NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — Batas yang Hampir Tergelincir

Malam di rumah Syahrezan terasa seperti biasanya: sunyi, rapi, dan terlalu luas untuk dua orang yang hidup di dalamnya tanpa benar-benar saling menyentuh kehidupan masing-masing.

Diara dan Jifan masuk ke kamar mereka masing-masing setelah makan malam sederhana di luar tadi.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada pembahasan berarti.

Hanya rutinitas yang berjalan seperti sudah diatur oleh kebiasaan, bukan oleh kedekatan.

Diara menutup pintu kamar pelan.

Ia menghela napas panjang.

Hari itu melelahkan, bukan hanya karena pekerjaan di kantor, tetapi juga karena pikirannya yang terus bergerak tanpa bisa berhenti.

Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan ke kamar mandi.

Air hangat menjadi satu-satunya hal yang ia harapkan bisa meredakan kepenatan tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, suara air mengisi ruangan kecil itu.

Diara berdiri di bawah pancuran, membiarkan pikirannya kosong untuk sementara.

Namun bahkan di sana, bayangan Jifan masih muncul sesekali.

Dingin.

Diam.

Sulit ditebak.

Seperti biasanya.

Sementara itu, di luar kamar Diara…

Jifan masih berada di ruang kerjanya.

Laptop terbuka.

Dokumen berserakan rapi di meja.

Namun malam itu, fokusnya tidak seutuhnya pada pekerjaan.

Beberapa kali ia berhenti mengetik tanpa alasan jelas.

Pikirannya melayang pada hal yang ia sendiri tidak ingin akui.

Diara.

Bukan sebagai istri dalam formalitas.

Tapi sebagai kehadiran yang mulai terasa terlalu nyata di rumah itu.

Ia menghela napas pelan.

“Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun entah kenapa, kata itu tidak bekerja malam ini.

Beberapa saat kemudian, Jifan berdiri dari kursinya.

Ia berjalan keluar dari ruang kerja menuju kamar Diara.

Tanpa banyak berpikir.

Tanpa alasan yang benar-benar ia susun.

Hanya satu tujuan sederhana: meminta dibuatkan kopi.

Hal yang biasanya ia abaikan, tetapi malam ini terasa seperti alasan kecil untuk mendekat.

Ia mengetuk pintu pelan.

Tok.

Tidak ada jawaban.

Jifan mengetuk lagi.

“Diara?”

Masih tidak ada suara.

Ia berpikir sebentar.

Mungkin Diara sudah tidur atau masih di kamar mandi.

Tanpa banyak ragu, ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu tenang.

Kosong di bagian depan.

Cahaya lampu kamar redup.

Jifan melangkah masuk sedikit.

“Diara,” panggilnya lagi pelan.

Dan di saat itu…

pintu kamar mandi terbuka.

Diara keluar dengan rambut basah, masih mengelapnya menggunakan handuk kecil.

Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, ringan, dengan panjang di atas lutut—pakaian yang ia anggap nyaman di dalam kamar pribadinya.

Tidak ada yang ia duga.

Tidak ada yang ia persiapkan.

Matanya langsung bertemu dengan Jifan yang berdiri tidak jauh dari pintu.

Hening.

Waktu seperti berhenti sepersekian detik.

“Ya Allah—”

Diara refleks mundur satu langkah.

Handuk di tangannya hampir jatuh.

“Mas Jifan?!”

Suaranya campuran antara kaget dan gugup.

Jifan sendiri langsung membeku di tempat.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ekspresinya benar-benar kehilangan ketenangan.

“Maaf,” ucapnya cepat. “Aku… tidak tahu kamu di dalam.”

Matanya sedikit mengalihkan pandangan.

Bukan karena tidak sopan.

Tapi karena situasi itu terlalu tiba-tiba untuk dikendalikan dengan tenang.

Diara masih berdiri kaku.

Rambutnya yang basah menetes kecil ke bahunya.

Tangannya refleks merapikan pakaian yang ia kenakan.

“Mas masuk kamar aku tanpa ketuk pintu,” ucapnya cepat, berusaha menutupi gugupnya sendiri.

Jifan menghela napas kecil.

“Seharusnya aku mengetuk lebih jelas.”

Hening sejenak.

Suasana menjadi canggung.

Terlalu nyata.

Terlalu dekat.

“Mas… mau apa ke kamar aku?” tanya Diara akhirnya, mencoba mengalihkan situasi.

Jifan baru teringat alasan awalnya.

“Kopi,” jawabnya singkat.

Diara menatapnya bingung.

“…kopi?”

“Ya. Aku masih harus kerja.”

Diara mengangguk pelan.

“Baik. Aku buatkan.”

Ia langsung keluar kamar.

Langkahnya cepat, sedikit gugup.

Jifan berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Matanya tanpa sadar mengikuti arah Diara pergi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa pikirannya tidak benar-benar stabil.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena bisnis.

Tapi karena satu momen singkat yang terlalu jelas terekam di kepalanya.

🪻🪻🪻🪻

Beberapa menit kemudian, Diara kembali membawa kopi panas.

Ia mengetuk pintu kamar kerja Jifan sebelum masuk.

Tok.

“Mas?”

“Masuk,” jawab Jifan.

Diara membuka pintu.

Ruangan kerja itu lebih gelap dibanding ruang lain di rumah. Hanya lampu meja yang menyala, membuat suasana terasa lebih intim dan serius.

Ia berjalan masuk perlahan.

Meletakkan kopi di atas meja.

“Ini kopinya,” ucapnya pelan.

Jifan mengangguk.

“Terima kasih.”

Namun Diara belum bergerak keluar.

Ia berdiri sesaat, seperti ingin memastikan tidak ada lagi yang perlu disampaikan.

Dan saat itulah Jifan berdiri.

Langkahnya pelan.

Namun pasti.

Diara langsung menoleh.

“Mas?”

Jarak di antara mereka mengecil tanpa ia sadari.

Meja kerja berada di belakang Diara.

Dan tanpa sadar, ia sudah berada sedikit terpojok di sana.

“Kenapa?” tanya Diara pelan, suaranya mulai tidak stabil.

Jifan berhenti tepat di hadapannya.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda.

“Aku hanya…” Jifan berhenti sejenak.

Ia sendiri tidak tahu kenapa ia berjalan ke arah itu.

Namun kalimat yang keluar justru berbeda dari yang ia rencanakan.

“…tidak terbiasa kamu terlihat seperti tadi.”

Diara mengerutkan alis.

“Seperti tadi?”

Jifan menghela napas kecil, lalu memalingkan pandangan sedikit.

“Tidak apa. Lupakan.”

Namun suasana sudah berubah.

Diara mulai merasa gugup.

“Mas…” ucapnya pelan. “Aku tidak bermaksud… apa pun. Tadi aku tidak tahu kamu masuk.”

Jifan menatapnya lagi.

Kali ini lebih lama.

Dan Diara bisa merasakan detak jantungnya sendiri sedikit berubah.

“Ya,” jawab Jifan akhirnya. “Aku tahu.”

Hening.

Namun kemudian, tanpa ia sadari, Jifan berkata pelan:

“Kamu tidak perlu khawatir.”

Diara menatapnya.

“Kenapa?”

Jifan terdiam sepersekian detik.

“…tidak ada yang salah.”

Kalimat itu keluar lebih pelan dari biasanya.

Dan entah kenapa, itu justru membuat suasana semakin sulit dijelaskan.

Diara menggeser sedikit posisi tubuhnya.

“Kalau begitu aku keluar,” ucapnya cepat.

Jifan langsung mengangguk.

“Ya.”

Diara berbalik.

Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti sebentar.

“Mas Jifan.”

Jifan menoleh.

“Iya?”

Diara ragu sepersekian detik.

Lalu berkata pelan:

“Lain kali… ketuk pintu dulu.”

Jifan terdiam.

Lalu mengangguk kecil.

“…baik.”

Diara keluar.

Pintu tertutup.

Di dalam ruangan itu, Jifan tidak langsung kembali ke kursinya.

Ia berdiri diam beberapa saat.

Menatap kopi di atas meja.

Lalu perlahan menyentuh pelipisnya.

“Apa yang aku lakukan tadi…” gumamnya pelan.

Namun meski ia mencoba kembali ke pekerjaan…

pikirannya tidak sepenuhnya bisa kembali seperti semula.

Karena satu hal yang terus mengganggu:

cara Diara terlihat barusan… tidak seharusnya terlalu mengganggu dirinya seperti itu.

🪻🪻🪻🪻

Di kamar Diara, ia duduk di tepi ranjang.

Menarik napas panjang.

Tangannya sedikit menyentuh dadanya.

Detaknya belum kembali normal.

Ia menggeleng kecil.

“Ini cuma salah paham,” gumamnya pelan.

Namun entah kenapa…

ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Malam itu, dua orang kembali ke kamar masing-masing.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut kembali seperti sebelumnya.

Jarak itu.

Yang selama ini aman.

Sedikit… bergeser.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!