Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Kemarahan Aldi
"Apa saya terlihat seperti bercanda?"
Kalimat itu membuat suasana langsung membeku. Aldi menatap Alexander selama beberapa detik. Lalu menatap Dara, kemudian kembali menatap Alexander. Wajahnya perlahan berubah, bukan terkejut lagi... tapi sangat kesal.
"Lex." Nada suaranya turun. "Lo sadar nggak sih barusan ngomong apa?"
Alexander tetap tenang.
Sedangkan Dara sudah ingin menghilang dari muka bumi. "Pak Aldi..."
"Kamu diam dulu Dara." Aldi mengangkat satu tangan.
Tatapannya tidak lepas dari Alexander. "Gue mau bicara sama lo."
Alexander hanya mengangkat sebelah alis. "Di sini?"
"Bukan." Jawaban Aldi langsung, ia melirik Dara. "Liat muka Dara udah kayak habis perang. Jadi, dia harus istirahat."
Kini Alexander setuju tanpa membantah. "Hm."
Aldi menghela napas panjang. "Satu jam lagi, di cafe biasa."
"Lima puluh menit." Jawaban Alexander singkat.
Aldi langsung mendengus. "Masih sempat-sempatnya nawar."
"Terlambat lima menit saya pulang."
"Dasar Bos menyebalkan."
Namun akhirnya keduanya sepakat. Dara yang sejak tadi berdiri seperti patung hanya bisa melihat mereka bergantian. Jujur saja, ia sangat penasaran. Karena ini pertama kalinya ia melihat Aldi benar-benar kesal kepada Alexander.
"Dara." Suara Alexander membuatnya menoleh. "Sebaiknya kamu istirahat.
"Tapi..."
"Istirahat." Nada itu tidak memberi ruang untuk bantahan.
Dara langsung menutup mulut. "Baik, Tuan."
Alexander mengangguk tipis. "Tidak usah pikirkan apa pun yang terjadi malam ini."
Lalu tanpa menunggu jawaban, pria itu kembali masuk ke mobil. Sedangkan Aldi hanya mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya menunjuk Dara.
"Kompres pipimu."
"Iya."
"Makan yang banyak."
"Iya."
"Jangan nangis."
Dara langsung membelalak. "Saya tidak nangis."
"Bagus." Aldi mengangguk puas.
Kemudian berbalik menuju motornya.
Tak lama kemudian dua kendaraan itu pergi meninggalkan gang kecil tersebut. Dan Dara hanya bisa berdiri di sana, memandangi mereka menjauh. Dengan rasa penasaran yang semakin besar.
Satu jam kemudian.
Sebuah cafe yang sudah menjadi tempat nongkrong langganan mereka sejak beberapa tahun lalu. Tempat itu tidak terlalu ramai, musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara. Beberapa pelanggan sibuk dengan laptop masing-masing.
Di sudut ruangan, Aldi sudah duduk lebih dulu. Dan wajahnya masih sama kesalnya, segelas kopi hitam di depannya bahkan belum disentuh.
Beberapa menit kemudian.
Pintu cafe terbuka, Alexander masuk. Masih dengan jas yang sama, masih dengan ekspresi datar yang sama. Dan entah kenapa itu justru membuat Aldi semakin kesal.
"Lo lama."
Alexander duduk di kursi seberangnya. "Dua menit."
"Ya sama aja."
Pelayan datang, Alexander memesan kopi tanpa melihat menu. Lalu suasana kembali sunyi, Aldi menatapnya tajam. Alexander balik menatap, akhirnya...
Aldi yang lebih dulu bicara. "Apa sih maksud lo tadi?"
Alexander tidak menjawab.
"Gue serius, Lex." Aldi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalimat lo di depan Dara tadi."
Alexander masih diam.
"Kalau saya calon suaminya Dara, kamu mau apa?" Aldi menirukan ucapan Alexander dengan kesal. "Itu maksudnya apa?"
Alexander mengambil gelas air putih di meja. Ekspresinya sangat tenang sekali, sepertinya pertanyaan itu tidak penting. Padahal Aldi hampir meledak.
"Lex."
"Apa?"
"Jangan pura-pura nggak denger."
Alexander meletakkan gelasnya kembali, lalu menatap Aldi. "Jadi, apa yang mau lo denger?"
Aldi tertawa pendek. "Jawaban."
"Jawaban apa?"
"Lo suka sama Dara?"
Seketika sunyi, hanya musik jazz masih terdengar pelan di kejauhan. Pelayan lalu lalang membawa pesanan pelanggan. Namun di meja itu, suasana mendadak jauh lebih berat.
Kali ini Alexander tidak langsung menjawab. Dan justru diamnya itulah yang membuat Aldi semakin tidak tenang. Karena selama beberapa tahun ia mengenalnya, Alexander selalu punya jawaban untuk segala hal... kecuali malam ini.
Suasana di meja itu semakin sunyi, Aldi masih menatap Alexander tanpa berkedip. Menunggu jawaban dan akhirnya Alexander membuka mulut.
"Gue mau menikahi Dara."
Deg.
Aldi langsung membeku, namun kalimat berikutnya membuat ekspresinya berubah drastis.
"Bukan karena gue mencintainya."
Aldi mengernyit.
"Dan bukan karena gue menyukainya."
Kini benar-benar tidak ada suara, bahkan musik jazz yang sejak tadi mengalun terasa jauh.
"Apa?" Suara Aldi terdengar pelan, ia yakin dirinya salah dengar.
Alexander tetap tenang. "Gue mau menikahinya."
"Maksud lo apa?" Aldi langsung mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya tajam. "Jangan bilang..." Rahangnya mengeras. "Lo mau memperalat Dara, karena lo mau balas dendam sama Sabrina?"
Alexander tidak menjawab, dan diamnya justru membuat Aldi semakin marah.
"Karena Sabrina selingkuh? Karena Sabrina ngekhianatin lo?" Aldi menggeleng tidak percaya. "Nggak gitu caranya, Lex." Nada suaranya mulai naik. "Lo jahat... kalau sampai ngelakuin itu sama Dara."
Tatapan Alexander berubah dingin. "Gue nggak mau mempermainkan siapa pun."
"Bullshit."
"Aldi."
"Nggak mungkin." Aldi langsung memotong. "Gue tahu lo kayak apa." Tangannya mengepal di atas meja. "Dia bukan perempuan yang bisa lo jadiin pelampiasan."
"Gue nggak jadiin dia pelampiasan."
"Terus apa?" Aldi menatapnya tajam. "Kalau bukan cinta, kalau bukan karena lo suka sama dia, terus karena apa?
Alexander terdiam beberapa saat, lalu ia balas bertanya pada Aldi. "Lo sendiri gimana?"
Aldi mengernyit. "Maksud lo?"
Tatapan Alexander menusuk lurus ke arahnya. " Lo cinta sama Dara?"
Deg.
Pertanyaan itu membuat Aldi membeku sesaat. Kini ia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, lalu ia menghembuskan napas panjang.
"Iya." Jawaban Aldi akhirnya keluar. Pelan, tapi tegas. "Gue mulai suka sama dia."
Alexander tidak terlihat terkejut, sepertinya ia sudah menduganya.
Aldi tertawa pahit. "Puas lo!"
Alexander tetap diam.
Sedangkan Aldi melanjutkan. "Gue suka sama Dara, dan gue nggak malu ngakuinnya."
Sunyi kembali turun.
Lalu Alexander berkata dengan tenang. "Kalau begitu buang perasaan itu."
Mata Aldi langsung menyipit. "Apa?"
"Karena gue akan tetap menikahi Dara."
Kalimat itu terdengar begitu datar, sepertinya keputusan tersebut sudah final. Dan justru itu yang membuat Aldi semakin kesal.
"Kasih gue satu alasan." Tatapannya tajam. "Kenapa gue harus ninggalin Dara."
Alexander tidak langsung menjawab, ia mengambil cangkir kopi yang baru datang. Menyeruputnya sekali, lalu meletakkannya kembali.
Baru kemudian berkata. "Karena gue udah mengambil kesuciannya."
BRAK!
Tangan Aldi menghantam meja, beberapa pelanggan langsung menoleh. Namun Alexander tidak peduli.
"Apa?" Suara Aldi berubah serak.
Alexander tetap tenang. "Gue udah tidur sama dia."
Dunia Aldi seperti berhenti sesaat, ia menatap Alexander. Mencari tanda-tanda kebohongan, namun yang ia temukan hanya ekspresi datar yang sama. Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih nyata.
"Jadi gue harus bertanggung jawab."
Kalimat terakhir itu keluar begitu saja dan itulah pemicunya.
Aldi langsung berdiri. Lalu...
BUGH!
Tinju kerasnya menghantam wajah Alexander. Kursi bergeser keras, beberapa pengunjung berteriak kaget. Cangkir kopi terjatuh ke lantai.
Prang!
Alexander terdorong ke samping. Sudut bibirnya langsung pecah. Namun pria itu tidak sedikit pun membalas. Aldi berdiri dengan napas memburu, matanya memerah oleh amarah.
"Sialan!" Suara itu menggema di dalam cafe. "Lo brengsek, Lex!"
Beberapa pegawai cafe mulai mendekat dengan panik. Namun tidak ada yang berani ikut campur, Alexander perlahan menghapus darah di sudut bibirnya.
"Lo sama Sabrina nggak ada bedanya!" bentaknya. Aldi tertawa sinis. "Kalian berdua nggak punya hati!"