Qiarra dan Queen Gallagher adalah kembar identik yang sangat dekat satu sama lain. Hingga mereka berusia 25 tahun, dan sudah menjadi dokter, salah satu rekan bisnis opanya ingin menjodohkan cucunya dengan salah satu dari si kembar. Sang cucu bernama Jupiter Samudra Prawira jatuh cinta dengan Qiarra tapi Queen lah yang jatuh cinta pada Samudra. Saat menikah, Queen menggantikan Qiarra yg tidak mencintai Samudra. Usai pernikahan, Qiarra terbang ke Hokkaido dan menjadi dokter di desa nelayan disana. Qiarra tidak mau Samudra mencarinya dan memakai nama depannya, Nabila. Di desa itu Qiarra bertemu dengan nelayan bernama Kaito Yamada yang tidak suka melihat gadis bule tapi jago bahasa Jepang itu menjadi dokter disana. Dua orang keras kepala itu akhirnya jatuh cinta.
Sementara Samudra merasa dibohongi karena bukan Qiarra yang menikah dengannya, marah besar. Samudra hendak menceraikan Queen tapi gadis itu meminta agar mereka menikah selama enam bulan dulu.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diterima Kerja
"Kamu ... Dokter juga?" tanya Qiarra bingung.
"Kamu ngapain di sini? Melamar kerjaan di sini? Jadi dokter apa?" cecar Kaito judes.
"Aku ...."
"Nabila-san? Maafkan saya memanggil nama depan Anda karena nama belakang Anda sulit dilafalkan," ucap seseorang yang memotong ketegangan diantara mereka.
"Eh? Daijoubu. Panggil nama depan saya tidak apa-apa," jawab Nabila sambil berdiri. Namun dia tidak mengukur jarak kepalanya hingga membentur dagu Kaito. Keduanya saling memegang wajah dan kepala masing-masing. Kaito langsung duduk di sebelah Qiarra.
"Iittttaaaaaaaiiiii ( sakiiitttt )!" seru keduanya.
Begini kira-kira visualnya
Pihak HRD yang datang auto melongo. "Kalian tidak apa-apa?"
Kaito melirik judes ke Qiarra. "Kalau mau berdiri, lihat-lihat dong!"
Qiarra tidak kalah galaknya. "Siapa suruh membungkuk depan aku!"
Keduanya saling berpandangan judes membuat gadis dari HRD itu mencoba menengahi keduanya.
"Sensei, apa perlu kompres?" tanya gadis itu panik karena tahu keduanya sama-sama dokter.
"Tidak usah! Aku urus sendiri!" jawab Kaito sambil berdiri dan memegang dagunya. "Ini belum selesai, Nabila!"
"Apanya? Duh, aku harus minum aspirin ini!" balas Qiarra judes.
Kaito menyipitkan matanya, begitu juga dengan Qiarra. Pria itu pun pergi meninggalkan Qiarra dan gadis HRD.
"Nabila-san, saya Akemi. Mari kita berbicara soal lamaran pekerjaan Anda. Kita ke ruangan HRD," ajak Akemi.
"Baik. Ano, dokter Kaito Yamada itu dokter apa?" tanya Qiarra sambil menyampirkan tasnya ke bahunya.
"Oh, beliau dokter obgyn," jawab Akemi.
Qiarra melongo. "Serius? Pria galak itu dokter obgyn? Apa para wanita hamil tidak sakit hati sama dokter judes itu?" serunya heboh.
"Eh? Dokter Yamada baik kok. Bahkan jadi idola ibu-ibu di sini. Sensei kan tahu, Jepang mengalami banyak kesulitan menambah penduduk tapi semenjak dokter Yamada di sini, banyak para istri yang mau hamil dengan suka rela," jawab Akemi sambil tertawa kecil.
Qiarra semakin melongo. "Hah? Dia pakai jampi-jampi apa sih? Aslinya galaknya minta ampun!"
***
Qiarra menyelesaikan wawancaranya. Dia baru tahu kalau dokter bedah yang lama itu pensiun. Rumah sakit ini kekurangan dokter bedah. Qiarra juga memberikan lisensi kerja yang sudah diurusnya tiga bulan sebelumnya.
"Anda sudah banyak melakukan banyak operasi ya?" ucap kepala HRD yang memeriksa data Qiarra.
"Sudah banyak," jawab Qiarra.
"Semuanya sukses. Sungguh Anda dokter bedah berbakat, dan saya rasa tidak ada alasan untuk tidak menerima Anda. Tapi sekarang Anda tinggal di Furubira?" tanya HRD itu.
"Benar."
"Apakah Anda tidak bisa tinggal di Sapporo ... Jika sewaktu-waktu dibutuhkan mendadak?"
Qiarra tersenyum. "Saya lebih suka tipe dokter bedah elektif karena saya tidak tinggal di Sapporo. Beda cerita jika saya masih berada di Sapporo, belum kembali ke rumah saya, tentu saya akan lakukan operasi."
Bedah Terencana (Elektif): Operasi dilakukan sesuai jadwal janji temu yang telah disepakati. Dokter bedah datang ke rumah sakit hanya pada waktu pemeriksaan poliklinik atau jadwal operasi tersebut.
"Begitu ya. Baik. Kita bicarakan gaji dan benefit," ucap kepala HRD.
Mereka pun berdiskusi dan Qiarra pun puas dengan semua benefit dan ritme kerjanya. Mereka pun bersalaman dan Qiarra pun keluar dari ruang HRD.
***
Apartemen Samudra di Glasgow
Samudra baru saja pulang dari kampus. Tas ranselnya disampirkan di bahu dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya setelah seharian mengikuti kuliah dan menyelesaikan tugas.
Sesampainya di apartemen, suasana begitu sunyi. Dia meletakkan tas di sofa, lalu memanggil nama Queen beberapa kali. Tidak ada jawaban. Rupanya Queen belum pulang dari rumah sakit.
Tanpa bermaksud mengusik privasi, Samudra berjalan menuju pintu kamar Queen. Pintu itu tidak terkunci. Dia membuka perlahan, karena dirinya sangat penasaran dengan pola makan Queen yang berbeda sekarang.
Kamar itu tertata rapi. Aroma lembut parfum khas Queen masih memenuhi ruangan. Di atas meja belajar terdapat beberapa buku kedokteran, laptop yang sudah dimatikan, serta setumpuk catatan yang disusun dengan sangat rapi.
Saat hendak berbalik keluar, pandangan Samudra tertuju pada sebuah jurnal ilmiah yang terbuka di atas meja. Judulnya membahas kanker payudara, lengkap dengan hasil penelitian terbaru mengenai deteksi dini, pilihan terapi, serta perkembangan pengobatan.
Samudra mengernyit heran. "Kenapa Queen membaca jurnal tentang kanker payudara?" gumamnya pelan.
Dia tidak langsung mengambil kesimpulan. Dengan rasa penasaran, dia membaca beberapa halaman secara sekilas. Isinya menjelaskan pentingnya skrining, diagnosis dini, hingga perkembangan terapi yang dapat meningkatkan harapan hidup pasien.
Semakin banyak yang dibacanya, semakin muncul pertanyaan di benaknya. Apakah Queen sedang mengerjakan tugas penelitian? Atau ada alasan lain yang belum pernah diceritakan?
Samudra menutup jurnal itu dengan hati-hati dan mengembalikannya ke posisi semula. Ia memilih untuk tidak berspekulasi. Jika memang ada sesuatu yang penting, ia ingin mendengarnya langsung dari Queen ketika mereka bertemu nanti.
Dengan pikiran yang dipenuhi rasa ingin tahu, Samudra keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali, berharap pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benaknya segera menemukan jawaban.
"Apa yang kamu sembunyikan, Queen?"
***
Sapporo Hokkaido Hospital
Qiarra berjalan keluar ruang HRD bersama Akemi untuk diperkenalkan kepada para dokter yang ada di sana. Qiarra sudah mempersiapkan mental karena tidak banyak dokter Jepang yang mau menerima dokter asing apalagi dirinya sangat bule.
Namun Qiarra salah. Ada dua dokter asing yang bekerja di rumah sakit dan mereka tampak senang karena ada dokter asing yang bekerja di rumah sakit yang sama. Qiarra memperkenalkan diri kepada semua orang dan dia bersyukur diterima dengan baik.
Setelahnya, Qiarra pun mendaftarkan namanya sebagai dokter bedah di bagian kepegawaian, memberikan nomor telepon dan email-nya. Qiarra belum membuat rekening bank Jepang dan berjanji akan membukanya untuk transfer gaji.
Qiarra berpamitan dengan Akemi dan hendak ke bank Nippon untuk membuka rekening baru. Gadis itu sedang memasukkan tag nama serta ID card-nya ke dalam tas ketika melihat Kaito berjalan tergesa-gesa ke area IGD. Tak lama ambulans datang, dan mereka segera bertindak dengan cekatan menuju ruang IGD.
"Bisa muka lembut juga tuh Kaito bukan Saito," gumam Qiarra. Gadis itu hendak keluar dari rumah sakit ketika mendengar suara teriakan Kaito.
"Aku butuh dokter bedah!" serunya.
Qiarra menghentikan langkahnya. Dia ingin membantu tapi dia baru setengah resmi diterima. Rasanya ingin membantu tapi belum berhak. Qiarra pun melangkah keluar.
"Cewek pirang galak! Aku tahu kamu dokter bedah! Bantu aku!" panggil Kaito judes.
Qiarra berbalik dan menatap tajam ke Kaito. Gadis itu berjalan dengan langkah lebar-lebar.
"Kalau minta tolong, minta yang benar!" hardiknya.
Kaito tersenyum manis. "Onegaisimasu," ucapnya sambil membungkuk hormat. "Kalau aku tidak panggil kamu seperti itu, pasti tidak akan berbalik kan?"
Qiarra mendengus kesal. "Apa kasusnya?"
"Pre-eklampsia."
Qiarra mengangguk. "Kita tangani!"
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kamu pasti akan sangat menyesal Sam
Alhamdulillah semua keluarga mendukungmu queen
cepat sembuh ya queen, gapai bahagiamu lagi dengan laki-laki yang tulus menyayangimu
dukungan keluarga ke Queen smg bs menjadi penyemangat utk sembuh dan ingat hati yg gembira adalah obat
dan akhirnya keluarga pun tau Qia ada di furubira yg amaze nya mlh pada gatau itu ada di mana, sama nek aku 🤭 soale kalo di Osaka ntar gampang cepet ketahuannya 😆😆
untung aku bacanya pagi habis sarapan
coba kalo belum, bisa nggak jadi sarapan aku😭😭😭😭
kamu kuat queeny😓😓
kira kira Jodoh Queen ada yang baru atau masih Samudera yang pikirannya cupet , Mbak Hana ?