Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 kasus terakhir nadia
Nadia mengetuk pintu ruang VIP sekali sebelum masuk tanpa membuang waktu.
Sejujurnya, ia datang hanya karena terikat tanggung jawab profesional dan janji yang sudah dibuatnya kepada direktur. Jika bukan karena dokumen yang telah ia tandatangani sebelumnya, mungkin saat ini ia sudah benar-benar meninggalkan firma dan tidak perlu bertemu klien baru lagi.
Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri di dekat jendela.
Tubuh tinggi, setelan jas mahal, dan pembawaan yang tenang membuat pria itu langsung terlihat berbeda dari kebanyakan klien yang pernah ditemuinya.
Pria itu berbalik saat mendengar suara pintu.
Dan untuk sesaat, Revano Ravendra sedikit terdiam.
Bukan karena terpesona.
Melainkan karena ia akhirnya bertemu langsung dengan sosok yang selama ini sering disebut sebagai pengacara terbaik firma tersebut.
Sementara Nadia sama sekali tidak tertarik memperhatikan hal-hal semacam itu.
Ia meletakkan map di atas meja lalu langsung duduk.
"Tuan Revano."
ucapnya singkat.
"Saya Nadia."
Revano mengangguk sopan.
"Senang akhirnya bertemu langsung."
Namun Nadia hanya membalas dengan senyum tipis yang sangat formal.
Ia tidak sedang ingin berbasa-basi.
Tidak hari ini.
"Sebelum kita mulai, saya ingin menghemat waktu."
ucap Nadia sambil membuka dokumen kosong untuk mencatat.
"Tolong jelaskan inti masalahnya dari awal."
Nada suaranya profesional dan lugas.
Tidak ada senyum berlebihan.
Tidak ada percakapan ringan.
Ia ingin menyelesaikan perkara ini secepat mungkin.
Revano memperhatikan wanita di depannya beberapa detik.
Ia sudah mendengar banyak cerita tentang Nadia.
Bahwa wanita ini sangat cerdas.
Bahwa tingkat kemenangannya luar biasa.
Dan bahwa belakangan ini kehidupannya menjadi pusat gosip kantor.
Namun ekspresi Nadia sekarang membuatnya sadar bahwa sebagian rumor mungkin benar.
Karena wanita itu terlihat sangat lelah.
Bukan secara fisik.
Melainkan seperti seseorang yang baru saja melalui badai besar dalam hidupnya.
Revano akhirnya duduk.
"Masalah saya berhubungan dengan mantan pacar saya."
Kalimat itu langsung membuat Nadia mengangkat alis sedikit.
Dari semua kemungkinan kasus besar yang sempat dibayangkannya sepanjang perjalanan ke sini, ini bukan salah satunya.
"Dia mengaku sedang mengandung anak saya."
lanjut Revano.
Nadia yang sedang menulis perlahan menghentikan gerakan penanya.
Beberapa detik kemudian ia kembali menulis.
Ekspresinya tetap datar.
Namun dalam hati ia mulai bertanya-tanya.
Ini kasus yang membuat direktur menahan pengunduran dirinya?
"Dan saya yakin anak itu bukan anak saya."
ucap Revano.
Nadia akhirnya mengangkat wajah.
"Alasan?"
Pertanyaannya langsung dan tajam.
Revano terlihat tidak tersinggung.
Justru seolah sudah mengharapkan pertanyaan itu.
"Kami putus hampir setahun lalu."
jawabnya tenang.
"Setelah itu tidak pernah ada hubungan apa pun lagi."
Nadia mengangguk kecil.
Secara matematika sederhana saja, klaim kehamilan tersebut sudah terdengar bermasalah.
Namun pengalaman sebagai pengacara mengajarinya bahwa perkara seperti ini sering kali tidak sesederhana kelihatannya.
"Kalau begitu kenapa sampai menjadi perkara hukum?"
tanya Nadia.
"Tes DNA setelah anak lahir bisa menyelesaikannya."
Revano tersenyum tipis.
Senyum yang tidak menunjukkan rasa senang.
Lebih mirip kelelahan.
"Karena dia tidak hanya mengaku hamil."
jawabnya.
"Dia juga mengadakan konferensi pers."
Nadia terdiam.
"Dia mengklaim saya menelantarkan anak saya."
lanjut Revano.
"Dia menuntut kompensasi."
"Menuntut pengakuan publik."
"Dan sekarang media sudah mulai memberitakannya."
Nadia perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Baik.
Sekarang kasus ini mulai masuk akal. Bukan soal kehamilan. Bukan soal mantan pacar. Melainkan soal reputasi.
Sebagai pewaris Grup Ravendra, satu skandal saja bisa memengaruhi harga saham perusahaan, kepercayaan investor, hingga posisi Revano sendiri di dalam grup keluarga.
Dan jika tuduhan itu sengaja dibuat untuk menjatuhkannya, dampaknya bisa mencapai miliaran rupiah.
"Nama mantan Anda?"
tanya Nadia.
Revano menyebutkan nama wanita tersebut lalu menyerahkan beberapa dokumen yang sudah disiapkan sebelumnya.
Nadia mulai membacanya satu per satu.
Semakin banyak ia membaca, semakin terlihat bahwa perkara ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan saat pertama kali mendengarnya.
Ada keterlibatan media. Ada dugaan pemerasan.
Ada kemungkinan pihak ketiga yang membiayai seluruh serangan tersebut.
Dan ada beberapa transaksi keuangan mencurigakan yang muncul beberapa minggu sebelum tuduhan itu dipublikasikan.
Tanpa sadar Nadia mulai fokus.
Naluri hukumnya yang selama ini tertutup oleh berbagai masalah pribadi perlahan kembali bekerja.
Ia tidak lagi memikirkan Adrian. Tidak lagi memikirkan Bianca. Tidak lagi memikirkan gosip kantor.
Saat berada di depan berkas perkara, Nadia kembali menjadi dirinya yang dulu.
Revano memperhatikannya diam-diam.
Untuk pertama kalinya sejak Nadia masuk ke ruangan itu, ekspresi wanita tersebut berubah.
Matanya yang tadi terlihat lelah kini mulai hidup kembali saat menelaah dokumen.
Dan entah mengapa, melihat perubahan kecil itu membuat Revano tertarik.
Karena untuk pertama kalinya sejak skandal ini dimulai, ia merasa mungkin telah memilih orang yang tepat untuk berdiri di sisinya.
Nadia menutup berkas terakhir yang diberikan Revano lalu menyusun seluruh dokumen itu dengan rapi di atas meja. Setelah membaca seluruh informasi awal, ia mulai memahami mengapa direktur firma begitu bersikeras mempertahankannya untuk menangani perkara ini. Di permukaan memang terlihat seperti sengketa sederhana antara seorang pria dan mantan kekasihnya, tetapi semakin diperhatikan, semakin terlihat bahwa kasus tersebut menyimpan banyak kejanggalan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Kalau saya menerima penjelasan Tuan begitu saja, saya tidak sedang bekerja sebagai pengacara."
ucap Nadia tenang sambil membuka buku catatannya.
"Saya butuh semua detail yang mungkin terlihat tidak penting sekalipun."
Selama hampir satu jam berikutnya, Nadia mengajukan pertanyaan demi pertanyaan tanpa jeda. Kapan hubungan mereka berakhir, bagaimana kondisi hubungan sebelum putus, apakah pernah terjadi perselisihan besar, siapa saja yang mengetahui hubungan mereka, bagaimana kondisi keuangan mantan kekasih Revano saat ini, hingga siapa yang pertama kali menghubungi media.
Tidak ada satu pun yang luput dari perhatiannya.
Bahkan beberapa pertanyaan membuat Revano sendiri harus berpikir cukup lama sebelum menjawab.
Semakin lama percakapan berlangsung, semakin terlihat jelas mengapa Nadia dikenal sebagai salah satu pengacara terbaik di firma tersebut. Cara berpikirnya cepat, sistematis, dan langsung mengarah ke inti persoalan tanpa membuang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu.
Sesekali Nadia mencatat sesuatu lalu kembali mengajukan pertanyaan baru berdasarkan jawaban sebelumnya, seolah seluruh potongan informasi itu sedang ia susun menjadi gambaran yang utuh di dalam pikirannya.
Setelah memperoleh informasi yang dirasa cukup, Nadia akhirnya menutup catatannya.
"Saya akan mulai dari investigasi latar belakang."
katanya.
"Lalu memeriksa riwayat komunikasi, transaksi keuangan, serta hubungan wanita tersebut dengan pihak lain yang mungkin berkepentingan terhadap posisi Anda di perusahaan."
Tatapannya tetap fokus.
"Jika diperlukan, saya akan mengajukan permohonan tes DNA setelah waktunya memungkinkan. Tapi sebelum sampai ke sana, saya ingin memastikan dulu apakah ini murni persoalan pribadi atau memang bagian dari upaya menjatuhkan Anda."
Revano menganggukkan kepala pelan.
Jawaban itu jauh lebih terstruktur daripada yang ia perkirakan.
Selama beberapa minggu terakhir, sebagian besar konsultan hukum yang ditemuinya lebih sibuk membahas cara meredam media dibanding mencari akar masalah sebenarnya.
Sementara Nadia bahkan belum menyelesaikan pertemuan pertama dan sudah menyusun beberapa langkah investigasi sekaligus.
"Berapa lama?"
tanya Revano.
Nadia berpikir sejenak sebelum menjawab.
"kurang dari Satu bulan."
ucapnya mantap.
"Maksimal 2 minggu saya sudah bisa memberi kesimpulan awal dan arah penyelesaian perkara."
Ia kemudian menambahkan dengan nada datar.
"Asalkan semua data yang saya minta diberikan tanpa ada yang disembunyikan."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, senyum tipis muncul di wajah Revano.
"Direktur tidak berlebihan saat memuji Anda."
katanya.
"Nona Nadia benar-benar sigap."
Nadia hanya memberikan senyum formal yang sangat tipis.
Pujian seperti itu tidak lagi memberikan kepuasan seperti dulu.
Beberapa bulan terakhir hidup telah mengajarinya bahwa keberhasilan karier tidak selalu berjalan seiring dengan kebahagiaan pribadi.
"Terima kasih."
jawabnya singkat.
"Ini hanya pekerjaan saya."
Namun di balik ketenangan wajahnya, ada pikiran lain yang tidak diketahui Revano.
Alasan sebenarnya Nadia ingin menyelesaikan kasus ini secepat mungkin bukan hanya karena profesionalisme.
Ia ingin pergi.
Secepat mungkin.
Semakin cepat perkara ini selesai, semakin cepat ia bisa meninggalkan firma, meninggalkan kota ini, dan meninggalkan semua kenangan yang terus menghantuinya setiap kali membuka mata.
Ia lelah melihat tempat-tempat yang mengingatkannya pada Adrian.
Lelah mendengar gosip yang tidak pernah berhenti.
Lelah berpura-pura kuat setiap hari.
Revano yang duduk di hadapannya tidak mengetahui semua itu.
Ia hanya melihat seorang wanita yang bekerja dengan sangat fokus dan profesional.
Tidak melihat luka yang berusaha disembunyikan di balik ketenangan tersebut.
Tidak melihat betapa kuatnya keinginan Nadia untuk memulai hidup baru di tempat yang tidak menyimpan kenangan pahit.
Dan tanpa disadari keduanya, kasus yang awalnya hanya dianggap sebagai tugas terakhir Nadia justru akan menjadi alasan yang membuat langkahnya tertahan lebih lama dari yang ia rencanakan.
Setelah pertemuannya dengan Revano selesai, Nadia membawa seluruh berkas perkara menuju lantai divisi litigasi tempat timnya biasa bekerja. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai strategi dan kemungkinan yang harus segera ditindaklanjuti. Meski sempat berniat menjauh dari semua urusan firma, naluri profesionalnya kembali bekerja begitu sebuah kasus berada di tangannya.
Begitu pintu area kerja terbuka, beberapa anggota tim yang sedang sibuk di depan komputer langsung menoleh.
Awalnya mereka terlihat terkejut.
Namun beberapa detik kemudian ekspresi mereka berubah menjadi senang.
"Nadia!"
Salah satu anggota tim langsung berdiri dari kursinya.
"Kak Nadia datang!"
Dalam hitungan detik suasana ruangan yang semula tenang menjadi lebih hidup.
Selama bertahun-tahun Nadia bukan hanya atasan bagi mereka.
Ia adalah mentor.
Orang yang mengajari mereka menghadapi klien sulit, menyusun strategi hukum, hingga bertahan menghadapi tekanan pekerjaan.
Karena itu saat kabar pengunduran dirinya menyebar, banyak anggota tim yang merasa kehilangan.
Beberapa bahkan masih berharap Nadia membatalkan keputusannya.
"Kami kira Kak Nadia sudah nggak akan balik lagi."
ucap salah satu junior dengan wajah lega.
"Jujur saja, divisi ini terasa aneh tanpa Kak Nadia."
Yang lain langsung mengangguk setuju.
Beberapa bahkan tersenyum tulus melihatnya kembali duduk di meja yang selama ini kosong.
Mendengar semua itu, hati Nadia sedikit menghangat.
Di tengah kekacauan hidupnya, masih ada orang-orang yang menghargai keberadaannya bukan karena status sebagai istri Adrian Mahendra atau karena gosip yang beredar, melainkan karena kemampuannya sebagai seorang profesional.
Namun perasaan itu hanya bertahan sesaat.
Karena ia tahu kedatangannya kali ini bukan untuk kembali.
Melainkan untuk mengucapkan selamat tinggal secara perlahan.
Nadia meletakkan map tebal di atas meja rapat kecil yang berada di tengah ruangan.
Suara berkas yang menyentuh permukaan meja langsung menarik perhatian seluruh anggota tim.
Ekspresinya berubah serius.
Seketika suasana ruangan ikut berubah mengikuti dirinya.
"Semuanya berkumpul."
ucap Nadia.
Nada suaranya tenang namun tegas seperti biasanya.
Tidak butuh waktu lama hingga seluruh anggota tim mengelilingi meja rapat.
Mereka tahu jika Nadia sudah menggunakan nada seperti itu, berarti pekerjaan serius akan dimulai.
Nadia membuka berkas perkara Revano Ravendra lalu menyebarkan beberapa dokumen utama di atas meja.
"Pekerjaan kita dimulai hari ini."
katanya.
"Klien baru. Kasus besar. Dan waktunya terbatas."
Beberapa anggota tim langsung fokus membaca ringkasan yang diberikan.
Nama Revano Ravendra saja sudah cukup membuat mereka memahami bahwa perkara ini tidak sederhana.
Nadia menatap mereka satu per satu.
Lalu menghela napas pelan sebelum melanjutkan.
"Dan saya ingin kalian bekerja lebih keras dari biasanya."
Kalimat itu membuat beberapa orang saling berpandangan.
Bukan karena keberatan.
Melainkan karena mereka jarang mendengar Nadia meminta sesuatu dengan nada seberat itu.
"Saya tidak akan berbohong."
lanjut Nadia.
"Ini adalah kasus terakhir saya di firma ini."
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Beberapa wajah yang tadi tampak senang perlahan berubah muram.
Meskipun mereka sudah mendengar rumor pengunduran diri tersebut, mendengarnya langsung dari Nadia tetap terasa berbeda.
Jauh lebih nyata.
Nadia tersenyum tipis melihat reaksi mereka.
"Saya tahu kalian tidak menyukai kabar itu."
ucapnya.
"Tapi keputusan saya tidak berubah."
Tatapannya kemudian menjadi lebih tegas.
"Karena itu saya ingin meninggalkan divisi ini dalam kondisi terbaik."
Ia menunjuk berkas yang berada di tengah meja.
"Kasus ini akan menjadi pekerjaan terakhir kita bersama."
"Saya ingin setiap laporan selesai tepat waktu."
"Saya ingin setiap data diverifikasi dua kali."
"Dan saya ingin tidak ada satu pun celah yang bisa dimanfaatkan pihak lawan."
Semangat yang dulu selalu membuat timnya menghormati Nadia perlahan kembali terlihat.
Bukan karena ambisi.
Bukan karena jabatan.
Melainkan karena rasa tanggung jawab yang tidak pernah hilang dari dirinya.
Salah satu anggota tim akhirnya mengangkat tangan.
"Kalau ini kasus terakhir Kak Nadia..."
Ia berhenti sejenak.
Lalu tersenyum.
"Kami akan memastikan kasus ini menjadi kemenangan terbaik."
Beberapa anggota lain langsung mengangguk setuju.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyum Nadia terlihat sedikit lebih tulus.
Meskipun hidup pribadinya berantakan, setidaknya di ruangan ini masih ada sesuatu yang berhasil ia bangun dengan baik selama bertahun-tahun.
Dan jika ini benar-benar menjadi kasus terakhirnya sebelum meninggalkan firma dan kota yang penuh kenangan itu, maka ia ingin menutup semuanya dengan cara yang paling sempurna.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah