Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Sakit
Di sini tak kelihatan sifat banci Alvin. Dia tampak normal seperti lelaki umum. Ada sedikit wibawa namun tetap tak bisa sembunyikan sifat feminim Alvin.
"Aku ini anak dari sekretaris pak Kutilan. Pak Kutilan menikah siri dengan ibuku dan lahirlah aku. Pernikahan ini tidak bertahan lama karena diketahui istri sah pak Kutilan. Keluarga kaya itu langsung meminta Pak Kutilan menceraikan ibuku. Waktu itu umurku masih sepuluh tahun. Di umur itu aku kehilangan kasih sayang seorang ayah. Ibuku terpaksa meninggalkan pak Kutilan tanpa syarat. Keluarga itu tidak bisa menganggapku sebagai keturunan mereka karena aku hanyalah anak haram. Itu menurut penilaian keluarga itu padahal ibuku juga menikah walau hanya dalam agama." Alvin berhenti sebentar mengatur nafas supaya bisa melanjutkan cerita. Luna diam tak ada niat memotong cerita Alvin. Ada baiknya Luna mengenal Alvin lebih jauh karena mereka akan hidup bersama ntah sampai kapan. Tak ada batasan waktu.
"Pak Kutilan tak berdaya menghadapi pertentangan dari keluarga besar mereka maka menjatuhkan talak pada ibu. Namun pak Kutilan tidak meninggalkan ibu begitu saja. Dia masih ngasih uang belanja dan biaya sekolahku sampai aku selesai kuliah. Pak Kutilan juga meninggalkan sejumlah uang untukku. Aku terima uang itu karena itu merupakan kompensasi dari tanggung jawabnya. Dengan uang itu aku buka usaha kosmetika sampai punya produk sendiri. Inilah aku suami resmi kamu!" Alvin menepuk dada dua kali mengaku dia adalah suami sah Luna saat ini.
"Ibumu mana?"
Alvin tak segera kasih jawaban. Ada perubahan air muka begitu menyebut keberadaan ibunya. Luna tidak tahu apa yang terjadi pada ibu Alvin. Dari reaksi Alvin sudah menunjukkan kisah ibunya tidak semanis madu. Madu manis namun menjadi madu sangatlah pahit. Itu yang dialami ibu Alvin.
"Keluarga Kutilan selalu teror ibu sehingga ibu tertekan. Jiwa ibu terguncang oleh ulah oknum tak bertanggung jawab. Kadang tengah malam dilempari bom molotov, mereka kirim ular berbisa di halaman rumah kami, menyuruh orang ancam ibu bila keluar rumah. Apa saja mereka lakukan untuk membuat ibu hidup sengsara. Perlahan-lahan ibu jadi pengecut. Ibu selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumah. Dalam bayangannya orang yang datang akan menyakiti dia." Alvin mengakhiri cerita dengan wajah muram.
"Lalu ibu di mana? Di rumah sakit jiwa?" Luna sebagai seorang dokter tak mungkin abaikan seseorang yang hidup dalam tekanan. Ancaman demi ancaman telah membuat ibu Alvin menjadi stress. Lebih tepat dikatakan mengalami gangguan jiwa. Kalau tidak ditangani secara tepat seumur hidup dia tidak bisa keluar dari rasa takut itu.
"Ibu ada di rumah ini...ada di salah satu kamar." sahut Alvin lirih mengandung duka. Alvin enggan membuka keberadaan ibunya seakan dia malu memikirkan ibu memiliki riwayat berpenyakit jiwa.
"Mana boleh dikurung terus dalam kamar? Beliau butuh interaksi dengan orang-orang di sekitar agar rasa takut memudar. Emangnya kamu tak bawa ibu berobat sama psikiater?" Jiwa dokter Luna terpanggil bela ibu Alvin. Di kurung terus menerus bukan solusi untuk kesembuhan ibu Alvin. Ada cara penanganan khusus bagi orang yang jiwanya tertekan oleh satu kasus. Ibu Alvin menjadi stress gara-gara tak tahan ditekan terus oleh orang berhati busuk.
"Sudah... bahkan aku pernah bawa ibu berobat ke Tiongkok. Di sana ibu agak tenang karena jauh dari keluarga Kutilan. Tapi begitu pulang mulai lagi kehilangan arah. Dia tak bisa melupakan perlakuan dari keluarga Kutilan yang sok hebat itu." Alvin menggeram ingat perlakuan mama Anjas yang sok kaya. Mama Anjas belum melepaskan ibu Alvin walau ibunya sudah tak ada hubungan dengan pak Kutilan. Ada saja ulah mereka mengancam ibu Alvin. Maka itu Alvin tak ijinkan ibunya keluar untuk hindari tekanan demi tekanan dari mama Anjas.
Luna termenung memikirkan cara penanganan orang memiliki rasa takut berlebihan gara-gara ancaman tak henti-hentinya.
"Aku boleh jumpa ibu?"
Alvin ragu untuk pertemukan Luna dengan ibunya. Alvin malu bila Luna ketakutan lihat kondisi ibunya yang kusut tak bergairah. Tak ada cahaya kehidupan di bola mata yang mulai senja. Kolam mata ibunya kosong tak ada riakan berbinar layak manusia umum. Singkat kata Ibu Alvin telah kehilangan semangat hidup. Dia hidup tapi tak ada semangat.
"Mas... Aku ini dokter... Orang sakit model apa belum aku temui? Aku memang bukan dokter jiwa tapi aku tahu dasar-dasar menangani pasien mengalami tekanan mental. Siapa tahu ibu bersedia menerima menantu dadakan ini." Luna menyemangati Alvin agar ijinkan dia mengurus mertua dalam tanda kutip. Mertua yang belum dia kenal sama sekali. Tapi panggilan jiwa Luna tak bisa abaikan orang sakit.
"Kau yakin mau menemui ibu?"
"Ya Allah... Kenapa mas tanya gitu? Seburuknya ibu kita dia tetap orang tua kita. Mas beruntung punya ibu sedangkan aku beda. Aku bahkan tidak tahu bagaimana tampang kedua orang tuaku. Aku hanya memiliki ibu panti asuhan. Dialah ibuku." Luna cemberut lihat Alvin meragukan kredibilitasnya sebagai seorang dokter. Luna takkan mundur sekali pun dia bukan dokter. Dia akan temui mertuanya tanpa ragu.
Alvin tak bisa mengelak lagi. Luna saja tak ragu menemui orang sakit jiwa apalagi dirinya yang merupakan putra dari orang sakit itu. Apa yang harus diragukan selagi masih ada yang memberi perhatian.
"Baiklah... Kuharap kau persiapkan mental lihat kondisi ibu!" Alvin menyerah mengizinkan Luna menemui ibunya walaupun dengan hati yang berat. Alvin tidak sanggup bila Luna memandang rendah kepada ibunya. Sejelek-jeleknya seorang ibu tetap berharga di mata anaknya. Tak peduli dia sedang sakit atau sehat. Nilai seorang ibu tetap nomor satu.
Alvin memimpin berjalan ke salah satu kamar di ujung lorong. Tidak terpencil namun jauh dari ruang keluarga. Luna mengikuti Alvin penuh keyakinan. Dari dulu Luna selalu yakin mampu memberi kesembuhan pada pasien sekalipun penyakitnya sudah cukup parah. Pantang menyerah itulah motto Luna. Selagi masih bernafas harapan itu tetap ada.
Alvin mengetuk pintu kamar yang terkunci rapat. Luna perhatikan apa yang dilakukan Alvin saat menemui ibunya. Apakah dia mengunci ibunya dari luar untuk hindari segala kemungkinan. Kadang takut ibunya kabur dari kamar keliaran di setiap sudut rumah menimbulkan kekacauan. Luna berharap Alvin bukan orang seperti itu. Tega menyiksa mental ibu sendiri.
"Bu... Ini Al... Buka pintu ya!" kata Alvin pelan penuh kelembutan.
Hati Luna kontan adem. Luna tak sangka Alvin akan selembut itu pada ibunya yang sakit. Dia tidak mengurung ibunya permanen justru beri kebebasan pada ibunya untuk kontrol kunci kamar. Artinya Alvin tak batasi ruang gerak ibunya. Mungkin ibunya sendiri tak mau interaksi dengan orang luar.
Luna menunggu dengan sabar reaksi dari dalam kamar. Menghadapi orang yang memiliki masalah dengan kejiwaan haruslah super sabar. Nilai kesabaran ini menjadi modal menghadapi orang-orang macam ibu Alvin. Apalagi Luna seorang dokter yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai pasien. Sewaktu menjadi dokter umum tak jarang Luna berhadapan dengan orang-orang berpenyakit jiwa. Pendekatan penuh kasih sayang merupakan salah satu cara menghadapi orang sakit itu. Luna akan terapkan metode itu terhadap ibu Alvin.
Perlahan pintu kamar terbuka. Seorang wanita paro baya berwajah pucat menampakkan muka dengan tatapan mata kosong. Dia melirik kepada Luna penuh kecurigaan. Luna merupakan orang asing bagi Ibu Alvin. Tak heran bila dia waspada.
Luna segera mengembangkan senyum karena sudah mendengar riwayat penyakit Ibu Alvin. Senyum merupakan cara ampuh untuk menurunkan kecurigaan Ibu Alvin.
"Siapa?" mata redup ibu Alvin tak pindah dari wajah Luna. Dia tetap curiga walau Luna sudah berusaha tampil seramah mungkin.
"Bu... Aku Luna... Istri mas Alvin..." Luna dahului Alvin menjawab pertanyaan ibunya.
Ibu Alvin tertegun sejenak. Pandangan matanya jatuh ke perut Luna yang menggunung. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu. Dia tentu heran dari mana muncul wanita mengaku istri anaknya.
"Istri?" ulang ibu Alvin pelan. Mungkin otaknya sedang loading arti dari kata istri.
"Benar Bu... In Luna istriku. Kami sudah menikah cuma selama ini Luna tinggal di kota lain. Aku membawanya pulang karena tak lama lagi Luna akan melahirkan. Ibu akan segera punya cucu. Lihat perut Luna!" Alvin menunjuk perut Luna tanpa menyentuhnya. Alvin masih jaga batasan karena masih ada kurang pemisah antara mereka.
Wajah ibu Alvin sedikit mengendor. Kewaspadaan dia agak menurun cuma belum beri reaksi diharapkan Luna. Andai Ibu Alvin berseru girang maupun mengatakan sesuatu untuk sambut kehadiran Luna bertanda baik. Reaksi ibu Alvin masih pasif belum menunjukkan ada gelagat dia memiliki respon positif.
"Kami boleh masuk Bu?" Luna maju makin dekat dengan ibu Alvin. Luna tidak kuatir kalau ibu Alvin akan melakukan gerakan yang membahayakan dirinya. Ibu Alvin tidak menunjukkan gelagat sedang kumat akan membahayakan kehamilan Luna.
"Bu... Luna mau ibu mengenalnya sebagai menantu. Aku cuma mau perkenalkan Luna. Apakah Ibu bersedia menerima Luna dan anak-anak kami?" tambah Alvin menunggu respon positif ibunya.
"Kamarnya kotor..." suara Ibu masih lirih tak percaya diri. Dia tampak sedikit semangat mendengar kata anak-anak Alvin. Ibu itu percaya kalau anak di perut Luna milik Alvin. Dia bakal segera jadi Oma. Semoga kehamilan Luna bawa berkah bagi Alvin. Ibu bisa berpikir normal setelah tahu putranya bisa memiliki anak.
"Gimana kalau kita duduk di ruang keluarga. Kita kan satu keluarga jadi harus tetap berkumpul. Ibu lihat perutku yang sangat besar ini! Isinya dua cucu ibu. Anak mas Al anak kembar. Ibu kan harus bantu aku rawat cucu-cucu ibu." Luna analisa kalau kehamilannya membawa dampak positif. Luna akan gunakan kehamilannya sebagai obat penyembuh Ibu Alvin. Apapun akan dia lakukan selama bisa menyembuhkan orang sakit.
"Apa aku boleh keluar? Apa tak ada orang ganggu kita lagi?" mata ibu Alvin liar lihat kiri kanan takut tiba-tiba muncul orang jahat ganggu dirinya. Trauma masa lalu renggut akal sehat ibu Alvin. Tapi itu bukan akhir dari perjalanan hidup Ibu Alvin. Tuhan sudah mengirim wanita berhati malaikat menuntun ibu Alvin keluar dari trauma berat.