AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Al sangat mengenali suara parau yang menahan tangis itu. Itu adalah Tante Siska, ibu kandung Jenny.
Jenny adalah salah satu siswi berprestasi di kelas mereka yang belakangan ini sering merenung dan terlihat murung.
Saka yang berdiri di sebelah Al ikut memasang telinga.
Matanya membelalak menatap Al. "Al... itu ibunya Jenny, kan? Waduh, gawat. Mereka beneran mau mengeluarkan Jenny dari sekolah hari ini juga?" bisik Saka. "Kasihan banget Jenny, dia kan pintar."
Al maju selangkah. Ia mendorong pintu kaca itu hingga terbuka. Suara pintu membuat Ibu Widya dan Tante Siska yang spontan menoleh ke arah kedatangan mereka.
"Oh, Al? Ada apa kamu ke sini?" tanya Ibu Widya, langsung membetulkan letak kacamata kotaknya.
"Ah, iya Bu. Maaf mengganggu waktunya. Saya di sini mau membayar SPP sekolah," ujar Al dengan nada sopan.
Ibu Widya menghela napas pendek, lalu menarik sebuah buku register besar bersampul hitam di atas mejanya.
"Oh ya, kamu kemarin-kemarin telat bayar juga, kan?" tanyanya sambil membolak-balik halaman kertas dengan cepat.
Jari telunjuknya berhenti di satu baris nama. "Nah, ini dia. Kamu ada tunggakan dua bulan belum bayar, Al."
"Betul, Bu," jawab Al tenang.
Ia melangkah mendekati meja, lalu mengeluarkan ponselnya.
Tante Siska yang duduk di kursi hanya menunduk dalam, mencoba menyeka air mata di pipinya yang mulai berkerut karena beban hidup.
Ia merasa malu urusan SPP didengar oleh teman anaknya, ia takut anaknya di ejek oleh mereka karena kekurangannya.
"Tolong jumlahkan semuanya, Bu," ucap Al mantap. "Saya akan bayar lunas SPP saya selama 6 bulan ke depan. Lalu... Untuk Saka juga, tolong hitungkan sekalian selama 6 bulan ke depan."
"Eh? Al?! Kamu serius?!" seru Saka terkejut menyenggol lengan Al. "Uang dari mana ini, Al?!"
Al hanya mengedipkan sebelah matanya pada Saka, mengisyaratkan sahabatnya untuk diam.
"Dan satu lagi, Bu Widya...hitung juga seluruh SPP Jenny yang menunggak, dan pasukan menjadi 6 bulan agar dia bisa fokus belajar tanpa perlu memikirkan ini lagi," kata Al
"Apa?!" Tante Siska terpekik pelan.
Ia menatap Al dengan pandangan tidak percaya, mulutnya gemetar menahan rasa haru dan bingung yang bercampur aduk menjadi satu.
"Al... ka-kamu tidak sedang bercanda, kan?" Ibu Widya akhirnya bersuara, nadanya berubah, tidak lagi sekaku sebelumnya.
"Ini jumlahnya tidak sedikit. Kamu bayar tunggakanmu, Saka, lalu melunasi seluruh tunggakan Jenny, apa uang mu sebanyak itu?" tanya buk Widya tak percaya itu.
"Saya kelihatan seperti sedang melawak, Bu? Tolong dihitung saja semuanya. Saya mau urusan ini selesai sebelum bel masuk berbunyi," kata Al tersenyum tipis.
"Wah, kamu ini sangat murah hati sekali," kata Buk Widya tersenyum. "Tapi bukannya kamu di usir dari kediaman ibu angkat mu, apa kamu punya uang sebanyak itu?" tanya Buk Widya penasaran dengan yang yang di miliki oleh anak yang telah di usir.
"Ya ampun buk, Kenapa Anda mengkhawatirkan dari mana saya dapat uang, yang penting lunas kan?" tanya Al.
"Ya, tapi tetap saja sekolah harus tau kamu seluk beluk kamu mendapatkan uangnya," kata Buk Widya menggali lebih dalam lagi.
"Saya punya bisnis, yang pastinya bisnis ini halal kok. Ibu nggak perlu curiga begitu. Ini saya mau bayar," kata Al memutuskan agar Buk Widya tidak bertahan lebih dalam. lagi.