NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyusup melalui celah tirai, langit perlahan berubah cerah. Suara kendaraan dari kejauhan mulai terdengar, membawa aktivitas kota kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Abimanyu sudah bersiap. Kemeja rapi, celana bahan, jam tangan, dan aroma parfum tipis yang memenuhi kamar.

Pria itu keluar dari kamar menuju meja makan.

Begitupun dengan Amara, gadis itu baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Langkahnya seketika berhenti saat melihat Abimanyu yang sudah berpenampilan rapi, matanya mengerjap sesaat. "Tumben sudah rapi." Ucapnya pelan seperti gumaman. Namun pendengaran Abimanyu cukup tajam hingga bisa menangkap ucapan istrinya dengan jelas.

Pria itu berdehem sembari mengangkat bahu, kemudian bersuara. "Pagi..." Ucapnya.

"Hah! Pa-pagi, om." Sahut Amara tergagap. Kesambet jin mana dia, tumben-tumbennya pagi-pagi ceria, nyapa orang segala.

Biasanya Abimanyu hanya sarapan apa yang di sediakan Amara yaitu telur rebus dan roti panggang. Namun pagi ini ia tiba-tiba berkata. "Ra, buatkan nasi goreng.”

Langkah Amara terhenti. "Hah?" Lagi-lagi Amara terlihat ce-ngoh. "Nasi goreng?" Amara menunjuk dirinya sendiri. "Aku, yang buat?"

"Iya." Jawab Abimanyu singkat.

Enak banget main nyuruh-nyuruh bikin nasi goreng, enggak nanya dulu bisa apa enggak. Gerutu Amara dalam hati, namun tak urung ia tetap melangkah ke dapur membuka kulkas tanpa menyadari keberadaan Abimanyu yang mengikutinya.

"Kenapa harus nasi goreng sih?" Gumam Amara seraya mengeluarkan telur dan daging ayam fillet.

"Lagi pengen aja." Sahut Abimanyu tenang berbanding terbalik dengan Amara yang terlonjak. Gadis itu mengembuskan napas kasar, matanya mendelik pada Abimanyu, "ngapain disitu! Bikin orang jantungan saja."

"Ya sudah." Abimanyu mengalah, meski sebenarnya penasaran ingin melihat Amara memasak, namun ia tahu Amara masih belajar dan keberadaan dirinya akan membuat istri kecilnya itu canggung. Ia meninggalkan Amara sendirian, dirinya memilih duduk di sofa dengan begitu ia masih bisa mengawasi gerak-gerik Amara.

Begitu Abimanyu tidak lagi melihat wajahnya, Amara langsung mengeluarkan ponsel. "Tutorial nasi goreng sederhana..."

Ia mengetik cepat, kemudian beberapa video muncul. Amara memilih salah satunya.

Dua siung bawang putih... satu bawang merah... telur... kecap manis... garam... Ia mengangguk-angguk serius. "Gampang." Gumamnya seraya meletakkan wajan di atas kompor.

Lima menit kemudian—

"Lho, kenapa minyaknya sebanyak ini?" Amara menatap wajan. "Di video kayaknya enggak sebanyak ini." Ia mencoba mengingat kembali.

"Gak apa-apa lah, sudah terlanjur." Gumamnya seraya mengulurkan tangan memasukkan irisan bawang ke dalam minyak yang sudah panas.

Bawang masuk.

Wusss!

Amara mundur. "Ya ampun!" Ia menepuk dadanya sendiri.

"Baru bawang doang, Mara. Bukan ledakan." Amara menggerutu pada dirinya sendiri, tangannya bergerak lumayan lincah memasukkan telur.

Nasi menyusul.

Lalu kecap.

Garam.

Dan entah kenapa, Amara menambahkan kecap lagi. "Biar enak dan enggak pucat." Ucapnya yakin, lalu setelah itu garam lagi. "Kurang asin."

Lalu ia mengaduknya dengan penuh percaya diri.

Sementara di sofa, Abimanyu mendengar suara peralatan dapur yang beradu. Ia menoleh, entah sadar atau tidak bibirnya melengkung membentuk senyuman kemudian memanggil istrinya. "Ra..."

"APAAA?"

"Tidak apa-apa."

"Jangan ganggu!"

Abimanyu menghela napas mendengar peringatan dari Amara, namun sorotnya memancarkan kekaguman pada sosok istrinya yang notabene masih terbilang remaja itu.

Beberapa menit kemudian Amara membawa sepiring nasi goreng, ia meletakkannya di depan Abimanyu. "Om nih, nasi gorengnya sudah matang."

Abimanyu menatap nasi goreng itu, warnanya cukup meyakinkan... Setidaknya dari jauh. "Terima kasih."

Amara duduk di hadapannya. Ia menatap Abimanyu, menunggu reaksi pria itu mencicipi nasi goreng perdananya.

Abimanyu mengambil satu suapan, ia mengunyah lalu diam sesaat.

Amara langsung curiga, ia menyondongkan tubuhnya ke arah sang suami. "Gimana?" Tanya nya penasaran.

"Enak." Jawab Abimanyu cepat.

Amara menyipitkan mata. "Serius?"

"Iya."

"Jangan bohong."

"Enggak."

"Awas kalau bohong!" Ancamnya dengan raut yang tak puas. "Om, Enak?" lagi-lagi Amara bertanya sebab belum yakin dengan jawaban Abimanyu sebelumnya.

"Enak." Jawab Abimanyu tanpa menghentikan kunyahannya.

Amara semakin heran. Jangan-jangan lidahnya mati rasa. Ia memperhatikan suaminya sampai nasi goreng itu benar-benar habis tak tersisa sama sekali.

Abimanyu bahkan mengambil air minum dengan wajah tenang. "Enak," ulangnya.

Amara akhirnya tersenyum kecil. "Beneran?"

"Bener."

Abimanyu berdiri mengambil tas kerjanya. Sebelum pergi, ia berhenti sebentar. "Terima kasih nasi gorengnya."

Amara mengangguk, lalu bangkit dari duduknya meraih tangan Abimanyu kemudian men-ciumnya dengan takzim. "Iya." Jawabnya pendek bersamaan dengan rona merah yang memenuhi wajahnya.

Pintu akhirnya tertutup.

Amara langsung berlari kecil menuju piring yang tadi digunakan Abimanyu. Ia mengambil sedikit nasi goreng yang masih tersisa di wajan, lalu memasukkannya ke mulut.

Mengunyah.

Diam.

Wajahnya berubah.

“...”

Ia menelan dengan susah payah.

"Ya Allah."

Amara segera mengambil air putih. "Ini nasi goreng atau kecap asin?" Ia mencicipi sedikit lagi, matanya semakin membesar. "Manis... asin..." Ia menggeleng cepat. "Enggak ada rasa lain!" Amara meringis, menatap pintu depan.

"Terus tadi dia bilang enak?" Amara mengusap wajah. "Bohong banget!"

Gadis itu kemudian menunjuk ke arah pintu. "Dasar orang tua tukang bohong!" Ucapnya kesal bercampur rasa bersalah, membayangkan Abimanyu harus memaksakan diri menghabiskan nasi goreng rasa kecap yang ketumpahan garam.

Ia menarik napas. "Tapi... dihabisin." Amara terdiam, senyum kecil muncul tanpa sadar.

"Berarti, dia menghargai usahaku. Lebih tepatnya sih mungkin enggak tega." Ucapnya dengan bibir yang masih terus menyunggingkan senyum, namun tak lama kemudian ia segera menggeleng. "Ah, enggak! Jangan ge-er Mara."

.

.

Di tempat lain, Abimanyu sudah tiba di kantor. Sebagai Direktur Operasional di salah satu bank swasta ternama di ibu kota, hari-harinya hampir tidak pernah benar-benar tenang. Rapat, laporan, target, evaluasi, keluhan nasabah, dan masalah operasional. Semua menunggunya sejak pagi, namun hari itu, pikirannya sesekali justru kembali kepada sepiring nasi goreng. Ia masih bisa mengingat rasanya... Manis, asin.

Sangat manis.

Sangat asin.

Namun anehnya, ia tidak merasa menyesal telah menghabiskannya. Bukan karena rasanya, melainkan karena ia tahu Amara membuatnya dengan bersusah payah.

Dering telepon menyudahi ingatan Abimanyu tentang Amara. Dengan cepat tangannya meraih gagang telepon, "Ya.."

"Pak, dokumennya sudah lengkap semua." Ucap Tya dari ruangannya dengan bahasa formal.

Abimanyu mengangguk, "Antarkan ke sini sekarang."

"Iya pak."

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk.

"Masuk!"

Tya masuk membawa beberapa dokumen. Perempuan itu melenggang tanpa canggung, langkahnya teratur menghampiri meja Abimanyu.

"Ini Bi, sambil tanda tangan sebaiknya cek lagi saja." Ucap Tya tanpa embel-embel Pak saat dirinya hanya berdua dengan Abimanyu. Kedekatan keduanya sejak beberapa tahun lalu, membuat Tya dan Abimanyu sudah seperti keluarga. Namun sayangnya, belakangan hubungan mereka sering diwarnai perbedaan pendapat sejak kehadiran Jenny yang seolah memanfaatkan kedekatan keduanya.

Sekarang, setelah mengetahui Abimanyu telah menikah, Jenny mulai berusaha kembali mendekat dengan meminta bantuan Tya.

"Jenny kemarin datang ke apartemenku." Kata Tya tiba-tiba. Perempuan itu menatap Abimanyu, menelisik raut sahabatnya.

Abimanyu mengangkat pandangan dari dokumen. "Ini kantor, jangan bahas apapun yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan apalagi hal yang tidak penting."

"Sorry bi, aku enggak ada maksud apa-apa. Cuma kasihan saja, dia sekarang ditelantarkan suaminya."

"Bukan urusanku." Jawab Abimanyu datar.

"Abi"

"Sekali lagi ku kasih tahu, jangan bahas masalah pribadi di kantor!"

Tya menghela napas. "Dia bilang ingin meminta maaf padamu. Jenny bilang, mungkin apa yang menimpanya sekarang adalah kar-ma darimu Bi."

Abimanyu tersenyum tipis, lebih tepatnya senyum sinis. Entah menertawakan Tya atau Jenny, namun yang pasti rautnya sama sekali tidak menunjukkan empati sama sekali.

"Tya, aku kasih tahu kamu. Apapun yang terjadi dengan dia, sedikitpun tidak akan merubah apapun tentang diriku. Sekarang aku sudah menikah, tolong hargai itu. Jangan buang waktumu untuk merendahkan harga diri demi upah yang tak seberapa dibandingkan persahabatan kita." Ucap Abimanyu telak.

"Jadi kamu benar-benar serius dengan Amara?"

Tatapan Abimanyu menjadi tenang. "Dia istriku, tidak ada kata main-main dalam hidupku untuk sebuah ikatan."

Jawaban sederhana itu membuat Tya tidak mampu berkata-kata.

Abimanyu kembali menatap dokumen. "Sebelum semuanya hancur, termasuk persahabatan kita. Tolong buang jauh-jauh niatmu membantunya, kamu sama istriku sama-sama perempuan. Gimana jika kamu berada diposisi Amara?"

Ada sesuatu dalam suara pria itu, bukan sekadar penolakan terhadap Jenny melainkan sebuah keputusan.

Ia memang belum terbiasa menunjukkan perasaannya kepada Amara. Kadang gengsi, kadang terlalu dingin, kadang bahkan membiarkan gadis itu mengomel sendirian. Namun perlahan, tanpa disadari, Amara telah menjadi bagian dari kehidupannya.

Sementara di rumah, Amara mungkin sedang sibuk mengomeli dirinya karena nasi goreng yang gagal total. Abimanyu hampir tersenyum.

Tya memperhatikannya dengan kedua alis yang bertaut. "Pak?"

"Ya!" Sahut Abimanyu menoleh sesaat pada Tya tanpa ekspresi, kemudian kembali pada dokumen.

"Tidak apa-apa, maaf."

Abimanyu langsung kembali memasang wajah datar. "Pekerjaanmu disini sudah selesai, silahkan kembali ke ruangan mu."

Mendapat usiran halus dari Abimanyu, Tya Akhirnya bangkit. Perempuan itu berdiri sesaat menatap Abimanyu sembari menghela napas sebelum akhirnya undur diri. Ia masih tak percaya dengan perubahan Abimanyu yang kian dingin semenjak menikah dengan Amara. Padahal dulu, pria itu begitu tergila-gila dan rela jadi budak cintanya Jenny.

.

.

Menjelang waktu makan siang, ketika Abimanyu tengah menerima seorang nasabah prioritas di ruangannya. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar, sebuah pesan dari Amara masuk. [Om, ada tamu yang datang] Kening Abimanyu sedikit berkerut. Ia hendak membalas, tetapi pesan berikutnya kembali masuk.

[Satu keluarga] Sesaat pria itu merasa penasaran. Siapa yang datang? Mengapa Amara tidak langsung menyebutkan namanya? Tangannya bahkan sempat meraih ponsel, berniat menelepon istrinya, tetapi ia mengurungkan niat karena tamu di hadapannya adalah nasabah prioritas yang harus dilayani secara profesional.

Abimanyu pun kembali melanjutkan pembicaraan, meski pikirannya mulai dipenuhi tanda tanya.

Sementara di apartemen, Amara duduk di sofa berhadapan dengan satu keluarga yang sama sekali tidak pernah ia duga akan datang tanpa pemberitahuan. Bahkan Abimanyu pun sama sekali tidak bercerita.

1
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaaa itu kan sebelum Abi menikah, kalau sekarang setelah menikah ngapain juga menggilai perempuan lain, lebih baik tergila-gila sama istri sendiri.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Sekarang udah punya guling hidup, yang bikin nyaman, hangat, membuat tidur makin nyenyak😅
Emily
modus x ni om Abi
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Kalau udah punya kegiatan favorit pasti lupa segalanya nihh mantan bujang lapuk😅
Iper: wkwkwk
total 1 replies
M⃟3💋AisyahRendra
gasabar update lagiiii euyy.. makin gemas sm duo A ini 🥰🥰🥰🥰❤️❤️
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
M⃟3💋AisyahRendra: kan up untuk besok lagi teh 🥰🤣🤣
skrg bobo dluuu
total 2 replies
M⃟3💋AisyahRendra
bergetar hati bergetaaarr.. 🤣❤️❤️
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
M⃟3💋AisyahRendra: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 2 replies
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
istri kecilmu udh sukses bikin kamu makin kesengsem kn Biii🤣😅🏃🏃
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
banyak surprise 😕
Iper: mau juga di surprise in?
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hahhhhhhhhh
siapaaaa ini dateng sekeluarga.

ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
Iper: udah up noh😭
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
pelan pelan ommmmm

nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hehhhh...
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Keyyeeeennnnn om tua,
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Eaaa
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
M⃟3💋AisyahRendra
Tya....
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
M⃟3💋AisyahRendra
loh loh lohhhh 🙄🙄🙄
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️
M⃟3💋AisyahRendra: assseeeeeeekkkkkk❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 8 replies
Mimi Yoh
kenapa langsung wus garam ma kecapnya, nggak dicicip dulu rasanya...lagian kemaren masak sop sama tumis brokoli, rasa kayak apa ya 😁😁
Iper: Kalau masak sop sama brokoli sudah terlatih dia sama mama mertuanya meskipun rasanya entah seperti apa🤣
total 1 replies
Mimi Yoh
itu kan dulu...sekarang mah ada mara yg bisa membuat abi senyam senyum 😄😄
Mimi Yoh
dengerin tuh...malu nggak...
Mimi Yoh
ini nih temen yg ngejerumusin temen..bukannya ngingetin malah jadi setannya..
Iper: Jinnn Dasim dia😭
total 1 replies
Mimi Yoh
lalu..apa urusannya dgn abi...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!