Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kerja yang Luar Biasa
"Kita punya bukti yang bisa membalikkan keadaan dalam konferensi pers pagi ini."
Suara Maya terdengar di tengah riuh ruang konferensi pers darurat. Puluhan mikrofon dari berbagai stasiun televisi nasional memenuhi meja podium. Kilatan kamera terus menyambar dari berbagai arah.
Gadis itu tidak berkedip sedikit pun. Ia berdiri tegak dengan kemeja putih rapi dan setelan jas hitam pinjaman. Kedua tangannya bertumpu di sisi mimbar, menjaga tubuhnya tetap tenang.
Maya mengangkat map plastik bening berisi dokumen transaksi ke arah kamera. Jemarinya menggenggam erat ujung map itu.
"Ini adalah bukti transfer dana ilegal." Maya menatap lurus ke arah kamera. "Transfer dari rekening pribadi Sebastian Mahendra ke rekening pribadi Saudari Clarissa."
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi bisikan jurnalis mendadak hening. Hanya suara kamera yang terus berbunyi dari berbagai arah.
"Dua miliar rupiah." Maya menyebut angka itu dengan jelas. "Uang ini dikirim pukul satu dini hari dari rekening luar negeri di Cayman Island. Transaksi tersebut terjadi hanya lima jam sebelum Clarissa muncul di televisi dan menyampaikan pengakuan palsunya."
Suasana langsung pecah. Para wartawan berebut mendekatkan alat perekam mereka. Pertanyaan demi pertanyaan terdengar bersahutan dari berbagai arah.
"Apakah Anda bisa menjamin keaslian data tersebut, Pengacara?"
"Apakah ini berarti tuduhan pelecehan terhadap Stefanus Mahendra hanyalah rekayasa?"
"Apakah Anda menuduh CEO Mahendra Group membayar saksi palsu?"
Maya menarik napas panjang di tengah hujan pertanyaan para wartawan. Ia membiarkan mereka terus berbicara beberapa detik, memberi dirinya waktu untuk menyiapkan langkah berikutnya.
Tiga tahun lalu, ia hanya mahasiswi hukum miskin yang menangis di tengah hujan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ayahnya dijebloskan ke penjara oleh Mahendra Group. Bahkan, ia pernah diusir dari ruang sidang tanpa diberi kesempatan membela diri.
Hari ini, ia berdiri di sini membawa bukti yang bisa menghancurkan mereka.
Uang bisa membeli banyak hal, tetapi jejak digital tidak bisa berbohong.
Maya melirik ke barisan depan. Shaquena duduk tenang dengan tangan terlipat di dada. Tatapan mereka bertemu.
Shaquena hanya mengangguk pelan.
Satu gerakan sederhana, tetapi cukup untuk memberi Maya keyakinan bahwa ia tidak sendirian.
Di samping Shaquena, Daniel berdiri bersandar di dinding. Wajahnya pucat, terlihat lelah setelah semua yang terjadi.
Maya sempat menatapnya beberapa detik. Lalu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah memaafkan.
Daniel mengembuskan napas lega. Ketegangan di bahunya perlahan menghilang. Kesalahannya memang belum terhapus, tetapi setidaknya ia mendapat kesempatan untuk memperbaikinya.
Kini mereka berada di sisi yang sama. Bersama-sama menghadapi Sebastian.
"Harap tenang!" Maya kembali mendekati mikrofon. Suaranya terdengar jelas di tengah keributan media. "Mari kita bongkar kebohongan ini satu per satu."
Seorang jurnalis berkemeja abu-abu langsung berdiri dari kursinya. Nada suaranya terdengar tajam saat menyela.
"Pihak Mahendra Group sudah merilis pernyataan resmi." Ia menunjuk Maya dengan bolpennya. "Mereka menyebut Stefanus memaksa Clarissa masuk ke kamar lantai lima. Bukti transaksi yang Anda bawa juga bisa saja hasil peretasan palsu untuk mengalihkan perhatian publik!"
Maya menatap jurnalis itu dengan tajam. Ia langsung memahami arah serangan tersebut. Pertanyaan itu bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menggoyahkan bukti yang ia bawa.
"Anda ingin bukti tambahan?" Maya tersenyum tipis. "Baik. Kita buktikan sekarang."
Ia menekan tombol kecil di remote tangannya. Layar proyektor besar di belakangnya langsung menyala.
"Tolong lihat data log resepsionis Hotel Grand Batavia ini." Maya mengarahkan pena laser ke layar. "Clarissa melakukan check-in pukul empat sore. Kamarnya berada di lantai dua."
Jurnalis berkemeja abu-abu itu masih belum menyerah.
"Lalu apa hubungannya? Dia tetap bisa naik ke lantai lima."
"Kartu akses hotel memiliki rekam jejak digital." Maya langsung memotong bantahan itu. "Data kartu milik Clarissa tidak pernah tercatat digunakan di pintu lantai lima. Dia tidak pernah masuk ke sana."
Ruangan kembali ramai. Beberapa jurnalis segera mengetik di laptop mereka, mengirimkan laporan terbaru ke redaksi masing-masing.
Maya menekan tombol remote lagi. Layar proyektor menampilkan dua video yang berdampingan.
"Ini adalah bukti yang menghancurkan kebohongan tersebut." Suara Maya terdengar tegas. "Di sebelah kiri, rekaman kamera lorong lantai dua menunjukkan Clarissa sedang memesan layanan kamar pukul empat lewat tiga puluh."
Ia menunjuk layar sebelah kanan.
"Pada waktu yang sama, kamera ruang rapat lantai lima merekam Stefanus Mahendra sedang menandatangani kontrak kerja sama logistik bersama sepuluh orang saksi."
Kilat kamera kembali menyambar wajah Maya dari berbagai arah.
"Manusia tidak bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama." Maya mengetuk meja podium pelan untuk menegaskan ucapannya. "Tuduhan pelecehan ini adalah fitnah tanpa dasar."
Jurnalis berkemeja abu-abu itu terdiam. Ia akhirnya duduk kembali dengan wajah pucat. Tidak ada lagi bantahan yang bisa ia gunakan untuk membela Sebastian Mahendra.
"Tujuan di balik fitnah ini sudah jelas." Maya menatap lurus ke arah kamera utama yang menyiarkan konferensi pers secara langsung. "Seseorang dengan kekuasaan besar sengaja merekayasa kasus ini untuk menghancurkan nama Stefanus Mahendra."
Maya merapikan dokumen di tangannya. Ia tidak perlu menyebut nama Sebastian. Bukti transfer yang sudah ia tunjukkan cukup bagi publik untuk memahami siapa dalang di balik semua ini.
"Kami akan melaporkan pihak-pihak yang terlibat dalam pencemaran nama baik ini." Maya menutup pernyataannya. "Kami juga meminta kepolisian segera membebaskan klien kami, Stefanus Mahendra, hari ini."
Tepuk tangan terdengar dari beberapa sudut ruangan.
Bagi seorang mahasiswi hukum yang belum memiliki izin praktik, Maya baru saja melakukan hal yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari setengah jam, ia berhasil membongkar skenario yang dibuat oleh salah satu konglomerat terbesar.
Maya mundur dari podium dan mematikan mikrofon. Dadanya naik turun menahan sisa adrenalin. Pertarungan pertamanya di depan publik berakhir dengan kemenangan.
Daniel segera menghampirinya sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin.
"Kerja yang luar biasa, Maya." Suaranya terdengar tulus.
Maya menerima botol itu dan membukanya.
"Tanpa data SWIFT yang kamu berikan, aku tidak akan punya bukti sekuat ini untuk melawan mereka."
Ia meneguk air hingga setengah botol. Tenggorokannya terasa kering setelah terus berbicara di depan media.
"Perutku tiba-tiba lapar sekali setelah semua ini," gumam Maya.
Daniel tertawa kecil.
"Kita harus merayakan kemenangan ini nanti. Makan makanan berkuah pedas di pinggir jalan sepertinya pilihan yang bagus."
nyaaaakk jg yaaa/Grin/