Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Ayo Reka...." Reka tertegun mendengar seruan Geo yang mengajaknya memasuki lift layaknya seorang teman dekat, padahal faktanya mereka baru bertemu beberapa saat yang lalu.
Reka yang masih canggung dengan sikap akrab Geo terhadapnya hanya bisa mengangguk pelan lalu ikut melangkah memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
"Apa kamu bekerja di perusahaan ini?." Reka yang memegang tali tas selempang miliknya nampak menoleh pada Geo.
"Tidak. Aku bukan pekerja kantoran ataupun pebisnis, aku seorang dokter. Perusahaan ini milik calon suamiku, tapi saat ini beliau sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis dan sepertinya baru akan kembali beberapa hari kedepan." Jawab Geo dan Reka pun mengangguk paham.
"Selamat siang, Nona Geo..." Setelah meninggalkan lift dan mulai berjalan melintasi koridor lantai eksekutif, salah seorang pegawai nampak menyapa Geo.
"Siang, pak." Balas Geo di sela langkahnya.
Geo menghampiri meja kerja milik sekretaris pimpinan.
"Maaf Bu Frida,,,,,saya ingin mengambil dompet dan ponsel saya, sepertinya ketinggalan di ruang pimpinan." Tutur Geo pada wanita berusia sekitar empat puluh tahunan tersebut. Dikenal sebagai calon istri dari pemilik perusahaan, tentu tidak akan mungkin ada yang berani menghentikannya. Namun begitu, Geo tetap mengutamakan adab dengan meminta izin terlebih dahulu.
"Silahkan, Nona...."
Geo kembali mengajak Reka untuk ikut bersamanya masuk ke ruangan pimpinan perusahaan. Awalnya Reka meminta untuk menunggu di luar saja, namun Geo terus memaksanya untuk ikut bersama.
Reka menyapu pandangan ke seisi ruangan. Tak ada satu pun foto yang menggantung pada dinding ruangan berukuran sembilan kali tujuh meter persegi tersebut, yang ada hanyalah beberapa lukisan besar yang mengisi bagian dinding ruangan yang kosong. Lukisan sederhana namun bisa jadi memiliki makna tersendiri bagi pemiliknya. Ya, kalau tidak bermakna, mana mungkin sampai memajangnya, begitu pikir Reka. Berada di lingkungan perusahaan seperti saat ini seakan mengembalikan ingatan Reka pada pekerjaannya di masa lalu.
Setelah pandangannya menangkap keberadaan dompet dan ponselnya di atas meja, Geo langsung mengomeli benda tak bernyawa itu. "Gara-gara kamu pake acara ketinggalan segala, aku terpaksa harus melewati hari terberat dalam hidup ini."
Jika hal semacam itu saja sudah dianggap hari terberat oleh Geo, lalu pantasnya di sebut dengan apa hari-hari yang selama ini di laluinya? Reka tersebut getir dalam hati.
Geo membuka dompetnya kemudian mengeluarkan kurang lebih tiga puluh lembar uang kertas berwarna merah dari dalam sana, kemudian menyerahkannya kepada Reka.
"Untuk apa uang ini?." Reka menolak uang itu. Sekalipun tidak punya banyak uang namun setelah memutuskan untuk membantu, itu artinya ia telah mengikhlaskan uang itu.
"Tentu saja untuk mengganti uang yang kamu pinjamkan di restoran tadi, Reka."
"Tidak perlu mengembalikannya, aku ikhlas!."
"Sama seperti dirimu yang ikhlas menolongku, aku pun demikian, Reka. So please... terima ya...." Geo merayu agar Reka mau menerima uang itu.
"Baiklah." Karena Geo terus memaksa pada akhirnya Reka tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Namun begitu, Reka hanya mengambil sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah, sesuai dengan nominal uang yang dikeluarkannya, dan mengembalikan sisanya kepada Geo.
"Ohiya, apa kamu sudah makan siang?." Tanya Geo. Reka menggelengkan kepala karena kenyataannya ia memang belum sempat makan siang saking sibuk dan fokusnya dalam melayani pelanggan restoran tadi. Akan tetapi, semua dedikasinya malah dibalas dengan sebuah pemecatan.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cari restoran dekat sini buat makan siang!." Ajak Geo dan Reka pun mengangguk setuju. Walau sebenarnya Reka lebih suka makan di rumah demi mengirit pengeluaran, tapi untuk kali ini perut Reka sudah meronta ingin segera di isi sehingga bersedia menerima ajakan Geo.
Di sebuah restoran yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter dari gedung perusahan milik calon suaminya, di sinilah Geo mengajak Reka untuk makan siang. Sebenarnya makanan yang dipesan Geo di restoran tempat Reka bekerja tadi belum sempat tersentuh barang sedikitpun karena wanita itu keburu diselimuti perasaan panik ketika menyadari dompet dan ponselnya tidak ada di dalam tasnya. Itu sebabnya ia mengajak Reka untuk makan siang bersama.
"Nona Georgina...Reka....."
Di saat sedang menunggu pesanan datang, Geo dan Reka kompak menoleh ke sumber suara ketika menyadari keberadaan seorang pria menghampiri meja mereka.
"Pak Ibnu...."
"Mas Ibnu...."
Georgina dan Reka kompak menyerukan nama pria yang merupakan salah satu pegawai di perusahaan milik calon suami Georgina.
Pria bernama Ibnu tersebut nampak tersenyum sebelum sesaat kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan Reka pun menyambutnya sambil mengulas senyum tipis.
"Kalian saling kenal?." Georgina memandang Reka dan Ibnu secara bergantian.
Ibnu pun mengulas senyum ramah pada wanita yang dikenalnya sebagai calon istri dari pimpinan perusahaan tempatnya bekerja tersebut.
"Benar, Nona Georgina. Reka ini adalah teman seangkatan saya saat kuliah dulu, dan kebetulan juga kami pernah bekerja di bawah divisi yang sama di perusahaan yang lama."
Georgina cukup terkejut dengan pengakuan Ibnu. Rupanya Reka memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni. Tetapi, mengapa Reka malah memilih bekerja sebagai pelayan restoran? Pertanyaan itu sempat terbesit di benak Georgina, namun begitu Georgina segera menepis pertanyaan itu dari benaknya. Wanita itu tidak mau terlalu kepo. Reka pasti memiliki alasan tersendiri hingga melakukannya, begitu pikir Georgina.
"Jika berkenan, bergabunglah bersama kami, pak Ibnu!." Georgina orangnya humble, tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya dalam berteman, maka tak heran jika hampir semua pegawai yang bekerja di perusahaan milik calon suaminya suka dengan karakter wanita itu.
"Terima kasih banyak, nona Georgina." Ibnu lantas bergerak menarik salah satu kursi yang kosong untuk ditempati olehnya.
"Btw, bagaimana kabar kamu, Reka?." Ibnu tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita cantik itu setelah sekian lama tak bertemu.
"Alhamdulillah baik, mas." Reka menjawab seadanya.
Tak lama kemudian pelayan datang untuk mengantarkan pesanan Reka dan Georgina. Sedangkan Ibnu hanya memesan secangkir kopi karena kebetulan niatnya mengunjungi restoran tersebut hanya untuk menikmati secangkir kopi favorite nya.
Makan siang mereka diselingi dengan obrolan santai. Ibnu banyak bercerita tentang kehebatan dan keuletan seorang Rekaila Amanda dalam bekerja.
"Kebetulan saat ini ada beberapa posisi yang kosong di divisi pemasaran. Apa kamu bersedia bergabung di LF Group?." Pergerakan tangan Reka yang hendak menyuap makanan ke dalam mulutnya sontak terhenti di udara saat mendengar tawaran Georgina.
"Terima saja, Reka!." Mengingat tadi Reka sempat mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaannya, Ibnu lantas mendahului Reka untuk bersuara.
"Aku yakin, kita akan menjadi tim yang sempurna jika kamu bersedia menerima tawaran dari nona Georgina." Lanjut Ibnu.
Georgina memang bukanlah pemilik perusahaan LF Group, namun sebagai calon istri dari pemilik perusahaan tersebut tentunya Georgina memiliki kemampuan untuk merekomendasikan Reka untuk bekerja di sana.
Sebenarnya Reka ingin menolak karena tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan Georgina demi mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, ada banyak juga hal lain yang kini berseliweran di pikiran Reka, termasuk biaya untuk membeli susu formula dan juga diapers.
"Untuk membeli semua itu butuh uang, dan untuk mendapatkan uang tentunya kamu harus bekerja, Reka!." Batin Reka.
Mohon maaf baru bisa up lagi sayang-sayangku, soalnya kemarin ada urusan yang cukup menyita waktu 🙏🙏🙏.
Ibnu lebih gila lagi...