“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Pengakuan Yang Tak Direncanakan
Bzzzt...Bzzzt.. Bzzzt..
Suara getaran alarm ponsel di atas meja membangunkan Arin dari tidurnya. Dengan gerakan lambat, ia meraih ponselnya dari sisi tempat tidur dan mematikan alarm tersebut. Saat melihat layar, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
Arin melepas sleep mask-nya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya beranjak sambil mengambil handuk yang sudah tergantung di samping, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tepat pukul dua siang, Arin tiba di Regen Hotel.
Seperti kebiasaannya sebelum mulai bekerja, ia menyempatkan diri untuk pergi ke kafe hotel dan memesan segelas Americano. Duduk di salah satu sudut ruangan, ia menikmati kopi hitamnya dengan tenang, membiarkan sedikit waktu berlalu sebelum kembali ke rutinitasnya.
Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.
Assistant General Manager tiba-tiba menghampiri dan duduk di kursi di seberangnya.
Arin yang tidak menyangka kehadirannya sedikit terkejut, tapi segera menormalkan ekspresinya.
"Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan nada profesional.
AGM menatapnya dengan serius sebelum menjawab.
"General Manager baru saja menelpon. Beliau mengatakan kalau Tuan Victor Regen dan keluarganya akan makan malam di sini malam ini."
Arin meletakkan cangkir kopinya dan sedikit mengernyit.
"Makan malam di sini? Jam berapa?"
"Sekitar pukul tujuh malam mereka akan datang," jawab AGM.
"Untuk berapa orang?" tanya Arin lagi, memastikan.
"Delapan orang," jawabnya, lalu menambahkan perintah. "Gunakan Private Dining Room untuk mereka."
Arin mengangguk mengerti. "Baik, Pak. Saya akan mengaturnya."
AGM mengangguk kecil sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Begitu pria itu pergi, Arin kembali menyesap kopinya, kini pikirannya mulai menyusun daftar persiapan yang harus dilakukan.
Malam semakin larut.
Arin melirik jam di pergelangan tangannya, pukul tujuh tepat. Itu berarti, Tuan Victor Regen akan segera tiba.
Benar saja, tak sampai satu menit kemudian, sosok pria berwibawa itu melangkah masuk ke area restoran, diikuti oleh Andre Regen dan istrinya.
Bersama mereka, ada seorang wanita cantik yang terlihat anggun dan elegan. Wanita itu menggandeng tangan seorang pria paruh baya, berusia sekitar lima puluh tahun, dengan postur yang masih tegap. Di sebelah pria itu, ada seorang wanita lain yang usianya tampak hampir sama. Arin memperhatikan mereka sejenak sebelum menebak, mereka pasti orang tua dari wanita tersebut.
Begitu Tuan Victor Regen dan keluarganya memasuki Private Dining Room, Arin segera undur diri. Ia kembali menuju tempatnya bekerja, memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Namun, saat melewati koridor, langkahnya terhenti sejenak. Nathan Regen baru saja berjalan ke arahnya.
Tanpa berpikir panjang, Arin segera bergeser ke samping, memberi ruang, dan sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda sopan santun, padahal lorong itu masih cukup luas untuk mereka berdua.
Nathan hanya diam, dan terus berjalan, lalu masuk ke dalam ruangan tempat keluarganya menunggu.
Begitu Nathan menghilang di balik pintu, Arin menarik napas kecil lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Sudah tiga puluh menit berlalu.
Arin baru saja selesai melakukan quality control makanan dan minuman di restoran. Tidak ada perubahan dalam rasa, semuanya tetap konsisten seperti standar yang telah ditetapkan. Setelah memastikan hal itu, ia melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa operasional restoran, bar, serta layanan kamar yang masih berlangsung.
Saat kembali ke restoran, Arin menyambut tamu VIP yang baru saja tiba dengan senyum profesional. Ia merekomendasikan menu terbaru, memastikan mereka mendapatkan pelayanan terbaik sebelum akhirnya beranjak keluar.
Langkahnya menuju bar, ingin melakukan pengecekan sebentar di sana. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berpapasan dengan Nathan Regen.
Seperti sebelumnya, refleksnya langsung membawanya ke sisi lorong, memberi ruang bagi pria itu untuk lewat lebih dulu.
Namun, kali ini berbeda.
Tanpa peringatan, Nathan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Sebelum Arin sempat bereaksi, pria itu sudah menariknya dengan langkah cepat menuju Private Dining Room.
Arin tersentak. Pintu terbuka, dan dalam sekejap, semua mata langsung tertuju pada mereka.
"Tuan Dison, perkenalkan istriku, Arin Regen."
Suara Nathan tenang, tetapi tajam. Kata-katanya menggema di ruangan, membuat keheningan yang semula nyaman berubah menjadi atmosfer tegang.
Victor Regen tetap diam, tetapi ekspresinya sulit ditebak. Meski tidak mengucapkan sepatah kata pun, genggaman tangannya pada tongkatnya semakin erat, memperlihatkan ketegangan yang ia tahan.
Sementara itu, Andre dan Niken tampak membeku, ekspresi mereka penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.
Tuan Dison dan istrinya begitu juga dengan putri mereka, yang sebelumnya terlihat ramah, kini menatap mereka dengan kebingungan.
Di sisi lain, Arin masih terpaku di tempat. Otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, tetapi semuanya terjadi begitu cepat hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.
Namun, Nathan tidak memberinya waktu untuk berpikir. Tanpa memberi kesempatan bagi siapapun untuk bereaksi lebih jauh, Nathan sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf pada Tuan Dison atas sikapnya yang tiba-tiba.
Kemudian, tanpa sepatah kata lagi, ia kembali menarik Arin keluar dari ruangan itu.