kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Guru ... Ada apa???"
Suara dari Jaka Srenggi terhenti ditenggorokannya. Jaka Srenggi hanya bisa melihat gurunya bersila dan tak mengerti apa maksud dari gurunya.
"Hahahah!!"
"Sungguh keberuntungan, akhirnya aku melihat dan menemukanmu juga." Suara itu dari suara serak milik iblis Jerangkong.
Petapa muka dua membuka matanya.
"Aku tak menyangka jika topeng hitam akan mengirimmu mencariku? Dasar tak ada harga diri!" ejek Petapa muka dua.
"Huhhh, Kau pikir aku peduli semua perkataan mu? Sedikitpun tidak!"
Iblis Jerangkong yang tahu kemampuan Petapa muka dua meloloskan senjata berbentuk sabit dari pinggangnya. Dia berjalan kearah Petapa muka dua.
Petapa muka dua yang sudah memang pasrah tak berniat untuk melawan, meskipun melawan sudah di pastikan dia akan kalah telak, selain racun sudah menyebar di seluruh nadinya, hampir semua tenaga dalam telah diberikan pada Jaka Srenggi.
"Apa kau tak akan memberiku perlawanan? Atau kau memiliki rencana lain??" tanya iblis Jerangkong sedikit waspada.
Petapa muka dua hanya diam tak menjawab, dia sudah pasrah, dia hanya berharap kalau keberadaan Jaka Srenggi tak diketahui oleh iblis Jerangkong dan rekan-rekannya.
"Aku mungkin akan memberimu kesempatan hidup, tapi itupun jika kau serahkan apa yang telah aku ambil! Bagaimana Petapa bodoh??" tanya iblis Jerangkong mencoba merayu dengan memberikan pilihan.
"Hhmmm, Aku tak mungkin memberikan apa yang sudah aku ambil, dan aku juga tak percaya dengan kalian." jawab Petapa muka dua.
Setan bungkuk yang juga sudah sampai melesat ke arah iblis Jerangkong.
"Apa dia membawa kitab itu??" tanya setan bungkuk.
"Aku tak tahu, sebaiknya kita periksa saja sendiri." kata iblis jerangkong.
"Aku atau kau yang akan membunuhnya??" tanya setan bungkuk.
"Sebaiknya aku saja, tanganku sudah gatal ingin membunuhnya" jawab iblis Jerangkong.
Dalam satu gerakan cepat, iblis jerangkong langsung melesat dengan senjata sabit di tangannya.
"Whuttttt!!"
Begitu cepat gerakan dari iblis Jerangkong, sabitnya menebas tak tertahan. Petapa muka dua menutup matanya saat melihat gerakan cepat dari iblis Jerangkong.
"Selamat tinggal Jaka Srenggi" gumam Petapa muka dua
"Crasssssss!!"
Tak ada jeritan kesakitan, tak ada sedikitpun perlawanan, kepala Petapa muka dua terlepas dari lehernya, tebasan dari iblis Jerangkong begitu rapi, setelah menggelepar sebentar tubuh Petapa muka dua diam untuk selamanya, kembali pada penciptanya. Cairan berwarna merah membasahi rumput tempat Petapa muka dua tewas.
"Guru...!!!" Teriak Jaka Srenggi yang di sembunyikan dibalik rimbunnya pohon. Tapi seperti dari awal, suaranya tak keluar dari tenggorokannya.
Air mata tak tertahan dari matanya, kedukaannya semakin bertambah, dia baru saja menemukan kasih sayang dari seorang guru, dari seorang kakek, tapi orang yang disayangnya harus tewas, dan kembali tewas didepan matanya.
Iblis Jerangkong merasa heran karena tak mendapatkan sedikit pun perlawanan, dia awalnya berharap akan mendapatkan perlawanan dari Petapa muka dua, tapi semua tak seperti yang diinginkannya. Petapa muka dua tewas hanya satu kali tebasan.
"Kenapa dia tak melawan? Apa yang direncanakan Petapa muka dua sebenarnya??" gumam iblis Jerangkong tak mengerti.
Setan bungkuk mendekati mayat Petapa muka dua, dia memeriksa semua tubuh yang mulai kaku itu.
"bagaimana? Apa ada padanya??" tanya iblis Jerangkong.
Setan bungkuk menggeleng lemas.
"Dimana keparat ini menyembunyikan kitab itu? Kita harus menemukan nya!" maki iblis jerangkong.
"Ragil! Gopal.!!"
"Periksa semua sudut tempat ini, kalian harus menemukannya" perintah Iblis Jerangkong.
Ragil dan Gopal bergerak menuju dua arah mata angin di sekitar gunung kemelut.
"Kita juga harus membantu mencari." Setan bungkuk melesat meninggalkan iblis Jerangkong yang masih sedikit termangu melihat Petapa muka dua.
"Aku tak habis pikir! Kenapa dia begitu pasrah? Apa yang membuatnya begini??"
"Aku sangat mengenalnya, dia orang yang tak mau kalah. Tapi kali ini aku tak melihat sedikitpun niat bertarung dalam dirinya. Ada apa dengan Petapa muka dua?" gumam iblis jerangkong.
Pikiran Iblis Jerangkong masih memikirkan semua yang baru terjadi.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Atau? Ahhhh ... sudahlah! Itu tak perlu aku pikirkan, sebaiknya aku membantu mencari kitab itu."
Iblis Jerangkong pergi ke arah lain untuk mencari kitab seribu pedang.
Saat sore mulai menutupi gunung kemelut mereka berempat kembali bertemu ditempat dimana Petapa muka dua tewas, tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap mereka dari atas pohon. Mata yang penuh dendam.
"Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri. Kalian tak akan selamat dari kematian!" desis sosok yang melihat itu dalam hatinya.
"Bagaimana langkah selanjutnya??" tanya setan bungkuk pada iblis Jerangkong.
"Sebaiknya kita kembali, kepala Petapa muka dua sudah ada di tangan kita. Petunjuk tentang kitab itu juga tak ada kita dapatkan. Sebaiknya kita menunggu perintah selanjutnya." jawab iblis Jerangkong.
"Aku ragu!" kata setan bungkuk
"Ragu kenapa??" tanya iblis jerangkong.
"Kau pasti tahu bagaimana ketua topeng hitam, dia pasti akan memberikan kita hukuman, pasti itu..!!" kata setang bungkuk.
"Kau takut? Kita harus tetap kembali, kalau kita tak kembali malah kita akan jadi buronan golongan hitam. Sebaiknya kita menceritakan yang sebenarnya kepada ketua. Mungkin ketua akan memberikan kita keringanan." kata iblis jerangkong.
"Apa kau yakin Jerangkong??" tanya setan bungkuk.
"Terus apa lagi? Apa kau ingin melarikan diri? Sampai kapan kau bisa bertahan dari kejaran golongan hitam??" jawab Iblis Jerangkong.
Setan bungkuk diam, dia memang sudah takut untuk kembali. Setan bungkuk takut mendapat hukuman dari ketua mereka, topeng hitam.
"Ragil, Gopal, kalian akan ikut aku atau ragu seperti setan bungkuk??" tanya iblis Jerangkong.
"Aku akan kembali, dan aku yakin Gopal akan ikut denganku," jawab Ragil.
"Kau bagaimana setan bungkuk? Apa akan di sini atau ikut kembali??"
"Jawab! Jangan ragu-ragu!!!" bentak iblis Jerangkong.
"Baik, aku akan ikut saja, kita mungkin akan dapat hukuman, tapi itu tak lebih buruk dari pada jadi kejaran para golongan hitam" ucap setan bungkuk memutuskan keputusannya untuk ikut kembali ke markas.
"Bagus kalau kau mengerti," kata iblis jerangkong.
Iblis Jerangkong berjalan kearah terletaknya kepala Petapa muka dua, dia membungkus kepala itu dan menentengnya membawa sebagai bukti jika mereka sudah melaksanakan tugas dengan baik.
"Baik, ayo kita kembali!" ajak iblis Jerangkong.
"Huppp!!"
Iblis Jerangkong mengemposkan tubuhnya dan terbang duluan menuruni gunung kemelut.
Jaka Srenggi yang masih dalam kondisi tertotok hanya bisa memandangi dengan tatapan dendam, dia menangis karena tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu gurunya.
Tengah malam semakin dingin, barulah totokan itu terbuka sendiri, tubuh Jaka Srenggi jatuh berdebam ketanah. Jaka langsung berlari menuju tubuh gurunya.
"Guru...!!" teriak Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi memeluk erat tubuh kaku guru nya yang telah tewas. Air matanya tak berhenti jatuh menetes.
"Aku pasti akan membalaskan dendammu guru."
"Topeng hitam! kau tunggu kematian mu....!!"