Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 4
“Pantas ibumu begitu mudah mengakali bapakku, turunannya saja sepintar itu. Aku dadi penasaran, sepiro cerdik’e gundik itu.” Ia terus bergumam sambil memperhatikan gadis ayu mengenakan kebaya kunyit tua berdiri di antara penduduk desa.
“Kamu itu kudu bisa membedakan mana orang pintar mana licik, Le. Wedokan itu jelas licik, sengaja mencabut padi yang masih segar demi menipu para petani bodoh itu. Persis babon’e, penuh tipu muslihat, lamis lambene sampai bapakmu keblinger, rela mati tanpa meninggalkan warisan untuk anak kandungnya sendiri,” sahut wanita paruh baya, sejak tadi turut memperhatikan dengan hati menahan amarah terpendam. (Lamis lambene \= bermulut manis)
“Ayo jalan, wong Londo itu sudah menunggu di perbatasan desa,” lanjutnya memberi perintah pada kusir dokar .
Si kusir dokar tak menjawab tak juga menoleh ke belakang, langsung menarik tali kendali, namun sorot mata tajamnya tertuju pada Anne yang sudah berada di samping pick up nya.
Di tempat mobil pick up terparkir, kepala dengan surai tergelung rapi menoleh ke kanan-kiri, mencari keberadan Hans Williams. Pemuda itu, tadi tak ikut turun, memilih menunggu di pinggir jalan melihat anak-anak desa mencari ikan kecil di sepanjang aliran sungai.
“Kemana perginya Hans? Apa dia ikut terbawa arus?” Anne mengedikkan bahu, tak acuh pada nasib sang sahabat.
Gadis itu kemudian mulai menjalankan pick up nya menuju kantor kecamatan, berada di area kota guna menemui sang sahabat—Maria Anderson.
Maria Anderson sendiri merupakan putri dari Anderson—dokter pribadi keluarga Van Beek. Gadis blasteran Indo-Belanda itu juga baru kembali ke tanah air dan langsung mengabdikan diri sebagai Mantri Tani sebutan untuk petugas pertanian lapangan tingkat kecamatan yang bertugas membantu pemerintah menjalankan program pertanian dan membina para petani di desa-desa. Sederhananya mantri tani adalah orang yang menjadi penghubung antara pemerintahan dengan petani.
Wajah putih dengan pipi kemerahan dan senyum tipis itu langsung menyambut, begitu pick up yang dikendarai Anne sampai di halaman kantor kecamatan. Rambut coklat keemasan bergelombang di terpa angin kala ia berlari menghampiri sang sahabat.
“Anne,” suara riang di susul pelukan pada badan mungil terbungkus baju kebaya kunyit tua.
“Aku kira kau mengutus kang Dasim atau pakde Broto, tak tau nya kau sendiri yang datang kemari. Apa kerusakannya parah?” cercanya seraya berjalan beriringan memasuki kantor kecamatan.
“Tidak, hanya saja demi menghilangkan kekhawatiran penduduk, aku terpaksa turun tangan,” sahut Anne, malas-malas ia mendudukkan bokong pada kursi njalin tersedia di ruangan milik Maria.
Maria tersenyum teduh, paham kemelut yang dirasa Anne meski itu hanya masalah sederhana untuk gadis yang sudah berkutat pada ladang dan sawah sejak usia belia.
“Berapa banyak pupuk yang kau butuhkan, Anne?” tanyanya kemudian sambil membuka buku catatan khusus sebagai laporan keluar masuknya pupuk yang tersedia di balai kecamatan.
“Tidak banyak, hanya untuk menyelamatkan sawah yang terdampak paling parah. Mungkin sepuluh atau duapuluh kuintal sudah cukup,” jawab Anne.
Sebagai juragan pemilik pertanian paling luas, juga peran penting yang diberikan kepada desa, keluarga Van Beek memang mendapatkan perlakuan spesial untuk pasokan pupuk.
Sejak zaman sebelum program pemerintah itu digaungkan, Petter Van Beek sudah lebih dulu memperkenalkan penggunaan pupuk serta pestisida pada penduduk desa. Melalui koneksinya dengan importir Eropa, ia mendapatkan pasokan yang kemudian disalurkan ke petani-petani desa Lereng Bukit. Sejak itulah namanya mulai dikenal, diperhitungkan, dihormati sampai kini, hingga anak keturunannya.
Maria dengan cepat menyiapkan permintaan juragan muda yang terkenal juga sebagai kembang desa, memerintah para pekerja gudang untuk menaikkan pupuk ke bak pick up.
“Kau sepertinya lelah sekali, Anne, apa mau ku temani berkuda untuk meredakan pikiran?” Ia menawarkan diri, biasanya mereka akan berkuda keliling desa jika sedang suntuk oleh pekerjaan.
“Terima kasih, Maria. Aku ingin tidur sejenak setelah pulang nanti,” tolak Anne seraya beranjak dari duduknya, meregangkan badan sebentar, manik hitam pekatnya melirik sekilas para pekerja. “Sepertinya mereka sudah selesai menaikkan pupuknya. Aku pulang dulu Maria, nanti pakde Broto yang akan mengurus pembayarannya.”
Maria mengangguk, kaki dengan sepatu pantofel mengkilat mengikuti langkah Anne keluar ruangan. Setelah melambaikan tangan, ia buru-buru masuk ke dalam, membereskan barang-barang miliknya, lalu menyusul pergi.
Matahari masih tinggi saat Anne sampai di rumah telah ditinggalinya sejak bayi. Kekosongan menyapanya sejenak, rindu menyusup kalbu. Rumah dulunya begitu ramai kini terasa sepi, hanya ia dan para pekerja yang menempati.
Petter Van Beek membawa Sulastri serta kedua putra mereka—Jan dan Jorris Van Beek pindah ke Sumatera, kampung halaman Rasmi—ibundanya. Menikmati masa tua sambil menghirup segarnya perkebunan tembakau Deli, sebab tak lagi boleh menghisap nikotin setelah ia dinyatakan terkena penyakit Asma.
Anne menatap datar telepon hitam tua terletak di atas meja kayu jati berukir bunga teratai, sudah dua minggu lebih ia tak menghubungi sang ibu melalui sambungan interlokal.
Hembusan napas lelah menyusup dari bibirnya yang sedikit terbuka, ia membelokkan langkah saat ingin masuk ke kamar, menghampiri Wulan—istri Dasim yang sedang menyiapkan kudapan untuk para pekerja.
“Mbak Wulan, tolong siapkan air kembang dan jamu kunir asem. Aku ingin berendam sebentar,” pintanya dengan nada sopan.
“Nggeh, Nduk,” sahut Wulan, buru-buru beranjak dari tempatnya, pekerjaannya diambil alih pembantu lainnya. “Sampean ndak mau makan dulu, Nduk? Mbak Wulan masak sego jagung sama kepala manyun.”
“Nanti saja, Mbak setelah mandi, biar segar badannya,” ia kemudian masuk ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang menikmati semilir angin dari kipas baling yang berputar pelan.
Perlahan matanya memejam tak sanggup lagi menahan kantuk telah menyerang sejak dia bertemu dengan Maria.
Di tempat yang berbeda, tiga orang duduk bersila, mendengarkan instruksi dari orang yang dipanggilnya Wong Londo.
“Untuk saat ini biar saja dia merasa bangga karena telah berhasil menyelesaikan masalah secepat anak panah, selanjutnya kita akan buat dia menangis darah karena kesombongannya.” Senyum tipis tersungging, rencana tersusun matang siap dititahkan.
“Kowe tetep provokasi penduduk desa, buat kepercayaan mereka pada Anne mengikis. Gunakan mulut banyak omong mu itu untuk mengadu domba penduduk yang memuja dia. Jika perlu, tambahkan hasutan agar penduduk semakin membenci gadis sombong itu,” imbuhnya, jari terselip cerutu mengetuk pelan pinggiran bangku.
“Tapi, Ndoro, bagaimana bisa kami membuat percaya penduduk desa? Sedang kami adalah pendatang di desa ini.” Wanita paruh baya dengan jarik lurik usang termakan usia mengajukan tanya, tangan sedari tadi memijat kaki terhenti sejenak.
“Bukankah dia sama dengan ibunya? Gundik.” Senyum culas tersungging di wajah berkulit pucat, netra biru mengilatkan amarah terpendam. “Manfaatkan dendam mu pada bibi Sulastri, tebar desas-desus lewat wanita-wanita yang gemar bergosip, buat kabar miring bertahun yang lalu kembali merebak.”
Argono dan sang ibu mengangguk paham, seringai licik melengkung di bibir keduanya.
“Aku tak mau tau, secepatnya Anne harus tunduk dan bertekuk lutut dihadapanku,” pungkasnya seraya melempar sekantung uang logam ke pangkuan wanita paruh baya.
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria