mawar merah ini. Harum dan memabukkan. Kau begitu lembut dan istimewa, tapi untuk menyentuhmu, aku harus berhati-hati karena ada duri di setiap lidahmu. Apa kau bisa menghilangkan duri itu Aldrik, agar aku tak terluka?"