NovelToon NovelToon
Cinta Di Atas Logika

Cinta Di Atas Logika

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: najmun_huda

yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CP: 18 Bubur yang dingin

Di jalan, Yovada terus memacu motornya dengan cepat pada akhirnya ia sampai di toko roti. Kali ini ia melihat banyak sekali roti yang di jual dari biasanya. Dari roti dengan biji wijen bahkan roti yang berwarna hitam pekat dan harganya pun sangat malah di jual di sana. Ia melihatnya dengan bingung dan juga penasaran dengan harga roti yang biasanya ia beli. Ia berkeliling dan kemudian mencari di setiap rak yang ia lewati. Semakin banyak yang ia lita maka semakin aneh pula roti yang ia lihat. Pada akhirnya ia pun bertanya kepada salah satu pelayan yang ada di sana.

Yovada menghampiri salah satu pria yang ada di sana dan kemudian ia menanyakan tentang roti yang biasanya ia beli. Pelayan yang mendengar hal itu langsung melirik ke Yovada dan mengatakan bahwa roti yang biasanya ia beli sudah tidak di produksi. Roti itu memang roti yang pertama kali di buat dan menjadi roti yang sangat populer di sana. Namun semakin banyak roti yang bermunculan dan juga masuknya roti luar ke toko ini membuat peminatnya turun hingga akhirnya mereka memutuskan berhenti memproduksi.

Yovada yang mendengar hal itu merasa sangat kecewa. Bukan kenapa namun roti itu sudah menemaninya dari ia pertama kali tinggal sendiri di sini. Namun kini ia malah kehilangan menu roti kesukaannya. Ia pun membeli roti yang lain, sebagian yang ia beli adalah roti dengan kulit yang keras dan juga isi yang padat, ia juga membeli roti berwarna hitam dan juga roti dengan rasa vanila yang langsung ada di setiap gigitan daging roti itu. Ia membawanya ke kasir dan membayarnya. Walau harganya cukup mahal, Yovada menaruh harapan besar dengan apa yang ia beli. Ia menaiki motor dan kembali memacu kendaraannya dengan cepat ke jalan raya.

Di jalan ia mulai memelankan kendaraannya, ia mengingat kali ini ingat bahwa tempat yang ia lewati ini adalah tepat di mana ia terjatuh dan kemudian melihat Mimi. Ia memelankan motornya dan kemudian ia melihat sekitar di depan lampu yang berwarna merah. Ia melihat ke kiri dan sesuai prediksi bahwa ia melihat Mimi di pinggir jalan dan bersiap menyerang jalan. Yovada membukan kaca helmnya dan kemudian menyapanya. Mimi yang menyapanya kemudian terkejut dengan apa yang ia lihat. Yovada yang kemarin masih terbaring lemah di kasur dan kini malah kembali menaiki sepeda motor. Mimi yang melihat itu langsung melambaikan tangan ke Yovada dan kemudian ketika lampu berubah menjadi warna hijau, Yovada langsung memacu motornya dan kemudian pergi ke arah rumahnya dengan cepat dan selalu berbelok dengan memiringkan motornya.

Angi berhembus dengan cepat menghantam helm Yovada yang tertutup plastik bening. Ia terus fokus ke jalanan dan kemudian berbelok memasuki Komplek perumahannya. Ia memelankan mesin motornya dan kemudian berhenti di depan rumahnya. Melepas helmnya dan kemudian ia menaruhnya di atas helmnya. Ia langsung berjalan pelan dengan belanjaan yang ada di tangannya. Namun di saat itu juga, sebuah mobil datang dan kemudian berhenti tepat di depan rumah Yovada. Ketika Yovada menunggu orang keluar dari mobil, ia melihat Kesya keluar dari mobil dan kemudian mengeluarkan keranjang makanannya. Melihat Yovada dan kemudian tersenyum kepadanya.

Yovada yang melihat itu langsung terdiam, ia ingin tersenyum namun dirinya langsung menahannya. Ia menatapnya dengan tatapan seperti biasanya di sekolah. Tiada senyum, tiada tatapan hangat hanya tatapan kosong dan juga suara pelan menyebut namanya. Pada saat Kesya melihat itu, ia sebenarnya merasa tidak nyaman dengan tatapan Yovada namun ia tidak memedulikannya kemudian ia langsung mendekati Yovada. Ia berjalan pelan dan kemudian menyerahkan keranjang yang berisi bubur bikinannya.

Yovada yang melihat itu ingin menerimanya namun dirinya berusaha menahannya. Dirinya ingin percaya pada seseorang dan mendapatkan cinta. Namun di sisi lain ia juga tahu bahwa ia tidak ingin jika cinta yang ia rasakan akan membuat dirinya bodoh layaknya mahfuz. Ia memejamkan matanya kemudian memalingkan wajahnya. Ia menatap Kesya dengan tatapan yang membingungkan seperti berusaha tidak memedulikannya. Kesya yang melihat itu langsung kebingungan melihat Yovada yang langsung berubah. Ia sadar bahwa Yovada hanya membutuhkannya saat ia sakit saja dan saat ia sudah sembuh, ia tidak akan memedulikannya lagi. Ingin menangis namun ia menahannya dengan sekuat tenaga. ia menyapu matanya dengan lengan bajunya lalu berbalik membelakangi Yovada dan kemudian ia berjalan menjauh.

Yovada yang melihat itu merasa bersalah dan seharusnya ia meminta maaf namun egonya mengatakan bahwa itu tidak di perlukan. Ia berbalik dan kemudian ia membuka pintu rumahnya agar ia bisa masuk dan kemudian ia beristirahat.

Di jalan. Kesya duduk di kursi jalan di dekat Komplek Yovada. Ia menangis sambil menggenggam makanan yang ia buat. Dalam harinya ia berkata kepada dirinya. “astaga, dugaanku benar. Ia tidak menyukaiku. Ia hanya suka di saat ia sakit saja namun sifat dingin itu kembali lagi. Apa yang terjadi padanya? Apa ada yang aneh denganku? Atau ia lebih tertarik dengan Aulia yang lebih agresif?” dirinya terdiam setelah ia mengatakan itu. Ia kini sadar dengan dirinya sesungguhnya. Ia kembali memakai ekspresi wajah datar dengan tatapan kosong namun kali ini matanya memerah karena menangis. Ia berhenti menangis dan mulai menatap sekelilingnya. Ia sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapanya Yovada dan ia juga mungkin tidak berharap aku selalu ada di sisinya. Ia mulai membuka ponselnya dan memesan Taksi Online yang biasanya ia pakai. ia memesannya untuk pulang ke rumahnya dan kemudian ia ingin beristirahat.

Di dalam rumah, Yovada langsung merenung sambil memaki dirinya sendiri. “GILA LU. LU PIKIR LU KEREN TOLAK CEWEK KEK BEGITU? LEBIH MIRIP KEK BAJINGAN DI BANDING PRIA.” Ucapnya menghina dirinya sendiri. Ia yang mendengar hinaan itu langsung berlari ke pintu dan kemudian ia langsung meraih gagang pintu untuk mengejar Kesya. Namun ketika ia ingin menemuinya, dirinya kembali berbicara kepada dirinya. “memang kamu bisa percaya dia? Kamu tahukan orang tua yang ngelahirin kamu saja tidak peduli denganmu. Kini kamu percaya dengan wanita asing yang baru kamu temui tadi? Kegilaan macam apa yang kamu inginkan dan kamu bayangkan?” Ucapnya lagi di dalam dirinya yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui Kesya.

Di sisi lain, Kesya yang pulang dan sedang di dalam mobil mulai meliat ke langit. Ia merenung dan kemudian berkata kepada dirinya. “Yovada...aku pikir hubungan kita istimewa loh. Namun... kenapa kamu malah menghindar dariku? Apa... kamu memang tidak menganggap diriku berharga? Apa masakan aku tidak enak? Atau.... akunya saja yang terlalu berharap kepadamu?” Ucapnya dengan pelan dan juga penuh kesedihan. Ia menatap ke depan dan melihat bayangan dirinya dari pantulan jendela kaca mobil yang membuatnya semakin tersadar akan satu hal. “apakah... aku bukan selera Yovada? Ia membenciku? Atau hal buruk lainnya? Seburuk itukah aku? Atau ia sudah punya pacar?” Ucapnya dengan penuh penasaran dan juga pertimbangan.

Di sisi lain, Yovada masih memaki dirinya dan duduk di anak tangga. “Hey bajingan, Bajingan. Lu gak ingat dulu kamu itu di rawat sama cewek paling dingin dan yang pernah lu selamatin? Bahkan ia ngejenguk lu dan membuatkan bubur buat lu. Kini lu bikin ia menangis setelah pengorbanannya? Gua pikir kamu seorang pria, rupanya cuman bocah manja di saat selang impuls terpasang di tanganmu. Lemah sekali.” Ucapnya seperti memakinya dengan ucapan yang begitu tajam.

Di saat ia mau meminta maaf lewat chat, dirinya mulai berbicara lagi. “jika kamu minta maaf di chat maka kamu hanyalah pecundang yang berani nyakitin di depan namun minta maafnya di belakang. Pasti di anggap pengecut karena gak berani sama cewek” Ucapnya lagi dalam dirinya. Lelah dengan semua itu. Ia langsung berbaring di kasurnya. kepalanya pusing dan dirinya bingung dengan keadaan dan keputusan yang harus di ambil. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri tentang keputusannya yang ia kini sedang memihak logika atau harus dengan perasaan yang mana ia sudah tidak percaya lagi?

Ia menatap lengannya yang pernah Kesya pegang. Ia menatapnya dengan pelan dan penuh perasaan. Di sisi lain. Kesya sudah sampai di rumah dan kemudian ia langsung berjalan ke kamarnya. ia melewati ayahnya dan kemudian berkata pada anak itu. “liat, anak durhaka macam apa itu. Sama ayahnya sendiri tidak mau menyapa. bagaimana nanti besarnya. Pasti tidak berbakti pada kedua orang tuanya.”

Sesampainya di kamar ia langsung termenung dan kemudian ia berbicara dalam hatinya. “ada saatnya kamu senang dan ada saatnya kamu sadar. Sesuatu yang nyaman bisa saja menyakitkan dan kesadaran yang pahit bisa saja menjadi jalan yang terbaik.” Ucapnya sambil mengeluarkan air mata

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!