Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap Kebebasan
*TAARRR!*
Letusan pistol *Glock 19* milik Adrian menyalak lebih dulu, memecah ketegangan di dalam gudang Sektor Tiga. Peluru berkaliber 9mm melesat presisi, menghantam tepat di pergelangan tangan kanan Rendy yang sedang memegang senjata.
*UGH!*
Rendy melengking kesakitan. Pistol di tangannya terlempar ke lantai semen, disusul jeritan histeris Kirana yang refleks memejamkan mata erat-erat. Cengkeraman Rendy pada rambut Kirana terlepas seketika seiring tubuh pria itu terhuyung mundur, memegangi pergelangan tangannya yang kini mengucurkan darah segar.
Namun, sebelum Adrian sempat melangkah maju untuk mengamankan Kirana, dari balik kegelapan barisan kontainer mati di sisi kiri, Satria muncul bersama dua orang pria bayaran yang tersisa. Mereka langsung melepaskan rentetan tembakan buta ke arah Adrian.
*Phut! Phut! DORR!*
Adrian terpaksa berguling ke belakang sebuah palet kayu besar yang berisi mesin-mesin berkarat. Beberapa peluru menghantam lantai marmer tiruan dan palet kayu tersebut, melontarkan serpihan tajam yang menyayat pipi kanan Adrian.
"Satria! Ambil wanitanya! Bawa ke mobil belakang!" raung Rendy dengan wajah yang terdistorsi oleh rasa sakit dan amarah yang luar biasa. Ia merangkak di lantai, mencoba meraih kembali pistolnya dengan tangan kirinya yang gemetar.
"Jangan bergerak! Brimob! Jatuhkan senjata!"
*BLARRR! PRANGGG!*
Dinding seng bagian belakang gudang dihantam hingga jebol oleh tim taktis Brimob yang merangsek masuk bersama Rendra. Suara tembakan balasan dari senapan serbu polisi langsung menggema, merontokkan nyali para pria bayaran Rendy. Dua pria itu langsung menjatuhkan senjata mereka dan mengangkat tangan, sementara Satria yang mencoba melawan langsung dilumpuhkan dengan tembakan di kaki hingga tersungkur.
Melihat situasinya runtuh total dalam hitungan detik, Rendy kehilangan seluruh akal sehatnya. Dengan tangan kiri yang berhasil meraih pistolnya kembali, ia tidak lagi berpikir untuk kabur. Tatapannya tertuju pada Kirana yang masih terikat rantai di tiang baja, menangis histeris di tengah desingan peluru.
*“Jika aku harus masuk neraka, aku akan membawamu bersamaku, Kirana!”* batin Rendy yang sudah gila sepenuhnya.
Rendy mengarahkan pistolnya dengan tangan kiri yang gemetar, membidik tepat ke arah jantung Kirana.
"Kirana, awas!"
Adrian, yang melihat pergerakan maut Rendy dari balik palet kayu, tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi. Mengabaikan luka tembak di lengan kirinya yang kini terasa robek kembali dan mengucurkan darah, Adrian melompat menerjang maju, menggunakan tubuh tegapnya sebagai perisai manusia di depan Kirana.
*DORRR!*
Satu letusan senjata api kembali menggema di tengah kekacauan itu.
Tubuh Adrian menegang sejenak di depan Kirana. Kirana membelalakkan matanya yang dipenuhi kengerian yang teramat sangat. "Mas Adrian..." bisik Kirana, suaranya tercekat di tenggorokan.
Namun, bukan Adrian yang tumbang. Di depan mereka, tubuh Rendy Baskoro perlahan-lahan limbung ke belakang. Sebuah lubang peluru baru bersarang tepat di dada kirinya—hasil tembakan jitu dari komandan tim Brimob yang menembaknya dari arah samping sebelum Rendy sempat menarik pelatuknya ke arah Adrian.
Pistol di tangan kiri Rendy terjatuh untuk terakhir kalinya. Pria manipulatif yang selama ini mengunci hidup Kirana dalam sangkar emas itu ambruk ke lantai semen yang dingin, matanya melotot kosong menatap langit-langit gudang, sebelum akhirnya napasnya berhenti sepenuhnya.
Monster itu telah mati.
Suasana gudang mendadak hening, hanya menyisakan gemerisik sisa mesiu dan deru napas yang memburu.
Adrian perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Kirana yang masih gemetar hebat di bawah tiang baja. Wajah Adrian tampak sangat lelah, keringat bercampur darah menetes dari pelipis dan lengan kirinya, namun matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat. Ia berlutut di depan Kirana.
"Semuanya... benar-benar sudah selesai, Kirana," bisik Adrian dengan suara baritonnya yang bergetar penuh emosi.
Rendra berlari mendekat membawa sebuah tang pemotong besi besar, dengan cepat memutuskan rantai yang mengikat pergelangan tangan Kirana. Begitu kedua tangannya bebas, Kirana tidak memedulikan luka-lukanya sendiri. Ia langsung menghamburkan tubuhnya, memeluk leher Adrian dengan sangat erat, menumpahkan seluruh tangis histeris, rasa takut, dan rasa syukur yang luar biasa ke dalam dada pria itu.
Adrian membalas pelukan itu dengan tangan kanannya, menyembunyikan wajahnya di rambut Kirana yang acak-akan, membiarkan kehangatan wanita itu meyakinkannya bahwa badai telah berlalu.
**Satu Bulan Kemudian...**
Langit sore di Pantai Uluwatu, Bali, memancarkan warna jingga keemasan yang luar biasa indah. Angin laut yang hangat bertiup lembut, memainkan helai rambut Kirana yang kini tampak jauh lebih sehat dan bersinar. Wajahnya tidak lagi pucat; rona merah alami telah kembali di pipinya, dan sepasang matanya yang dulu redup kini memancarkan binar kehidupan yang baru.
Kirana berdiri di balkon sebuah vila pribadi milik keluarga Dirgantara yang menghadap langsung ke arah Samudra Hindia. Trauma masa lalunya tidak hilang dalam semalam, namun dengan terapi intensif dari Dr. Elena dan kehadiran seseorang yang tak pernah meninggalkannya, sangkar emas itu kini benar-benar telah lenyap, berganti dengan kebebasan yang hakiki.
Sebuah lengan kokoh melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Adrian menyandarkan dagunya di bahu Kirana, menghirup aroma familier dari wanita yang hampir ia kehilangan untuk kedua kalinya. Lengan kiri Adrian kini sudah sembuh total, hanya menyisakan bekas luka samar yang akan selalu mengingatkannya pada harga sebuah perjuangan cinta.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Kirana?" bisik Adrian lembut di telinganya.
Kirana memegang tangan Adrian yang melingkari pinggangnya, lalu berbalik perlahan untuk menatap langsung mata elang pria yang kini menjadi seluruh dunianya.
"Aku sedang memikirkan betapa beruntungnya aku, Mas," jawab Kirana dengan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki. "Dulu aku mengira aku pergi darimu untuk mencari kebahagiaan, tanpa tahu bahwa kebahagiaan sejatiku sebenarnya tertinggal di dalam hatimu. Terima kasih sudah menjemputku kembali dari kegelapan."
Adrian menatap bibir manis Kirana, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. "Aku tidak menjemputmu untuk mengurungmu lagi, Kirana. Aku menjemputmu untuk terbang bersamaku, selamanya."
Di bawah saksi matahari terbenam yang magis di ufuk barat, bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang lembut dan hangat—sebuah segel tak kasat mata bahwa pernikahan mereka yang sempat hancur kini telah lahir kembali, bukan lagi di atas dasar kewajiban atau ego, melainkan di atas fondasi cinta sejati yang telah teruji oleh darah dan air mata.
LANJUT