Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Jarum jam baru saja melewati angka satu siang ketika sedan yang membawa Arga berhenti tepat di lobi Raffles Hotel. Kinan yang sudah menunggu langsung melangkah masuk ke kursi penumpang di sebelah pria itu.
"Rapatnya lancar, Arga?" tanya Kinan, sengaja menguji lidahnya sendiri.
"Lancar," jawab Arga singkat seraya memberi isyarat kepada sopir untuk melaju.
Kinan mengira mobil akan langsung mengarah ke kawasan butik di Orchard Road. Namun, sepuluh menit kemudian, mobil justru berbelok memasuki pelataran sebuah restoran yang tidak jauh dari pusat kota.
Kinan menatap plang nama restoran dari balik jendela dengan kening berkerut. "Lho... kita ngapain ke sini? Bukannya kamu sudah makan siang waktu rapat tadi?"
Arga melirik arloji di pergelangan tangannya sekilas sebelum menoleh pada Kinan. "Saya sudah. Tapi kamu belum, kan?"
Kinan tertegun sesaat. Ia memang belum sempat makan siang karena terlalu asyik menyusun beberapa sketsa konsep di kamar hotel.
"Tahu dari mana kalau saya belum makan?" selidik Kinan curiga.
"Kalau kamu pesan makan siang, pasti ada catatan pesanan baru di tagihan suite," Sahut Arga tenang sambil membuka pintu mobil. "Turun."
Mereka memilih meja di sudut ruangan yang semi-privat. Setelah pelayan meletakkan buku menu dan mencatat pesanan, Arga hanya memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, sementara Kinan memesan seporsi pasta. Kinan menatap pria di hadapannya dengan raut serius.
"Soal makan siang ini..." Kinan berdeham pelan, meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Saya bayar sendiri ya."
Arga yang sedang merapikan lengan kemejanya menatap Kinan. "Tidak perlu, Masukan saja ke..."
"Enggak, saya serius," potong Kinan cepat. "Saya gak enak sama kamu, lagipula Kita kan punya kesepakatan sendiri."
Arga terdiam beberapa detik. Tatapannya berpindah dari wajah Kinan ke kedua tangan wanita itu yang masih bertumpu di atas meja.
Pria itu akhirnya mengangguk.
"Baik. Bayar masing-masing."
Kinan langsung menghela napas lega, senyum santainya kembali merekah. "Nah, begini kan enak. Adil dan transparan."
Arga hanya menggelengkan kepala tipis, lalu menyesap kopi hitamnya yang baru saja diantarkan pelayan. "Habiskan makanan kamu. Setelah ini kita cuma punya waktu dua jam untuk cari pakaian sebelum pintu VIP dibuka."
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di salah satu butik desainer di kawasan Paragon Shopping Centre. Suasana butik yang hening dengan pencahayaan hangat dan aroma khas linen langsung menyambut langkah mereka.
Seorang staf butik mendekat dengan senyum profesional, menanyakan preferensi mereka untuk acara malam semi-formal.
"Cari gaun yang sopan, potongan sederhana, tapi tetap memenuhi standar gala," ujar Arga lugas, memberikan instruksi tanpa berbelit-belit. "Warna netral. Dan jangan yang terlalu merepotkan untuk berjalan."
Kinan yang berdiri di sampingnya sibuk membalik gantungan gaun pertama yang ditunjukkan staf. Begitu jemarinya membalik label harga yang tersembunyi di balik lipatan kain, matanya seketika melebar.
Kinan mendekatkan kepalanya ke arah bahu Arga, berbisik dengan nada setengah panik, "Arga... Gaun ini harganya kayak cicilan motor tiga bulan."
Arga bahkan tidak melirik labelnya. "Pilih yang kamu nyaman."
"Nyaman dompetnya atau nyaman badannya?" gumam Kinan pelan.
Duh, tadi di restoran kan gue sok keren bilang bakal bayar keperluan sendiri, batin Kinan mendadak resah sambil melirik jejeran gaun mewah di hadapannya. Masa baru satu jam kemudian langsung jilat ludah sendiri minta dibayarin?
Tapi... kalau bayar gaun ini pakai tabungan gue, saldo rekening langsung sekarat. Ayo dong, Arga... tawarin kek, bilang 'Saya yang bayar kok, tenang saja'. Jangan diem-diem aja."
Arga yang berdiri di sebelahnya tetap memasang tampang datar, melipat kedua tangannya di depan dada dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda pria itu berniat berinisiatif membuka obrolan soal siapa yang menanggung tagihannya.
Kinan menghela napas pasrah, menelan ludahnya sendiri. Oke, demi harga diri seorang seniman mandiri... bismillah, tabungan masa depan.
Staf butik kemudian membawakan tiga opsi gaun ke ruang ganti. Kinan masuk membawa gaun-gaun tersebut dengan langkah berat.
Gaun pertama yang dicoba Kinan memiliki belahan punggung yang cukup rendah dengan material satin mengilap. Begitu Kinan keluar dari balik tirai dan menatap cermin besar sambil menarik-narik bagian belakang gaunnya yang terbuka, Arga yang sedang duduk di sofa ruang tunggu langsung menggeleng datar.
"Terlalu terbuka. Tidak cocok," komentar Arga singkat, matanya tertuju pada tampilan gaun itu.
Kinan mengangguk setuju dari balik cermin. "Setuju. Masuk angin juga nanti kalau kena AC."
Kinan kembali masuk dan mencoba gaun kedua. Gaun ballgown dengan rok mengembang berlapis tulle. Saat melangkah keluar, ujung bawah gaun itu menyapu karpet butik.
"Yang ini..." Kinan mengangkat sedikit roknya yang berat, "berat banget, Arga. Mau jalan sepuluh langkah saja rasanya kayak lagi latihan beban."
"Ganti," timpal Arga praktis. "Kamu akan berdiri cukup lama di sana."
Pilihan terakhir adalah gaun midi berbahan crepe berwarna dark olive. Potongan lehernya bergaya boat neck yang anggun, lengannya tiga perempat, dan siluet gaunnya jatuh mengikuti bentuk tubuh tanpa terlalu ketat. Sangat simpel, dan memberi kebebasan gerak penuh bagi Kinan.
Kinan keluar dari ruang ganti, berjalan beberapa langkah untuk menguji fleksibilitas gaunnya. "Nah... kalau yang ini enak banget. Ringan, enggak bikin sesak, dan bahannya adem."
Arga mendongak, mengamati penampilan Kinan dari atas ke bawah secara analitis. Tidak ada pujian panjang yang keluar dari bibirnya. Ia hanya mengangguk pelan.
"Itu cocok," ujar Arga pendek, lalu bangkit dari sofa. "Minta tim penata rias mereka merapikan rambut kamu. Saya tunggu di depan."
Setelah rambut Kinan ditata sanggul modern sederhana yang mempertegas garis lehernya, ia melangkah menuju meja kasir dengan langkah yang mendadak lambat. Tangannya merogoh tas selempangnya, mencari dompet miliknya.
Jemarinya menyentuh kartu debit, lalu menariknya keluar dengan gerakan sangat pelan.
"Untuk kedepannya aku harus berhemat. Selamat tinggal, uang tabunganku..." Ratap Kinan dalam hati, berusaha tersenyum ramah meski sudut bibirnya sedikit bergetar saat menyerahkan kartu. "Mbak, untuk gaun yang ini pembayarannya..."
"Oh, gaun dan layanannya sudah diselesaikan oleh Bapak yang tadi, Nona," sela staf kasir dengan senyum sopan sambil menyerahkan nota bertanda tangan. "Semuanya sudah lunas."
Tangan Kinan yang menggenggam kartu ATM seketika terpaku di udara. Matanya mengerjap dua kali.
"Lho... sudah dibayar?!"
Kinan menatap nota lunas di atas meja, lalu buru-buru menarik kembali kartu debitnya dan memasukkannya ke dalam dompet secepat kilat. Helaan napas lega yang luar biasa langsung meluncur dari dadanya.
Alhamdulillah... saldo aman! batin Kinan bersorak riang.
Kinan mengambil tas tangannya, lalu melangkah cepat menghampiri Arga yang sudah berdiri menunggunya di dekat pintu kaca butik.
"Arga," panggil Kinan seraya mendekat, memasang senyum manis tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tadi di kasir ternyata sudah lunas ya? Makasih banyak lho... Padahal tadi saya sudah siap-siap mau gesek kartu sendiri."
Arga menatap Kinan sekilas. "Acara ini termasuk urusan pekerjaan," sahut Arga tenang sambil melangkah keluar butik. "Tidak ada alasan untuk kamu bayar sendiri. Ayo, mobilnya sudah siap."