Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Susu Hangat
Sejak video call malam itu, Kelvin mulai membawa susu kotak.
Awalnya Keiko mengira itu untuk dirinya sendiri. Pagi-pagi, saat udara Bandung masih dingin dan kelas belum terlalu ramai, Kelvin masuk dengan jaket hitam seperti biasa. Dia duduk, membuka tas, lalu meletakkan satu kotak susu UHT di meja Keiko.
Permukaannya hangat.
Keiko menyentuhnya dengan ujung jari. "Ini dari mana?"
"Minimarket."
"Maksudku, kenapa hangat?"
Kelvin membuka bukunya tanpa menatapnya. "Kena jaket."
Keiko menatap jaket hitam yang masih dipakainya. "Kamu memasukkannya ke saku?"
"Saku jaket punya fungsi."
"Untuk menghangatkan susu?"
"Sekarang iya."
Keiko tidak langsung minum. Dia memegang kotak itu dengan dua tangan, membiarkan hangatnya meresap ke telapak. Bu Tuti biasanya yang memastikan minumannya tidak dingin. Di sekolah, Keiko selalu membawa air hangat sendiri. Tetapi susu yang datang dari saku jaket Kelvin terasa berbeda.
Tidak lebih praktis.
Hanya lebih diam-diam.
Dia akhirnya menusukkan sedotan dan menyesap sedikit.
Susu hangat itu turun perlahan, tidak langsung membuat perutnya menolak seperti minuman dingin di kantin. Rasa manisnya tipis, menempel di lidah. Keiko sudah lama tidak minum sesuatu tanpa lebih dulu menghitung apakah tubuhnya akan protes. Kali ini, setidaknya untuk satu tegukan pertama, tubuhnya diam.
Kelvin tampak tidak melihat.
Namun ketika Keiko menyesap untuk kedua kalinya, ujung jari Kelvin yang memegang buku berhenti bergerak. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi bahunya seperti turun sedikit.
Seolah satu tegukan itu juga membuatnya lega.
Fajar yang baru datang melihat kotak susu itu dan langsung berhenti. "Wah."
Kelvin mengangkat mata.
Fajar mengangkat kedua tangan. "Gue belum ngomong apa-apa."
"Jangan."
"Iya, Bang. Saya ini batu. Tidak punya opini."
Dimas yang masuk di belakangnya berkata datar, "Batu pun kadang lebih tenang dari lu."
Kelompok belajar mereka semakin sering menciptakan hal-hal seperti itu. Hal kecil yang membuat kelas belakang terasa seperti tempat yang berbeda dari rumah sakit, ruang keluarga Hartono, atau ruang kerja William Susanto.
Hari itu, setelah pelajaran olahraga yang Keiko ikuti hanya dari pinggir lapangan karena alasan "baru sembuh flu", Bagas mengajak mereka makan di kantin.
"Perayaan ranking Bang Kel harus ditunaikan. Gue nggak punya duit banyak, jadi pilihannya nasi goreng atau nasi capcay."
"Ranking gue sudah lewat tiga hari," kata Kelvin.
"Prestasi butuh dikenang."
"Bayar sendiri."
"Dimas, lihat. Orang sukses sombong."
Dimas membuka dompet. "Aku bayar punyaku sendiri. Lu utang."
"Pengkhianatan."
Keiko akhirnya ikut duduk karena Kak Sari mengirim pesan panjang yang isinya hanya perintah makan, ditambah lima emot marah. Dia memilih nasi capcay seafood tanpa sambal, berharap kuah hangatnya lebih mudah diterima perut.
Ternyata di dalamnya ada beberapa udang utuh.
Keiko bisa makan udang, tetapi jari-jarinya hari itu agak lemas. Setelah kemoterapi terakhir, tenaga kecil seperti membuka botol atau mengupas sesuatu kadang terasa menyebalkan. Dia mencoba memegang udang dengan tisu, tetapi kuah membuatnya licin.
Kelvin melihat.
Tanpa berkata apa-apa, dia menarik mangkuk kecil dari sisi Keiko.
"Kelvin?"
"Makan sayurnya dulu."
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
Dia mengambil satu udang, mengupas kulitnya dengan gerakan cepat, lalu meletakkan dagingnya di sisi mangkuk Keiko yang bersih dari kuah terlalu banyak. Setelah itu, dia mengambil udang kedua.
Bagas yang duduk di seberang langsung membuka mulut.
Dimas menendang kakinya di bawah meja.
"Aduh," desis Bagas.
Dimas tetap menunduk makan. "Makan."
"Gue belum bilang apa-apa."
"Wajah lu sudah."
Keiko menatap udang yang sudah dikupas di mangkuknya. Panas kecil naik ke telinganya.
"Terima kasih."
"Makan," kata Kelvin.
Nada suaranya sama seperti biasa. Namun telinga Kelvin juga tampak sedikit merah, meski dia menunduk cepat ke piringnya sendiri.
Setelah makan, Pak Arif meminta Keiko membantu membawa beberapa berkas biodata murid ke ruang tata usaha. Kelvin ikut karena map-map itu terlalu banyak, meski dia berkata, "Kebetulan lewat."
Di koridor, salah satu map terlepas dari tangan Keiko.
Kertas-kertas jatuh berserakan.
"Maaf," kata Keiko cepat, berjongkok.
Kelvin ikut berjongkok tanpa komentar. Mereka memungut formulir satu per satu. Pada salah satu lembar, foto Keiko menempel di sudut atas, dengan data singkat di bawahnya.
Nama: Keiko Hartono.
Tanggal lahir: 8 Juni 2006.
Kelvin hanya melihatnya sepersekian detik sebelum meletakkan kertas itu kembali ke map.
Keiko tidak menyadari.
Namun angka itu tinggal di kepala Kelvin sepanjang sore.
8 Juni.
Dia tidak tahu kenapa dia mengingatnya begitu cepat. Mungkin karena tulisan di formulir terlalu rapi. Mungkin karena itu milik Keiko. Mungkin karena beberapa hal, setelah menyangkut Keiko, jadi sulit dilupakan.
Di ruang tata usaha, saat Keiko menyerahkan map pada staf, Kelvin berdiri di belakangnya dan membuka ponsel. Tidak sampai lima detik. Dia hanya menatap kalender, menggulir ke bulan Juni, lalu berhenti pada tanggal delapan.
Tidak ada catatan yang dia tulis.
Belum.
Jarinya hanya menyentuh kotak tanggal itu sebentar, seolah memastikan tempatnya. Setelah itu dia mematikan layar dan memasukkan ponsel kembali ke saku.
"Sudah?" tanya Keiko saat keluar.
"Sudah."
"Apa?"
"Nggak. Ada pesan."
Keiko tidak curiga. Dia hanya mengangguk dan berjalan di sampingnya, sementara di kepala Kelvin, angka itu tetap menyala kecil seperti pengingat yang tidak dia minta.
Sore itu, saat kelompok belajar bubar, Kelvin mengantar Keiko sampai lobby karena Bu Tuti sudah menunggu di mobil. Di tangan Keiko masih ada kotak susu UHT yang belum habis.
"Kamu belum minum," kata Kelvin.
"Sudah setengah."
"Setengah bukan habis."
"Aku minum pelan-pelan."
Kelvin memasukkan tangan ke saku jaket. "Besok aku beli yang kecil."
"Tidak perlu beli setiap hari."
"Aku juga beli buat Yuan Yuan."
Keiko menatapnya curiga. "Yuan Yuan tidak boleh minum susu UHT."
"Aku tahu. Itu alasan saja."
Keiko terdiam.
Kelvin sepertinya baru sadar dia mengaku terlalu cepat. Dia memalingkan wajah ke arah halaman sekolah.
Di luar, mobil Bu Tuti berhenti dekat lobby. Bu Tuti melambaikan tangan dari balik kaca, lalu memicingkan mata ke arah Kelvin seperti sedang menilai apakah cowok itu cukup aman.
Keiko menahan senyum.
"Kelvin."
"Hm?"
Dia mengangkat kotak susu yang hangatnya sudah hampir hilang. "Kenapa harus hangat?"
Kelvin menatap kotak itu, lalu wajah Keiko. Untuk beberapa detik, jawaban yang bisa dipakai sebagai candaan seperti hilang dari kepalanya.
Keiko menunggu dengan dada yang pelan-pelan menghangat, bukan karena susu, melainkan karena seseorang di sekolah mengingat hal sekecil suhu minumannya tanpa perlu diminta dulu sama sekali.
Akhirnya dia memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaket.
"Kan nggak mungkin kasih yang dingin ke Nona Guru."