"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain mara 2
Di depan jendela kaca raksasa, Mara berdiri sembari melihat keluar. Satu tangannya terbenam di dalam saku celana, sementara tangan lainnya menggenggam segelas wiski kristal. Cahaya temaram kota memantul di garis rahangnya yang tegas dan tajam, memancarkan pesona yang memikat sekaligus mematikan.
Di belakang Mara, dua pria kepercayaan teratas dalam struktur organisasi rahasia Mafia Lexans—Carlos dan James—berdiri kaku. Wajah kedua pria itu dipenuhi ketegangan serius.
Di atas meja kerja marmer milik Mara, sebuah tablet menyala, menampilkan berkas rahasia dan foto seorang pria paruh baya berkulit pucat.
Martin.
"Dua puluh empat jam, Carlos," suara bariton Mara memecah keheningan ruangan. Suaranya rendah, halus, namun memiliki kedalaman dingin yang sanggup menghentikan detak jantung. Mara tidak berbalik, matanya tetap menatap hampa ke balik kaca. "Kau memberiku waktu dua puluh empat jam hanya untuk mendengar kabar bahwa seorang veteran tua berhasil meloloskan diri dari jaringan pengawasan terbaik milik Lexans?"
Carlos menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengatupkan rahang menahan tekanan aura membunuh yang menguar dari bosnya. "Maafkan saya, Tuan Mara. Martin bergerak sangat rapi. Dia memanfaatkan sisa-sisa jalur logistik lama yang didirikan oleh mendiang Tuan Willem. Dia memotong sinyal pelacak kami tepat saat melintasi perbatasan pelabuhan jalur gelap."
Mara memutar gelas wiski di tangannya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan di tengah keheningan yang mencekam.
Martin bukan sekadar anggota biasa. Pria itu adalah salah satu tangan kanan terpercaya Willem. Namun, sejak takhta kepemimpinan diserahterimakan kepada Mara, Martin kerap menunjukkan riak keangkuhan. Ia merasa dirinya senior yang membesarkan organisasi, sementara Mara dianggapnya hanyalah pemuda bertangan dingin yang terlalu berhati-hati.
Ambisi pribadi Martin yang tamak dan gegabah berulang kali memicu masalah fatal. Martin sering bertindak di luar komando, menyelundupkan pasokan senjata tanpa izin demi mengisi kantong pribadinya, hingga beberapa kali nyaris membocorkan posisi organisasi ke radar otoritas internasional.
"Martin merasa dirinya adalah arsitek di balik berdirinya Lexans," ujar James membuka suara. James melangkah maju satu langkah, meletakkan dokumen pelacak tambahan di meja. "Dia merasa tidak puas dengan sistem baru yang Tuan tetapkan. Martin menganggap cara Tuan Mara yang terlalu rapi dan bersih dalam mengendalikan Veldens Management serta Mafia Lexans telah membatasi ruang geraknya untuk mengeruk keuntungan pribadi secara cepat."
"Pria tua itu benar-benar mencari mati" sahut Mara dingin. Mara akhirnya membalikkan tubuhnya perlahan, memamerkan sepasang manik mata gelap yang begitu tajam bak mata elang yang siap mencengkeram mangsa. "Tindakan bodoh apa yang dia lakukan sebelum kabur?"
Carlos menelan ludah dengan susah payah. "Martin memotong akses keuangan di dua rekening penampung wilayah perbatasan. Tidak hanya itu... dia membawa lari satu hard drive fisik terenkripsi berisi daftar klien eksklusif pengiriman senjata musim ini, beserta dokumen otorisasi nama-nama pejabat yang tersangkut dalam jaringan bisnis kakek Anda."
Atmosfer di puncak gedung Veldens Management seketika merosot hingga ke titik beku.
Keberadaan hard drive itu bukan hanya sekadar kerugian materi. Itu adalah bom waktu yang sanggup meruntuhkan seluruh kekaisaran bisnis legendaris yang dibangun keluarga Veldens selama puluhan tahun jika jatuh ke tangan pihak yang salah.
James menatap Mara dengan pandangan cemas. "Tuan Mara, Martin bukan hanya ingin melarikan diri dengan uang itu. Ambisinya jauh lebih gila. Dari informasi peretasan jaringan terakhir yang didapat tim IT, Martin mencoba menghubungi salah satu kartel rival di Eropa Selatan. Dia berniat menjual data internal Lexans demi mendapatkan perlindungan politik dan modal untuk mendirikan jaringannya sendiri."
Mara menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya—sebuah senyuman yang sama sekali tidak memancarkan keramahan, melainkan sinyal pembantaian yang paling mengerikan. Ia meneguk habis wiski di gelasnya, lalu meletakkan gelas kristal itu di atas meja marmer dengan dentang keras.
"Seorang anjing tua yang merasa dirinya serigala," desis Mara penuh nada penghinaan. "Dia lupa siapa yang memberi makan dan siapa yang memegang kendali atas lehernya selama ini."
"Apakah kita perlu mengerahkan seluruh unit eksekutor bayangan untuk melacak persembunyiannya di luar pulau?"
Mara melangkah mendekati meja kerjanya, menatap peta jaringan digital yang berkedip-kedip merah di layar. Tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur.
"Martin memang licik, tapi ambisinya selalu membuat jalannya terpola," kata Mara dengan analisis yang begitu tenang dan presisi. "Dia tidak akan langsung melarikan diri ke luar negeri sebelum memastikan dia memiliki kartu AS terbesar untuk menekanku."
Mendengar ucapan Mara, James dan Carlos saling pandang dengan ekspresi ragu. James memberanikan diri bertanya, "Kartu AS... maksud Anda, Tuan?"
Mara menghentikan ketukan jarinya. Sepasang matanya menyipit, membayangkan sosok wanita berwajah jelita yang saat ini sedang terkurung manis di dalam sangkar emas mansion mewahnya. Kayna Ramida. Wanita yang menjadi pusat dari seluruh obsesi dan kelemahannya.
"Martin telah mengawasi pergerakanku sejak lama," ujar Mara, suaranya kini terdengar bagaikan ancaman maut dari dasar neraka. "Dia sudah tahu keberadaan Kayna."
James membelalakkan mata. "Maksud Anda... Martin mengincar Nona Kayna untuk dijadikan jaminan?!"
"Dia pasti mengincar perempuan itu," Mara melangkah kembali menuju jendela kaca, menatap kegelapan malam dengan tatapan penuh dendam yang membara.
Carlos mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, saya akan menambah personel pengawal berlaras panjang di sekeliling mansion tempat Nona Kayna berada! Kami tidak akan membiarkan siapa pun mendekati area itu!"
"Tidak perlu," potong Mara dingin, menyuarakan penolakan mutlak. "Menambah pasukan secara mencolok hanya akan memancing kecurigaan Kayna. Dia sudah cukup tertekan dengan amnesia dan larangan yang kubuat. Aku tidak ingin naluri kritisnya makin curiga bahwa ada perang darah yang sedang berlangsung di luar sana."
Mara berbalik, menatap Carlos dan James dengan aura dominasi yang tak tergoyahkan.
"Gunakan jalur peretasan satelit internal," perintah Mara tajam. "Perketat pengawasan di sekitar area Butik LiLYRa Jogja. Jika dia ingin menjebakku, di sanalah dia akan meletakkan umpan."
"Siap, Tuan Mara!" tegas James dan Carlos serentak.
"Dan ingat satu hal," desis Mara pelan, mendekatkan wajahnya dengan tatapan mematikan. "Aku tidak menginginkan Martin dalam keadaan bernapas. Saat kalian menemukannya... pastikan dia paham, apa akibatnya jika berani memikirkan untuk menyingkirkan ku di dalam kepalanya."
Tepat saat Carlos dan James membungkuk hormat dan berniat melangkah keluar ruangan, ponsel milik Mara di atas meja berdering nyaring.
Mara melangkah mendekat dan mengangkat panggilan tersebut. Suara dari kepala pengawal mansionnya terdengar panik dan bergetar di seberang telepon.
"Tuan Mara... mohon maaf sebesar-besarnya! Nona Kayna... Nona Kayna berhasil mengelabuhi pelayan dan diam-diam menghilang dari mansion sepuluh menit yang lalu melalui pintu belakang!"
"Sialan! Kalian benar-benar tidak becus. Segera cari!"
...●Bersambung●...