NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara rekaman audio yang memuakkan itu perlahan meredup, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam ruang rapat pleno lantai tiga puluh lima Baskara Group.

Tidak ada lagi bisik-bisik politik. Tidak ada lagi kasak-kusuk faksi yang mendukung. Dua puluh lima pasang mata anggota dewan komisaris kini tertuju lurus pada Surya Adiguna, menatapnya dengan perpaduan antara rasa tidak percaya dan kejijikan yang mendalam.

Surya berdiri kaku di depan podium. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum penuh percaya diri kini tampak pias, sewarna dengan kertas draf yang berserakan di atas meja.

Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja sutranya. Skenario yang ia susun dengan rapi untuk mengudeta Narendra Baskara sore ini justru berbalik menjadi panggung eksekusi bagi dirinya sendiri.

"Ini... ini semua rekayasa!" teriak Surya, suaranya pecah, kehilangan wibawa baritonnya yang biasa menuntut kepatuhan.

Ia menunjuk Hani dengan telunjuknya yang bergetar hebat. "Bocah ini sengaja membawa rekaman palsu yang diedit menggunakan teknologi kecerdasan buatan! Pak Subroto, Anda tidak bisa memercayai draf kuno dari delapan tahun lalu ini untuk membatalkan agenda pengesahan Proyek-X hari ini!"

Komisaris Utama, Pak Subroto, tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu menggunakan kacamata bacanya, lalu dengan tangan yang tenang, ia membuka map folder asli yang diletakkan Hani di atas meja.

Ia meneliti lembar demi lembar sertifikat saham lama yang mencantumkan nama Hani Adisa Putri, lengkap dengan cap jempol darah dan tanda tangan basah Surya Adiguna sebagai jaminan aset delapan tahun lalu.

Setelah beberapa menit yang menegangkan, Pak Subroto melepas kacamata bacanya, menatap Surya dengan pandangan mata yang dingin dan menusuk.

"Tanda tangan dan cap jempol di atas kertas ini menggunakan tinta khusus korporasi legal yang hanya diterbitkan pada periode audit 2018, Pak Surya. Struktur hukumnya otentik. Sebagai mantan auditor senior, saya tahu persis mana dokumen yang direkayasa dan mana dokumen yang disimpan dengan sengaja sebagai jaminan keselamatan."

Pak Subroto mengetuk palu sidangnya sekali dengan ketukan yang mantap. "Agenda rapat pleno sore ini mengenai mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama resmi dibatalkan. Sebaliknya, dewan komisaris menuntut penjelasan penuh dari Anda, Surya Adiguna, mengenai dugaan tindak pidana pencucian uang yang memanfaatkan nama anak di bawah umur."

"Saya tidak akan menjelaskan apa pun kepada dewan yang sudah terhasut!" bentak Surya, kepanikannya kini telah berubah menjadi kemarahan yang membabi buta.

Ia menyambar tablet digitalnya dari atas meja pleno, lalu melangkah kasar mencoba menuju pintu keluar. "Saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum eksternal! Rapat ini tidak sah!"

"Langkahmu tidak akan melampaui pintu itu, Surya," potong Narendra Baskara dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan.

Tepat saat Surya berada tiga langkah dari pintu ganda ruang pleno, pintu tersebut terbuka dari luar. Namun, kali ini yang masuk bukan lagi tim pengamanan internal tertutup.

Empat orang pria mengenakan kemeja putih dengan dasi merah, dibalut rompi krem bertuliskan Tindak Pidana Korupsi dari markas besar kepolisian, melangkah masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, dua petugas berseragam taktis lengkap mengamankan area ambang pintu.

Penyidik utama, seorang perwira menengah dengan tanda pangkat melati di pundaknya, melangkah maju dan mengeluarkan sebuah map surat perintah berwarna kuning.

"Selamat sore, Saudara Surya Adiguna," ucap perwira tersebut dengan tegas. "Kami dari Direktorat Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang Markas Besar Kepolisian RI. Berdasarkan bukti digital awal berupa aliran dana terenkripsi yang dikirimkan secara langsung ke server pusat kami satu jam lalu, serta berkas fisik otentik yang ada di ruangan ini, Anda resmi kami tahan atas dugaan tindak pidana korupsi proyek jembatan selat dan pencucian uang struktural."

Surya melangkah mundur, tablet digital di tangannya terlepas dan menghantam lantai marmer hingga layarnya retak seribu. "Satu jam lalu...? Siapa... siapa yang mengirimkan data itu ke markas besar?"

Narendra Baskara tersenyum tipis, sebuah kilat kebanggaan terpancar dari matanya. "Putraku, Reza Baskara. Sambil berbaring di ranjang rumah sakit, dia memastikan semua pintu pelarianmu secara hukum siber telah dikunci rapat, Surya. Kamu meremehkan ketahanan seorang Baskara."

Hani melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Surya Adiguna yang kini sudah dikepung oleh dua petugas kepolisian. Ia menatap pria yang telah menghancurkan hidup ayahnya itu tanpa ada lagi rasa takut.

"Hari ini, kebenaran itu tidak lagi bersembunyi di dalam laci tua. Ayah saya menang, Pak Surya. Dan Anda... resmi kalah."

Dua petugas kepolisian langsung bergerak maju, menarik kedua tangan Surya ke belakang punggungnya dan memasangkan borgol baja dengan bunyi klik yang dingin.

Topeng sang raja hitam kini telah runtuh sepenuhnya. Dengan kepala tertunduk dan wajah yang merah padam menahan malu, Surya Adiguna digiring keluar dari ruang rapat pleno, melewati jajaran dewan komisaris yang menatapnya dengan pandangan mencemooh.

...****************...

Di dalam kamar rawat VIP nomor 901 Rumah Sakit Pusat Medika, Reza Baskara perlahan menurunkan layar laptop militer hitamnya.

Napasnya mengalir panjang dan teratur, seiring dengan penurunan grafik detak jantungnya di layar monitor medis yang kini kembali ke angka normal. Keringat dingin yang membasahi dahi dan pelipisnya diseka dengan lembut oleh Sarah menggunakan selembar tisu bersih.

"Mereka berhasil, Sarah," bisik Reza dengan senyum tulus yang menghiasi wajah pucatnya. "Surya Adiguna sudah dibawa pergi oleh pihak berwajib. Semuanya sudah selesai."

Sarah mengembus napas lega yang amat panjang, meletakkan sisa tisu ke atas meja nakas. "Syukurlah. Sekarang, bisakah Anda berjanji untuk tidak menyentuh papan ketik itu lagi selama minimal tiga hari ke depan? Jika jahitan di perut Anda sampai menuntut operasi ulang, saya bersumpah tidak akan mau membuatkan laporan administrasi bulanan Anda lagi."

Reza terkekeh pelan, meskipun tawa itu membuatnya harus sedikit meringis memegangi perutnya. "Aku berjanji, Sarah. Terima kasih karena sudah menjadi dinding belakang yang kokoh untukku dan Hani sepanjang malam ini."

"Jangan berterima kasih padaku, Pak Reza. Berterima kasihlah pada ketabahan Hani," sahut Sarah sambil berjalan menuju jendela, menatap langit Jakarta yang kini mulai bergeser menuju warna senja yang hangat. "Gadis itu memiliki kekuatan yang tidak pernah kita duga sebelumnya."

...****************...

Ruang rapat pleno perlahan mulai dikosongkan setelah Pak Subroto resmi menutup sidang darurat tersebut. Narendra Baskara meminta tim hukum perusahaan untuk segera mengoordinasikan konferensi pers pemulihan nama baik almarhum Gunawan dan Pak Gibran yang akan digelar esok pagi.

Pak Gibran berjalan mendekati Hani yang masih berdiri menatap kursi kosong yang tadinya ditempati oleh Surya Adiguna. Pria paruh baya itu menepuk pundak Hani dengan tangan kirinya yang sehat.

"Tugas saya menjaga amanah ayahmu selama delapan tahun ini resmi selesai, Hani," ucap Pak Gibran dengan nada suara yang sarat akan kelegaan spiritual. "Mulai besok, saya bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memeriksa perimeter keamanan setiap dua jam sekali."

Hani berbalik dan memeluk pria tua itu dengan erat, air mata haru akhirnya menetes melewati pipinya. "Terima kasih, Pak Gibran. Terima kasih karena sudah menjadi sahabat yang paling setia untuk ayah saya."

Narendra Baskara berjalan mendekati mereka berdua, menatap Hani dengan pandangan seorang ayah yang bijaksana. "Perjalanan kita belum benar-benar selesai, Hani. Bersihnya nama baik keluargamu adalah awal dari babak baru. Dan sore ini, ada seseorang di rumah sakit yang sedang menunggu kehadiranmu dengan sangat tidak sabar."

Hani menghapus air matanya, tersenyum cerah di bawah pendar lampu korporasi yang kini terasa jauh lebih bersahabat. Langkah kakinya keluar dari ruang pleno terasa begitu ringan.

Sang pion yang awalnya melangkah dengan penuh keraguan, kini telah berhasil melintasi seluruh papan catur intrik, siap menyambut masa depan baru yang bersih dari bayang-bayang masa lalu.

1
Indah Callysta Annabel
ceritanya bagus banget, alurnya rapi, bahasanya menarik, semangat kak
Vimel: Terima kasih, kak 😊
total 1 replies
Indah Callysta Annabel
bagus banget ceritanya
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!