Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kehormatan dan Kehancuran
Pria botak itu, yang dikenal sebagai pemimpin kelompok Kapak Merah, mendengus keras saat melihat hanya dua pemuda yang melangkah keluar. Baginya, ini adalah penghinaan.
"Habisi mereka!" teriaknya.
Dua orang anak buahnya yang bertubuh besar segera menerjang ke depan, mengayunkan pipa besi ke arah kepala Lin Tian dan Lin Chen. Namun, sebelum pipa itu mendarat, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi. Lin Tian bergerak seperti kilatan bayangan. Ia menunduk di bawah ayunan pipa, lalu dengan satu hentakan tumit yang presisi, ia menghantam ulu hati lawannya.
BRAK!
Lawan setinggi 180 cm itu terlempar ke belakang sejauh dua meter, jatuh tersungkur dengan mulut mengeluarkan busa darah.
Di sisi lain, Lin Chen lebih brutal. Ia menangkap pipa besi yang diayunkan ke arahnya dengan tangan kosong, lalu memutar pergelangan tangannya. KRAK! Tulang pergelangan tangan si penyerang patah seketika. Lin Chen merebut pipa besi itu dan menghantamkannya ke lutut lawannya, memaksa pria itu jatuh berlutut dengan jeritan melengking.
"Hanya segini kemampuan kalian?" ejek Lin Chen dingin.
Kelompok Kapak Merah tertegun. Pria botak itu membelalak, cengkeramannya pada palu godam apinya makin erat. "Kalian... kalian pasti sudah menyerap kristal energi! Keparat, serang semuanya bersamaan!"
Delapan orang preman sisanya menyerbu sekaligus. Lin Tian dan Lin Chen bergerak dalam harmoni yang sempurna. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga teknik bela diri kuno yang kini diperkuat oleh kecepatan Sistem. Setiap pukulan, setiap tangkisan, dan setiap langkah kaki mereka terasa efisien—tidak ada gerakan yang terbuang.
Dalam waktu kurang dari dua menit, delapan orang itu terkapar di tanah, mengerang kesakitan dengan tulang-tulang yang remuk.
Pria botak itu kehilangan kesabaran. Ia menggeram, palu godamnya menyala lebih terang, membakar udara di sekitarnya dengan suhu panas yang ekstrem. "Minggir kalian semua!"
Ia melompat, mengayunkan palu beratnya ke arah Lin Tian dengan tenaga yang cukup untuk menghancurkan beton. Yudha, yang mengamati dari atas atap, sedikit mengernyit. Pria itu memiliki bakat, namun cara dia menggunakan energinya sangat boros dan tidak efisien.
Lin Tian tidak menghindar. Ia memusatkan energi kristal yang ia serap semalam ke seluruh otot tubuhnya. Ia menahan hantaman palu itu dengan pipa besi yang ia rampas.
BOOM!
Percikan api memercik ke mana-mana. Pipa besi di tangan Lin Tian bengkok hebat, namun ia berhasil menahan serangan tersebut. Lin Tian segera memutar tubuhnya, melepaskan tendangan roundhouse tepat ke arah dada si pria botak.
DUBRAK!
Pria botak itu terhempas, menabrak tembok pabrik hingga retak. Ia berusaha bangkit, namun Lin Chen sudah berada di depannya, menempelkan ujung pipa besi ke lehernya.
"Selesai," ucap Lin Chen datar.
Pria botak itu terbatuk darah. Ia mencoba memicu palu apinya kembali, namun Lin Tian sudah menginjak pergelangan tangannya, menghancurkan tulang telapak tangannya hingga palu itu terlepas.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Lin Tian dengan suara rendah yang mengancam.
"K-kami... kami hanya ingin makanan..." jawab pria itu terbata-bata.
Lin Tian menatap ke arah atap pabrik, menunggu instruksi. Yudha yang melihat situasi tersebut hanya memberikan isyarat satu jari: Bawa masuk.
Lin Tian menarik kerah baju pria botak itu dan menyeretnya menuju gerbang kecil, sementara Lin Chen menendang kaki para preman yang tersisa, memerintahkan mereka untuk berjalan masuk ke dalam pabrik.
Di dalam halaman pabrik, para pekerja kasar menatap kejadian itu dengan rasa takut yang berubah menjadi kekaguman. Mereka baru saja melihat bagaimana dua pemuda yang kemarin tampak lemah kini bisa menghabisi selusin preman dengan tangan kosong.
Yudha melompat turun dari atap, mendarat dengan anggun di tengah-tengah kerumunan. Ia berjalan mendekati pria botak yang terkapar di tanah.
"Namamu?" tanya Yudha.
"B-Bara," jawab pria itu ketakutan.
Yudha berjongkok di depan Bara. Ia bisa melihat kristal energi yang tersimpan di dalam palu godam milik pria ini. "Bara, kau punya kekuatan, tapi kau menggunakannya seperti orang idiot. Kau datang ke wilayahku untuk merampok, dan sebagai gantinya, aku seharusnya memenggal kepalamu sekarang."
Yudha menatap mata Bara yang bergetar hebat.
"Tapi aku butuh orang yang mengerti bagaimana rasanya menjadi predator di luar sana. Kau punya dua pilihan: Menjadi pupuk di bawah tembok pabrik ini, atau menyerahkan palumu, bersumpah setia pada Tatanan Besi Hitam, dan memimpin kelompok kerjamu sendiri di bawah pengawasanku."
Bara menatap wajah dingin Yudha. Ia tahu bahwa pria di depannya ini bukanlah orang biasa. Aura yang terpancar dari Yudha jauh lebih mengintimidasi daripada siapa pun yang pernah ia temui.
"Aku... aku memilih setia," ucap Bara dengan kepala menunduk.
Yudha berdiri, menatap Lin Tian. "Bawa mereka ke gudang. Bersihkan luka mereka. Beri mereka jatah makan setengah hari ini. Besok, mereka akan langsung masuk ke tim konstruksi dinding luar."
Yudha kemudian berbalik, tidak lagi memedulikan para preman itu. Ia harus kembali ke bengkelnya. Ada sesuatu dalam struktur kristal yang ia amati dari palu Bara tadi; sebuah pola yang membuatnya berpikir untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar menara pelontar.
"Tatanan Besi Hitam telah tumbuh," gumam Yudha pada dirinya sendiri. "Dan ini baru hari kedua."