Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 SELALU IRI
Suasana divisi akuntansi mulai dipenuhi suara ketikan keyboard dan tumpukan dokumen yang terus berpindah dari satu meja ke meja lainnya.
Bee masih duduk di depan komputernya. Tatapannya begitu fokus pada setiap angka yang tertera di layar, Sesekali ia membuka buku besar, lalu mencocokkannya dengan jurnal debit dan kredit yang ada di map.
Setelah selesai memeriksa satu berkas, Bee tidak langsung menyerahkannya. Ia kembali membuka halaman pertama, Lalu memeriksa ulang. "Takut ada yang terlewat."
Beberapa menit kemudian... Bee kembali memeriksa untuk ketiga kalinya.
Baru setelah benar-benar yakin, ia menarik napas lega.
"Sepertinya sudah benar." gumamnya pelan. Ia kemudian merapikan seluruh dokumen sebelum berjalan menuju meja Rina.
"Kak Rina."
Rina mengangkat kepalanya. "Iya, Bee?"
"Dokumennya sudah selesai aku periksa."
Rina tampak sedikit terkejut. "Cepat juga."
Bee tersenyum malu. "Aku sudah cek beberapa kali, Takut masih ada yang salah."
Rina menerima map itu. "Bagus. Di dunia akuntansi, ketelitian jauh lebih penting daripada kecepatan." Kata kak Rina "Aku akan periksa lagi hasilmu."
"Baik, Kak." Bee kembali ke mejanya.
Tak lama kemudian, Rina mulai membuka dokumen yang telah diperiksa Bee.
Semakin lama ia membaca, semakin terangkat pula kedua alisnya. "Hm..." Ia menemukan beberapa transaksi yang diberi tanda oleh Bee.
Setelah dicocokkan dengan data asli, ternyata semuanya memang benar. Tidak ada satu pun catatan Bee yang keliru.
Rina tersenyum tipis. "Anak magang ini cukup teliti. Jarang ada yang secepat ini menemukan kesalahan."
Sementara itu... Di divisi administrasi Keadaan sangat berbeda.
Jelita duduk bersandar di kursinya sambil memainkan ponsel, Sesekali terdengar suara tawanya. "Hahaha... lucu banget." Ia terus menggulir video pendek tanpa memedulikan setumpuk berkas di samping mejanya.
Beberapa pegawai sempat saling berpandangan.
Namun memilih diam.
Tak lama kemudian, seorang wanita bernama Sela menghampiri meja Jelita. "Jelita."
Jelita buru-buru mematikan layar ponselnya. "Iya, Kak?"
"Apa tugas dariku sudah kamu kerjakan?"
Jelita tersenyum canggung. "Ehehe... Sebentar lagi, Kak."
Sela melirik tumpukan berkas yang masih utuh. Belum ada satu pun yang disentuh, Wajahnya langsung berubah serius. "Tolong cepat dikerjakan, Sebelum jam makan siang, semua berkas itu harus sudah selesai." Nada bicara Sela terdengar tegas, tetapi tetap profesional.
"Baik, Kak." Jelita mengangguk sambil tersenyum.
Sela pun kembali ke mejanya.
Begitu wanita itu pergi... Senyum Jelita perlahan menghilang, Tatapannya berubah kesal. "Baru juga jadi pegawai..." gumamnya lirih. " sudah sok menyuruh-nyuruh." Ia melirik ke arah Sela dengan tatapan tidak suka.
"Tunggu saja, Kalau nanti aku sudah jadi ahli waris keluarga Luwis... orang seperti dia pasti cuma akan tunduk di depanku." Jelita kembali mengambil ponselnya.
Namun kali ini ia teringat batas waktu yang diberikan.
Dengan wajah enggan, akhirnya ia menyimpan ponselnya dan mulai membuka berkas-berkas di depannya.
Meski begitu, pikirannya sama sekali tidak fokus pada pekerjaan.
Berbeda dengan Bee yang menikmati setiap proses belajar, Jelita justru menganggap masa magang hanyalah formalitas sebelum ia menjalani kehidupan mewah yang selama ini ia impikan.
Jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Seluruh karyawan mulai beranjak meninggalkan meja kerja mereka menuju kantin perusahaan.
Bee dan Kriss ikut berjalan bersama.
Begitu memasuki kantin, keduanya dibuat kagum dengan fasilitas yang disediakan perusahaan.
Menu makan siangnya lengkap, mulai dari nasi, lauk, sayur, buah, hingga minuman.
Bee mengambil makanan secukupnya. "Aku kira makan siangnya biasa saja."
Kriss mengangguk setuju. "Aku juga."
"Ternyata gratis." Bee terkekeh kecil "Perusahaan ini benar-benar memperhatikan karyawannya."
Kriss menganggukkan kepala. "Iya."
"Pantas banyak orang yang ingin bekerja di sini."
"Fasilitasnya lengkap. Lingkungannya juga nyaman."
Bee tersenyum sambil melihat sekeliling kantin. "Semoga nanti setelah lulus kita juga bisa bekerja di perusahaan sebagus ini, mana gajihnya besar. "
"Aamiin."
Kriss tersenyum lebar. "Kalau bisa sih, di sini saja."
Bee tertawa kecil. "Itu juga kalau kita diterima."
"Harus semangat dulu." Kriss mengangkat gelas minumnya. " Semangat."
Bee ikut mengangkat gelas jusnya. "Semangat."
Keduanya tertawa pelan.
Di tengah obrolan mereka...
Terdengar suara seseorang. "Bee."
Bee langsung menoleh. Matanya membulat.
"Pak Xian." Refleks Bee langsung berdiri dari kursinya. "Selamat siang, Pak." Ia sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk hormat kepada atasannya.
Melihat reaksi Bee, Xian justru tertawa lepas. "Hahaha... Lucu juga ternyata."
Bee tampak bingung. "Ada yang salah, Pak?"
Xian menggeleng sambil masih tersenyum. "Nggak. Aku cuma nggak nyangka kamu jadi formal begini, Padahal biasanya santai dan comel"
Bee ikut tersenyum malu. "Di luar kantor boleh santai, Pak." Balas bee "Tapi sekarang saya sedang magang, Jadi Bapak tetap atasan saya."
Xian mengangguk pelan. "Bagus. Sikap profesional seperti itu yang harus dipertahankan."
Bee tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Percakapan singkat itu ternyata menarik perhatian hampir seluruh karyawan di kantin. Beberapa pegawai saling berbisik.
"Itu anak magang kenal sama Pak Xian?"
"Kelihatannya akrab."
"Tapi tadi sikapnya tetap sopan."
"Iya."
"Pak Xian juga jarang menyapa anak magang duluan."
Xian melirik jam tangannya.
"Sudah dulu ya. Aku ada janji bertemu klien." Pamit Xian " kamu nikmatilah makan siang di sini nona " ledek Xian
Bee kembali mengangguk hormat. "Baik, Pak. Aku pasti akan sangat menikmatinya. Semoga pertemuannya lancar."
"Amin." Xian tersenyum lalu melangkah meninggalkan kantin.
Begitu Xian pergi, Kriss langsung menatap Bee dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Wah..."
Bee menoleh "Kenapa?"
"Kamu ternyata kenal dekat sama CEO."
Bee langsung menggeleng. "Nggak sedekat itu, Beliau hanya kebetulan mengenalku."
Kriss tersenyum kagum. "Hebat sih. Udah pintar, baik, sekarang ternyata kenal sama CEO juga."
Bee hanya terkekeh pelan. "Jangan lebay."
Di sisi lain...
Jelita baru saja hendak memasuki kantin.
Namun langkahnya terhenti, Dari kejauhan ia melihat Bee berbicara dengan Xian.
Meski percakapannya singkat, senyum Xian terlihat jelas. Hal itu membuat dada Jelita dipenuhi rasa iri.
Tangannya mengepal pelan. "Kenapa..." gumamnya lirih.
"Kenapa Bee selalu mendapat perhatian?"
Tatapannya terus mengikuti Bee. Rasa tidak sukanya kembali muncul "Awalnya Kak Juna..."
"Sekarang bahkan Pak Xian juga mengenalnya."
"Kenapa dia selalu lebih beruntung dariku?" Geram Jelita tak jadi masuk kedalam kantin.