NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kabar yang tak ingin didengar

Jam pelajaran terakhir berlangsung jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Suara guru yang menjelaskan materi di depan terdengar samar, bercampur dengan suara gesekan pena serta lembar buku yang dibuka.

Namun di tengah suasana yang tenang itu, Tya dan Faris beberapa kali saling melirik dengan tatapan tidak bersahabat.

Tidak ada percakapan, tapi suasana di antara keduanya terasa seperti perang dingin yang berlangsung diam-diam di tengah pembelajaran.

Tya kembali menatap buku catatannya, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di pelajaran. Kepalanya justru dipenuhi satu hal yang sejak tadi terus berputar tanpa henti. Faris, cowok menyebalkan yang tadi ribut dengannya di depan pintu kelas.

"Yang benar aja gue dijodohin sama dia?" Batin Tya.

Tya langsung menghela nafas kecil, rasanya tetap tidak masuk akal. Dari sekian banyak orang di dunia ini, mengapa harus Faris?

Tanpa sadar, jemarinya mulai mencoret-coret lembar kertas kosong di bukunya dengan pulpen. Garis-garis acak mulai memenuhi lembaran itu, semakin lama semakin tidak jelas bentuknya.

Ekspresinya terlihat penuh kesal. Bahkan saat kembali melirik ke belakang, Faris sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Tya langsung mendelik, sebelum buru-buru memalingkan wajah. Sungguh menyebalkan.

Tya kembali menghela nafas panjang. Ia menunduk, menatap buku pelajaran di atas meja. Pulpen di tangannya kembali bergerak, meski pikirannya masih terasa penuh.

Perlahan, Tya mencoba mengabaikan semuanya. Namun entah mengapa, semakin ia mencoba tenang, dadanya justru terasa semakin tidak nyaman.

Ada rasa gelisah yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas. Bukan marah, bukan pula kesal, lebih seperti firasat buruk.

Tya sedikit mengernyit sambil menghela nafas pelan. Perasaannya mendadak sangat tidak enak. Ia bahkan tidak tahu apa sebabnya, tapi ada sesuatu yang membuat pikirannya terasa tak tenang.

Tatapan Tya perlahan beralih ke arah jendela kelas. Langit sore itu terlihat biasa saja, tidak ada yang aneh. Tapi entah mengapa, jantung Tya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Tyasabella!" Suara guru di depan kelas mendadak membuat Tya sedikit tersentak.

Tya langsung menoleh ke depan dengan ekspresi panik. "Iya Bu?"

"Tolong perhatikan pelajaran!" Lanjut sang guru.

Beberapa murid langsung menoleh sekilas ke arah Tya, membuat gadis itu spontan menegakkan duduknya. "Maaf, Bu," ujarnya cepat.

Guru itu akhirnya kembali melanjutkan penjelasannya di depan kelas. Tya menghembuskan nafas pelan setelahnya. Jemarinya merapikan buku di atas meja, mencoba mengalihkan pikirannya sendiri.

Tya kembali menyalin tulisan di papan tulis sebisanya. Pulpen di tangannya bergerak mengikuti materi, meski beberapa kali tulisannya nyaris berantakan karena pikirannya tak sepenuhnya fokus.

Tanpa sadar, satu tangannya terangkat ke mulut. Ia menggigit pelan ujung kukunya, kebiasaan kecil setiap ia merasa cemas. Lalu ia menggeleng kecil, mencoba menepiskan pikirannya.

Tya kembali memaksa dirinya untuk fokus pada pelajaran, meski rasa gelisah itu masih tertinggal di dalam dadanya.

Dari bangku belakang, Faris sempat memperhatikan Tya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Alisnya sedikit mengernyit ketika melihat gadis itu yang terlihat berbeda hari ini. Bahkan, tadi sempat melamun sampai ditegur guru.

Faris akhirnya mendengus, lalu memalingkan wajah. Ia kembali menyandarkan tubuhnya malas di kursi sambil memutar pulpen di jemarinya. Seolah, tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada musuhnya itu.

"Bukan urusan gue," batin Faris.

Kringg!

Bel pulang akhirnya berbunyi, memecah suasana kelas yang sejak tadi terasa panjang bagi beberapa murid.

Tya ikut merapikan buku pelajarannya. Tangannya memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Namun, baru saja Tya hendak menutup resleting tasnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Drrrtt... Drrrtt...

Tya langsung mengambil ponselnya di saku, menampilkan nama 'Papa' di layar ponselnya. Entah mengapa, jantung Tya langsung berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

"Halo, Pa?" Tya langsung mengangkat panggilan itu cepat.

Suara nafas di seberang sana terdengar berat, sebelum akhirnya ayahnya bersuara. "Tya," nada suaranya terdengar jauh lebih panik dari biasanya. "Mama drop lagi."

"Sekarang Mama udah di rumah sakit," lanjut ayahnya cepat. "Kamu langsung ke sini, ya?"

Spontan, Tya langsung membeku. Wajahnya terlihat pucat dan tangannya yang memegang ponsel bergetar tanpa sadar.

"Ma-Mama kenapa, Pa?" Suara Tya ikut bergetar. "Tadi pagi Mama masih-"

"Papa jelasin nanti, kamu ke rumah sakit dulu."

Panggilan itu membuat jantung Tya terasa semakin tidak tenang. "I-iya Pa," jawabnya cepat.

Bahkan, sebelum panggilan benar-benar berakhir, Tya sudah tergesa memasukkan ponselnya ke saku roknya. Ia langsung berdiri terlalu cepat sampai kursinya sedikit bergeser kasar ke belakang.

Starla dan Megan yang baru saja menghampiri langsung menoleh kaget. "Tya?" Ujar Megan bingung.

"Nanti gue cerita," sahut Tya yang sudah berlalu ke arah pintu.

Langkah Tya berubah menjadi lari kecil menyusuri koridor sekolah. Nafasnya mulai tidak teratur. Pikirannya kosong sekaligus penuh di waktu yang sama.

Satu-satunya yang terus terngiang di benaknya hanyalah suara ayahnya tadi. Tya mempercepat langkah keluar gerbang sekolah, sedikit panik mencari taksi di pinggir jalan.

Di sisi lain koridor, Faris yang berjalan santai tanpa sadar menghentikan langkahnya sejenak.

Tatapannya mengikuti sosok Tya yang berlari dengan wajah panik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan, gadis itu sampai hampir menabrak beberapa murid karena terlalu terburu-buru.

Faris sedikit mengernyit. Biasanya Tya masih sempat marah-marah jika ada yang menghalangi jalannya. Tapi kali ini, ia bahkan tidak peduli sekitar.

Faris memperhatikan sampai gadis itu menghilang dari pandangannya. "Tuh cewek kenapa lagi?" Gumamnya pelan. "Ah, bodo amat."

Faris akhirnya kembali melangkah, menyusuri koridor menghampiri teman-temannya. Lagipula, soal Tya itu bukan urusannya.

Di dalam taksi, Tya terus meremat kuat roknya tanpa sadar. Jemarinya dingin, nafasnya juga masih belum stabil sejak keluar dari sekolah tadi.

Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela, tapi justru membuat pikirannya semakin melayang kemana-mana. Bagaimana kalau kondisi ibunya lebih parah dari yang ayahnya katakan? Bagaimana kalau...

Tya langsung menggeleng cepat, menolak pikirannya sendiri sebelum semakin jauh. Namun, semakin ia mencoba tenang, rasa takut itu semakin memenuhi dadanya.

Tanpa sadar, mata Tya mulai memanas. Ia langsung menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah di dalam taksi.

Beberapa menit berlalu, taksi itu akhirnya berhenti di depan rumah sakit. Bahkan sebelum kendaraan itu berhenti sempurna, Tya sudah lebih dulu membuka pintu.

"Terima kasih, Pak!" Ujar Tya cepat sembari memberikan satu lembar uang pada supir taksi, lalu ia berlari begitu saja.

"Neng, kembaliannya?"

Tya tidak mendengarnya, langkahnya kian menjauh dari taksi itu. Suasana rumah sakit terasa terlalu menyesakkan bagi Tya. Bau obat-obatan langsung memenuhi indera penciumannya, membuat rasa cemas di dadanya semakin nyata.

Tya langsung menghampiri meja resepsionis dengan nafas yang belum stabil. "Mbak," ujarnya cepat sambil mengatur nafasnya. "Pasien atas nama ibu Yunita, ruangannya di mana ya?"

Petugas resepsionis itu langsung mengecek data di komputer sejenak, sebelum kembali menatap Tya.

"Ibu Yunita di rawat di ruang melati di lantai 3, kak."

"Terima kasih," jawab Tya cepat.

Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung berlari menuju lift. Pintu lift terbuka begitu tiba di lantai tiga.

Tya langsung berlari keluar, menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah terburu-buru hingga akhirnya pandangannya menemukan ruang yang sejak tadi ia cari.

Di depan ruangan itu, ayahnya terlihat duduk di kursi tunggu dengan wajah tegang. Tya langsung melambat, entah mengapa langkahnya terasa lebih berat sekarang.

Matanya langsung menatap ruang rawat yang pintunya masih tertutup rapat. Seorang dokter dan beberapa perawat masih berada di dalam sana.

Tanpa sadar, air mata Tya langsung jatuh begitu saja. "Pa," panggil Tya lirih.

Ayahnya langsung menoleh cepat begitu mendengar suara putrinya. "Tya."

Tya buru-buru menghampiri ayahnya, wajahnya sudah basah dengan air mata yang sejak tadi ia tahan. "Papa," ujar Tya sambil memegang lengan ayahnya. "Mama kenapa?"

Ayahnya mengusap wajahnya pelan, sebelum akhirnya menatap putrinya. "Tadi kondisi Mama tiba-tiba drop," ujarnya pelan. "Dokter masih periksa di dalam."

Kalimat itu justru membuat dada Tya semakin sesak. Tatapannya kembali mengarah ke pintu ruangan itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Tya benci suasana rumah sakit, benci suara alat medis. Dan paling benci melihat pintu ruang rawat tertutup seperti itu, seolah memisahkannya dari orang yang paling ia takut untuk kehilangan.

Tak lama kemudian, pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Tya langsung menoleh cepat bersamaan dengan ayahnya.

Seorang dokter keluar dari ruangan. Wajahnya terlihat tenang, meski masih menyisakan keseriusan yang membuat dada Tya kembali terasa sesak.

"Dok," ayah Tya langsung berdiri.

Dokter itu mengangguk kecil sebelum mulai menjelaskan. "Kondisi ibu Yunita memang sempat drop tadi," ujarnya. "Tubuh beliau terlalu kelelahan, sementara kondisi sarafnya memang masih sangat sensitif."

Tya langsung mengangguk pelan, jemarinya saling bertaut mendengar penjelasan itu.

"Kami sudah menangani kondisinya untuk sementara," lanjut dokter itu. "Sekarang keadaan beliau sedikit lebih stabil."

Tya langsung mengangkat pandangannya. "Mama saya gak apa-apa, dok?"

Dokter itu menatap Tya lembut lalu mengangguk kecil. "Untuk saat ini masih stabil. Tapi pasien tidak boleh terlalu banyak tekanan atau kelelahan."

"Kalian boleh masuk menjenguk," ujar dokter itu lagi. "Tapi jangan terlalu lama dulu, ya. Kondisi beliau masih lemah."

Ayah Tya menghela nafas pelan, sedikit lega mendengar itu. Sementara Tya langsung mengangguk pelan.

"Iya dok," ujar Tya.

Dokter itu mengangguk lagi sebelum akhirnya pamit meninggalkan mereka. Lorong rumah sakit terasa sunyi sesaat setelahnya.

Perlahan, keduanya melangkah masuk. Suara alat medis terdengar pelan mengisi ruangan yang didominasi cahaya putih rumah sakit. Dan di atas ranjang itu, ibunya terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.

Wajah wanita itu pucat, tapi begitu melihat putrinya masuk, tatapannya perlahan melembut.

"T-tya," suara itu keluar pelan dan terputus-putus. Gangguan saraf yang dideritanya membuatnya sedikit kesulitan untuk sekedar berbicara.

"Ma," Tya langsung melangkah menghampiri. Tangannya menggenggam tangan ibunya dengan hati-hati.

"T-tadi... Mama..." Nafasnya terputus sejenak. "Bikin Tya takut... Ya?"

Air mata Tya langsung jatuh lagi mendengar suara ibunya yang kini bahkan harus berjuang hanya untuk menyusun kalimat sederhana.

"Jangan ngomong dulu, Ma," suara Tya langsung bergetar. "Mama harus istirahat." Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat, berusaha menahan air matanya sendiri.

"Mama harus sembuh," lanjut Tya pelan, hampir memohon. "Tya gak suka lihat Mama seperti ini."

Ibunya menatap Tya lama. Tatapan itu hangat, sama seperti biasa. Tapi entah kenapa tatapan itu justru membuat hati Tya semakin sakit.

Ibunya menghela nafas pelan sebelum akhirnya kembali berbicara terbata-bata. "Ty... Waktu Mama..." Nafasnya kembali terputus sejenak. "Mungkin... Gak lama lagi."

"Ma," Tya langsung menggeleng cepat.

"Mama cuma..." Ibunya berusaha melanjutkan kalimatnya dengan susah payah. "Ingin lihat... Tya bahagia."

"Bahagia gimana kalau Mama ngomong kayak gitu," Tya menyeka air matanya dengan satu tangan.

Ibunya mengusap tangan Tya pelan, meski tenaganya sangat lemah. "Mama..." Suaranya hampir seperti bisikan sekarang. "Mau lihat... Tya nikah... Sama Faris."

Nama itu kembali membuat Tya tercekat. Dadanya langsung terasa penuh sesak. Di tengah rasa takut kehilangan ibunya, permintaan itu kembali datang menghantam dirinya tanpa jeda.

Tya terdiam beberapa detik. Tangannya masih menggenggam erat tangan ibunya, seolah lepas sedikit saja semuanya akan benar-benar terlambat. Air matanya jatuh tanpa henti, tapi ia akhirnya mengangguk pelan.

"Iya," suara Tya serak. "Iya Ma."

Ibunya menatap putrinya lemah, seolah masih ingin memastikan. Tya menguatkan dirinya, lalu mengulang lebih jelas.

"Tya janji, bakal nurutin Mama," suaranya bergetar. "Tapi Mama harus sembuh."

Nada suara Tya berubah menjadi hampir putus asa. Ibunya tersenyum samar, nyaris tak terlihat. Ia kembali mengusap tangan Tya dengan sisa tenaganya.

"Mama... Akan coba," jawab ibunya pelan.

Tya langsung memeluk ibunya, membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Di samping ranjang itu, ayah Tya hanya berdiri diam. Ia menatap keduanya dengan tatapan yang berat tanpa mampu banyak berkata.

Hari itu, di bawah cahaya putih rumah sakit yang terasa dingin, Tya menyadari satu hal, bahwa hidupnya berubah terlalu cepat.

Tentang ibunya yang semakin lemah dari hari ke hari, tentang permintaan terakhir yang terus menghantui pikirannya. Dan tentang nama Faris yang kini entah kenapa selalu muncul di setiap ketakutan yang ia hadapi.

Sementara sekolah di luar sana masih berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa dibalik tatapan galak dan pertengkaran kecil mereka setiap hari, dua remaja keras kepala itu sedang berdiri di ambang sebuah takdir yang bahkan belum siap mereka terima.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!